Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Maya wanita tak terduga


__ADS_3

Maya terus saja berkutat dengan laptop milik Vina. Sari merekam semua kejadian itu. Dia siap menanyakan hal ini kepada Ivan. Sari sangat penasaran apakah Ivan tau dengan kemampuan Maya yang ini. Atau Ivan sama dengan dirinya yang hanya tau Maya cuma bisa memasak.


"Vin, bisa tolong jelaskan?" ujar Sari yang memang sudah luar biasa penasaran.


"Penasaran banget loe ya?" ujar Vina menggoda Sari.


"Banget." jawab Sari.


"Maya kan memang nggak kuliah tapi dia sangat minat di bidang komputer. Dia belajar secara otodidak saja. Dia benar benar sangat suka mengotak atik komputer." kata Vina.


"Aku tau dia pintar komputer saat dia menolong pekerjaan aku. Dia benar benar selalu bisa monolong aku di saat aku butuh. Aku aja pertama tau kaget kok." ujar Vina.


"Jadi dia belajar hanya otodidak? Tanpa kuliah?" tanya Sari lagi.


"Yup. Dia hanya modal youtube dan buku doang. Gue aja nggak habis pikir kapan dia belajarnya. Dia kan kerja full. Makanya heran gue, kok dia bisa." ujar Vina lagi.


"Kenapa nggak di bawa aja dia kerja di sini Vin. Kan lebih bagus. Kita bisa depak semua tim IT kurang ajar itu." ujar Sari memberikan ide.


"Mana mau dia Sar. Dia lebih milih jadi tukang masak dari pada jadi ahli IT. Tapi loe tenang aja, dia pasti akan membantu kita apabila memerlukan dia. Lihat aja tu sekarang, dia kerja mati matian demi perusahaan." ujar Vina sambil menatap Maya sahabatnya yang sibuk dengan laptop milik Vina.


Maya kerja cukup lama. Dia membuat keamanan berlapis untuk mengamankan database perusahaan yang sekarang dipimpin oleh Vina.


"Akhirnya selesai" ujar Maya setelah berkutat selama tiga jam lebih di depan laptop.


"Selesai May?" tanya Vina saat mendengar Maya mengatakan kata selesai.


"Siap. Berapa loe gaji karyawan IT loe?" tanya Maya kepada Vina.


Vina menggeleng. "Berapa Sar?" Vina beralih menatap ke Sari.

__ADS_1


"Lumayan. Bisa membuat mereka hidup nyaman dan liburan sekali setahun." jawab Sari yang tidak tau pasti berapa gaji tenaga IT di perusahaan.


"Kalau gitu turunkan aja. Masak mereka tidak membuat pengaman untuk database." ujar Maya sambil menatap Vina dan Sari.


"Tidak buat?" kata Sari sambil melongo tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Buat sih Sar. Tapi gamoang di jebol. Apa kalian berdua mau semua rahasia perusahaan beralih tangan ke orang lain dengan gampangnya?" lanjut Maya.


"Ya nggak la." jawab kedua wanita berpengaruh di perusahaan itu kepada Maya.


"Makanya gue bilang, kalau mau ditukar lebih bagus. Mereka benar benar tidaj bekerja maksimal. Tapi itu semua terserah loe berdua. Untuk sekarang gue udah membuat keamanan berlapis lapis. Tenaga IT perusahaan ini tidak akan bisa masuk ke sana." ujar Maya tersenyum sinis.


Maya membayangkan betapa paniknya tenaga IT perusahaan ini esok pagi. Data mereka sama sekali tidak bisa di akses. Kecuali beberapa data yang tidak terlalu penting masih bisa mereka akses.


"Apa sekarang loe udah yakin kalau database perusahaan sudah aman?" tanya Vina menatap Maya dengan tatapan perlu diyakinkan setelah mendengar apa yang dijelaskan oleh Maya tadi.


"Sekarang udah. Loe coba aja cari hekker handal. Dia gue jamin akan susah masuk." kata Maya menjawab dengan kebanggaan yang tergambar jelas dari nadanya.


