
Danu menarik tangan istrinya dengan kasar, dia kemudian menghempaskan badan istrinya ke atas kasur.
"Puas loe ha. Anak loe sampai menanyakan statusnya. Puas loe hah" teriak Danu. Danu sampai menjambak rambutnya untuk menahan emosinya yang sudah sampai ke ubun ubun kepala.
Istri Danu yang bernama Ranti hanya diam saja. Ranti tidak berkomentar apapun atas apa yang dikatakan oleh Danu. Ranti diam tanpa berekspresi seperti patung lilin yang dipajang di museum.
"Kenapa loe diam. Jawab pertanyaan gue. Loe maunya apa? Loe mau gue menceraikan elo?"
Ranti masih diam saja. Danu sudah mengangkat tangannya untuk menampar Ranti. Tapi Danu masih berpikiran sehat. Danu malayangkan tinjunya ke dinding kamar.
"Bugh"
"Jawab aku Ranti. Kamu mau apa? Kamu masih punya mulutkan Ranti. Loe masih bisa ngomongkan?" Danu mengguncang pundak Ranti dengan kuat.
Ranti masih tidak membuka mulutnya. Sikap Ranti masih sama dengan yang tadi. Diam seribu bahasa dan datar tanla kespresi. Danu kembali meninju dinding kamar.
"Terserah loe Ranti. Gue bosan" teriak Danu.
Danu kemudian membuka pintu kamar, dan membantingnya dengan keras, ternyata di balik dinding kamar ada Deli yang duduk berjongkok sambil menutup telinganya. Danu yang melihat Deli terduduk dengan takutnya langsung memeluk Deli.
"Sayang, maafkan ayah sayang" kata Danu sambil merengkuh Deli kedalam.pelukannya dan mencium kepala Deli berkali kali. Danu melepaskan emosinya dengan memeluk anak semata wayangnya.
Deli masih terus menangis. Danu mengeratkan pelukannya kepada Deli. Dua orang yang berbeda usia saling menguatkan satu sama lain.
"Sayang udah sayang, jangan menangis lagi sayang. Ayah akan selalu ada untuk Deli." Danu menghapus air mata Deli.
"Ayah, Deli tidak malah sama ayah. Deli malah sama bunda. Deli ndak sayang bunda lagi." kata Deli memeluk ayahnya kembali.
"Deli kalau nanti Bunda berubah jadi sayang sama Deli, apa Deli mau memaafkan Bunda sayang?" Danu menatap kemata Deli.
__ADS_1
"Apa bisa ayah?" kata Deli menatap mata Danu dengan penuh harap bundanya bisa berubah.
Danu menganggukkan kepalanya. Danu menyesal telah mengelurkan pertanyaan seperti itu kepada Deli. Danu membuat Deli kembali memiliki harapan kalau bundanya akan berubah.
"Iyes, bunda akan sayang sama Deli lagi" teriak Deli dengan bahagia. Deli kemudian berlari menuju ruangan bermainnya. Dia sudah kembali ceria lagi.
Danu yang melihat Deli kembali ceria, masuk kedalam kamar. Danu akan berbicara baik baik dengan Ranti tentang kemaun Deli yang hanya sedikit itu. Danu melihat Ranti yang telah selesai mandi. Danu berusaha menekan amarahnya lagi demi kebaikan Deli.
"Ranti, aku mau bicara dengan kamu. Kita berbicara dengan kepala dingin dan tanpa emosi. Ini semua demi kepentingan Deli, anak kita." kata Danu dengan tenang.
"Anak kita? Bukan mas, dia anak kamu." ucap Ranti tanpa melihat ke arah Danu.
Danu yang mendengar jawaban dari Ranti, ingin rasanya menampar Ranti. Tapi Danu sudah berjanji dalam hatinya akan menahan emosinya demi kebaikan dan kebahagiaan Deli.
"Ranti, Deli keluar dari rahim kamu. Deli ada karena kita berdua. Jadi Deli juga anak kamu." kata Danu dengan sabar kepada Ranti.
"Jaga ucapan mu Ranti. Aku sudah berusaha menahan emosiku. Jangan pernah pancing emosi ku untuk keluar lagi."
"Itu kenyataannya mas, suka atau tidak. Tapi dia hadir bukan atas kemauanku." Ranti naik ke atas kasur dan menutup badannya dengan selimut.
