
Archie sudah mencoba menutup matanya dari tadi, tubuhnya terbaring di ranjang kecil di kamar yang jika dibandingkan dengan kamarnya, bahkan kamar mandinya saja lebih lebar, dia menatap langit-langit kamar yang tampak usang, sebuah lampu tergantung menjulur begitu saja, bahkan tanpa penutup, sebuah lemari kecil ada di samping ranjangnya, dan hanya ada di itu di ruangan tidurnya.
Dia beberapa kali bersin, mencium bau debu yang terasa menyengat untuknya, dari keadaan itu saja dia sudah tahu kamar itu sudah begitu lama tidak digunakan, sebenarnya tadi Ceyasa sudah membersihkannya, namun karena memang sudah lama sekali tidak ada yang tidur di sana jadi tetap saja terasa berdebu dan Archie termasuk orang yang sensitif terhadap debu.
Dia menggosok hidungnya, terasa gatal sekarang, namun itu tidak diambil pusing olehnya, mendapatkan tempat tinggal dan tidak tidur di bawah rintik hujan yang sekarang sedang terjadi di luar, itu sudah cukup karena jika saja dia tidak bertemu dengan wanita aneh ini, dia pasti sedang gemetar kedinginan, karena udaranya cukup menusuk bahkan di dalam kamar itu.
Lampu kamar itu terlihat sangat silau jika ditantang, namun mata Archie tetap tertuju pada satu-satunya sumber cahaya itu, suara rintik hujan yang terdengar dan beberapa kali gemuruh malah membuat hatinya semakin sendu, pikirannya tentu pada Suri.
Dia bangkit dan duduk di samping ranjang, mengambil ponselnya melihat foto Suri yang sekarang diubahnya menjadi foto latar ponselnya, perasaannya tak sesakit itu lagi, namun datang perasaan yang lebih menyesakkan, kerinduan, perasaan itu diam-diam menyusup mengganti perasaan patah hati, diam-diam menyebar dan membesar, tumbuh begitu saja, seakan ingin menguasai segala perasaan yang Archie punya. Kerinduan yang sayangnya tak tersalurkan dan rasanya lebih menyesakkan dari patah hati.
Dia mengelus foto Suri di layar ponsel dengan ibu jarinya, menatap nanar. Dia membuka aplikasi obrolan onlinenya, melihat beberapa pesan yang sebelumnya Suri kirim padanya, untaian kata cinta, membuat Archie tersenyum, dia membacanya perlahan kembali, untungnya dia belum menghapusnya, kata-kata cinta dan rayuan manja Suri itu ternyata cukup bisa mengobati hatinya malam ini namun tak sadar malah menyuburkan rindunya.
Saat dia sedang meresapi perasaan yang muncul itu, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk, Archie segera menutup layar ponselnya, dan segera bangkit.
"Apa kah kau tidur?" suara Ceyasa terdengar dari luar.
Archie tak menjawab tapi dia langsung membuka pintu kayu yang tampak sudah tua itu. Saat Archie membuka pintu Ceyasa sedang ingin mengetuk pintu itu lagi, dia langsung menurunkan tangannya ketika melihat Archie.
"Kau tidur? apa kau sudah ingat sesuatu?" kata Ceyasa dengan wajah berharap, Archie menatap Ceyasa, dia benar-benar ingin Archie pergi? kejam sekali, baiklah, semakin dia ingin Archie pergi, akan semakin lama Archie di sini, lagi pula dia belum tahu sampai kapan akan di jemput oleh Gerald, pikir Archie.
"Belum, aku tidak bisa tidur, mungkin karena luka di kepalaku, aku jadi sangat pusing," kata Archie memegangi dahinya, Ceyasa yang tadinya berharap langsung terlihat kecewa, dia sangat ingin Archie segera pergi dari rumahnya.
"Yah, baiklah, aku akan pergi bekerja, kau ingin di rumah saja atau …. " kata Ceyasa menjelaskan.
"Aku ikut," kata Archi cepat, bahkan langsung memotong perkataan Ceyasa, dia tidak mau di tinggal sendiri di rumah ini, bahkan ada dua orang saja di sini, rumah ini terasa menyeramkan dan sepi, apalagi jika dia ditinggal sendiri, bisa-bisa Archie berpikir yang tidak-tidak sendiri nanti.
"Cepat sekali menjawabnya, semangat sekali," kata Ceyasa menatap Archie dengan wajah aneh.
"Baiklah, tapi aku akan bekerja, jadi kau mungkin bisa berjalan-jalan saja di sekitar kota," kata Ceyasa menjelaskan.
"Baiklah."
__ADS_1
"Ya, sudah, tunggu apa lagi, kau tidak ingin memakai pakaian hangat? di luar sangat dingin, nanti kau sakit flu, aku lagi yang disalahkan," lirik Ceyasa sinis pada Archie.
