Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
183 - Kapan Kau Akan Membunuh ku?


__ADS_3

Rain memandang hamparan pantai putih yang menenangkan, jam sudah menunjukkan pukul 1 siang namun karena dia berada di daerah pantai, jam segitu adalah jam yang sangat panas di sekitarnya.  Asisten Qie hanya menemani Rain yang memang kesehariannya dihabiskan untuk melakukan hal ini.


Sudah dua hari ini dia menyekap Ceyasa, tidak memberikannya makanan dan minuman sama sekali,  anehnya tak seperti biasanya, entah kenapa dia malah terus berpikir tentang Ceyasa, dia sudah menahan dirinya untuk tidak berpikir tentang gadis itu, namun sepertinya dia sudah tak tahan lagi, terlalu penasaran akan keadaan wanita yang seharusnya tak perlu dipikirkan olehnya.


"Bagaimana keadaannya?" kata Rain pada  Asisten Qie.


"Pagi ini keadaaanya cukup lemah, mungkin karena tidak makan maupun minum," kata  Asisten Qie, dia tadi pagi melihat keadaan Ceyasa, tampak lebih membaik dari pada kemarin, namun tubuhnya tetap saja lemah, dia berhasil memberikannya sedikit minuman kembali, saat  Asisten Qie ingin memberikannya roti, Ceyasa malah tak bisa menelannya, dia bahkan ingin muntah karenanya, sepertinya perutnya benar-benar sudah tidak bisa menerima makanan.


Rain menatap kilauan air laut yang cukup menyilaukan, 2 hari ternyata dia masih bertahan, mungkin sedikit gertakan akan membuat wanita itu lebih ketakutan, pikir Rain dengan senyuman sinisnya.


"Bawa dia ke halaman dan keluarkan binatang peliharaanku, " kata Rain dengan senyuman sinisnya,  Asisten Qie menelan ludah, hewan peliharaan?


"Ba-baik Tuan," kata  Asisten Qie tak bisa menolak, dia lalu melirik pada para penjaga yang ada di sana.


"Kau urus peliharaan, aku urus Nona Ceyasa," kata  Asisten Qie langsung, dia sedikit khawatir, Tuan Rain terkadang  begitu susah untuk ditebak, terkadang lembut namun terkadang begitu keras dan menakutkan, sekarang dia tak tahu apa yang diinginkan Tuannya ini pada Ceyasa dan semoga Ceyasa sudah cukup kuat untuk bertahan.


Asisten Qie segera berjalan menuju ke penjara bawah tanah, melihat Ceyasa yang tampak tertidur meringkuk karena pungungnya masih begitu nyeri, apalagi tadi pagi dia baru diberikan obat, rasa perihnya masih begitu terasa pastinya.


Ceyasa terlalu lemah  untuk hanya melihat siapa yang datang,  Asisten Qie dengan wajah kasihan lalu mendatangi Ceyasa perlahan.

__ADS_1


"Nona, Tuan Rain ingin bertemu dengan Anda," kata  Asisten Qie memberitahukannya.


Ceyasa  berusaha keras membuka matanya, mendengar nama Rain dia berusaha untuk bisa bangkit dengan kedua tangannya yang bergetar, rasa laparnya sudah lama hilang berganti rasa perih yang melilit, rasanya seluruh lambungnya sudah mulai mencerna dirinya sendiri, dia bahkan sudah tak ada keinginan untuk makan, memikirkannya saja dia sudah mual.


Asisten Qie yang melihat Ceyasa mencoba bangkit langsung berusaha membantu Ceyasa, mencoba untuk tidak memegang bagian yang terluka, tubuh ringkih Ceyasa bangkit dengan perlahan.


"Nona, apa Anda sanggup?" kata  Asisten Qie pada Ceyasa yang meringis kesakitan saat kakinya mulai berjalan, obat pereda nyeri seperti tak berguna baginya.


"Apa dia sudah siap untuk membunuhku?" kata Ceyasa dengan suara kecilnya.


Asisten Qie terdiam dan hanya tersenyum kecut, dia tak tahu, apakah benar Tuan Rain akan tega membunuh Ceyasa?


Tak lama Ceyasa melihat Rain sedang duduk dengan santai di bawah payung pantainya, Rain menatap Ceyasa yang tampak begitu lemas, hilang sudah wajah angkuh itu dari wajahnya, Rain menaikkan sudut bibirnya, merasa sangat senang melihat wajah menderita Ceyasa.


