
Jofan memperhatikan mata Aurora yang tertutup, dia menyusupkan kedua tangannya ke sela-sela rambut Aurora, mungkin karna memang sudah terlalu lama tak terkena sentuhan atau memang karena sudah tergila-gila dengan Aurora, hal ini saja sudah membuat gairah Jofan keluar.
"Nyonya …. " ujar dokter Elly yang tiba-tiba masuk ke ruang tamu itu dan mendengar itu, Jofan segera menyudahi ciuman mereka, Jofan dan Aurora langsung tampak salah tingkah, apa lagi dokter Elly, dia langsung merasa salah.
"Ya? ada apa?" tanya Aurora mencoba bersikap biasa saja.
"Tuan, Nyonya, saya harus kembali ke laboratorium karena saya harus mengambil persediaan obat untuk Nona Sania, keadaan beliau stabil, jadi saya rasa tidak akan ada masalah untuk malam ini," ucap Dokter Elly yang masih tidak bisa menutupi salah tingkahnya, merasa sangat bersalah.
"Baiklah," ujar Aurora.
Dokter Elly segera berjalan meninggalkan mereka, Jofan segera ingin membuka jasnya, Aurora yang melihat itu kembali membantu suaminya untuk membuka jasnya, dari ruang tamu itu Jofan bisa melihat ruangan Sania yang terlihat redup, tubuhnya masih terbaring bagai tak bernyawa.
"Bagaimana kabarnya?" tanya Jofan melirik ke arah Aurora yang melipat jas suaminya di datangannya.
"Baik, stabil seperti kata Dokter, mandilah setelah itu kau boleh bertemu dengannya," ucap Aurora dengan senyum manis, seolah tak ada rasa cemburunya sedikit pun. Jofan melihat itu hanya tersenyum tipis, tahu tulusnya hati Aurora, benar-benar jatuh cinta dengan sikapnya ini.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mandi sekarang," ujar Jofan segera membuka dasinya, berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Tolong bawa jas Tuan untuk di cuci," ujar Aurora pada pelayannya.
"Baik Nyonya," kata pelayan itu.
"Oh, iya, panaskan makanan yang tadi aku buat, Sebentar lagi Tuan akan makan malam," ucap Aurora lagi dengan senyuman manis pada pelayannya.
"Baik Nyonya," jawab pelayannya.
Setelah itu, Aurora beranjak masuk ke dalam kamar suaminya, seperti biasa menyiapkan baju untuk suaminya dan diletakkannya di atas ranjang suaminya.
Pintu kamar mandi terbuka, lagi-lagi menyeruakkan aroma khas Jofan, segar dan maskulin, Aurora melirik ke arah kamar mandi itu sejenak, menampakkan Jofan yang selesai mandi dengan jas mandinya yang berwarna biru tua, rambutnya jatuh kebawah dan basah, mau bagaimana pun tetap tampak begitu mempesona, Aurora yang selesai menyusun baju suaminya langsung melirik kembali ke arah Jofan yang perlahan mendekatinya.
"Ini bajunya ya, aku juga sudah menyuruh pelayan untuk memanaskan makanan, sebentar lagi mungkin akan selesai," ujar Aurora begitu perhatian pada Jofan yang sekarang berdiri di dekatnya. Jofan memandang Aurora dengan sendu, tampak kilatan nafsu yang sebenarnya sudah menguasainya dari ciuman mereka yang pertama, tapi sepertinya Aurora tidak memperhatikan hal itu, tampak sekali pengalamannya bersama pria sangat kurang, bahkan dengan suasana seperti ini Aurora tampak tak tanggap.
__ADS_1
Jofan sedikit tertawa kecil, merasa kepolosan dan keluguan Aurora sedikit membuatnya lucu, wanita berumur kepala 4, masih tak mengerti hal ini, yang dia tahu hanya melayani suaminya secara lahirnya saja.
Jofan menarik tubuh Aurora, memeluknya dari belakang dengan erat, seolah ingin melapiaskan rasa gemasnya pada istrinya, membuat Aurora kaget dengan apa yang dilakukan oleh Jofan, mata Aurora membasar, merasakan kulit dingin serasa menyengat tubuhnya yang hangat, Jofan meletakkan dagunya di pundak Aurora, ingin lebih bisa menghirup wangi tubuh Aurora, membuat Aurora merasa geli yang menjalar ke seluruh tubuhnya, Jofan yang melihat Aurora mengeliat geli tersenyum manis.
"Aku rasa aku tidak butuh pakaian sekarang," bisik Jofan pada Aurora, membuat Aurora kaget dengan perkataan suaminya, wajahnya seketika memerah dan panas, detak jantungnya pun begitu memburu, Jofan tak membiarkan Aurora untuk menenangkan diri Aurora yang masih tampak kaget, dia mengecup lembut pundak Aurora yang kembali membuatnya menggeliat geli, Jofan merasa tak sabar, langsung membalikkan tubuh Aurora dan segera mencium bibir wanita itu dengan ganas, begitu ganas hingga menyapu segala yang ada di dalam rongga mulut Aurora.
Aurora tentu tidak bisa mengimbangi permainan lidah dari Jofan, dia tampak kewalahan, bahkan sekarang dia sudah kehabisan napas karenanya, namun dia juga wanita normal, nafsunya tergelitik dengan permainan Jofan, memancing gairahnya keluar, apalagi tangan Jofan yang mulai liar menjelajahi tubuhnya. Rasa panas seketika menjalar ke seluruh tubuhnya, sensasi setiap sentuhan yang diberikan Jofan benar-benar membuatnya melupakan semua, membuat seluruh tubuhnya terasa gerah.
Jofan menghentikan ciumannya, melihat wajah Aurora yang sudah memerah, memandang begitu sayu ke arahnya, membuat Jofan semakin terpancing oleh tatapan Aurora yang seolah memanggilnya untuk meminta lagi, Jofan segera menggendong tubuh Aurora yang hanya bisa pasrah, membawanya dengan perlahan ke atas ranjangnya, membiarkan Aurora tampak nyaman di sana.
Aurora tampak malu-malu saat Jofan mulai membuka satu persatu kancing baju yang dipakainya, melihat tulang leher Aurora yang begitu menggoda, Jofan tak bisa menahan dirinya untuk segera mendaratkan ciumannya di sana, membuat tubuh Aurora langsung tersengat perasaan yang tak bisa dilukiskan, tangan Jofan aktif, meraba, menjelajahi kulit putih nan halus aurora, melepaskan sehelai demi sehelai benang yang ada di tubuh masing-masing, hingga tak ada satu pun yang tertinggal, Jofan terus menjelajahi sejengkal demi sejengkal, sehalus dan sepelan mungkin, hingga membuat Aurora melayang meninggalkan dunia sesaat.
"Apa aku boleh?" tanya Jofan sebelum menjalankan langkah selanjutnya, menatap mata sayu Aurora yang begitu menggoda, Aurora mengigit bibirnya, mengangguk pelan penuh perasaan. Jofan tersenyum manis, mengecup bibir Aurora membuat dia senyaman mungkin menerima dirinya, namun tetap saja dia memejamkan matanya merahan sedikit perasaan perih.
Napas mereka beradu dalam pergum’ulan yang syahdu, suasana begitu sejuk namun mereka berbalut keringat, tak lepas mata saling berpandang, kelembutan dan kehalusan yang di berikan Jofan membuat pengalaman pertama Aurora begitu berkesan, penuh cinta dan kasih sayang, hingga keduanya larut dalam puncak kenikmatan.
__ADS_1