
Langkah kecil seorang anak berusia 4 tahun tampak menerobos lorong demi lorong dari istana, dia mendorong semua pelayan dan dayang yang menghalanginya, semua orang kaget bahkan ada yang berteriak, setelah melihat siapa yang lewat mereka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Pangeran Xander! Pangeran Baju anda," teriak seorang penjaganya.
Xander berhenti sejenak, wajah jahilnya tampak menyunggingkan senyuman, dia senang melihat pengasuhnya tunggang langgang mengejarnya, tubuhnya yang bertelanjang dada tak diperdulikannya, seolah mengejek, setelah pengasuhnya cukup dekat dia kembali berlari.
Pengasuhnya itu segera mengejarnya kembali, namun dia kaget ketika dipersimpangan dia hampir menabrak seseorang yang ternyata adalah Ratu mereka.
Ceyasa juga kaget melihat pengasuh Xander yang hampir menabraknya, dia bahkan harus mengelus dadanya karena detak jantungnya yang terkena kejutan tadi.
"Sanny, ada apa?" tanya Ceyasa yang melihat wajah pengasuh Xander yang tampak kelelahan, napasnya susah.
"Pangeran, Pangeran lari lagi, beliau bahkan belum menggunakan bajunya," kata Sanny menunjuk kemana Xander berlari, di ujung lorong, Ceyasa sempat melihat kepala Xander yang 'nongol' mengintip dirinya, wajah Xander langsung panik melihat ibunya yang kesal melihat tingkah anaknya itu.
"Sini, biar aku saja," kata Ceyasa mengambil jas resmi kerajaan pertama Xander, ini hari perkenalannya sebagai Pangeran dan hari ulang tahunnya yang ke 4.
Ceyasa segera berjalan dengan cepat menuju anaknya itu, Xander dengan wajah panik langsung melarikan diri, tak ingin lagi kena omelan dari ibunya.
Ceyasa mencoba mengejar Xander dengan mengangkat sedikit gaunnya, dua dayang Ceyasa pun kesulitan mengikutinya, walau kehilangan jejak tapi Ceyasa tahu betul kemana anaknya itu akan mencari perlindungan.
Ceyasa tiba di depan pintu kerja Archie, berhenti sebentar melirik ke arah Gerald.
"Yang Mulia Ratu," kata Gerald seadanya.
"Dimana Xander?" tanya Ceyasa tak ramah, dia siap memarahi anaknya itu, jahilnya benar-benar diluar batas.
Gerald diam, semenit yang lalu pangeran kecil itu tiba di depan ruang kerja ayahnya, dia memberikan gestur pada Gerald untuk diam, walaupun Archie mengatakan tidak boleh diganggu namun siapa yang berani melarang pangeran untuk masuk ke ruang kerja ayahnya.
Gerald menggaruk dahinya, dia tak menjawab, hanya memberikan gestur bahwa pangerannya ada di dalam, Ceyasa mengerti itu, dia mengangguk dan sedikit mengangkat gaunnya yang sangat mewah itu, dia membuka pintu ruang kerja Archie.
Ceyasa mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, hanya menemukan Archie yang sibuk dengan pekerjaannya, sedang teleconferense dengan yang lainnya.
Ceyasa melangkah masuk sendiri, dia memeriksa semua tempat, anaknya itu paling jago dalam bersembunyi, Ceyasa sibuk mencari anaknya membuat suara gaduh, tak mempedulikan Archie sedang rapat di sana, Archie hanya memandang malas kelakuan istrinya, dia segera memberikan gestur untuk permisi dengan para peserta rapat, mereka mengangguk, Archie mematikan suara untuk mereka.
"Hei, kau sedang apa? aku sedang rapat di sini," kesal Archie melihat tingkah Ceyasa yang mengobrak abrik ruang kerjanya.
"Mencari anakmu," kata Ceyasa kesal, Archie malah memarahinya.
"Dia tidak di sini, memangnya apa yang dia lakukan?" tanya Archie.
"Jangan berbohong, Xander, mama tahu kamu di sini," teriak Ceyasa pada anaknya, Archie memandang Ceyasa malas, "jangan membela anakmu, ini acara pengenalannya sebagai pangeran dan dia tidak mau menggunakan jas resminya, ini pasti sifat darimu," kata Ceyasa geram, Archie selalu saja membela anak semata wayang mereka itu.
