Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
316 - Aku akan selalu menolongmu.


__ADS_3

"Dia tidak akan apa-apa, bibi yakin itu, " kata Aurora menenangkan Jared, dari wajahnya Aurora bisa melihat betapa dia khawatir dengan Suri, bahkan dari tadi di hanya diam menatap ruangan Suri yang sudah mulai meredup.


 


Jared tidak menjawab, dia tak tahu harus apa, dia hanya memandang sebentar wajah ibunya lalu melihat kembali ke ruangan itu.


"Aku yang membuat dia mengalami hal seperti tadi," kata Jared pada Aurora, hanya pada ibunya lah dia bisa mencurahkan semuanya.


"Apa maksudmu?" tanya Aurora yang kaget mendengarnya, namun tetap mencoba selembut mungkin mengatakannya pada Jared.


"Dokter mengizinkan aku masuk ke dalam, dan aku mengatakan padanya bahwa aku tidak akan memaafkannya jika dia pergi, aku juga memaksanya untuk  sadar, aku rasa karena itulah Suri menjadi seperti itu " kata Jared terlihat sangat frustasi, dia menarik napasnya panjang sekali.


"Kau tahu, saat bibi terbaring di rumah sakit, bibi tak bisa merasakan apapun, tidak bisa melihat apapun, bibi seperti terkurung di ruangan yang sangat gelap tanpa tahu harus berbuat apa, namun setelah itu, satu-satunya yang bisa membuat bibi sadar adalah ketika bibi mendengar suara pamanmu, di sana bibi merasa bibi harus mencari dimana pamanmu, dia mengatakan bahwa dia membutuhkan bibi dan dengan dorongan itu, bibi bisa kembali sadar," kata Aurora memengang tangan Jared, memberikan sentuhan agar anaknya ini bisa tenang.


 


"Jika Suri tadi melakukan hal itu, artinya dia mendengarmu, hanya saja mungkin keadaannya belum memungkin untuk dirinya sadar, bibi yakin dia sangat ingin bertemu denganmu, saking semangatnya dia memaksakan diri, izinkan dia beristirahat, dia sudah melewati begitu banyak hal yang menyakitkan hari ini, kau sudah tahukan dia juga punya keinginan untuk sadar, maka yang dia butuhkan adalah dukunganmu, izinkan saja dia istirahat sejenak," kata Aurora dengan suara yang begitu lembut mendayu.


 


"Baiklah," kata Jared melihat ke arah Aurora, Aurora memberikan senyuman menenangkannya, pintu ruangan itu terbuka, Ceyasa masuk ke dalamnya, melihat ibu dan kakak sepupunya yang tampak sedang berbincang berdua.


"Ibu, ayah mencarimu," kata Ceyasa melihat ke arah Aurora, Aurora membalasnya dengan senyuman.


"Sekarang kau pun harus istirahat, jangan sampai Saat Suri sadar namun kau terlihat sangat kacau seperti ini, dia pasti sangat kaget dan sedih melihatmu seperti ini, lagi pula kau harus ada di sampingnya saat dia bangun, jika kau sakit, maka kau tidak akan bisa melakukannya," kata Aurora lagi


"Benar Kak, bagaimana pun Suri adalah keluarga kita, kita juga akan menjaganya, beristirahatlah sejenak, kami akan mengantikanmu, " kata Ceyasa melirik Jared yang benar-benar tampak kacau, auranya suram, tak seperti biasanya berwibawa dan gagah.


"Bagaimana dengan Archie?" tanya Jared.


"Oh, dia baik-baik saja, sedang berkumpul dengan Paman Daihan dan bibi Nakesha, juga Paman Angga dan Bibi Bella, ayah juga ada di sana," kata Ceyasa menjelaskan.


"Bibi, aku akan menyusul nanti, aku masih ingin di sini sebentar lagi, bolehkah aku di sini sendirian," kata Jared melihat Aurora lalu menatap Ceyasa yang memandangnya dengan simpati.


Aurora lalu melihat ke arah Ceyasa, dia mengulum bibirnya, mengangguk sejenak tidak mungkin memaksa jika hati kecil Jared masih ingin berdekatan dengan istrinya, Aurora berdiri dari duduknya, dia lalu berjalan keluar  bersama Ceyasa.

