
"Oh, untuk itu saya datang kemari, Nona, boles saya masuk?" tanya Gerald lagi.
"Tentu, silakan," kata Ceyasa yang lupa mempersilakan Gerald masuk.
Gerald segera masuk, Hana memperhatikan pria itu, mendapat tatapan tajam dari Hana, Gerald jadi memperhatikan wanita itu, tampak garang dengan pakaian tentaranya, Gerald lalu duduk di salah satu sofa yang ada di sana, sedangkan Ceyasa duduk di sofa tunggal.
"Bagaimana keadaanmu Gerald? Archie mengatakan kau dan dia mengalami kecelakaan," kata Ceyasa basa basi, padahal dia sudah sangat ingin menanyakan kabar Archie.
"Ya, Nona, saya tidak apa-apa, hanya luka kecil di lengan," kata Gerald lagi, tak berani menatap wajah berharap Ceyasa itu.
"Baguslah, ehm … bagaimana Archie?" kata Ceyasa, tak bisa lagi menutupi penasarannya.
Mendengar itu Gerald menatap Ceyasa, memperhatikan matanya yang masih tampak berbinar, Ceyasa cukup senang, setidaknya ada orang yang bisa dia ajak bicara dan Gerald pasti tahu kabar Archie.
"Ehm, ya, Pangeran baik-baik saja, hanya saja dia sangat sibuk karena menjaga Yang Mulia Ibunda Ratu, keadaan Beliau cukup mengkhawatirkan," kata Gerald yang rasanya sangat sulit mengeluarkan kata-kata itu, berbohong demi kebaikan ternyata juga tak mudah.
"Benarkah? jadi keadaan Ibunda Ratu begitu parah," kata Ceyasa yang pada akhir nada bicaranya sedikit melemah.
"Iya, tapi Archie mengatakan jangan khawatir, dia akan kemari secepatnya, dia belum bisa menghubungi Anda, karena itu dia mengutusku kemari," kata Gerald lagi, berusaha untuk memberikan secercah harapan untuk Ceyasa, mendengar itu Ceyasa mengembangkan senyuman tipis, tak apalah, yang penting dia tahu keadaan Archie baik-baik saja sekarang.
"Iya, tidak apa-apa, lagi pula bagaimana dia ingin menghubungiku, ponselnya sudah mati, apa kau punya alat untuk mengisi baterainya?" tanya Ceyasa pada Gerald menunjukkan ponsel Archie yang mati.
"Nanti saya akan membawakannya untuk Anda, Nona," kata Gerald yang sedikit senang nada bicara Ceyasa sudah mulai normal.
__ADS_1
"Terima kasih," kata Ceyasa menatap Gerald, lalu membuang pandangannya ke arah ponsel Archie yang mati, bahkan setelah mendengar kata-kata Gerald tentang keadaan Archie, entah kenapa rasanya hati Ceyasa belum lega, mungkin karena dia terlalu merindukannya.
Gerald memandang Ceyasa, melihat senyuman manis itu perlahan pudar, entah kenapa Gerald merasa bersalah, dia merasa Ceyasa juga tahu bahwa dibalik semua kata-kata yang dia lontarkan tadi, semua hanya kebohongan belaka, Gerald jadi tak enak hati melihat semua ini, haruskan dia melanggar perintah raja dan mengatakan yang sebenarnya pada Ceyasa.
"Nona, Pangeran ingin tahu bagaimana kabar Anda," kata Gerald lagi memulai pembicaraan setelah hening sejenak.
"Oh, bisa kau lihat, aku baik-baik saja, semua sangat baik, hanya sedikit kesepian dan bosan, kau tahukan aku bagaimana orangnya," kata Ceyasa yang tampak menutupi perasaannya sambil tertawa sedikit di akhir kata-katanya, Gerald mengulas senyum tipis, tahu benar Ceyasa sedang menutupi perasaannya.
"Bagus kalau begitu, aku akan menyampaikannya pada pangeran," kata Gerald.
Suasana entah kenapa sangat canggung, tak seperti biasanya mereka berbicara, Ceyasa bingung harus apa karena perasaannya tetap tak tenang, sedangkan Gerald merasa bersalah.
"Apa ada pesan lain yang Archie ingin sampaikan?" tanya Ceyasa menatap Gerald, Gerald pun langsung melihat Ceyasa, perasaannya tambah tak enak, melihat wajah Gerald yang diam dan sorot matanya yang bersalah, Ceyasa merasa ada yang tak beres, "Gerald, katakan padaku, apa Archie baik-baik saja?" tanya Ceyasa, pertanyaan itu yang ternyata dari tadi mengusiknya.
Gerald terus menatap Ceyasa, wajahnya benar-benar muram, entah kenapa menginduksi perasaan sedih pada Ceyasa.
"Dia kenapa?" tanya Ceyasa lagi cemas.
"Maafkan aku Nona, tapi Yang Mulia Raja Angga melarangku untuk mengatakan keadaan Archie yang sebenarnya, dia merintahkanku hanya untuk melihat keadaanmu dan mencoba untuk membuatmu tenang, tapi aku tahu kau tidak akan pernah tenang, Pangeran Archie sekarang dalam keadaan koma," kata Gerald yang terpaksa melanggar perintah Angga, dia tak bisa menutupinya dari Ceyasa, dia tak tega, karena bagaimana pun, Ceyasa tetap tak akan perah tenang.
