
Gerald berdiri dengan gugup di depan sebuah pintu yang tampak kokoh, tak lama seorang pria keluar, Asisten Lin.
"Yang Mulia Raja sudah menunggu Anda," kata Asisten Lin dengan sangat formal.
"Terima Kasih," kata Gerald lagi.
Dia merapikan sejenak jas yang buru-buru dipakainya karena tiba-tiba saja Gerald mendapatkan kabar bahwa Yang Mulia Raja ingin bertemu dengan dirinya tanpa Archie, ditegaskan pula agar Archie tidak mengetahui kemana dia pergi, karena itu dia benar-benar tergesa-gesa datang ke Istana dari rumah sakit crown.
Gerald memasuki ruangan kerja Angga, baru kali ini dia masuk ke sana sendirian, biasanya dia datang dengan Archie, itu juga sangat jarang dia diperbolehkkan masuk ke dalam ruangan kerja itu. Gerald memperhatikan Angga yang sedang duduk di salah satu sofa yang ada di sana, dari gayanya dia tampak sedang berpikir keras.
"Selamat malam Yang Mulia Raja Angga," kata Gerald dengan salam formalnya.
Mendengar salam dari Gerald, Angga segera melihat ke arahnya.
"Bangkitlah," kata Angga, wajahnya masih tampak serius seolah dia terus menganalisa dalam pikirannya.
"Ada apa Yang Mulia Raja ingin bertemu dengan saya?" kata Gerald sangat sopan, bagaimana pun status mereka berbeda sangat jauh.
"Duduklah, ada yang harus aku bicarakan padamu," kata Angga dengan suara yang sangat berwibawa, wajahnya datar seperti biasanya, dingin bagaikan gunung es.
Gerald dengan gugup segera duduk di depan Angga, baru kali ini dia duduk berhadapan langsung dengan seorang Raja, dia benar-benar gugup dan duduk dengan sikap sempurnanya, Angga mengamati Gerald, membuat Gerald semakin tegang.
"Ceritakan padaku kenapa Archie menolak tawaran dari Rain?" kata Angga dengan wajah sangat serius, mendengar pertanyaan Angga membuat Gerald kaget.
"Pangeran Archie memiliki masalah pribadi dengan Tuan Rain," kata Gerald yang bingung harus mengatakan apa, dia takut dia salah bicara dan posisi Archie semakin parah.
"Masalah pribadi?" tanya Angga lagi, alasan ini sama seperti alasan Archie sebelumnya.
"Ya, Tuan Rain ingin menaikkan investasi dan juga menandatanginya dengan syarat Pangeran Archie harus menyerahkan seseorang pada Tuan Rain," kata Gerald yang merasa dia malah salah bicara, namun tatapan tajam Angga benar-benar membuatnya terintimidasi sekarang, serasa menghipnotisnya untuk mengatakan semua hal.
"Seseorang?" tanya Angga sedikit kaget, kerutan di wajahnya bertambah dalam.
__ADS_1
"Pangeran Archie memiliki seorang teman yang membantunya selama dia pergi dari kerajaan dulu, entah bagaimana teman Pangeran Archie juga punya hubungan dengan Tuan Rain, Pangeran Archie merasa Tuan Rain berniat tidak baik pada teman Pangeran Archie, sehingga dia melindunginya dan Tuan Rain mengetahui hal itu dan melakukan penawaran," kata Gerald mencoba menata kata-katanya agar tidak membuat posisi Archie jadi sulit.
"Benarkah?" tanya Angga mendengarkan seksama apa yang dikatakan oleh Gerald.
"Benar Yang Mulia," kata Gerald cukup lega.
"Siapa?" tanya Angga yang sedikit penasaran. Pertanyaan Angga kembali membuat Gerald menegang.
"Seorang wanita bernama Nona Ceyasa," kata Gerald.
"Ceyasa?" tanya Angga, dia pernah mendengar nama itu sebelumnya.
"Ya, Nona Ceyasa, " kata Gerald sedikit mengerutkan wajahnya menatap perubahan wajah Angga itu.
"Bukannya dia wanita yang menolong Aurora saat kebakaran yang terjadi di rumah mereka?" kata Angga ingin memastikannya.
"Benar, Nona Ceyasa dulu bekerja sebagai pengantar barang, saat dia mengantar barang ke rumah Nyonya Aurora dan Tuan Jofan, dia melihat kebakaran dan menolong Nyonya Aurora bersama Tuan Jared," kata Gerald menjelaskan.
"Ceritakan semunya tentang Ceyasa padaku," kata Angga serius, mendengar itu Gerald segera menelan ludahnya, sepertinya dia sudah membuat kesalahan besar, namun dia tak mungkin menolak permintaan Yang Mulia Raja, mau tak mau dia mulai menceritakan semuanya tentang Ceyasa, namun untungnya dia berhati-hati untuk tidak menceritakan tentang pernikahan palsu antara Ceyasa dan Archie.