__ADS_1


 


Jared kembali memandang Suri, memandangnya terus ke arah Sur dan tak terasa dia tertidur di sana, Jared membuka mata, merasakan berada di tempat asing yang seluruhnya tetutup oleh salju, Jared menatap semuanya, seingatnya dia masih ada di rumah sakit, namun kenapa ada di sini?


 


Jared melihat segala arah, mencoba mengingat tempat itu yang samar-samar terasa familiar, Jared menatap butiran-butiran tebal salju yang jatuh menyelimuti tanah, membuat hamparannya putih sepenuhnya, namun herannya tak ada rasa dingin yang menusuk, malah terasa hangat sekali.


 


 


"Suri!" teriakan terdengar keras, membuat Jared mencari suara yang tak terlihat sumbernya, seorang anak dengan baju tebal berlari menerjang badai itu, Jared tiba-tiba ingat, bukannya ini saat Suri hilang dalam badai salju.


"Suri! " terdengar lagi suara yang lebih jelas seakan diteriakkan di samping telinganya, namun Jared tidak bisa melihat apapun.


 


Suri? Pikirnya, Jared berlari, dia tahu dimana Suri, Suri ada di bawah sebuah pohon cemara tak jauh dari tempat mereka bermain ski siang harinya, Jared lalu berlari, namun kakinya semakin lama semakin berat karena amblas masuk ke dalam salju yang entah kenapa semakin tebal, semakin dia melangkahkan kakinya, semakin dalam dia masuk ke dalam salju itu.


 


 


 


Semakin dekat semakin terasa sulit, bahkan dia sudah tenggelam sepinggangnya, dia berhenti sejenak, melihat tubuh mungil itu menggigil, dia tak bisa tinggal diam, sekuat tenaga melawan tumpukan salju itu, dan entah bagaimana dia berhasil mendekatinya dan seluruh salju tebal itu pun menghilang, dan dengan cepat Jared menggendong tubuh Suri kecil itu, wajahnya tampak memerah pucat kedinginan, dia menggigil kuat.


 


 


"Suri bertahanlah," kata Jared yang tidak mempermasalahkan kenapa sekarang tubuh Suri kembali ke usia saat dia menolongnya di badai salju itu.


"Kau siapa?" kata Suri yang bergetar, matanya yang indah menatap Jared.

__ADS_1


"Aku Jared," kata Jared sambil membawa Suri berjalan ke arah pondok mereka.


"Jared? kau Jared? kenapa kau di sini?" suara mungil itu terdengar manja.


"Aku datang menolongmu," kata Jared lagi sambil sibuk sebisa mungkin datang ke pondok mereka secepatnya, namun sepertinya jarak mereka sangat jauh, padahal awalnya terasa dekat.


"Kau menolongku? Kau menolongku lagi?" kata Suri dengan senyuman manis meringkuk mencari kehangatan dalam pelukan Jared.


"Aku akan selalu menolongmu," kata Jared melirik ke arah Suri.


"Bahkan jika kau tidak lagi bisa mendengar suaraku? Atau aku hanya bisa lagi berjalan di sampingmu?" tanya Suri pada Jared dengan suara merayu.


"Ya, aku sudah berjanji menjagamu selalu," kata Jared terus mengejar pondok itu.


 


Suri tersenyum penuh arti, menatap Jared, dia lalu kembali meringkuk mencari ke hangat seperti yang biasa dia lakukan saat tidur dalam pelukan Jared.


 


"Kalau begitu izinkan aku istirahat sejenak saja," kata Suri dengan senyuman indah sambil menutup mata, melihat itu Jared terdiam, dia berhenti berjalan, melihat ke arah Suri yang tertidur tenang, senyuman menarik ujung bibirnya.


 


"Suri, Suri?, Suri! " kata Jared menggoyangkan tubuh Suri kecil dalam gendongannya.


"Sebentar saja, setelah itu aku akan pulang," kata Suri lagi tapi masih dengan mata tertutup. Jared menarik napas lega.


"Jangan tinggalkan aku," kata Jared berbisik dan segera kembali berjalan, kali ini dia sudah dekat dengan pondok itu.


"Tak akan," kata Suri, bersamaan dengan itu pintu pondok itu terbuka dan tiba-tiba Jared terbangun, tubuhnya terhentak, merasa dingin yang menusuk, membuatnya menggigil karena tertidur di ruangan itu, berbanding terbalik dengan mimpinya yang penuh salju namun penuh kehangatan.


 


 

__ADS_1


__ADS_2