Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Jalan Jalan Deli


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya Danu dan Deli smpai juga di kota.


"Ayah, kenapa atuk bikin mansion sejauh itu ya Ayah. Bikin capek dan malas jadinya ke kota" ujar Deli sambil menatap ke arah gedung gedung tinggi yang ada di kota metropolitan itu.


"Karena Atuk memilih untuk jadi tukang kebun anggur sayang. Makanya Atuk memilih untuk tinggal di daerah pinggiran kota." jawab Danu sambil tetap fokus dengan jalanan yang semakin ramai tersebut.


"Kan nggak mungkin Atuk membeli tanah berhektar hektar di tengah kota untuk kebun anggur. Selain harganya mahal, anggur juga belum tentu bisa hidup di tengah kota yang banyak polusi ini sayang" lanjut Danu menjelaskan kepada Deli kenapa Atuk nya memilih untuk membangun dan tinggal di mansion pinggiran kota yang bisa di bilang sebagai desa itu.


"Bener juga ya Ayah. Mana mau Atuk nanam anggur tapi nggak hidup." ujar Deli yang sudah paham kenapa atuk nya memilih untuk membeli tanah di desa.


Mereka berdua kemudian menatap jalanan ibu kita negara U yang padat tetapi teratur tidak seperti di negara I.


"Ayah, di sini ada macet tidak ya?" tanya Deli kepada Ayahnya yang sedang membawa mobil sambil melihat kiri kanan jalan.


Danu sama sekali tidak mendengar apa yang ditanyakan oleh Deli kepada dirinya. Danu mash sibuk melihat kiri dan kanan jalan.


"Ayah," ujar Deli memanggil Ayahnya sambil menepuk pundak Danu.


"Ee ee maaf sayang. Ada apa tadi?" tanya Danu yang kaget karena Deli menepuk pundaknya.


"Ayah memperhatikan apa? Dari tadi sibuk aja nengok kiri kanan jalan?" ujar Deli yang penasaran apa yang diperhatikan oleh Ayahnya sejak dari mereka masuk kota tadi.


"Nengok kafe yang nuansanya negara I. Ayah pengen coba makan makanan di sana" ujar Danu kepada Deli.


"Emang ada Ayah?" tanya Deli penasaran dengan kafe yang diceritakan oleh Ayahnya itu.


"Ada sayang. Ayah tahu dari Om Iwan. Tapi Ayah nggak tau pasti tempatnya dimana" ujar Danu menjawab pertanyaan dari Deli.


"Tanya om Iwan aja" ujar Deli memberikan usul.


"Udah sayang. Tapi om Iwan ponselnya mati" jawab Danu yang sebenarnya tidak ada menanyakan hal itu kepada Iwan.


Danu bisa memastikan kalau Iwan tidak akan memberitahukan alamat pastinya kepada Danu. Iwan akan merahasiakan hal itu dari Danu. Iwan menginginkan Danu mencari tahu sendiri dimana keberadaan Vina di negara U.

__ADS_1


"Yah om Iwan nggak asik." ujar Deli sambil menghembuskan nafasnya dengan kesal.


"Haha haha haha. Jangan marah marah sayang. Gimana kalau kita tanya dengan orang sini saja, biar kita bisa cepat ke sana" ujar Danu memberikan usul kepada Deli.


"Setuju banget Ayah, dari tadi kek." ujar Deli mendukung saran dari Ayahnya.


Danu kemudian memberhentikan mobilnya di pinggir jalan saat melihat ada beberapa anak muda sedang duduk duduk sambil memainkan alat musik.


"Permisi" ujar Danu dengan ramah kepada anak anak muda tersebut.


"Ya Tuan, ada yang bisa kami bantu?" kata anak muda tersebut dengan ramah kepada Danu.


"Saya mau bertanya, kata sahabat saya, di sini ada kafe dengan desain dan makanannya berasal dari negara I. Kalau saya boleh tahu daerahnya dimana itu?" ujar Danu menyampaikan apa yang mau ditanyakan nya kepada sekelompok anak muda tersebut.


"Ooo. Kafe milik Nona Maya dari negara I itu ya Tuan?" tanya salah satu anak muda kepada Danu.


"Bener kafe yang itu" ujar Danu kepada anak muda tersebut.


