Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Vina Panik


__ADS_3

"Mereka bener bener bikin gue setereh plus mabok" ujar Danu sambil menutup pintu ruangannya.


Danu melihat kedua kursi itu masih kosong. Meja kerja mereka berdua masih tersusun rapi. Terlihat sama sekali belum ada orang yang melakukan pekerjaan di sana.


Padahal tadi Danu berharap sepulangnya dia dari membahas hasil meeting dengan presiden direktur, salah satu dari dua orang karyawannya sudah ada di dalam ruangan. Tetapi, harapan hanya tinggal harapan. Orang yang diharapkan kedatangannya oleh Danu sama sekali belum menampakkan puncak hidungnya sama sekali sampai detik ini.


"Mereka bener bener menguji kesabaran gue. Untung aja pinter, kalau nggak udah gue tendang dari kemaren kemaren. Masa satunya sahabat baik gue lagi." ujar Danu nyerocos tidak jelas.


"Malangnya nasib gue" ujar Danu sambil melangkahkan kakinya dengan berat menuju ruang kerjanya sendiri.


Danu mulai membuka file itu satu persatu. File kerjasama yang harus dibereskan oleh Danu dalam minggu ini. Danu harus mempelajari mulai dari waktu yang paling dekat dan mepet. Danu tidak mau terlihat goblok saat presentasi nanti.


"Untung saja gue nggak selalu mengandalkan mereka. Kalau iya mampus gue nggak bisa ngapa ngapain saat mereka tidak ada di perusahaan" ujar Danu sambil memijit kepalanya yang terasa berat itu.


Suatu kamar yang terlihat tertata dengan rapi dan semua terletak di tempatnya masing masing. Sesosok wanita yang tadi katanya ingin beristirahat masih tidak bisa juga beristirahat. Berkali kali dia mencoba untuk tidur, tetapi hasilnya tetap sama. Fhoto dan video orang yang masih dicintainya sampai hari ini masih menari nari di otak cantiknya itu.


"Apa yang harus gue lakuin. Gue bener bener nggak tau lagi harus berbuat apa. Apa gue harus pergi lagi dari dia? Atau gue harus bertanya kepada dia?" ujar Vina sambil menatap jalanan depan komplek perumahan itu dengan tatapan nanar.


"Ya Tuhan, kenapa saat aku kembali ingin membuka hati untuk dia, dan dia sudah berjanji akan menyelesaikan semua permasalahannya dengan istrinya, semua ini kembali datang lagi. Aku bener bener nggak tau harus berbuat apa apa lagi. Apa yang harus aku lakukan ya Tuhan" ujar Vina sambil mengusap dadanya yang terasa sesak.


Air mata kembali menetes di pipinya yang putih mulus itu. Vina tidak ingin hancur untuk yang kedua kalinya. Tetapi dia juga tidak ingin melepaskan Danu begitu saja.


Pergulatan hati yang membuat Vina menjadi tidak nyaman sama sekali. Vina kembali termenung lama.


"Apa aku memang harus melepaskan dirinya untuk kembali kepada istrinya? Aku bener bener nggak bisa mengambil keputusan lagi Tuhan. Aku bener bener dihantui oleh rasa bersalah. Apa yang harus aku lakukan?" ujar Vina memandang kosong ke langit langit kamarnya yang dicat nuansa cream.


"Tuhan ingin rasanya aku berteriak, ingin rasanya aku berlari dan mengatakan kepada dirinya kalau aku siap mendampinginya dalam kondisi apapun." ujar Vina dengan pelan.


"Tapi apakah itu keputusan yang tepat, melihat video yang dikirimkan oleh istrinya semalam?" kata Vina kembali.


Bayangan video dan fhoto itu kembali berputar dalam ingatan Vina. Ingatan seorang wanita yang kembali dalam posisi galaunya.


Vina sudah tidak tau harus berbuat apa apa lagi. Vina terlihat berpikir dan menimbang nimbang sesuatu yang rasanya bagi dia adil untuk dirinya sendiri dan juga untuk Danu. Akhirnya Vina mengambil sebuah keputusan untuk hidupnya. Keputusan yang dirasanya paling tepat.


"Aku harus menghubungi Danu. Aku percaya dia tidak akan melakukan hal itu dengan Ranti, melihat betapa bencinya Danu kepada Ranti selama ini. Ya ini adalah keputusan yang paling tepat yang harus aku lakukan" ujar Vina yang sudah membulatkan tekadnya untuk menanyakan langsung kepada Danu apakah fhoto dan video yang dikirim oleh Ranti itu adalah sebuah kebenaran atau rencana jahat lain yang diarahkan Ranti kepada Vina.


Vina mengambil ponsel miliknya yang diletakkan di atas nakas. Ponsel yang sedang di charge itu.


