
Jofan duduk di salah satu restoran mewah yang ada di kota itu, duduk tenang bersama dengan Siena yang ada di sampingnya. Dia sesekali terlihat termenung, entah kenapa perasaannya dia sangat ingin pulang ke rumah, bahkan tadi dia hampir saja ingin membatalkan pertemuan ini, namun Siena merayunya karena ingin bertemu dengan sahabat-sahabat ayahnya yang dari tadi pagi dia ceritakan dengan sangat antusias.
Jofan memegang ponselnya, beberapa kali mengirim pesan menanyakan kabar Aurora, namun hingga saat ini Aurora belum juga membalasnya, awalnya Jofan berpikir mungkin saja Aurora sedang sibuk membersihkan rumah seperti rencananya dari kemarin, tapi kenapa hingga makan siang, dia tidak membalasnya.
Dia baru saja ingin menelepon Aurora saat tiba-tiba pintu ruangan khusus itu terbuka dan mengalihkan pandangan Jofan pada sahabatnya yang baru saja masuk, Daihan yang tiba pertama kali, seperti biasa datang dengan senyuman sehangat mentari walaupun sedikit kaget dengan wanita muda yang duduk di samping Jofan.
"Apa kabarmu?" kata Jofan langsung sumringah, melupakan panggilannya pada Aurora yang pasti tidak terjawab, Siena melirik ponsel ayahnya, senyuman tipis terpatri di wajahnya.
"Baik," kata Daihan melihat kembali ke arah Siena, terlalu cangung untuk bertanya.
"Dimana The Himalayan Boss itu?" tanya Jofan dengan gaya khasnya.
"Sebentar lagi, tadi aku lihat mobilnya sudah masuk ke dalam area gedung ini," kata Daihan yang segera mengubah pandangannya pada Jofan, Jofan yang melihat itu hanya sedikit tersenyum.
"Aku akan menjelaskannya," kata Jofan.
"Katakan padaku bahwa kau tidak kumat lagi," ujar Daihan sambil mengerutkan dahinya.
"Bukan, kita tunggu saja Angga," kata Jofan lagi, merasa akan sangat merepotkan menjelaskan siapa Siena pada Daihan dan Angga secara terpisah, Jofan melirik ke arah Siena, Siena hanya tersenyum manis. Membuat Daihan yang melihat hal itu sedikit aneh.
Tak lama yang ditunggu pun datang, Asisten Lin tampak membukakan pintu untuk Angga, Angga segera masuk dan sedikit terkejut melihat seorang wanita ada di sana, Angga mengerutkan dahi, dia berpikir pertemuan ini hanya antara laki-laki, Angga tak terbiasa berkumpul dengan wanita tanpa Bella, bahkan jika ada satu wanita saja yang ada di sana, dia pasti akan membawa Bella, karena itu dia cukup merasa risih dengan keadaan ini.
__ADS_1
"Akhirnya kau datang juga, duduklah," ujar Jofan yang menyambut sahabatnya ini.
Angga tak menjawab, dia hanya memasang wajah dinginnya yang tetap menawan walaupun usianya sudah kepala 5, dia duduk di samping Daihan yang langsung tahu dari wajahnya, Angga sangat tidak nyaman.
"Ada apa ini?" kata Daihan mencoba untuk mencairkan suasana yang sedikit mulai kaku menegang ini.
"Ya, aku di sini hanya ingin memberitahu kalian tentang Siena," kata Jofan mencoba mencari cara bagaimana memperkenalkan putrinya ini.
Daihan dan Angga menatap Jofan tajam, lalu sedikit melirik ke arah Siena, di dalam benak mereka apakah Jofan kembali dengan kebiasaannya yang lama dengan wanita-wanita, bagaimana keadaan Aurora? Jika benar, sahabatnya ini harus mereka sadarkan.
"Jangan menatapku seperti itu, kalian langsung menghakimiku dengan tatapan itu, " kata Jofan sedikit tertawa, terdengar garing untuk Daihan dan Angga, bahkan Daihan yang biasanya penuh tawa tak bisa mengikuti tawa Jofan, apalagi Angga.
