Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
130 - Anak Wanita Lain.


__ADS_3

Jofan langsung turun dari mobilnya begitu mobil itu berhenti di depan rumah sakit crown, dia segera masuk ke dalam rumah sakit itu dan bergegas ke informasi, dia bahkan tidak memperhatikan Siena yang kesusuhan dalam mengejarnya.


"Pasien atas nama Aurora Dowson," kata Jofan yang langsung dengan wajah begitu cemas, bahkan sekarang penampilannya tampak tak rapi.


"Nyonya Aurora Dowson, ehm, dengan Tuan siapa saya berbicara?" kata petugas itu lagi sambil mengamati wajah Jofan.


"Jofan, Jofandra Downson," kata Jofan lagi dengan suara keras, merasa hal ini buang-buang waktu, dia sudah sangat khawatir dan ingin melihat keadaan Aurora.


"Tuan Jofan, maaf nama Anda tidak termasuk dalam list untuk bisa masuk ke lantai C," kata petugas itu lagi.


"Apa maksudmu? aku suaminya, aku berhak mengetahui keadaan istriku," teriam Jofan yang seperti orang kesetanan, dia suda sangat cemas dan panik, tiba-tiba dia mendapatkan kabar bahwa dia tidak bisa menemui istrinya sendiri. Semua orang langsung melihat ke arah Jofan, membuat dia menjadi pusat perhatian, para penjaga keamanan pun mulai melihatnya.


"Aku akan memberitahukannya pada Tuan Medison," kata petugas itu yang sedikit tak enak karena Jofan menimbulkan keributan di sana.


Jofan mengerutkan dahi, Medison? Apakah itu Liam?


"Maksudmu Liam?" kata Jofan pada petusa itu.


"Maaf Tuan, harap menunggu sebentar, saya sudah memberitahukan pada Asisten Tuan Medison bahwa Anda ingin bertemu dengan Nyonya Aurora," kata petugas itu mencoba menenangkan Jofan.


Jofan tampak tak percaya apa yang dia dengar, kepalanya yang sudah penuh, tak bisa berpikir dengan jernih, bagaimana bisa? Aurora adalah istrinya, tapi dia bahkan tidak diperbolehkan melihat Aurora seksrang dan apa hak pria itu untuk melarangnya? Siapa yang memberikannya hak?

__ADS_1


Jofan menarik kerah baju petugas itu membuat semua penjaga keamanan yag dari tadi sudah mengamati Jofan langsung memegangi Jofan yang dengan sangat erat menarik kerah baju petugas yang tampak takut namun mencoba untuk tetap tenang, orang-orang yang ada di sana segera menyingkir, mereka tak mau terlibat dalam perkelahian ini.


"Kau! katakan padanya! Aku ingin secepatnya bertemu dengan istriku!" kata Jofan dengan wajah yang sangat marah, dikuasai emosi, kehilangan akal sehatnya.


"Tuan! Lepaskan, ini di rumah sakit," kata seseorang yang sepertinya salah satu penjaga keamanan rumah sakit ini. namun Jofan bergeming dan tetap menarik kerah baju petugas itu.


"Tuan, ini peraturan rumah sakit, tidak seorangpun tanpa izin bisa masuk ke lantai C, bahkan saya saja tak bisa," kata petugas itu sedikit kesusahan berbicara karena Jofan terus menariknya.


"Aku tidak mau tahu, aku ingin bertemu istriku sekarang!" kata Jofan lagi, benar-benar membuat keributan di sana.


"Tuan, Anda harus kami amankan," kata beberapa keamanan rumah sakit mulai menarik tubuh Jofan, yang lain mencoba melepaskan cengkraman tangan Jofan dari kerah baju petugas itu, dua orang menarik tubuh Jofan untuk keluar karena sudah berbuat keonaran.


"Lepaskan! Biarkan dia," kata Liam dengan gayanya yang begitu berwibawa, para keamanan yang tadi memaksa Jofan untuk keluar langsung melepaskan Jofan, Jofan yang melihat Liam yang datang langsung benar-benar tersulut emosinya, rasanya dia sudah kerasukan, tak peduli lagi tempat ataupun martabat, di segera berjalan menuju ke arah Liam dengan segala emosinya yang ada, tangannya sudah disiapkannya dari tadi, mengepal dengan sangat erat, dan begitu Liam dalam jangkaunya, dia langsung melayangkan tinju pada wajah Liam yang tak sempat mengelak sama sekali.


