Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
128 - Sejak Kapan Mereka Bersama? (Suri -Jared)


__ADS_3

Jared segera berjalan menuju lift dan segera masuk ke sana, menuju ke lantai dasar rumah sakit itu, dan segera berjalan menuju ke ruangan tunggu, tak ingin membuat Suri menunggu lama, saat dia sampai di ruang tunggu, dia langsung bisa melihat Suri yag dijaga oleh 2 penjaga, sangat mencolok diantara semua orang di sana, Jared terdiam sebentar, Putrinya selalu saja tampak begitu indah.


"Ehem," kata Jared menegur Suri yang membelakanginya, Suri langsung melihat ke arah suara, membuat harum rambut dan tubuhnya terkibas hingga masuk ke dalam penciuman Jared, wangi lembut yang memabukkan. "Sudah lama?" tanya Jared pada Suri.


"Tidak, bagaimana keadaan Bibi? Mama mengirimkan salam, dia belum bisa kesini tanpa papa, dia sedang keluar," kata Suri dengan lembut, tersenyum manis melihat ke arah Jared, binaran matanya terlihat saat dia memandang Jared.


"Dia ada di atas, ingin melihatnya?" kata Jared lagi.


"Baiklah, aku akan ke atas, kalian tidak perlu mengikutiku," kata Suri memerintah pada kedua penjaganya. Mereka hanya mengangguk, percaya dengan penjagaan Jared pada Suri.


Jared segera memulai langkahnya, dia mempersilakan Suri untuk jalan duluan dan mereka segera menuju ke arah lift dan segera menuju ke atas.


Suasana cukup canggung di dalam lift itu, hanya mereka berdua, Suri pun terlalu bingung untuk memulai pembicaraan, dia hanya menatap Jared yang seperti biasa, dingin dan diam jika tak berbicara.


"Bagaimana bisa begitu?" tanya Suri melirik ke arah Jared.


"Kami belum tahu bagaimana bisa begitu, saat aku pulang, rumah sudah terbakar, dan bibi sudah terjebak di dalam," kata Jared melirik ke arah Suri.

__ADS_1


"Semoga semuanya akan berjalan dengan baik, " kata Suri dengan senyuman untuk menyemangati Jared.


"Ya, terima kasih," kata Jared yang tampak tak tidak terlalu memperhatikan Suri, membuat Suri sedikit kecewa, tidak mendapatkan perasaan hangat yang biasa yang diberikan oleh Jared padanya.


Pintu Lift itu terbuka, seperti biasa Jared mempersilakan Suri untuk jalan duluan, Suri sedikit kaget melihat ruangan itu, sama terkagumnya seperti Jared saat pertama kali melihat lantai itu, Jenny yang melihat kakaknya datang dengan Suri hanya melirik sekilas, lalu kembali membaca majalah yang ada di sana.


"Hai, Jenny," kata Suri menyapa Jenny yang ada di sana.


"Hai," kata Jenny seadaanya karena memang dari awal tidak terlalu dekat dengan Suri. Suri mengulum senyumnya, tak ambil pusing karena dia tahu bagaimana sifat Jenny.


"Kau ingin melihat bibi?" kata Jared pada Suri.


"Ya, tentu, ayo ikut aku," kata Jared mengapai tangan Suri, menggenggamnya mengarahkan Suri ke pintu masuk, Jenny yang tadi sibuk membaca majalahnya seolah tak peduli, mengintip sedikit dari atas majalahnya, memperhatikan pegangan tangan Jared pada Suri sebelum mereka masuk ke dalam ruangan itu, saat kakaknya dan Suri sudah masuk, Jenny baru berani mengangkat kepalanya lebih tinggi, sedikit menyipitkan matanya, seolah paparazi yang baru mendapatkan berita bagus. Sejak kapan kakaknya bisa seperti itu? bahkan menggandengdeng tangannya saja tak pernah? Sejak kapan mereka bersama? Rasa penasaran Jenny menggelitik, dia harus bertanya pada kakaknya nanti.