Ceyasa mendengar itu terdiam, sorot matanya menandakan ketidakpercayaan, apa yang baru saja dia dengar? Archie koma? Dia pasti salah dengar.
Gerald memperhatikan perubahan wajah Ceyasa, wajah Ceyasa awalnya kaget lalu berubah tak percaya, sedetik kemudian Ceyasa sedikit tersenyum aneh, wajahnya tampak tak ingin percaya namun dia tersenyum.
__ADS_1
"Aku salah dengar kan? Bukannya keadaannya baik-baik saja? kau katakan seperti itu awalnya," kata Ceyasa yang benar-benar berharap dia salah dengar tadi.
"Maafkan aku Nona, aku berbohong padamu," kata Gerald lagi, dia hanya memandangi Ceyasa.
"Bagaimana bisa dia koma? Dia pergi dengan baik dari sini, dia bilang dia akan kembali, jadi apa ada yang membuatnya koma? Apa dia kecelakaan lagi? atau bagaimana?" tanya Ceyasa, jika Archie koma gara-gara kecelakaan karena ingin menolongnya, maka semua hal ini adalah kesalahannya.
"Pangeran koma saat dia ingin kembali ke rumah sakit untuk melihat Ibunda Ratu, sejak saat itu Pangeran tidak pernah lagi sadar, dia mengalami memar otak, hal ini gara-gara penanganan yang terlambat, karena setelah sadar, Archie tak langsung dibawa ke rumah sakit, jadi …. " kata Gerald yang baru sadar, setiap perkataannya menambahkan rasa bersalah pada Ceyasa.
Ceyasa tak bisa membendung rasa sedihnya, tiba-tiba rasanya seluruh ruangan itu dingin, dia menggigil karenanya, apalagi menyadari keadaan Archie bisa begitu parah hanya karena dirinya, air matanya jatuh begitu saja, lolos melewati pipinya yang putih hingga menghilang jatuh. Matanya terlihat kosong, sekosong pikirannya sekarang, tiba-tiba saja dia merasa semua yang ada di kepalanya menghilang, tapi bukannya lega, hal itu malah membuat Ceyasa linglung.
"Aku harus melihatnya," kata Ceyasa langsung melihat ke arah Gerald, wajahnya tiba-tiba terlihat tegas, "aku harus bersamanya, dia begitu karena aku, Gerald, bawa aku ke Archie," pinta Ceyasa memohon pada Gerald, Gerald yang melihat tangis Ceyasa itu tersentuh hatinya.
"Aku rasa itu tidak bisa dilakukan, Yang Mulia Raja melarang keras Anda untuk keluar dari sini, dan lagi pula, Rain sudah dibebaskan, jika Anda keluar, maka akan sangat berbahaya, Archie sedang tak sadarkan diri, dia akan sangat terpukul saat dia sadar dan mengetahui Anda juga dalam bahaya, " kata Gerald menolak permintaan Ceyasa dengan halus.
"Tapi aku harus melihatnya, aku harus ada di sampingnya, suamiku sedang berjuang untuk nyawanya dan kau ingin aku hanya duduk di sini dengan santai menunggu kabarnya? Dia begitu karena aku, aku tidak bisa duduk tenang di sini, aku ingin melihatnya," kata Ceyasa yang menangis lirih, cukup menggetarkan hati yang mendengarkannya, Hana pun merasakan kesedihan Ceyasa, "lagi pula, mungkin aku bisa membantu untuk membuat keadaan Archie lebih baik, aku ingin memberikannya semangat agar dia bisa bangun kembali, tolong, bawa aku padanya," kata Ceyasa, benar-benar memelas meminta tolong pada Gerald.
Gerald tampak ragu, satu sisi apa yang dipikirkan oleh Angga adalah benar, sedangkan sisi yang lain, yang dikatakan oleh Ceyasa ada benarnya juga, bisa saja dengan kedatangan Ceyasa, Archie bisa cepat siuman.
"Aku akan membantu sebisaku, aku akan membujuk Yang Mulia Raja, agar membiarkan Anda untuk melihat keadaan Archie, aku yakin jika Beliau mengizinkan, maka penjagaannya juga akan ketat," kata Gerald menatap Hana, Hana melihat tatapan Gerald hanya memasang wajah siapnya, tak gentar apapun, dia akan melakukan tugasnya dengan baik.
"Ya, begitu juga tak apa, terima kasih, tolong beri aku kabar secepatnya," kata Ceyasa mengusap air matanya, bukan saatnya menangis, saat ini dia harus tegar untuk suaminya, suaminya pasti akan segera sembuh, dia yakin itu.
"Baiklah Nona, aku akan segera memberitahu Anda, aku hanya datang untuk melihat keadaan Anda, aku harus kembali untuk menjaga Pangeran," kata Gerald berdiri, Ceyasa yang melihat Gerald berdiri langsung mengikutinya.
__ADS_1
"Ya, tolong jaga dia untukku sampai aku bisa melihatnya," kata Ceyasa dengan tatapan berharap.
"Pasti Nona, aku permisi dulu," kata Gerald memberikan salam yang dibalas anggukan oleh Ceyasa, tak mengambil waktu lama, Gerald segera keluar dari sana, Ceyasa hanya bisa melihat kepergiannya dari jendela dengan menyelipkan sedikit harapan agar secepatnya dia bisa bertemu dengan suaminya.