
"Kenapa malah tertawa, ayo makan, biar keadaanmu membaik," kata Ceyasa, lagi-lagi tak ada nada ramah di sana, namun matanya memancarkan rasa sayang. Archie langsung memakan potongan buah semangka itu, melihat wajah Ceyasa yang sedang bersiap untuk mengambil buah lagi.
"Boleh aku ambil obatku sekarang?" tanya Archie melihat Ceyasa.
Ceyasa yang mendengar itu langsung melihat Archie, Ceyasa lalu mengambilkan obat penambah darah yang memang tersedia di sana, membukanya dari bungkusnya dan menyodorkannya pada Archie, tangannya yang lain memegang air putih.
"Ini," kata Ceyasa.
"Bukan yang ini," kata Archie lagi.
"Yang mana? tidak ada yang lain," kata Ceyasa sekilas melihat nampan itu, hanya ada obat itu, namun baru Ceyasa memalingkan wajah ke arah Archie, Archie langsung memberikan Ceyasa sebuah kecupan manis di bibirnya, tak lama karena Archie juga merasa masih lemas dan pegal, namun cukup membuat Ceyasa kaget melihat tingkah spontan Archie ini.
Archie langsung mengambil obat dari tangan Ceyasa yang masih diam, lalu menegak air putih itu hingga habis.
"Sekarang aku merasa darahku sudah terisi penuh, terima kasih obat manisnya," kata Archie melirik Ceyasa yang wajahnya memerah tersipu.
"Dasar, tukang gombal," kata Ceyasa yang mencubit lengan atas Archie yang terasa keras karena isinya hanya otot.
"Aw! Sakit tahu, kau ini, padahal aku begitu manis padamu," kata Archie kesal.
"Biarin, ini makan lagi," kata Ceyasa menjajalkan beberapa buah pada mulut Archie yang meliriknya kesal, melihat hal itu Ceyasa sudah yakin Archie keadaannya akan baik-baik saja, kalau dia sedang lemas tidak mungkin tatapannya sekesal itu.
----***----
Dokter melihat ke arah monitor penunjang kehidupan Suri, mereka terlihat tegang memperhatikan detak jantung Suri yang semakin naik, 30 menit setelah penyuntikan darah Rain.
__ADS_1
"Sudah berapa mililiter darah yang telah masuk?" tanya Dokter Malvis menatap monitor itu tanpa berkedip.
"10 mili," kata dokter Irena, dia memang bertugas untuk memasukkannya.
"Tambah 5 mili," kata dokter Melvis lagi, wajahnya cemas.
"Tapi dokter …. " kata dokter Irena sedikit keberatan.
"Kita harus cepat, waktu kita tidak banyak," kata dokter Malvis lagi yang melihat hasil dari 10 mili darah yang disuntikan tidak maksimal. Dokter Irena menatap ragu, namun dia segera mengambil 5 mili darah yang sudah di siapkan, dan dengan cepat memasukkannya melalui selang infus.
Setelah memasukkannya, mereka kembali mengamati, 15 menit kemudian denyut jantung Suri naik secara drastis, napasnya pun tampak sesak, darah keluar dari hidungnya lagi, dan tubuhnya mulai bergerak tak beraturan, sepertinya apa yang sudah di suntikkan oleh dokter itu mulai bereaksi.
"Ambil sampel darahnya cepat, masukkan anti perdarahan dan juga anti kejang sampai kita mendapatkan hasil darahnya," kata dokter itu langsung memberikan semua arahan pada masing-masing orang di sana, ada yang sibuk mengambil darah, yang lain menyiapkan obat yang di minta oleh Dokter Malvis, setelah orang itu mengambil darah Suri baru yang lain menyuntikkan obat-obatan yang diminta oleh dokter.
"Serumnya sudah siap?" kata dokter milirik ke arah perawat yang bertanggung jawab untuk serumnya, perawat itu hanya mengangguk.
Dia mencari seksama, melihat dengan jelas apa yang gambaran yang di dapatkan, apakah ada perubahan ke arah yang diinginkan atau tidak, dan dia langsung membesarkan matanya melihat gambaran itu, langsung terlonjak dan berlari ke ruangan sebelah, seolah sangat buru-buru.