Vina mendial nomor Danu. Vina menunggu sampai panggilan itu tersambung. Danu uang sedang di dalam kamar mandi, sama sekali tidak mendengar panggilan dari Vina.


"Dia kemana ya? Marah karena waktu itu nggak balas pesan chat kali ya?" ujar Vina sibuk dengan pemikirannya sendiri.


Vina menarik kembali ponselnya di atas kasur. Dia mengayun ayunkan kakinya, terlihat seperti seorang wanita sedang memiliki masalah hati yang cukup berat.


Danu yang baru kembali dari ruangan presiden direktur melihat sebuah lampu notifikasi ponselnya berkedip kedip menandakan ada sebuah telpon, SMS maupun pesan chat yang belum dibaca oleh Danu.


Danu meraih ponselnya. Dia melihat ternyata ada panggilan tak terjawab dari Vina.


"Vina? Tumben ada apa ya?" ujar Danu saat melihat nama Vina yang tertulis di ponselnya yang melakukan panggilan tak terjawab oleh Danu.

__ADS_1


Danu mendial panggilannya untuk Vina. Danu menunggu sesaat. Vina yang sedang asik dengan mengayun ayunkan kaki dan pemikirannya sendiri, merasakan ponselnya bergetar dan terdengar sering nada panggilan masuk.


Vina meraih ponselnya, dia melihat Danu yang menghubunginua. Vina tidak ingin panggilan itu berakhir, dia langsung menyentuh tombol hijau di ponsel miliknya.


"Hallo Danu" ujar Vina menyapa Danu dengan nada berat dan terlihat memiliki beban pikiran.


"Vina ada apa? Sepertinya kamu memiliki beban dipikiran kamu? Kalau mau berbagi silahkan Vina" sapa Danu yang sangat tau pasti bagaimana keadaan Vina sekarang ini.


"Yup benar, memang ada beban pikiran yang besar dan rasanya bikin sesak dada saja. Makanya tadi aku nelpon kamu" ujar Vina kepada Danu.


Vina menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang dan juga menselonjorkan kakinya. Vina memutupi tubuhnya dengan selimut karena di negara U, sedang musim dingin.


"Maaf Vina, tadi bukannya nggak mau angkat panggilan telepon dari kamu. Tadi aku ke ruangan presiden direktur, ada yang aku bahas. Eee ternyata ponsel tinggal di ruangan. Pas aku pulang ada notifikasi di layar. Aku lihat ternyata kamu yang menghubungi aku, makanya aku hubungi balik" ujar Danu yang tidak sadar sudah memuntahkan begitu banyak kata kata kepada Vina.


"Hahahahahaha" Vina tertawa saat mendengar rentetan kata kata yang dikeluarkan oleh Danu yang luar biasa panjangnya itu.


"Kenapa ketawa? Ada yang aneh?" tanya Danu kepada Vina. Danu merasa tidak ada kata kata atau jawabannya yang aneh diberikan kepada Vina.


"Nggak ada yang aneh, tapi anehnya kamu tumben ngomong mengeluarkan kata kata yang sangat banyak. Itu aja sih anehnya. Yang lain nggak ada" ujar Vina menjawab kelakuan aneh Danu tadi.


"Oooooo. Nggak tau juga kenapa bisa sepanjang itu tadi." jawab Danu yang memang nggak tau kenapa jawaban yang diberikan kepada Vina bisa panjang.


"Atau mungkin karena aku udah nyaman lagi sama kamu" jawab Danu selanjutnya kepada Vina.


"Mulai gombalin lagi ya" ujar Vina menjawab apa yang dikatakan oleh Danu.


Mereka berdua kemudian sama sama terdiam cukup lama. Danu dan Vina sama sekali tidak mengeluarkan kata katanya lagi.


"Hay, Vina, ada apa tadi nelpon ke aku. Aku yakin pasti ada masalah. Kalau tidak mana mungkin kamu menghubungi aku" ujar Danu menebak isi kepala Vina.


"Yup bener. Ada sesuatu yang mengganjal di hati dan pikiran aku" ujar Vina akhirnya mulai menceritakan perihal kenapa dia menghubungi Danu.


"Ada hal apa Vina? Cerita aja sama aku. Apakah hal ini berkaitan dengan aku?" ujar Danu menebak masalah yang akan disampaikan oleh Vina kepada dirinya.


"Iya, sangat berkaitan malahan dengan kamu. Aku sampai tidak tau harus bertanya bagaimana ke kamu" lanjut Vina yang memang nggak tau harus bagaimana mengemukakan pertanyaan yang mengganjal di hatinya itu.


"Tanyakan saja Vina, aku yakinkan ke kamu, aku tidak akan marah mendengar pertanyaan yang kamu lontarkan itu nanti" ujar Danu meyakinkan Vina untuk mengatakan hal apa yang membuat dirinya memiliki beban pikiran.


