
"Oke sayang. Kamu hati hati di sana. Aku mencintai kamu. Jangan bikin hal yang aneh aneh ya sayang. Aku yakinkan kepada Kamu, aku akan segera mengurus surat itu. Aku dan Deli tidak mau kehilangan kamu lagi. Kamu sangat berharga bagi kami." ujar Danu mengungkapkan kata cinta dan apa yang dirasakan oleh dirinya kepada Vina. Danu dan Deli benar benar menginginkan Vina masuk ke dalam keluarga kecil mereka.
"Hem. Malas jawab. Rasakan sendiri aja. Tapi bilang ke Deli kalau Bunda kue kangen dia. Dan mau video call dengan dia." kata Vina sambil menatap wajah Danu. Wajah pria yang memenuhi setiap helaan nafas dan juga detak jantung Vina.
"Ha ha ha ha ha. Aku sudah merasakan dan aku sudah tau apa artinya" jawab Danu sambil tersenyum kepada Vina. Danu juga selalu memikirkan dan mengingat Vina di setiap helaan nafasnya.
"Udah ah lama lagi nanti ini. Aku matikan dulu ya. Nanti kalau kita perpanjang maka nggak akan selesai selesai." kata Vina sambil tersenyum kepada Danu.
"Muach" ujar Danu mencium virtual Vina dari jauh.
"Ais norak kamu sayang. Pakai cium cium segala. Kalau mau yang asli sini. Aku tunggu di sini. Berani?" tanya Vina menantang Danu.
"Ais karena dia tau jauh, berani nantang aku. Coba kalau dekat mana berani kamu sayang. Awas ya, pas aku datang, kalau nggak kamu cium, aku yang cium kamu duluan" ujar Danu sambil menatap ke wajah Vina sambil memonyong monyong kan bibirnya ke arah Vina.
"Udah ah sayang, besok ajalah kita bahas lagi. Kalau udah ketemu baru kita bahas. Kalau kayak gini ya bahas sambil tersenyum dan mengkhayal aja" ujar Vina menengahi pembicaraan yang pasti nggak akan menemui ujungnya.
"Udah ya sayang, kita putusin dulu telponnya. Nanti di sambung lagi" ujar Vina yang sudah ada perlu untuk berbicara dengan Maya.
Danu mengangguk setuju. Vina kemudian memutuskan panggilan telpon itu. Danu berjalan masuk ke dalam rumah, dia menuju kamar Deli. Sedangkan Vina, dia akan pergi ke kamar Maya yang terletak di samping kamarnya.
Tok tok tok, Vina mengetuk pintu kamar Maya dari luar.
"May, maya oooo maya, loe ada di dalam nggak sih?" teriak Vina dari luar kamar Maya.
Maya yang baru selesai membersihkan tubuhnya mendengar pintu yang diketuk dari luar. Maya kemudian berjalan menuju pintu kamar. Maya membukakan pintu kamar untuk Vina.
"Masuk Vin" ujar Maya kepada Vina sambil membukakan pintu kamarnya luas luas.
Vina masuk ke dalam kamar Maya, dia duduk di ranjang Maya yang terlihat sangat rapi. Vina duduk sambil menggoyang goyangkan kakinya.
"Apa yang mau lu ceritakan ke gue?" tanya Maya sambil duduk di sebelah Vina. Maya menatap Vina sekilas. Dia yakin kalau Maya ada yang mau diceritakan kepada dirinya saat ini.
"Hati gue sedang bahagia Maya. Gue sangat bahagia sekarang" ujar Vina sambil tersenyum menatap ke arah Maya. Vina benar benar bahagia dengan semua kejadian ini.
"Loe kenapa? Jangan bikin gue makin penasaran dengan pernyataan pernyataan elo itu." ujar Maya yang penasaran dengan semua ucapan Vina.
"Gue tadi menghilang saat nelpon itu karena sedang menghubungi Danu." ujar Vina memulai apa yang akan diceritakan kepada Maya.