"Siena, beri salam pada paman-pamanmu, Ini Paman Daihan, Ini Paman Angga, tepatnya Yang Mulia Raja Angga," kata Jofan memperkenalkan sahabat-sahabatnya pada Siena yang langsung tampak sumringah, menatap pada sahabat ayahnya yang ternyata tak kalah pentingnya dari ayahnya, tampan dengan kharisma masing-masing. Siena langsung berdiri, memerikan salam yang formal pada Daihan dan Angga, membuat Daihan dan Angga semakin menekuk dahi mereka.
"Angga, Daihan, aku ingin kalian mengenal Siena, dia anakku," kata Jofan langsung.
Angga dan Daihan yang mendengar itu langsung kaget, bahkan Angga yang biasanya wajahnya datar ini benar-benar tampak begitu terkejut, anak? Kenapa Jofan bisa tiba-tiba punya anak? Dan sudah sebesar ini? anak dari mana?
Melihat wajah terkejut kedua termannya, Jofan langsung tahu dia harus segera menjelaskan siapa sebenarnya Siena ini.
"Dia anak aku dan Sania, sebulan yang lalu aku akhirnya bertemu dengan Sania, dan aku baru tahu ternyata setelah dia pergi dariku, dia mengandung anakku, dan sekarang kami sudah bisa berkumpul bersama," ujar Jofan menarik napasnya sejenak.
__ADS_1
"Lalu bagaimana Aurora?" tanya Daihan seketika, dia bukan tak menyukai Sania atau anak Jofan ini, tapi membayangkan perasaan Aurora, melihat Jofan berkumpul dengan Sania dan anaknya, wanita itu pasti sangat terpukul, bahkan seorang Angga yang begitu dingin, juga langsung merasa kasihan dengan Aurora, namun dia tak bisa seekspresif Daihan.
"Aurora bisa menerima dengan baik lagi pula, beberapa hari yang lalu Sania meninggal dunia, " ujar Jofan sedikit menyiratkan kesedihan dalam nada dan matanya.
Daihan tak bisa berkata apa-apa, mendengar Aurora menerimanya sudah cukup mengejutkan, mendengar kalimat selanjutnya malah semakin menyedihkan, baru kali ini Daihan tak bisa lagi berkata apa-apa, hanya menatap Jofan, Angga juga tak mengatakan apapun.
"Kenapa kalian terdiam?" ujar Jofan melihat wajah sahabatnya yang terdiam.
"E, aku, ya, baiklah, kau bisa memanggilku Paman Daihan, setelah ini aku akan memperkenalkanmu dengan keluarga kami," kata Daihan yang mewakili Angga, Angga hanya melihat Daihan, tak punya rencana mengenalkan Bella dan Suri pada anak Jofan ini.
Daihan pun ragu untuk mengenalkannya pada Nakesha, bisa-bisa Nakesha akan sangat tak ramah karena hubungannya dengan Aurora sangat baik dan dia memang sangat anti-perselingkuhan, dia hanya mencoba untuk basa-basi agar Jofan tak terlalu merasa diabaikan.
Suasana di sana sangat canggung, Jofan tak bisa meminta lebih dalam penyambutan Siena ini, namun tiba-tiba pintu ruangan khusus itu terketuk dengan sangat kuat, membuat mereka yang ada di dalamnya kaget.
"Masuk!" kata Jofan sedikit keras.
Asisten Jofan masuk dengan buru-buru, wajahnya cemas bahkan terkesan pucat, seperti dia baru saja mendapatkan kabar yang begitu mengagetkan.
"Ada apa?" tanya Jofan kaget.
"Tuan, ada kebakaran besar dirumah Anda, hampir seluruh rumah telahap api," kata Asisten menjelaskannya dengan suara bergetar.
__ADS_1
Jofan yang mendengar itu kaget, dia langsung berdiri, melihat ke arah tablet yang menunjukkan berita yang menyiarkan tentang kebakaran rumahnya. Matanya segera membesar, tanpa ada menyampaikan permisi, Jofan segera pergi meninggalkan para sahabatnya yang terlihat bingung dengan suasana ini, terlalu syok dengan semua kabar hari ini. Siena segera mengikuti ayahnya pergi.
"Maafkan kami Yang Mulia, Maafkan kami Tuan Daihan, tapi kami harus pergi," ujar Asisten Jofan mewakili bosnya, Angga dan Daihan hanya bisa mengangguk, lalu Asisten Jofan segera mengikuti atasannya, setelah itu Daihan dan Angga hanya bisa saling menatap.