"Yang Mulia Ratu, kau harus tenang, ingat kata dokter, jangan terlalu emosi, atau vertigomu akan kumat, tarik napas dan hembuskan," kata Archie menenangkan istrinya, Ceyasa hanya mendengarkannya, tanpa sadar mengikuti instruksi Archie, "dia masih anak-anak, lagi pula kau berharap apa? bukannya kau juga begitu dulu?" ingat akan kebar-baran istrinya dulu.
"Ya, tapi bukan seperti ini, kau juga, acara akan segera dimulai dan kau masih saja bekerja?" kata Ceyasa kesal, kali ini merembet pada Archie.
Archie hanya menggaruk-garuk kepalanya, kalau Ceyasa sudah kesal, semua orang pasti kena.
Ceyasa melirik ke arah meja kerja suaminya, melihat kepala anaknya yang muncul mengintip ke arahnya.
"Xander! kemari! kau ini ya!" kata Ceyasa menarik kembali gaunnya, memojokkan anaknya agar tak lari lagi, Archie hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, rutinitasnya selalu saja begini.
__ADS_1
"Mama, sorry, " kata Xander dengan wajah memelas.
"Jangan pasang wajah memelasmu itu, mama sudah bilang bukan, seharusnya Xander tidak melakukan hal ini, apa yang sudah Xander langgar hari ini?" tanya Ceyasa yang awalnya keras, namun perlahan melunak, siapa yang tahan di tatap dengan mata seindah galaxy di angkasa itu
"Maafkan Xander sudah berlari di lorong istana, tidak patuh pada pengasuh, maafkan Xander ma, " kata Xander dengan suara yang memelas, malah terkesan imut, dia memeluk kaki ibunya, mencium paha ibunya, mencari simpati.
"Baiklah, baik, sekarang ayo pakai bajumu, nanti di acara bersikaplah jadi anak yang baik, akan ada kakek dan nenekmu, paman dan bibi juga," kata Ceyasa luluh juga, memberitahukan Xander, Xander hanya mengangguk dengan yakin memandang ibunya, Archie yang melihat itu hanya tersenyum, keluarganya benar-benar bahagia.
"Apa Gwenyth akan ada di sana?"tanya Xander.
"Tentu, dia akan datang dengan paman Jared dan bibi Suri, ingat, harus sopan," ujar Ceyasa yang memegang tangan anaknya untuk mengarahkannya keluar, Ceyasa melirik Archie sejenak, "Jangan lagi bekerja, acara ini untuk anak kita," kata Ceyasa.
"Baik, Yang Mulia Ratu," kata Archie sedikit mengejek, membuat Xander tertawa kecil,"jangan tiru, hanya papa yang boleh membuat mamamu kesal," kata Archie pada anaknya, Xander hanya menunjukkan gestur OKE, membuat Ceyasa menepuk jidatnya dan segera membawa anaknya keluar dari sana.
---***---
Archie berdiri di samping anaknya yang terkadang bergoyang-goyang lucu khas anak 4 tahun yang tak bisa diam, hari ini adalah hari perkenalannya pada khalayak ramai bahwa telah lahir seorang pangeran yang akan mewarisi kerajaan, hal ini merupakan tradisi kerajaan ini, bahwa perkenalan mereka bukan saat mereka lahir, melainkan saat berusia 3 atau 4 tahun, mungkin ini dikarenakan dulu banyaknya bayi yang tak selamat karena penyakit keturunan mereka, maka anak-anak di kerajaan hanya diperkenalkan saat usia sudah menginjak balita.
Seorang pemimpin upacara memberikan mahkota kecil di atas kepala Xander, walaupun belum berstatus putra mahkota, namun dia sudah berhak mendapatkan mahkotanya, Xander mengintip mahkotanya, baru saja diletakkan di atas kepalanya dia sudah tak betah dan segera melepasnya, memperhatikannya dengan seksama, tingkahnya membuat semua yang hadir tertawa.