Angga yang mendengar semua cerita Gerald hanya memperhatikan dan mendengarkan dengan seksama, sesekali dia menganggukan kepala, seolah dia mengerti sesuatu.
"Sekarang dimana dia?" tanya Angga melirik pada Gerald.
"Nona Ceyasa sedang di rawat di rumah sakit crown karena mengalami sedikit kecelakaan, Pangeran Archie juga masih mencari-cari apa sebenarnya hubungan Ceyasa dengan Tuan Rain, dan …. " kata Gerald sedikit terhenti, entah haruskah dia mengatakan ini pada Angga atau tidak. Rasanya dia sudah terlalu banyak bicara.
Mendengarkan Gerald yang terhenti, membuat Angga kembali menekuk dahinya, dia lalu melirik ke arah Gerald.
"Dan apa?" tanya Angga penasaran.
"Setelah mengalami kecelakaan, diketahui bahwa Nona Ceyasa pernah mengalami cidera kepala dan juga saat dia bangun, dia mengatakan dia melihat wanita yang berlumuran darah, seperti seseorang yang meninggal di sampingnya," kata Gerald yang juga belum terlalu jelas apa yang dilihat oleh Ceyasa dalam mimpi itu.
__ADS_1
Sekali lagi mendengar hal itu membuat Angga menekuk dahinya dengan sangat dalam, dia seperti berpikir keras, merasa ada sesuatu dengan wanita itu. Siapa dia?
Angga tiba-tiba berdiri, dia lalu berjalan menuju ke arah meja kerjanya, Gerald melihat itu hanya mengikuti gerak gerik Angga dengan kepalanya, melihat apa yang dilakukan oleh Rajanya, Angga terlihat mengambil sesuatu dari sebuah brangkas yang ada di belakang meja kerajanya, setelah dia mengambilnya, dia segera berjalan kembali ke arah Gerald dan duduk di tempatnya.
"Simpan ini," kata Angga menyerahkan sebuah lencana pada Gerald, Gerald melihat itu sedikit terkejut.
"Ini?" kata Gerald yang tak percaya Angga menyerahkan benda sebegitu penting untuknya.
"Lencana wewenangku, dengan ini kau bisa mengakses semuanya, bahkan bisa memerintah pasukan khusus negara ini, aku ingin kau menyimpannya untuk sementara, jika dibutuhkan kalian bisa menggunakannya, aku rasa kalian akan membutuhkannya," kata Angga serius, Gerald mendengarkan itu terus mengerutkan dahinya, apa Angga tahu sesuatu akan terjadi, hingga memberikan lencana ini padanya?
Tangan Gerald sampai bergetar mengambil lencana yang terlihat berkilau di bawah lampu di ruang kerja Angga, lencana ini lencana khusus untuk komando seluruh angkatan bersenjata dan jajarannya, bukan lencana yang main-main, bahkan dengan lencana ini, status dan kekuasaannya setara dengan Presiden, mereka tidak perlu untuk meminta persetujuan Presiden untuk melakukan sesuatu, berlaku di seluruh negara ini. Angga mendapatkannya saat Jofan masih berstatus Presiden, dan hingga Presiden yang sekarang masih mengakui hal itu.
"Archie anak yang baik, dia pekerja keras, aku tahu bagaimana dia sangat berusaha untuk diterima di istana ini, namun dia masih punya satu kekuarangan, dia terlalu cepat emosi, karena itu aku percayakan ini padamu, bantulah dia," ujar Angga, sebuah tanda bahwa Archie memang memiliki darah keturunan Huxley, mereka punya masalah yang sama saat mereka muda, pengendalian emosi.
"Baik, Yang Mulia Raja," kata Gerald, merasa tambah satu lagi beban berat yang harus ditanggungnya.
"Rahasiakan semua pertemuan ini, dan aku perintahkan dirimu untuk melaporkan semua yang terjadi pada Archie padaku," tegas Angga dengan tatapan tajam, membuat Gerald ketakutan.
"Siap Yang Mulia," jawab Gerald yang bahkan hanya berbicara dengan Angga, keringatnya hingga mengucur diseluruh tubuhnya.
"Baiklah, kembalilah," perintah Angga mempersilakan Gerald untuk keluar, Gerald langsung berdiri dan memberikan salamnya, dan segera keluar, menyelipkan lencana itu pada jasnya dan segera pergi dari sana.
Angga menatap lurus, matanya sedikit menyipit, dari wajahnya sangat tampak dia sedang berpikir keras saat ini, apa yang dia pikirankan hanya dia sendiri yang tahu.
______________________________________
Gerald
__ADS_1