"Baik, baik, tunggu," kata Archie yang mulai tak sabar dengan kelakukan Ceyasa, dia membalasnya dengan nada kesal, kenapa wanita ini selalu menggunakan nada tak enak itu padanya? padahal seluruh wanita yang dia kenal berbicara sangat baik padanya. Archie mengambil jaket kulit hitam yang dia punya, untungnya dia masih punya jaket yang lain, kalau tidak dia benar-benar tak akan bertahan di sini.
Saat Archie keluar, dia sudah melihat Ceyasa menggunakan sepatunya dan pintu rumah sudah terbuka.
"Kau ingin menggunakan yang mana?" kata Ceyasa menunjukkan payung dan jas hujan karena rintik hujan masih cukup deras.
"Aku mau yang ini saja," kata Archie mengambil payung hitam dari tangan Ceyasa.
"Dasar, seharusnya kau membiarkan wanita menggunakan payung," ujar Ceyasa menatap Archie kesal.
"Memangnya kau yakin jas itu cocok dengan ukuranku, aku tebak, itu pasti ukuranmu," kata Archie yang mulai menunjukkan sifat aslinya. Mendengar itu Ceyasa sedikit berpikir.
"Benar juga," kata Ceyasa dengan wajah berpikirnya.
"Dasar, ternyata kau bodoh," kata Archie membuka payungnya di depan pintu keluar.
"Kan benar, masa itu saja tidak kau pikirkan."
"Dasar pria menyebalkan."
"Wanita aneh."
Ceyasa yang mendengar Archie mengatakannya dia aneh makin kesal.
Apa-apaan pria ini, aku sudah menolongnnya loh, tapi kenapa pria ini malah mengatakan aku wanita yang aneh, dasar, tak tahu balas budi, pikir Ceyasa yang melihat Archie keluar dari rumahnya menggunakan payung, berdiri di antara gelapnya malam, meliriknya dengan lirikan yang menurut Ceyasa makin membuatnya emosi.
"Hei, coba jelaskan kenapa kau menyebut aku aneh?" kata Ceyasa yang segera menggunakan jas hujannya lalu berjalan ke depan Archie, Archie menatap Ceyasa yang menggebu-gebu itu dengan sangat tenang, hal itu malah makin menyulut kemarahan Ceyasa.
"Lalu apa alasanmu memanggilku menyebalkan? lagi pula kau terus marah padaku dari pertama kali kita bertemu, apa menerutmu itu tidak aneh?" jawab Archie dengan tenang.
__ADS_1
"Iya, itu karena aku merasa terganggu karena dirimu," kata Ceyasa dengan nada yang marah.
"Kalau kau merasa terganggu kenapa kau mengizinkan ku tinggal di rumahmu?"
"Karena kalau tidak aku akan dituntut oleh mu, ah! lagi pula untuk apa kau melompat sih, menyusahkan sekali," teriak Ceyasa kesal, sangat kesal hingga jika bisa mungkin keluar asap dari kepalanya.
"Ya, itu masalahmu, lagi pula aku tetap bisa menuntutmu jika kau terus bersikap menyebalkan seperti itu," kata Archie masih dengan nadanya yang tenang.
"Menuntut? menyebalkan? apa tidak salah, di sini yang bertingkah menyebalkan itu kau," kata Ceyasa.
"Seharusnya kau menjagaku dengan baik sehingga aku cepat sembuh," kata Archie santai.
"Kau pikir aku kurang baik apa? aku memperbolehkan kau tinggal, aku juga memasakkanmu makanan, menurutmu aku kurang baik?"
" Cukup Baik," kata Archie seadanya.
"Dasar, hanya cukup baik, aku akan membunuhmu jika bisa," kata Ceyasa geram.
"Kau tidak jadi kerja?" tanya Archie tak peduli seberapa kesel padanya Ceyasa terlihat.
"Ya, ampun, kan! Ini semua gara-gara dirimu, aku jadi terlambat bekerja, dasar pria menyebalkan," kata Ceyasa baru ingat, dia jadi menggerutu sendiri lalu berbalik badan ingin segera pergi.
"Hey!" teriak Archie, Ceyasa mengepalkan kedua tangannya di depan dadanya, mau apa lagi sih pria menyebalkan ini? pikir Ceyasa sebelum dia berbalik menatap Archie yang masih diam menggunakan panyungnya.
"Apa lagi?" ketus Ceyasa.
"Kau jauh lebih bodoh dari yang aku pikirkan, sudah bodoh ceroboh lagi," kata Archie.
"Aku tidak punya waktu meladeni tingkahmu itu," kata Ceyasa lagi.
"Pintu rumahmu belum kau kunci, jika di sini seaman itu hingga tak perlu mengunci pintu, baiklah, kita tinggalkan saja," kata Archie melangkah pergi.
__ADS_1
Ceyasa melihat ke arah pintu rumahnya, benar, masih terbuka sangat lebar, gara-gara dia sangat emosi mendengar perkataan pria menyebalkan itu tadi, dia sampai lupa mengunci pintunya, dasar! boleh tidak dia meninggalkan pria itu di hutan saja? pikir Ceyasa dengan sangat emosi.