"Biarkan dia berdiri di sana," kata Rain lagi,  Asisten Qie langsung membiarkan Ceyasa untuk berdiri di hadapan Rain, cukup jauh, mungkin lebih dari 3 meter dari Rain, tapi Rain masih bisa melihat wajah Ceyasa. "Tinggalkan dia jika kalian tidak ingin jadi penggantinya," kata Rain lagi dengan ketus, penjaga yang membantu Ceyasa cepat-cepat melarikan diri, Rain bukan orang yang suka becanda, apa yang dikatakannya pasti dilakukannya.


Asisten Qie masih ragu, sanggupkan Ceyasa berdiri, namun lagi-lagi wanita yang bisa dikatakan sekarat itu tersenyum lembut padanya, membuat hati kecil  Asisten Qie semakin sakit karenanya.


Rain dapat melihat senyuman itu, bagaimana dia bisa terenyum padahal sudah 2 hari dan 2 malam ini dia tidak makan sama sekali, wajahnya saja terlihat begitu lemas, bibirnya putih saking pucatnya, namun dia masih bisa tersenyum dan senyuman itu, kenapa harus dia yang memilikinya?

__ADS_1


"Asisten Qie, menyingkir," kata Rain yang merasa terusik dengan senyuman Ceyasa itu, Rain segera berdiri karena emosi, melihat Rain hingga berdiri seperti itu, mau tak mau  Asisten Qie melepaskan tangannya, melihat kembali ke arah Ceyasa yang sepertinya sekuat tenaga untuk bisa berdiri walau seluruh tubuhnya penuh luka hanya wajahnya saja yang tak terkena cambukan itu.


Ceyasa menatap Rain, mencoba mempertahankan posisinya agar tidak terlihat lemah di mata Rain, dia tahu Rain seolah monster yang hidup karena rasa takut Ceyasa, dia tak ingin lagi tampak takut, bahkan jika ini terakhir kalinya dia bisa berdiri, menikmati matahari, mencium bau pantai, rasanya sebelum dia mati, dia ingin menghadapinya dengan berani, bukan seperti wanita penakut yang membuat puas pria iblis ini.


"Keluarkan mereka," kata Rain lagi


3 anjing German Sherpherd di sisi kanan dan kiri Ceyasa tampak menggonggong keras ke arahnya, ketiganya dipengang oleh masing-masing penjaga. Berontak, menggonggong seolah ingin menyerang dan merobek tubuh ringkih Ceyasa.


Rain menaikan senyumnya, sudah terbayang teriakan dan juga wajah ketakutan Ceyasa yang benar-benar memuaskannya, namun yang ditunggunya tak kunjung datang, jangan wajah takut, Ceyasa hanya berdiri diam, semakin anjing-anjing itu mendekat, semakin tenang pula Ceyasa, dia bahkan mengulas senyuman tipis, seolah dia siap, bahkan jika tubuhnya dirobek oleh anjing-anjing itu, lebih baik mati dari pada harus merasakan penderitaan seperti ini.


Rain tampak tak senang, wajahnya berkerut sangat dalam, bagaimana dia bisa tersenyum dengan tenang menatapnya, Rain menggertakan giginya, emosinya kembali lagi, dia berdiri dan segera berjalan dengan cepat ke arah Ceyasa, tangannya mengeluarkan gestur untuk menjauhkan anjing-anjing yang suaranya sangat nyaring itu, para penjaga langsung menarik mereka.


Rain yang berjalan dengan langkah mantap penuh emosi itu langsung menangkap dagu Ceyasa, menekan jari jemarinya di pipi Ceyasa, menatap dalam pada wajah wanita itu. Mata Ceyasa yang sayu menatap ke arah Rain, menatapnya tanpa ada emosi sama sekali.


"Kau tak takut sama sekali?" tanya Rain yang kesenangannya harus terhalang, padahal dia tadi sudah berpikir Ceyasa akan meringkuk ketakutan, memohon untuk ditolong atau paling tidak berteriak, namun tak satu pun wanita ini lakukan, dia hanya diam dan tersenyum, wanita macam apa dia ini?


"Kapan kau akan membunuhku?" tanya Ceyasa yang sudah sangat siap mati.


Rain menatap mata Ceyasa dengan dalam dan penuh emosi, dia meremas pipi Ceyasa dengan sangat erat, selolah ingin meremukkan tulang rahang Ceyasa yang kecil. Ceyasa tidak meringis, sakitnya tak ada apa-apanya dari pada sakit disekujur tubuhnya, bahkan saat dia berdiri rasanya dia sedang berdiri diantara duri-duri yang menusuki seluruh kulit kakinya.

__ADS_1


__ADS_2