Vina menghela dengan berat nafasnya dan menghembuskan juga dengan berat. Dia tidak bisa membayangkan kenapa kejadian ini bisa terjadi lagi kepada dirinya. Tetapi, dia tetap harus mengatakan kepada Danu semuanya. Dia tidak mau nanti salah mengambil sikap dan akhirnya merugikan dirinya sendiri.


"Danu?" panggil Vina yang sudah yakin dengan keputusannya yang tadi sempat kembali ragu.


"Yup Vina, aku masih di sini kok, belum kemana mana. Ada apa?" tanya Danu kepada Vina. Danu berusaha membuat Vina kembali rileks tidak tegang seperti tadi.


"Danu, apakah keputusan aku memberikan kesempatan kedua kepada kamu dan memberikan kesempatan kepada kamu untuk meninggalkan Ranti sudah tepat?" itulah pertanyaan pertama yang disampaikan oleh Vina kepada Danu.


Danu terkejut mendengar pertanyaan Vina, dia tidak menyangka Vina akan menanyakan hal seperti itu kepada dirinya.


"Vina kenapa bertanya hal seperti itu. Ada apa Vina? Jangan bikin aku penasaran dengan pertanyaan kamu" ujar Danu kepada Vina.

__ADS_1


Danu benar benar kaget saat mendengar apa yang ditanyakan oleh Vina kepada dirinya.


"Danu kenapa aku menanyakan hal itu ke kamu, jawabannya satu. Ranti mengirimkan aku fhoto dan video" ujar Vina kepada Danu.


"Fhoto dan video?" tanya balik Danu kepada Ranti.


"Ya fhoto dan video, kamu dengan dirinya di atas ranjang. Malahan ada video maaf, dia sedang memeluk kamu dan dia menunjukkan bekas tanda tanda peperangan kalian berdua" ujar Vina memberitahukan apa yang terjadi kepada Danu.


Danu terdiam sebentar dia paham apa yang membuat Vina menjadi tertekan dan menanyakan hal itu kepada Danu.


"Vina, maaf sebelumnya, aku dan Ranti sudah berpisah rumah sejak aku mengenal kamu di perusahaan. Dia sudah meninggalkan aku dan Deli sejak lama" ujar Danu mulai bercerita kepada Vina.


"Deli siapa Danu?" tanya Vina yang memang tidak ingat siapa Deli.


"Deli anak yang lahir dalam pernikahan kami. Tapi juga anak yang lahir menurut Ranti bukan kehendak dia." jawab Danu kepada Vina.


"Bentar, apa Deli dirawat oleh Ranti?" Vina melanjutkan pertanyaannya.


"Jadi, apa benar video itu Dan?" tanya Vina yang penasaran dengan video dan fhoto yang dikirim oleh Ranti ke ponsel milik Danu.


"Vina, apa kamu masih meragukan aku?" tanya Danu dengan nada tidak ingin diragukan oleh Vina.


"Danu, pertamanya aku memang ragu. Tapi setelah mendengar apa yang kamu katakan, aku semakin yakin, kalau keputusan aku memberikan kesempatan kepada kamu itu adalah benar." ujar Vina yang sudah tidak meragukan Danu lagi.


"Vina, bisa jadi dia datang ke rumah, dan mengambil fhoto. Dengan maksud untuk memanas manasi kita." lanjut Danu menjelaskan kepada Vina.


"Kamu kirimkan aja ya pesan chat yang dikirim Ranti. Besok akan aku konfirmasi ke dia" ujar Danu yang tidak ingin Vina masih meragukan dirinya.


"Oke. Danu, aku istirahat bentar ya. Capek" ujar Vina uang hatinya sudah kembali tenang.


"Sip.Selamat istirahat. Aku tau kamu tidak di negara ini. Di negara kamu sekarang pasti sudah malam. Tapi aku harap kamu tidak pergi dari negara itu. Aku beneran sayang dan cinta sama kamu" ujar Danu dengan kalimat kalimat pastinya.


"Aku juga sayang kamu dan cinta kamu. Aku harap kamu memperjuangkan cinta kita" lanjut Vina yang tidak ingin melepaskan Danu.


"Sip. Tapi apapun ujiannya kamu yakin akan bantu aku?" tanya Danu meminta kepastian Vina akan selalu berada di sisinya.


"Oke. Danu, aku istirahat dulu ya. Capek banget" ujar Vina yang sudah merasakan kantuk dimatanya.


"Iya.Hati hati di sana ya" ujar Danu.


"Oke" jawab Vina.


Vina kemudian memutuskan panggilan telponnya dengan Danu. Vina kemudian tidur sedangkan Danu kembali membaca dokumen dokumen untuk kerjasama dengan perusahaan lain.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Bagaimanakah reaksi yang diberikan oleh Vina, saat Danu menceritakan tentang Deli???


Tetap di sini ya kakak.

__ADS_1


__ADS_2