"Kalian berdua duluan aja ya. Gue masih ada dokumen yang harus gue kerjakan. Besok kan ada meeting lagi dengan perusahaan A." kata Sari yang tidak bisa pulang bersama dengan Vina dan Maya.


"Oh ya udah. Tapi jangan pulang kemaleman Sar. Gue nggak mau asisten gue sakit." kata Vina sambil menepuk pundak Sari.


"Asiap Nona bos" jawab Sari sambil tersenyum.


Vina dan Maya meninggalkan perusahaan. Sedangkan Sari berjalan cepat masuk ke dalam ruangannya. Dia langsung mendial sebuah nomor yang selalu ditelponnya selama ini


"Hallo Bang? Loe sedang ngapain?" tanya Sari saat pria di seberang sana mengangkat panggilannya.


"Sedang kerja. Ada apa? Kayaknya penting banget." jawab pria tersebut.

__ADS_1


"Pentinglah. Loe dengar cerita gue ya." ujar Sari kepada pria di seberang telepon.


Sari kemudian menceritakan semua yang terjadi di perusahaan tadi kepada pria itu. Pria tersebut ekspresinya saat Sari bercerita beragam. Mulai dari dia yang kaget dengan wajah melongo. Sampai pria tersebut tersenyum senyum mendengar apa yang dikatakan oleh Sari.


"Jadi, gue mau tau, apa abang dari kemaren kemaren udah tau kalau Maya bisa melakukan semua hal tadi?" tanya Sari kepada orang yang ditelponnya.


"Sama sekali nggak tau. Ini baru tau karena kamu cerita. Kalau nggak ya nggak akan tau juga." jawabnya.


"Mereka berdua ternyata benar benar penuh kejutan Bang. Aku aja pas tau syok kok ya. Malahan Vina dengan gampangnya ngomong, Maya tidak mengenyam pendidikan perguruan tinggi. Dia hanya belajar dari youtube dan buku saja." lanjut Sari menyatakan ke kagumannya


"Gue bener bener kagum dengan mereka berdua bang. Yang goblok itu memang sepupu kita ternyata."


"Hahahaha. Mau gimana lagi juga ya Sar. Dia nggak berani ngambil keputusan. Abang juga heran, sampai hari ini dia nggak ada nanya tentang Vina sekalipun." jawab pria tersebut.


"Ya biarin aja Bang. Vina juga nggak ada bahas bahas dia juga selama di sini. Denger Vina nyebut namanya juga nggak ada sekalipun. Sepertinya Viba bener benee marah besar. Semoga dengan Ayah mengirim dia ke sini akan menjadi baik." kata Sari sambil berdia dalam hatinya.


"Aamiin Sar." jawab pria di seberang telpon.


"Udah dulu ya bang. Aku mau pulang. Cepat kembali. Perusahaan butuh loe." ujar Sari menutup pembicaraan mereka.


"Oke. Tunggu aja tanggal mainnya." jawab penelpon dari seberang sana.


Sari memutuskan panggilannya. Setelah itu dia menyiapkan semua barang barangnya. Hari ini Sari akan membawa pulang mobil yang sudah tujuh hari parkir indah di garase perusahaan.


Sari mengemudikan mobilnya menuju rumah kediaman orang tuanya. Rumah yang sangat jarang ditempati semenjak Ayah dan juga abangnya kembali ke negara I. Sekarang ntah kenapa Sari merindukan rumah itu. Makanya dia pulang ke sana untuk beristirahat di sana malam ini.


Sedangkan Vina dan Maya sedang berdiskusi tentang seperti apa konsep kafe yang akan dibangun mereka. Ada perbedaan sedikit Antara Vina dan Maya. Vina menginginkan konsep mininalis tradisional negara I. Sedangkan Maya menginginkan modern campur desain interior negara I.


Akhirnya setelah melakukan diskusi yang alot. Mereka memutuskan untuk gaya modern dengan interior dan pernak pernik negara I untuk segala jenis kursi meja sampai peralatan makan.

__ADS_1


Setelah menemukan titik terang kedua wanita itu masuk ke dalam kamar mereka masing masing untuk beristirahat. Besok Maya akan langsung mengawasi tukang untuk membangun kafe mereka yang pengerjaannya akan dimulai besok hari.


__ADS_2