
"Sania masih ada di penjara, tapi anakmu …. " kata ibunya ragu, takut merusak kebahagiaan yang terpancar di wajah anaknya, dan benar saja wajah Jofan langsung berubah diam.
"Ada apa anakku?" tanya Jofan tegas.
"Ayahmu tidak ingin mengakuinya sebagai keterunan kita, setelah dilahirkan dia segera diserahkan kepada orang lain, aku bahkan tidak tahu apakah dia seorang wanita atau pria, aku hanya sempat mendengar suaranya dan melihat wajahnya sekilas, bayi yang sangat lucu," kata ibu Jofan menangis, dia menyesali hal itu, bagaimana pun dia adalah satu-satunya cucu mereka dari Jofan, mereka berpikir setelah menikah Jofan akan memberikan mereka cucu yang lain, tapi hingga kini Jofan dan Aurora tak memberikan mereka cucu sama sekali, bahkan Jofan mengakui bahwa dirinya infertil.
Jofan yang mendengarkan itu sekali lagi terdiam, dia tak tahu harus bertindak apa, kepalanya langsung penuh dengan kejutan-kejutan ini, rasa bersalah dan menyesal kembali meyelimutinya, selama ini menjaga keponakannya dengan seluruh hal yang dia bisa, memberikannya kasih sayang dan harta dengan melimpah, namun pada anaknya sendiri, bahkan dia tak tahu apakah anak itu hidup dengan baik atau tidak? apakah dia bertahan atau tidak? anaknya yang tak pernah dia tahu ada.
Jofan memegangi kepalanya yang benar-benar akan meledak, dia tak tahu harus apa lagi sekarang, dia hanya bisa menahan semua emosinya, seorang pria menangis artinya dia sudah tak bisa menahan lagi rasa sakitnya, ke mana dia harus mencarinya?
__ADS_1
"Bagaimana kalian begitu tega? dia anakku Bu! kalian memisahkannya dari ku! aku bahkan tak tahu memilikinya 23 tahun ini," kata Jofan, matanya semakin basah, itu seharusnya menjadi kabar bahagia baginya dan Sania, itu memang rencana mereka berdua untuk memiliki seorang anak, bahkan Jofan yang memaksa Sania untuk memberikan dia anak, namun ketika permintaannya terwujud, hal ini malah menjadi hal yang menyedihkan untuk dirinya.
"Maafkan Ibu, Ibu benar-benar tidak bisa menahan ayahmu, Ibu sampai sekarang mencari pada siapa ayahmu menyerahkan anakmu, namun sama sekali tidak menemukannya, Ibu juga ingin melihatnya, Ibu ingin menebus dosa Ibu, tapi sampai hari kematiannya, ayahmu tak pernah menyinggung tentang anakmu sama sekali, " ujar ibu Jofan sambil menghapus air mata dari pipinya yang sudah cukup penuh dengan keriput.
"Aku ingin menemui Sania, aku harus bertanya padanya tentang anak kami, kalian benar-benar berhati batu, memenjarakan orang selama 23 tahun tanpa kesalahan sama sekali," kata Jofan menyeka air matanya, dia berdiri dan ingin berjalan keluar, namun saat dia melewati ibunya, tangan Jofan di tahan.
"Aku rasa kau tidak bisa bertanya padanya, tubuhnya memang ada, tapi jiwanya sudah lama tak ada di tempatnya," kata ibunya bergetar, sekali lagi harus menyapaikan kabar duka pada anaknya.
"Apa maksud Ibu?" kata Jofan serasa menelan napasnya, serasa sangat berat.
__ADS_1
"Saat Sania mengandung, dia harus memilih, mempertahankan anaknya atau tetap memakan obat-obatanya dengan konsekuensi anaknya lahir tak selamat atau cacat, Sania memilih untuk tidak memakan obatnya, mempertaruhkan nyawanya sehingga keadaannya memburuk, kehamilannya sangat menyiksa untuknya, Ibu melihat sendiri bagaimana dia berjuang, beberapa kali harus tak sadarkan diri, namun dia bertahan demi anaknya, Ibu sudah berusaha melunakkan hati ayahmu namun dia tidak bisa dilawan, bahkan hal ini adalah kemurahan hatinya, membiarkan Sania mengandung anakmu," ibu Jofan sekali lagi harus menarik napas panjang, bukan hanya Jofan yang merasa udara di sana menipis, ibu jofan pun merasa seperti itu.
"Di usia kehamilannya yang ke 7 bulan, dia jatuh dalam komanya yang terakhir kalinya, dokter tidak bisa menunggu lebih lama dan mengambil resiko sehingga anak itu harus segera dilahirkan, karena itu anakmu lahir prematur, sejak saat itu hingga detik ini Sania tak pernah lagi bangun, dia bahkan tak sempat melihat atau menyentuh anak yang diperjuangkannya itu, dia pernah mengatakan pada Ibu, kau akan sangat senang jika mengetahui kau memiliki seorang anak karena dia tahu betapa kau menyukai anak-anak, karena itu apapun yang terjadi dia akan memberikan apapun untuk menjaga anakmu bahkan rela menyerahkan jiwanya untuk anakmu," kata ibunya menangis sedih.
Jofan menahan dirinya, dia memandang ke atas agar tak membiarkan air matanya turun lagi, namun air matanya tetap saja turun membasahi pipinya bahkan dia sampai senggugukan mendengar hal itu, tak tahan lagi merasakan kesedihan yang begitu dalam, wanita itu menderita karenanya, selama ini dia ingin membahagiakan Sania, menyelamatkannya dari Aksa agar dia bisa bahagia mendapatkan cinta sejati dari Jofan, tapi yang ada dia sama-sama menderita.
Selama ini Jofan mengira Sania hidup di salah satu tempat di dunia ini dengan nyaman atau pun bahagia tanpanya, atau Jofan mengira sudah meninggal, namun tak keduanya, dia tidak hidup, dia juga tidak mati, dia di antaranya, berjuang dengan sangat berat untuk memberikan kehidupan untuk anak mereka, namun saat anak mereka lahir, anak itu bahkan tak ada di sisinya maupun di sisi Sania, Sania pasti sangat sedih jika Sania tahu Jofan tak menjaga anak mereka sekarang.
"Aku tetap ingin bertemu dengannya," kata Jofan dengan suara serak.
__ADS_1
"Baiklah, Ibu akan menemanimu, hanya Ibu yang bisa membuka pintu untuk ke tempat perawatan Sania, ini mungkin cara Ibu menebus dosa untukmu," kata ibu Jofan berdiri, dia segera melihat anaknya.
Jofan menghapus air matanya, dia mengangguk dan segera keluar dari sana dengan ibunya yang mengikutinya dari belakang.