
Danu yang menunggu Ranti di ruangannya sudah tidak sabaran. Dia sudah menunggu selama empat jam lebih. Danu kemudian berdiri dari tempat duduknya. Dia berjalan keluar menuju sekreraris Ranti yang sedang duduk di kursi kerjanya.
"Bos kamu balik ke sini atau tidak ya? Udah empat jam lebih saya nunggu?" kata Danu.
Sekretaris langsung terdiam. Sebenarnya tadi Ranti sudah kembali dari meeting, tapi saat sekretaris mengatakan kalau ada Danu di dalam, Ranti langsung pergi kembali. Ranti tidak mau menemui Danu.
"Maaf Pak. Tadi sebenarnya Ibuk sudah balik dari meetingnya. Saat saya mengatakan kalau ada Bapak di dalam Ibuk langsung keluar lagi" kata Danu.
"Sudah lama?"
"Tidak pak. Baru sepuluh menit yang lalu. Pesan ibuk kepada saya kalau sudah tiga puluh menit lagi baru memberitahu kepada Bapak kalau Ibuk tidak balik ke kantor." kata sekretaris dengan nada cemas dan takutnya.
"Oh. Seperti itu. Mantap juga ya Ibuk kamu. Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu" kata Danu sambil melangkahkan kakinya dengan lebar lebar. Dia tidak menyangka Ranti akan kabur dan tidak ingin menemuinya.
Danu kembali ke kantornya. Dia tidak ingin langsung pulang ke rumah dia sangat kesal. Di tengah jalan Danu teringat akan anaknya Deli. Mumpung hari ini hari jumat Danu memilih pergi ke rumah orang tuanya. Tetapi sebelum itu dia harus ke rumah Vina terlebih dahulu untuk menyampaikan keinginannya berkunjung ke rumah orang tuanya di luar kota. Danu memutar arah mobilnya untuk menuju rumah Vina. Danu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Saat Danu sampai di depan rumah Vina. Disana masih ada Iwan dan Ifan yang baru saja sampai mengantar Vina pulang.
"Sayang kenapa seperti orang kesal begini sayang?" kata Vina yang melihat raut wajah Danu yang terlihat sangat kesal.
"Kesal banget sayang" jawab Aris
"Kesal kenapa?"
"Kesal karena nggak bisa ngantar kamu pukang" jawab Aris sekenanya aja.
Iwan dan Ifan saling tatap. Mereka akan tau sebenatar lagi, kenapa Danu bisa sekesal ini.
"Ya udah sebagai obat kesal, kamu aku buatkan nasigoreng iga bakar ya. Mau?" tanya Vina menatap Danu dengan penuh cinta.
"Mau sayang" kata Danu.
"Kami Vin?" kata Iwan.
"Udah di dalam" jawab Vina dari dalam rumahnya.
Setelah memastikan kalau Vina udah di dapur. Iean dan Ifan memulai kepo tingkat dewanya .
"Pasti kesal gara gara Ranti tidak ada di kantor" tebak Iwan.
"Yup. Bikin tambah gondik itu. Gue nunggu empat jam lebih, eee dia sempat balik kantornya. Tetapi karena sekretarisnya ngomong ada gue di ruangannya. Ranti langsung pergi lagi. Kesel nggak tuh" kata Danu.
__ADS_1
"Kesel Gak? Kesel gak." kata Ifan
"Ya kesel lah, masak nggak" jawab Danu.
Mereka bertiga kemudian tertawa dengan keras. Mereka menertawakan nasib Danu yang bener bener apes itu.
"Nasib loe Dan" kata Iwan.
"Yup. Apes banget kan nasib gue" kata Danu.
"Sabar pak manager" kata Ifan sambil memegang pundak Danu.
Vina yang selesai memasak lima porsi nasi goreng iga bakar dan juga sudah membuat lima gelas jus jeruk, membawa semua makan malam itu ke teras rumah. Maya yang sedang tidak ada pelanggan juga ikut nimbrung di situ. Mereka kemudian makan sambil ngobrol receh. Kadang masalah artis, kadang masalah warung Maya yang sangat rame bahkan membully Iwan dan Ifan yang masih betah ngejomblo akut. Selesai makan malam, Vina merapikan kembali meja. Vina membawa semua perlengkapan yang kotor ke dapur.
"Sayang, aku mau bicara serius" kata Danu.
Vina menatap tajam Danu. Apa yang akan dibicarakan Danu dengan serius. Menurut analisa Vina, dia atau Danu tidak ada membuat kesalahan apapun akhir akhir ini.
"Ada apa sayang?" kata Vina sambil memegang tangan Danu yang terlihat gemetar itu.