"Cie mulai dekat dengan Danu lagi. Apa yang lu obrolin dengan dia coba?" tanya Maya yang sudah mulai kepo dengan pembicaraan antara Danu dengan Vina.
"Dia mengungkapkan semua semuanya. Dia mengatakan kalau dia masih mencintai aku. Dia juga mengatakan kepada aku kalau Deli anaknya sudah setuju untuk aku menjalin hubungan dengan Danu" ujar Vina memberitahukan kepada Maya tentang obrolan yang mereka lakukan.
__ADS_1
"Jadi, dia mengatakan kepada kamu kalau Deli sudah menerima keberadaan kamu?" tanya Maya memastikan kepada Vina kembali.
"Ya. Dia mengatakan hal itu. Malahan ya May, Deli memanggil gue dengan sebutan Bunda Kue." ujar Vina menyebutkan panggilannya oleh Deli.
"Bunda kue? Kok bisa Vin?" tanya Maya penasaran dengan ucapan Vina tadi.
"Kamu ingat nggak waktu itu Danu datang dan mengatakan kepada kita berdua kalau dia akan pulang kampung. Terus aku nitip dua kotak kue brownies" ujar Vina menceritakan asal mulai panggilan bunda kue dari ucapan Deli.
"Ingat gue. Loe nitip dua kotak kue brownies. Terus kelanjutannya gimana?" ujar Maya kembali bertanya kepada Vina.
"Nah dua kotak kue itukan diserahkan oleh Danu kepada Mami dan juga Deli. Deli mencoba kue tersebut. Dia mengatakan kepada Danu kalau kue itu enak." Vina melanjutkan ceritanya kepada Maya.
"Terus, saat Deli bertanya itu dibuat oleh siapa, Danu mengatakan kalau kue itu dibuat oleh gue. Nah Deli dengan bangganya dia memanggil nama gue dengan sebutan Bunda kue" ujar Vina kepada Maya.
"Bunda kue?" ujar Maya mengulang menyebut nama panggilan dari Deli untuk Vina.
"Ha ha ha ha ha ha. Nama yang lucu Vin. Bunda kue. Untung loe bikinin dia kue. Sempat loe buatin dia cilok, tentu nama loe jadi bunda cilok." ujar Maya sambil menatap tersenyum ke arah Vina.
"Puas loe ye membully gue. Tapi walaupun loe bully gue, nggak akan ngaruh sama gue. Gue akan tetap bahagia. Gue sangat bahagia sekali." ujar Vina sambil menari nari di hadapan Maya.
"Ya ya ya ya. Intinya satu, gue turut bahagia dengan semua kebahagiaan yang loe peroleh hari ini. Tapi aku minta Vina, aku minta sangat kepada kamu, untuk kamu tidak melakukan kesalahan yang sama lagi. Aku nggak mau melihat kamu kembali terpuruk seperti kemaren lagi. " ujar Maya yang paling tahu bagaimana keadaan Vina saat dia terpuruk oleh cinta yang salah itu.
"Maksud kamu?" tanya Maya penasaran dengan apa yang diungkapkan oleh Vina tadi.
"Saat nelpon tadi kami rencananya mau ngobrol tentang Ranti. Ternyata Danu mengungkapkan satu kisah yang ternyata sangat wow." ujar Maya kepada Vina.
"Tapi maaf ya May, gue nggak bisa menceritakan kepada elo apa masalahnya. Tapi intinya gue semakin yakin kepada Danu tentang semuanya." ujar Vina melanjutkan ceritanya kepada Maya.
"Terus loe omongin pula kenapa loe bisa sampai masuk rumah sakit?" tanya Maya kepada Vina.
Maya menatap lama Vina. Vina tersenyum kepada Maya. Dia menganggukkan kepalanya.
"Gue menceritakan semuanya kepada Danu. Apapun itu, semuanya gue ceritain ke Danu." ujar Vina menceritakan kepada Maya.
"Loe ceritain berapa kali dia ngelabrak elo?" tanya Maya kepada Vina.
"Ya gue omongin semuanya. Gue nggak ada menutup nutupin apapun dari Danu. Gue ceritakan semuanya." ujar Vina.