"Dari sini Tuan lurus aja dulu. Nanti di saat Tuan bertemu lampu merah pertama Tuan belok kiri. Nah nanti akan nampak banyak motor berhenti di pinggir jalan, di sana kafe yang Tuan cari" ujar anak muda tersebut menunjukkan tempat kafe milik Maya terletak.


"Kami mahasiswa yang nyambi ngamen Tuan. Tapi nanti sore. Tuan ke sini saja sore. Tuan akan melihat sepasang muda mudi menari. Bahkan ada pasangan lansia. Tuan ke sini aja nanti" ujar pemuda tersebut memberitahukan kepada Danu apa yang akan disajikan di jalanan ibu kota negara U.


"Oke, nanti saya ke sini. Saya tertarik untuk menyaksikannya. Jam berapa tepatnya?" tanya Danu kepada pemuda yang juga ternyata mahasiswa sekaligus pemusik jalanan itu.


"Jam empat kami sudah mulai Tuan. Datang saja nanti. Kami akan main di sini" ujar pemuda tersebut melanjutkan informasinya.


"baiklah saya pasti akan datang. Kalian berapa orang semuanya?" tanya Danu kepada pemuda itu.


"Kami berenam Tuan" jawab pemuda tersebut.


Danu tersenyum.


"kalau begitu saya ke kafe itu dulu ya. Nanti saya akan datang lagi. Terimakasih atas informasi jalannya" ujar Danu sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.

__ADS_1


"Sama sama Tuan" jawab keenam pemuda tersebut.


Danu kemudian berbalik menuju mobilnya. Deli sudah terlalu lama menunggu di dalam mobil. Wajahnya sudah di tepung seratus saat melihat Ayahnya masuk sambil tersenyum bahagia.


"Ayah kok senyum senyum?" tanya Deli kepada Danu.


"Deli kok cemberut?" ujar Danu balik bertanya kepada Deli.


"Ayah jangan pertanyaan di balas dengan pertanyaan lagi dong. Nggak asik" ujar Deli memberikan peringatan kepada Ayahnya yang ditanya malah balik bertanya lagi.


"Ayah senyum karena Ayah sudah dapat alamat dimana kafe itu berada" ujar Danu sambil menghidupkan kembali mobilnya.


"terus kenapa Ayah lama tadi di sana?" tanya Deli yang akhirnya ngomong sendiri kenapa dia membudut seperti itu.


"Karena para pemuda yang ngasih tau ke Ayah di mana letak kafe itu, mengatakan suatu hal yang asik untuk kita lakukan nanti sore sayang" ujar Danu kepada Deli dengan sengaja tidak mengatakan apa yang asik dilakukan itu.


"Emang apa yang asik Ayah?" tanya Deli penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Ayahnya itu.


"Mereka adalah mahasiswa sekaligus pengamen jalanan sayang. Kata mereka nanti mereka akan bermain musik dan ada orang orang menari dan berdansa di sana." ujar Danu memberitahukan apa yang akan dilakukan oleh para pemuda itu nanti sore.


"Wow keren Ayah. Deli mau lihat Ayah. Jam berapa mereka mulainya?" tanya Deli yang sudah tidak sabaran lagi ingin melihat pemusik jalanan itu bermain musik.


"Kata mereka jam empat sayang. Ayah juga penasaran sayang, bagaimana bentuknya. Ayah sama sekali belum pernah menyaksikan hal seperti yang dikatakan oleh pemuda itu." ujar Danu kepada Deli.


"Jadi kita berdua sama sama penasaran kalau begitu Ayah" ujar Deli menarik kesimpulan dari apa yang dikatakan oleh Ayahnya.


"bener sayang. kita sama sama penasaran. Mari nanti sama sama kita lihat" ujar Danu dengan semangat kepada anaknya itu.


"Oke Ayah mari kita lihat" ujar Deli dengan semangat.


"Oh ya Ayah, apa masih jauh kafe nya Ayah?" tanya Deli yang sudah capek berada di dalam mobil.


"Nggak sayang. Dekat lagi" ujar Danu menjawab pertanyaan dari Deli.

__ADS_1


Danu mengemudikan mobil sesuai dengan petunjuk arah yang diberikan oleh pemuda tadi. Danu sudah tidak sabar lagi ingin cepat sampai di kafe dan melihat kekasihnya itu.


__ADS_2