Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
201 - Pernikahan Palsu.


__ADS_3

Ceyasa membuka matanya perlahan, entah sejak kapan dia malah ketiduran, dia melihat remang dan lama-lama semakin jelas, ranjang di sebelahnya sudah kosong sepertinya Archie memang sudah bangun.


 


 


Ceyasa mencoba melihat kamar tidur yang cukup luas itu, kosong tidak ada siapapun, bahkan Lusy tidak ada di sana, jika Archie sudah bangun dan keluar, dia pasti menyuruh Lusy untuk setidaknya berdiri dipintu ruangan itu, tapi jika Lusy tidak ada, berarti Archie masih ada di kamar itu, tapi dia di mana?


 


 


Saat Ceyasa baru ingin menaikkan tubuhnya, pintu kamar mandi itu terbuka, Ceyasa yang mendengar itu langsung kaget dan langsung menjatuhkan tubuhnya kembali ke ranjangnya, langsung berpura-pura tidur, padahal saat dia pura-pura tidur seperti itu lukanya kembali nyeri.


Saat seperti ini dia baru sadar, kenapa juga dia harus pura-pura tidur? kalau begini jangan-jangan Archie akan mengganti bajunya di sana karena menganggap Ceyasa masih tidur, apa sekarang dia pura-pura bangun saja.


 


 


Saat Ceyasa mencoba perlahan membuka matanya dan berakting seolah dia baru bangun, bukannya terlihat natural dia malah langsung kaget, melihat wajah Archie yang sudah begitu dekat di depan wajahnya, wajahnya yang putih dengan helaian rambut yang basah itu tampak begitu sempurna, pemandangan yang sangat menyegarkan mata.


"Kenapa kau ada di depanku seperti ini? mengagetkan saja," kata Ceyasa dengan mata membesar kaget.


"Kau pura-pura tidur ya?" kata Archie yang mulai menjauhkan tubuhnya.


"Tidak," kata Ceyasa langsung memasang wajah polos tak berdosa, dia lalu menggeleng kuat.


"Tidak percaya, mana ada orang yang tidur dengan wajah berkerut seperti itu," kata Archie yang masih mempertahankan posisinya, membuat wajah Ceyasa memanas, dan bisa mencium wangi segar dari tubuh Archie. Archie lalu berdiri tegak, dia hanya menggunakan handuk putih besar terlilit di pinggulnya.


"Kau mau apa?" tanya Ceyasa lagi segera membangkitkan dirinya perlahan, seolah ingin menjauh dari Archie.


"Menurutmu aku mau apa?" tanya Archie lagi berjalan ke arah lemari bajunya.


"Hei, kau tidak boleh menggunakan baju di sana," teriak Ceyasa sedikit pada Archie yang mulai mengambil bajunya.

__ADS_1


"Kenapa tidak boleh? Aku mau ganti baju di mana lagi?" kata Archie acuh tak acuh, tidak peduli dengan wajah Ceyasa yang tampak tegang, dia mulai ingin memakai bajunya.


"Kamar mandi atau kemana saja, asal jangan di sana," kata Ceyasa yang bisa gila lama-lama melihat tingkah Archie yang seperti ini.


"Aku tidak suka memakai baju di kamar mandi," kata Archie lagi tak peduli, terus saja melakukan hal itu.


"Kalau begitu, aku saja yang ke kamar mandi," kata Ceyasa ingin bangkit.


"Kau mau kemana?" kata Archie melihat Ceyasa yang sudah siap-siap ingin menegakkan badannya.


"Kamar mandi, tadikan sudah aku katakan," kata Ceyasa lagi.


"Sudah duduk saja di sana, aku yang akan ke kamar mandi," kata Archie lagi sedikit kesal, lagi-lagi menekan ego untuk mengalah, dia langsung mengambil bajunya yang sudah dia sediakan lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi. Ceyasa yang melihat Archie melakukan itu sedikit tersenyum manis, merasa tingkah Archie yang mengalah padanya sangat manis.


 


 


Ceyasa kembali menaikkan kakinya ke atas ranjang, dia tak tahu harus apa jadi dia hanya diam menunggu Archie keluar dari kamar mandi, menebak akan seberapa tampannyakah dia setelah menggunakan baju itu.


 


 


 


 


"Ada apa kau melihatku seperti itu?" kata Archie yang baru melihat tatapan Ceyasa yang tampak sayu melihatnya.