"Selamat kepada Pangeran Fitz Evan Xander Crawford," kata pemimpin upacara itu, membuat semua bertepuk tangan riuh, Xander pun awalnya kaget namun langsung mengikutinya.
Ceyasa memegang erat pergelangan tangan Xander, takut anaknya itu membuat masalah lagi di tengah begitu banyak orang.
"Ma, Gwen," teriak Xander yang melihat Gwenyth diantara orang-orang, sepupunya yang paling dia tunggu, Gwen sangat lucu, rambutnya yang dipotong dengan poni rata, wajahnya yang terlihat cukup berisi dengan gaun lucu miliknya, wajahnya pun menunjukkan perpaduan sempurna wajar Jared dsn Suri, benar-benar menarik perhatian.
"Selamat atas perkenalannya," kata Jared mengendong Gwen.
"Wah, terima kasih Kak dan Suri," kata Ceyasa, "Gwen cantik sekali," Ceyasa mencubit pelan pipi Gwen yang tampak gendut.
"Aku juga mau digendong," iri Xander yang melihat ibunya begitu baik, lagi pula semua dalam gendongan hanya dia saja yang tidak.
"Sini Kakek gendong," kata Jofan yang langsung menyambar tubuh Xander.
"Kakek!" kata Xander memeluk erat kakeknya, Xander tahu, kakeknya ini punya kuasa yang bahkan lebih dari ayahnya, jika kakeknya sudah berkata, bahkan ayahnya akan mengikutinya.
"Dimana Archie?" tanya Angga yang mulai bergabung dengan mereka.
"Eh, dia ...." kata Ceyasa mengedarkan matanya menuju ke semua arah, lalu menangkap suaminya sedang berbicara di pojok ruangan, terlihat sangat serius,"Akan ku panggilkan, permisi Paman dan Bibi, Ayah dan ibu," kata Ceyasa menjaga kesopanannya, mereka serempak mengangguk memberikan izin.
Ceyasa mendekati suaminya, menyiapkan tangannya ke pundak suaminya, membuat perhatian Archie ke arah Ceyasa.
"Bukannya aku sudah bilang jangan bekerja?" bisik Ceyasa.
"Aku sedang tidak bekerja, ini Dokter Malvin ahli dari penyakit keturunan itu, ingat beberapa hari yang lalu Xander melakukan pemeriksaan, hasilnya sudah keluar," kata Archie menunjukkan sebuah berkas yang ada di tangannya.
"Benarkah?" tanya Ceyasa kaget, apa mereka harus membukanya sekarang? kemarin Ceyasa ingin sekali mengetahui hasilnya, namun begitu hasil itu sudah di depan mata, kenapa Ceyasa ragu.
"Ya, ini adalah hasil dari darah Yang Mulia Pangeran Xander," kata Dokter Malvin.
"Bukalah," kata Ceyasa pelan, mereka yang memang mendesak agar hasilnya diberikan segera setelah dicetak, tak menyangka hari ini ternyata hasilnya keluar.
__ADS_1
Ceyasa mengerutkan dahinya, melihat penjelasan yang sama sekali tidak dimengertinya, Archie pun begitu, hasilnya adalah Rh-null.
"Apa artinya ini?" tanya Archie bingung.
"Darah Pangeran Xander sangat spesial, selain keturunan langsung bangsawan nyatanya dia benar-benar memiliki darah emas, Pangeran Xander tak memiliki Rhesus di dalam darahnya, dan dalam dunia medis itu dikatakan darah emas, darah paling langka di dunia, dan hebatnya lagi, Darah Pangeran Xander sama sekali tak membawa gen untuk penyakit keturunan itu, berkat darah pangeran Xander, kami tahu akhirnya bahwa penyakit itu dibawa dari Rhesusnya, dari darahnya kami berusaha untuk meneliti lebih jauh, dan mudah-mudahan, selanjutnya penyakit itu bisa diatasi tanpa efek samping," kata Dokter itu menjelaskan dengan sangat semangat, akhirnya mendapat pencerahan dari penyakit yang sudah mematikan sejak ratusan tahun yang lalu itu.
"Benarkah? jadi maksud Anda, Xander terbebas dari penyakit itu?" kata Ceyasa senang mendapatkan kabar itu.