"Paman, apa yang kau lakukan?" tanya Jared dengan sorot mata yang tajam pada Jofan, membuat Jofan yang terengah menahan emosi itu hanya diam saja, melirik tajam pada Liam yang sudah berdiri di belakang Jared, pipinya memerah hasil kepalan tangan Jofan.


"Kita bisa bicara, tapi jangan disini, ingat disini rumah sakit," kata Liam lagi, mencoba untuk tidak terbawa emosi karena pemukulan ini.


"Kita memang harus bicara," kata Jofan menunjuk batang hidung Liam masih dengan emosinya.


"Kalau paman tidak bsia mengontrol emosi paman, aku tidak akan mengizinkan paman bertemu bibi," kata Jared lagi dengan tatapan serius, tajam dan sangat mengintimidasi, bahkan Jofan pun merasakan tajamnya tatapan Jared.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menahan emosiku," kata Jofan menarik jasnya sedikit, mencoba untuk memperbaikinya.


"Baiklah, ayo ikut aku," kata Liam, Liam mulai berbalik sambil memberikan gestur agar para penjaganya bubar, dia masih memegangi pipiya yang masih pegal.


Asisten Liam langsung menekan lift khusus mereka, membiarkan Liam masuk, lalu Jared dan Jofan, dan Siena lalu mengikuti mereka, Jared memperhatikan sepupunya ini, dia lupa Siena ada, mengingat Siena, dia jadi ingat tentang sesuatu, dia segera mengambil ponselnya dan mengirim sesuatu sambil terus memperhatikan sepupunya itu.


Liam mendekatkan gelangnya pada lift itu, menekan tombol lantai C pada tempat itu, Jofan memperhatikan pria yang sekarang ada di depannya, hanya terhalang oleh Jared, dia sudah ingin memukul pria itu lagi, namun dia sudah berjanji untuk menjaga emosinya.


Pintu lift itu terbuka membuat Jenny dan Suri yang dari tadi menunggu langsung melihat ke arahnya, Jenny menangkap sosok pamannya itu langsung berdiri, dan dengan segala emosinya berjalan ke arah pamannya.


"Untuk apa paman datang lagi kemari?! Untuk apa kalian bedua datang ke sini! kemana paman saat bibi sedang meregang nyawa?" sambut Jenny pada pamannya dengan teriakan dan dorongan, tak mengizibkan pamannya selangkah lagi masuk ke dalam ruangan itu.


"Jenny, tenanglah," kata Jared,


Jofan yang mendengar penolakan dari Jenny itu merasa hatinya teriris, bagaimana pun, walaupun Siena adalah anak kandungnya, tapi dari kecil, dia sudah menjaga Jenny bagaikan anaknya sendiri.


"Aku tidak mau paman ada di sini, apalagi paman membawa dia!" kata Jenny menangis histeris pada pamannya, menatap tajam pada Siena, Semua orang langsung menatap Siena, Liam dan Suri yang baru melihat Siena hanya bisa diam? bertanya dalam hati, siapa wanita ini?.


Jenny terus menatap Siena dengan tajam, saat ini Jenny benar-benar ingin menjambak rambut Siena, tak tahu kenapa, tapi dia hanya tak suka dengannya, dia anak dari wanita yang sudah membuat bibinya menderita.


"Jenny, paman minta maaf," kata Jofan mencoba menenangkan Jenny yang histeris.

__ADS_1


"Untuk apa? Paman tidak cukup membuatĀ  bibi menderita, sekarang dia bertaruh nyawa, dan paman dengan entengnya membawa anak perselingkuhan paman sambil melihat bibi, tidak ada wanita di dunia ini yang bisa dengan sangat senang hati menerima anak dari wanita lain, jauh di lubuk hatinya bibi pasti merasa sedih," kata Jenny lagi, membuat Liam kembali melihat Siena, gadis ini ternyata anak wanita lainnya Jofan.


Suri pun sedikit kaget mendengarnya, anak paman Jofan dengan wanita lain? pantas saja Jenny begitu membencinya, Suri hanya bisa melihatnya saja.


__ADS_2