"Dokter! Hasil darah positif," kata teriak dokter itu yang membuat semua orang di sana menghentikan pekerajaannya. Seakan semuanya langsung punya tugas baru.
"Serumnya! Cepat!" kata dokter Malvis mendekati tubuh Suri yang mulai menenang karena efek obat yang mereka masukkan tadi, obat itu hanya menghilangkan gejala, namun proses pendarahan di dalam tubuh Suri akan kembali lagi jika tidak ada serum itu, inilah saat paling kritis, jika mereka tidak cepat dan tepat dalam memberikan dosisnya, maka akan berakhir dengan kabar buruk, Dalam beberapa waktu, Suri bisa saja meregang nyawa karena seluruh pembuluh darahnya pecah dan juga organ-organ dalam tubuhnya gagal bekerja akibat mengganasnya penyakit ini, selain itu, jika ini berhasil mereka harus memastikan efek sampingnya yang tadi mereka ciptakan tidak terlalu berat.
Dokter Malvis memasukkan serum Archie 4 kali lebih banyak dari pada yang sudah direncanakan karena mememang mereka memasukkan antigen 3 kali lebih banyak, setelah memasukkannya, mereka sekali lagi harus memantau keadaan Suri, semua orang di ruangan itu menahan napas, mata mereka seakan terpaku dengan monitor kehidupan Suri, menunggu setiap menitnya apa yang terjadi, berhasilkan mereka menghentikan keganasan penyakit itu.
5 Menit pertama terlewati, tak ada perubahan berarti, detak jantung Suri masih di atas ambang batas, napasnya pun masih tetap tidak stabil, bisa dibilang keadaannya masih sangat kritis, namun akhirnya keadaan Suri berangsur membaik setelah menunggu hampir 1 jam dalam ketegangan.
__ADS_1
Dokter Malvis tahu, dia belum bisa bernapas lega, keadaan tanda vital Suri mungkin sudah turun, namun ini sama sekali belum dikatakan berhasil jika belum ada bukti dari pemeriksaan darah Suri, tapi mereka juga tidak bisa mengambil darahnya sekarang, butuh waktu 1 jam lagi untuk mengetahui hasil akhirnya.
"Dokter Anda boleh beristirahat di sebelah, jika ada apa-apa kami akan memanggil Anda," kata salah satu asisten dokter yang tahu saat ini yang penting adalah memantau keadaan Suri.
"Baiklah, " kata dokter Malvis yang memang merasa sangat tegang, dia harus sedikit mengendurkan saraf-sarafnya agar bisa berpikir jenih, jika sewaktu waktu, dia harus berpikir cepat lagi.
"Kita hanya tinggal berdoa, semua ini berhasil, jika tidak," kata dokter Irena mengikuti dokter Malvis berjalan menuju ruangan sebelah, ruangan yang saling berhubungan.
"Aku yakin ini berhasil, pasti," kata dokter Malvis yakin.
Namun baru saja dia ingin duduk, tiba-tiba perawat memanggilnya, membuat dokter Malvis dan dokter Irena saling menatap, bergegas kembali ke ruang Suri.
"Ada apa?" kata dokter Melvis.
"Darurat jantung," kata perawat itu.
Dokter langsung berlari, melihat ke arah monitor yang menunjukkan adanya gejala gangguan irama jantung, tensi Suri pun jatuh dengan sangat rendah.
"Siapkan DC syok!" kata dokter Malvis.
Para perawat segera mendorong alat ke arah dokter itu, yang lain menyiapkan dada Suri untuk menerima kejutan, dokter melihat ke arah monitor, gangguan irama jantung terlihat sangat jelas, Dokter Irena mengambil alih alat itu.
"Isi," kata dokter Malvis.
"360 Joule," kata dokter Irena mengoprasikan alat dC-shock itu, suara alat mengisi tegang terdengar keras.
__ADS_1
"Clear?" kata dokter Malvis bertanya, semua orang di ruangan itu menjauh dari tubuh Suri.
"Clear, " jawab mereka serempak.