"Ya, bukan hanya terbebas, seperti yang saya sudah beritahukan bahwa mungkin saja, Pangeran Xander lah pemutus penyakit keturunan ini," kata Dokter itu lagi.
Ceyasa tak bisa menutupi kebahagiannya, bebannya selama ini rasanya hilang sudah, sejak Xander dilahirkan, Ceyasa dan Archie selalu punya beban yang mereka tanggung, setiap Xander demam, mereka akan kalang kabut menebak apakah itu karena penyakit keturunan itu, mendengar hal ini, tuntas sudah semua kekhawatiran Archie dan Ceyasa.
"Ada apa ini?" tanya Jofan yang bergabung, membawa Xander yang manja pada kakeknya.
"Hasil darah Xander sudah keluar dan dia bebas dari penyakit itu," kata Ceyasa semangat, membuat Jared dan Suri kaget, bagaimana bisa? mereka menuntut jawab dari dokter Malvin.
"Darah Pangeran Xander sangat istimewa, kami akan segera melakukan penelitian, saya rasa ini bisa menjadi obat untuk penyakit ini selanjutnya," kata dokter Malvin, mau tak mau menjelaskan kembali.
Jared Dan Suri saling pandang, secercah harapan yang sangat mereka harapkan, setidaknya Gwenyth akan membutuhkannya.
"Kenapa semua berkumpul di sini?" tanya Nadia yang tampak kesusahan berjalan, perutnya yang membuncit karena hamil tua tampak sangat besar.
"Kau datang?" tanya Ceyasa yang kaget melihat Nadia, William membantu istrinya itu untuk berjalan, memegang pinggangnya yang sudah ingin patah.
"Tentu, masa aku juga tidak boleh datang ke acara anakmu, begini-begini aku bibinya juga loh, kau memang tak berubah, kau pasti punya dendam kusumat denganku," kata Nadia yang masih sama saja, terlalu berlebih dan cerewet. Semua yang melihat tingkah Nadia hanya geleng-geleng atau tersenyum tipis.
"Apa sih? aku bertanya karena aku kaget kau masih bisa berjalan, lihatlah perutmu itu, kau pasti banyak makan ya," kata Ceyasa melihat seluruh tubuh Nadia membengkak.
"Dia benar-benar tak bisa berhenti makan, BTW, selamat atas perkenalannya kakak dan kakak ipar, hai, jagoan kecil," sapa William pada Xander yang masih dalam gendongan Kakeknya.
"Yang Mulia, acaranya ulang tahunnya akan segera di mulai," kata Gerald memberitahukan.
"Baiklah, mari berkumpul bersama," kata Archie tersenyum senang.
Xander berada di tengah mereka, dengan antusias meniup lilin angka 4nya, Ceyasa memberikan anaknya sebuah kecupan pipi, Archie pun begitu, binar kebahagiaan tampak sangat nyata di mata semuanya, berada diantara keluarga, itulah tepat paling indah di dunia.
Senyuman, tawa, canda, cinta, air mata, kesedihan, dan masalah yang tercipta mungkin adalah sedikit arti hidup sebenarnya, tak ada yang sempurna, tak ada cinta yang tak akan melewati badainya, semua punya porsinya masing-masing, tinggal kita yang menilik kembali dan di mana kita mengenangnya.
Cinta mungkin tak selamanya berlabuh dengan yang pertama, namun pasti menemukan tujuan akhirnya jika Anda percaya.
Shameless Prince - Ending
_______________________________________
Hai kak! akhirnya sampai di sini dulu Shameless Prince ya! Maaf jika akhir-akhir ini upnya sering lelet.
Jika ada yang bertanya, Jenny? Rain? apakah ada kelanjutannya?
Yes! ada, namun lagi menunggu ya kak, pasti saya beritahukan ya, ditunggu Saja.
Kalau ada yang membaca novel saya yang lain yang sempat terbengkalai, bagaimana? akan saya lanjutkan perlahan ya kak...
__ADS_1
akhir kata, terima kasih sudah membaca SP dari awal sampai akhir, apalagi membacanya dari Love,Revenge and the sea. terima kasih semua dukungan, I love u all.... see u next novel.