"Sayang, apakah aku boleh pulang ke rumah Mama akhir pekan ini?" kata Danu sambil menunduk.
"Sayang, aku mengijinkannya sayang." kata Vina sambil mengangkat dagu Danu.
"Kapan mau pergi besok atau sekarang?" kata Vina.
"Hari ini sayang. Pulang dari sini" kata Danu dengan semangat.
"Kalau gitu, kamu tunggu sekitar sejam ya sayang. Aku akan membuatkan Mama kamu kue bolu yang enak. Tidak ada penolakan" kata Vina yang melihat Danu akan menolak.
"Oke" kata Danu.
Vina kemudian masuk ke dapurnya. Dia akan membuat rainbow cake untuk keluarga Danu di kampung. Vina membuat kue dengan semangat. Selain rainbow cake, Vina juga membuatkan cake tape untuk keluarga Danu.
"Apa yang loe omongin dengan Vina, Dan?" kata Iwan penasaran.
"Gue mau pulang kampung ke rumah mama. Loe ikut yuk Wan, Fan loe juga boleh ikut" kata Danu mengajak dua temannya sekaligus staf kantornya.
"Gue setuju aja." kata Ifan.
__ADS_1
"Loe gimana Bang?" lanjut Ifan kepada Iwan.
"Gue juga ikut. Sekalian ketemu bokap nyokap dengan ongkos dan makan gratis." jawab Iwan.
Vina yang mendengar Iwan juga akan pergi mekihat orang tuanya, menambah membuat kue. Tidak mungkin Vina memberikan hanya untuk orang tua Danu. Vina tidak ingin dikatakan tidak adil oleh teman temannya. Setelah berkutat selama satujam lebih di dapur, semua kue sudah masak. Vina memasukkan ke dalam kotak dan membuat label kue kue itu untuk siapa saja.
Vina keluar dari rumahnya dengan membawa dua kotak kue. Vina memberikan kepada Danu.
"Sayang, ini kasih sama mama kamu ya sayang. Kalau kamu malu mengatakan ini dari aku, kamu bisa katakan ini kamu beli di jalan" lanjut Gina.
"Sayang, aku tidak malu. Aku akan katakan kepada mama dan papa serta Deli kalau ini adalah buatan calon menantu mereka" kata Danu yang tidak sadar menyebutkan nama Deli.
Iwan dan Ifan yang mendengar sontak terdiam. Mereka menunggu pertanyaan dari Vina. Tetapi setelah menunggu tidak ada tanggapan dari Vina. Iwan dan Ifan bernapas lega, karena Vina tidak mengganggap Deli itu siapa.
Vina kemudian masuk kembali ke dalam rumahnya. Kali ini dia membawa satu kotak kue lagi
"Bang Iwan. Ini kasih orang tua bang Iwan ya. Terserah Bang Iwan mengatakan ini dari siapa." kata Vina sambil memegang lengan Danu.
"Kalau bilang dari calon menantu boleh?" tanya Iwan kepada Vina sambil melirik Danu.
"Silahkan aja kalau mau gue oecat dan gue kasih surat hitam kepada seluruh perusahaan yang ada" kata Danu dengan wajah kesalnya.
"Santai Bro. Gue juga nggak mau punya teman. Gue masih tipe yang setia" kata Iwan sambil sedikit menyindir kehidupan rumah tangga Danu.
"Udah Bang jangan ribut lagi. Sayang mending oergi sekarang dari pada kemaleman nanti" Kata Vina sambil menggandeng Danu untuk melangkah menuju mobilnya
"Kamu ngusir aku sayang?"
"Iya sayang. Kamu akan melakukan perjalanan jauh. Makanya aku usir kamu sayang" kata Vina.
"Hm mulai"
"Serah sayangku. Hati hati di jalan ya. Nanti jam sepuluh aku telpon. Muach" Vina tiba tiba mengecup sesaat bibur Danu.
Danu yang tidak siap menerima serangan mendadak dari Vina hanya bisa melongo seperti orang bodoh
"Makasi sayang" jawab Danu.
Danu dan kedua sahabatnya masuk kedalam mobil untuk pergi ke rumah Mama Danu. Dua buah motor dititipkan di rumah Vina. Mereka tidak mungkin pulang ke kontrakan masing masing. Makanya mereka menitipkan saja di rumah Vina.
__ADS_1
Perjalanan selama tujuh jam itu akan dilalui Danu dengan telepon dari Vina. Menjelang pukuk sepuluh malam yang masih akan tiga jam lagi itu. Danu meminta Ifan yang membawa mobilnya. Dia akan beristirahat terlebih dahulu