"Jadi intinya sekarang loe udah baikan dengan Danu?" tanya Maya selanjutnya.
"Ya, gue udah baikan dengan dia. Gue nggak mau membiarkan dia seperti sekarang ini. Gue kasihan dengan Danu dan Deli" ujar Vina melanjutkan ceritanya kepada Maya.
__ADS_1
"Gue bahagia dengan kebahagiaan loe Vin. Semoga loe menemukan kebahagiaan loe. Loe harus bisa menguatkan Danu untuk mengajukan gugatan itu. Jangan sampai gugatan Danu tidak masuk lagi" ujar Maya memberikan nasehatnya kepada Vina.
"Gue akan selalu mendukung dia May. Gue nggak akan membiarkan dia lagi. Gue akan selalu mendukung dia." ujar Vina sambil menatap lurus ke depan.
"Udah ya, kita istirahat aja lagi, yang jelas satu hal, apapun yang terjadi gue akan curhat ke elo aja. Tidak kepada yang lainnya. Termasuk kepada Sari. Satu satunya sahabat yang mengerti gue adalah elo." ujar Vina sambil menatap Maya.
Maya memeluk Vina. Kedua sahabat itu berpelukan cukup lama. Vina dan Maya saling menguatkan satu sama lainnya.
"Gue, elo akan selalu ada untuk kita" ujar Maya masih memeluk Vina.
"Kita akan selalu bersama selamanya" jawab Vina masih memeluk Maya.
Maya menguraikan pelukannya dengan Vina.
Mereka berdua selalu saling menguatkan.
Vina kemudian berjalan menuju kamarnya kembali. Vina akan beristirahat. Sedangkan Maya sepeninggal Vina juga langsung memeluk gulingnya. Dia akan beristirahat karena subuh dia harus berangkat pula ke pasar untuk membeli bahan bahan yang akan dimasak.
Sedangkan Vina sampai di kamarnya melihat ponsel miliknya yang tadi ditinggal saat di chas. Vina melihat tidak ada notifikasi apapun dari Danu.
"Mungkin dia udah beristirahat. Sejauh itu bawa mobil, belum lagi besok juga harus balik." ujar Vina saat melihat belum ada notifikasi dari Danu.
Vina kemudian merebahkan badannya ke atas kasur. Dia kemudian memeluk bantal guling miliknya. Dalam sekejap mungkin karena kelelahan Vina sudah masuk ke alam mimpi.
Sedangkan Danu yang dari tadi menjaga Deli memandang wajah anaknya itu. Wajah seorang anak gadis yang terlihat begitu kuyu karena demam. Ingin rasanya Danu membangunkan Deli, tetapi tadi Mami mengatakan kalau Deli baru saja tidur. Dia dari tadi sudah menunggu kedatangan Danu, sampai sampai Deli tertidur sebelum Danu datang.
Danu akhirnya memilih untuk tidur di sebelah Deli. Dia mengambil bantal dan guling serta selimut ke kamarnya. Setelah itu Danu membawa semua peralatan tidurnya. Dia kemudian tidur di sebelah Deli.
"Sayang, besok pagi bangun ya. Ayah udah datang menemani kamu" ujar Danu kepada Deli yang terlihat tidur dengan tenang itu.
Danu mengambil ponsel miliknya. Dia mengambil ponsel miliknya. Dia kemudian mengetik sebuah pesan kepada Vina.
'Sayang, besok aku telpon ya. Aku istirahat dulu. Aku akan tidur di dekat Deli' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Danu kepada Vina.
Vina sama sekali tidak mendengar bunyi pesan chat yang masuk. Vina sudah tertidur lelap. Dia besok akan meeting dengan salah satu perusahaan yang akan melakukan kerja sama dengan perusahaan CT Grub.
...****************...
**Apakah yang akan dibicarakan oleh Danu dengan Vina, nanti saat Danu menghubungi Vina??
Stay cun ya kakak. Singgah juga di novel ku yang lain. Ketik saja SUCIATI FDA TRIA**
__ADS_1