Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
337 -


__ADS_3

Mendengar penjelasan Jonathan, Jenny hanya bisa terdiam, dia memang tidak mengawasi sekelilingnya karena hujan deras, lagi pula sudah pukul 12 malam ketika dia keluar dari club malam itu, dan dia memang beberapa kali menghidupkan lampu di dalam mobilnya untuk mencari ponselnya yang terjatuh, sejauh ini alasan Jonathan masuk akal.


"Kebetulan sekali ya kau dan aku dalam satu tempat yang sama," kata Jenny lagi, masih ada yang mengganjal di pikirannya, dia orang yang tak percaya kebetulan.


"Itu club malam paling eksklusif di negara ini, semua orang akan memiliki tujuan ke sana, dan orang-orang yang mengundang temannya yang berasal dari luar negara pasti akan memberikan tempat paling baik di negaranya, club itu salah satunya, jadi apa menurutmu itu kebetulan, aku rasa tidak, sudah aku katakan, aku cukup sering ke sini, dan punya beberapa teman, mereka mengundangku, sudah seperti itu saja," kata Jonathan lagi, kali ini melirik ke arah Jenny, wanita ini ternyata cukup sulit untuk dipuaskan rasa ingin tahunya, tak seperti wanita biasanya.


Jenny mengangguk-angguk kecil, dia rasa hal itu cukup masuk akal baginya, tidak ada lagi pertanyaan dalam kepalanya, jadi dia memutuskan untuk diam.


Tak lama mereka tiba di hotel mewah yang di tempati oleh Jonathan, Jonathan segera keluar, dia menyerahkan kunci itu pada petugas yang 24 jam setia melayani, Jenny mengerutkan dahinya, kenapa Jonathan malah menyerahkna kuncinya pada petugas parkir, setelah memberikan kunci, dengan cepat Jonathan segera membukakan pintu untuk Jenny.


"Tidak, aku akan pulang saja," kata  Jenny yang tak punya minat bermalam dengan pria ini.


"Ini sudah jam 3 pagi, bajumu basah kuyup, dan juga mobilnya basah di dalamnya, tunggu hingga matahari terbit, aku akan menyuruh pihak hotel untuk membersihkan mobilmu, lagipula jika kau pulang jam segini ke istana, apakah tidak akan menjadi perbincangan?"


kata Jonathan dengan wajah serius.


Jenny kembali memutar otaknya, apa yang di katakan oleh Jonathan benar juga, sekarang mereka tinggal di lingkungan istana, jika tadi mereka tinggal di rumah mereka, itu tak ada masalahnya, tapi jika tinggal di istana, bisa-bisa dia akan dianggap mencoreng nama keluarga.


"Tenanglah, aku tidak akan melakukan apa-apa, lagi pula jika ingin, aku akan memesankan kamar hotel yang lain," kata Jonathan yang menangkap keraguan Jenny.


"Baiklah, tak perlu menyewa lagi, aku hanya tinggal menunggu pagi, jika sudah maka aku akan segera pulang," kata Jenny lagi.


"Ok, kalau begitu," kata Jonathan lagi.

__ADS_1


Jonathan segera berjalan memasuki hotel itu, mereka segera menuju lift dan Jonathan segera menekan tombol lantai paling atas, tak lama mereka sampai di lantai paling atas hotel itu, tempat presidential suite berada, Jonathan segera memindai kartunya, dan pintu hotel itu terbuka.


Seperti biasa kamar hotel itu mewah bak kamar istana, di dalamnya juga sebenarnya terdapat 2 kamar, Jonathan langsung menunjukkan kamar untuk Jenny.


"Satu orang tapi menyewa kamar begitu besar," kata Jenny sambil melirik kamar yang di tunjukkan oleh Jonathan.


Jonathan hanya mengulum senyum, wanita ini banyak protes, tapi entah kenapa dia menyukainya.


"Hanya jaga-jaga jika ada seorang gadis yang hampir kena rampok, lalu basah kuyup dan terlalu dini untuk pulang ke istananya, ternyata tak sia-sia menyewa kamar sebegini besar bukan?" kata Jonathan seolah membalikan sindiran Jenny, dia melangkah ke arah kamar utama yang ada di seberang kamar Jenny, dibatasi oleh ruang tamu yang tak kalah mewahnya, "mandilah, atau kau akan sakit, tenang saja aku tidak akan aneh-aneh denganmu,” sambung Jonathan, dia segera masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Jenny yang masih kaku menatap kamar Jonathan.