"Tidak apa-apa, ehm, aku tidak punya pakaian yang pantas untuk datang ke sana nantinya," kata Ceyasa dengan senyum tipis, entah kenapa Archie yang berpakaian begitu rapi itu membuat hatinya tak enak, memandang pria ini saja sudah menegaskan jarak lebar di antara mereka, bagaimana bisa mereka akan bersama?


"Tenang saja, aku sudah mengatur semuanya, aku harus mengikuti jamuan makan malam di istana utama, setelah ini Lusy akan membantumu," kata Archie dengan senyuman begitu indah, membuat hati Ceyasa semakin sakit melihatnya.


"Archie … " kata Ceyasa sedikit tercekat, membuat Archie yang sedang merapikan jasnya di kaca besar di kamarnya langsung menatap Ceyasa, wajah Ceyasa tampak sungkan.

__ADS_1


"Hmm?" tanya Archie singkat.


"Tidakkah dengan begini membuat keadaanmu menjadi lebih sulit? kenapa tidak mengatakan saja bahwa pernikahan kita ini palsu?" kata Ceyasa menatap Archie yang mengerutkan dahinya.


"Palsu?" kata Archie berjalan mendekati Ceyasa, Ceyasa semakin gugup melihat langkah tegas Archie.


Archie segera mencondongkan tubuhnya ke arah Ceyasa, memagari tubuh Ceyasa dengan kedua tangannya yang menyentuh ranjang membuat Ceyasa yang tadinya sedang duduk memundurkan tubuhnya seraya Archie terus memajukan tubuhnya, Ceyasa yang terdesak akhirnya tidak bisa lagi mundur karena terhalang oleh kepala ranjang Archie.


 


Archie memandang Ceyasa dengan sangat tajam, matanya bergerak-gerak menatap dan mencoba memahami wajah Ceyasa yang sekarang benar-benar ada di depan matanya.


"Jangan pernah mengatakan pada siapa pun bahwa pernikahan kita palsu, kau adalah istriku, bagaimana pun kau sudah terikat denganku seumur hidupmu," kata Archie bergitu serius dengan ucapannya, membuat Ceyasa terkaku mendengarnnya, bergantian mengamati wajah Archie yang tidak menunjukkan bahwa dia sedang bercanda sekarang.


"Tapi kita sudah menandatangi permohonan perceraian, bukan?" kata Ceyasa yang sudah sangat sesak, napasnya tipis karena dipandangi oleh Archie seperti ini, wajahnya tampak memerah.


"Kita tidak akan bercerai, lagi pula seorang pangeran tidak boleh berpisah dengan pasangannya kecuali pasangannya itu sudah meninggal," kata Archie dengan senyuman terkesan menang, dia lalu memundurkan tubuhnya, kembali tegak untuk bisa melihat secara keseluruhan wajah Ceyasa yang sangat memerah, Archie menyukainya.


"Tapi, aku rasa aku tidak pantas denganmu," kata Ceyasa, nada suaranya melemah, rendah.


 


Archie kembali mengamati wajah Ceyasa yang sekarang tertunduk, akhirnya mengerti kenapa Ceyasa tiba-tiba mengucapkan hal ini, dia lalu tersenyum tipis.


 


"Jika aku memilih dirimu, mereka bisa apa?" kata Archie terdengar enteng, membuat Ceyasa langsung melihat ke arah Archie. "Jangan pernah berpikir seperti itu lagi, tidak ada yang boleh mengatakan bahwa kau tidak pantas denganku, karena aku yang memilihmu," kata Archie mecubit hidung Ceyasa pelan sebagai hukuman darinya.


"Lalu kenapa kau memilihku?" kata Ceyasa menatap Archie dengan tatapan bertanya, membuat Archie terdiam sejenak memandang wajah cantik istrinya yang walaupun tampak belum sepenuhnya sehat tetap terlihat menarik.


"Ehm, pikirkan saja sendiri, aku sudah terlambat, Lusy akan segera mengurusmu, ini pertemuaan pertama mu dengan keluargaku, jangan terlambat," kata Archie segera berjalan menuju pintu kamar utama itu, membuat Ceyasa yang tadinya bertanya jadi semakin penasaran, kenapa jawaban Archie malah mengambang seperti itu? membuat Ceyasa jadi kesal sendiri, Archie melah meninggalkan dirinya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2