 Awalnya Suri sedikit kaget dengan genggaman tangan dari Jared, namun akhirnya tersenyum merasakan hangatnya tangan Jared, Jared segera memindai kartu itu, dan segera membawa masuk Suri ketika pintu itu terbuka, udara dingin yang menusuk segera menyambut mereka, kembali wangi khas rumah sakit itu menyengat hidung Suri, di ujung ruangan dia melihat beberapa baju khusus tergantung.


"Pakai ini," kata Jared memberikan sebuah baju khusus yang ada di sana, Suri segera memakainya, begitu juga Jared, Jared lalu mengambil penutup kepala yang masih ada dalam kotaknya, menarik satu lalu menunggu Suri untuk memakai pakaiannya, Suri yang telah menggunakan baju khususnya segera melihat ke arah Jared, Jared dengan cekatan langsung memasakan penutup kepala itu pada kepala Suri, dengan lembut menyelipkan rambut Suri yang untungnya hari ini dia ikat sehingga lebih mudah menggunakannya.

__ADS_1


Suri yang melihat Jared dengan begitu perlahan memakaikannya penutup kepala hanya bisa melihat pria itu melakukannya, terpesona oleh tatapan tajam nan menawan itu, sangat mempesona melihat wajah Jared yang begitu dekat ada di depannya, harum maskulin tubuh Jared menjadi wangi kesukaannya sekarang, Jared sama sekali tidak memperhatikannya, namun hal ini benar-benar meluluhkan hati Suri, membuat dekat jantungnya berdegup kencang, di ruangan yang begitu dingin, pipinya memanas.


Suri tak bisa menahan senyum sumringahnya, sangat bahagia diperhatikan seperti ini, sudah lama rasanya tak merasakan hal ini, rasa berdebar, rasa malu-malu, rasa panas tersipu, Suri merasa seperti seperti anak remaja yang jatuh cinta kembali. Dengan Archie, perasaan ini sudah lama berlalu, ternyata dia hanya terlalu biasa ada disampingnya.


"Sudah," kata Jared akhirnya menatap mata Suri, membuat Suri kembali ke alam nyata, dan langsung salah tingkah karenanya, membuat Jared yang melihat wanita di depannya ini, merasa cukup gemas karenanya, senyuman indah Suri membuat sedikit penatnya hilang.


"Sudah, ayo," kata Suri lagi.


Jared sedikit mengangguk, lalu memindai pintu yang lain, untuk masuk ke ruang kaca yang bisa melihat Aurora, Jared melangkah duluan, menyodorkan tangannya agar digenggam oleh Suri, Suri yang melihat itu segera mengengam tangan Jared, Jared segera membawa Suri melihat Aurora yang masih terbaring tak sadarkan diri.


Jared dan Suri hanya berdiri menatap keadaan Aurora dari balik kaca besar itu, genggaman tangan hangat mereka terus terpaut, seolah tak bisa lagi terlepas. Sesaat mereka hanya diam, Jared bergeming, hanya menatap lurus ke arah bibinya, Suri memperhatikan wajah Jared, memperhatikan sorot matanya yang terlihat sendu penuh dengan rasa kasih sayang, baru kali ini Suri melihat tatapan itu dari mata Jared.


"Ada apa?" tanya Jared yang ternyata tahu bahwa dari tadi Suri memperhatikan dirinya.


"Oh, tidak, aku bisa melihat betapa kau menyanyangi bibimu, l" kata Suri mendeskripsikan apa yang dilihatnya saat ini.


Jared diam sejenak, tetap saja menatap kaca itu dengan tatapan dalamnya, seolah bahkan dia bisa berdiri seharian bergeming di sana hanya untuk menemani bibinya dibalik kaca pembatas ini.

__ADS_1


"Ibuku pergi meninggalkanku saat aku marah padanya, saat itu hanya karena aku tak ingin pergi kesebuah pertemuan, aku marah padanya, malam harinya, dia mencoba untuk berbicara padaku, namun aku mengabaikannya, ibuku tampak begitu cantik dengan gaun hitam yang aku pilihkan sebelumnya, walaupun aku marah padanya, dia tetap tersenyum padaku, Jenny jadi marah padaku karena aku pula dia tidak bisa ikut dengan ayah dan ibu," Suara Jared terdengar lebih berat, membayangkan wajah dan ibunya dikaca tepat di depannya.


__ADS_2