Jenny segera meletakkan tasnya ke atas ranjang, dia segera mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada bibinya jika dia malam ini menginap di salah satu kediaman temannya, setelah dia mengirim pesan, dia melangkah ke arah kamar mandi, tubuhnya masih merasa sangat dingin, mungkin mandi air hangat akan sedikit mengurangi dinginnya.


Jenny mandi dan sedikit berendam di air hangat, saat dia mulai terbuai dengan kenyamanannya, tiba-tiba pintu kamar mandinya terketuk, membuat Jenny langsung sadar seketika.


"Maaf Nona, saya diperintahkan Tuan Jonathan untuk membawakan Anda makanan dan minuman hangat dan juga baju untuk Anda kenakan," suara wanita terdengar di luar kamar mandi. Jenny mengerutkan dahinya, namun tak ingin melanjutkannya.


"Baiklah, letakkan saja di sana," kata Jenny.


"Baik Nona.”


Setelah merasa cukup, Jenny segera mengeringkan tubuhnya, membalut tubuhnya dengan jas mandi yang cukup tebal dan panjang, dia mengeringkan rambutnya untuk menambah kehangatan, saat dia keluar dari kamar mandi, dia sedikit kaget melihat makanan dan minuman sudah berjejer di meja dekat tempat tidurnya, di atas kasurnya juga sudah terdapat baju, terlihat baju itu bukan baju wanita, mungkin miliknya karena ukuran dan potongannya mengisyaratkan itu adalah milik pria.


Jenny mengambil baju itu, wangi maskulin yang lembut tercium segera, entah kenapa Jenny menyukainya, tentu saja Jonathan hanya punya baju pria, jika dia punya baju wanita, maka Jenny pasti akan kembali bertanya-tanya dalam otaknya.

__ADS_1


Jenny memakai baju tidur yang hampir menenggelamkannya, sangat kebesaran untuknya, namun setidaknya lebih nyaman, seorang pelayan meminta baju kotornya untuk segera dicuci agar nantinya bisa dia gunakan secepatnya.


Jenny sedang duduk di ranjangnya sambil menyeruput teh camomile hangat saat tiba-tiba pintunya terketuk, dengan santai Jenny mempersilakan siapa pun yang ada di balik pintu itu untuk masuk, dia kira mungkin hanya pelayan, dan Jonathan mungkin sudah tidur.


Jenny langsung duduk dengan tegak ketika melihat siapa yang masuk dari pintu kamarnya, ternyata Jonathan, Jenny langsung menaikan selimut setinggi dadanya, bagaimanapun dia tidak memakai dalaman sekarang.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Jonathan duduk di salah satu sofa yang ada di sana.


"Eh, aku? baik-baik saja, seharusnya aku yang bertanya seperti itu," kata Jenny melirik ke arah Jonathan yang sudah menggunakan pakaian santainya.


"Aku baik-baik saja, sudah minum tehnya? Itu akan membuatmu lebih rilex, matahari baru bersinar 3 jam lagi, kau masih bisa tidur sejenak," kata Jonathan lagi.


"Bagaimana aku ingin tidur jika kau ada di sini? " kata Jenny lagi melirik ke arah Jonathan.


"Baiklah, aku akan keluar, oh, mobilmu sedang di bersihkan, bajumu juga, akan siap setelah kau bangun nanti, selamat tidur," kata Jonathan lagi dengan senyuman indah, hampir saja ingin berdiri sebelum Jenny membuatnya mengurungkan niat unutk berdiri.


"Ya, tenang saja, aku akan pergi pagi-pagi sekali, bahkan sebelum wanitamu itu tahu aku menginap di sini, jadi tenang saja, dia tidak akan sampai tahu," kata Jenny yang ingat Jonathan bersama seorang wanita bernama Cheryl kemarin.


Jonathan tersenyum, dia kembali duduk di sofanya itu, memandang Jenny yang jaraknya tak terlalu jauh darinya.


"Ya, mungkin dia akan marah jika dia tahu kau tidur di ranjangnya," kata Jonathan santai sambil memakan sedikit cemilan di dekat sofanya.


"Ha? Benarkah? kalau begitu aku akan keluar dari sini," kata Jenny langsung menyingkap selimutnya, dia tak mau tidur di bekas wanita lain, apa lagi wanitanya seperti wanita penggoda itu, pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2