"Ranti, kita belum selesai bicara."
"Ada apa lagi mas? Kamu mau minta apa?" kata Ranti sambil membuka selimutnya. Ranti kemudian duduk bersandar ke kepala ranjang kamar.
"Aku mau kamu ada untuk Deli, walaupun hanya beberapa jam dalam sehari. Deli butuh kamu Ranti. Aku tidak akan menuntut banyak sama kamu. Tapi aku mohon yang satu itu kabulkan." Dani menatap memohon kapada Ranti.
"Oke. Mulai besok dari jam tujuh samlai sembilan malam aku akan bermain dengan Deli. Puas kamu"
"Puas. Terimakasih Ranti." Danu kemudian keluar dari kamarnya menuju ruanh kerjanya. Danu sangat lelah dengan semua ini. Danu hanya ingin Deli seperti anak kecil lainnya yang mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya. Tapi ternyata keegoisan Ranti membawa Deli kedalam beban psikologi yang belum saatnya ditanggung anak usia empat tahun.
__ADS_1
Jarum jam telah menunjukkan angka sembilan malam. Danu keluar dari ruang kerja menuju kamar Deli. Deli tisak akan bisa tidur kalau tidak ditemani Danu. Sesampainya Danu di kamar Deli, Danu melihat Deli yanh sedang duduk di kasur. Deli sudah memakai pakaian tidurnya.
"Anak gadis ayah udah siap untuk tidur?"
"Iya ayah. Deli nungguin ayah. Deli udah ngantuk ayah."
"Sini sayang. Kita tidur lagi."
Danu membawa Deli kedalam pelukannya. Gadis malang yanh diusianya kecil itu sudah menanggunh beban berat. Deli ternyata memang betul betul sudah ngantuk biasanya Danu harus menidurkannya selama satu jam, hari ini tidak baru lima belas menit, Deli sudah masuk ke alam mimpinya.
...----------------...
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Perlakuan Ranti kepada Deli tetap sama. Walaupun janji Ranti yang akan bermain dengan Deli dari jam tujuh sampai jam sembilan malam dipenuhinya, cuma yang kasih sayang tetap tidak diberikan Ranti. Saat mereka berdua bersama, Ranti tetap dengan aktivitasnha yang Deli tetap mencoba menarik perhatian bundanya.
Danu sebenarnya kesal dengan Ranti. tetapi saat Danu bertanya kepada Deli, jawaban yang diberikan Deli sangat tidak Danu harapkan. Jawaban Deli membuat Danu tersentak hebat. Deli mengatakan dia sudah bahagia karena bundamya sudah mau bermain dengannya. Deli tidak minta yanh lainnya, dengan Ranti mah bermain bersama Deli selama dua jamsetiap malam, hal itu sudah membuat Deli menjadi luar biasa bahagia.
Danu hanya bisa bersabar dengan jawaban yang diberikan oleh Deli. Danu tidak mungkin mematahkan kebahagiaan Deli. Danu juga tidak mungkin meminta lebih kepada Ranti, dengan Ranti mau bermain dengan Deli selama dua jam saja sudah membuat Danu mengucapkan Alhamdulillah.
Danu menjadi berada dalam posisi yang sangat sulit. Di satu sisi ada kebahagiaan Deli yang harus diperjuangkan oleh Danu. Di sisi lain ada kebahagiaan Danu sendiri yang haris dipenuhinya. Danu begitu pusing dengan jalan hidup yang harus dijalaninya.
Kebingungan ini bertambah dengan kedatangan seorang wanita cantik yang begitu sangat dicintai oleh Dani. Wanita cantik yang bernama Vina seorang karyawan baru di kantor Danu. Danu sangat ingin mengungkapkan cintanya kepada Vina, tapi Danu menjadi ragu karena statusnya yang masih suami sah seorang wanita. Pikiran Danu yang luar biasa banyak membuat Danu harus terbaring di rumah sakit. Danu menderita sakit usus buntu yang akhirnya harus dioperasi untuk langkah penyembuhan.
...----------------...
Apakah yang akan dilakukan Danu kedepannya?
Apakah Danu mempertahankan rumah tangganya dan membuang rasa cintanya, atau sebaliknya?
Melipir ke karya ku yang kedua kakak berjudul "KESETIAAN SEORANG ISTRI"
__ADS_1