
Sari mendengar semua yang dikatakan oleh Vina. Sari tidak percaya sama sekali dengan apa yang sudah terjadi. Perusahaan milik keluarganya di rusak oleh karyawan bagian keuangan. Padahal perusahaan sudah memberikan mereka gaji, dan tunjangan yang layak. Tetapi ntah kenapa mereka masih saja tidak merasa menjadi manusia yang cukup, mereka sama sekali tidak bersyukur.
"Mereka harus menerima akibatnya" ujar Sari berbicara dengan sangat pelan. Sari tidak mau kalau Deli sampai mendengar kalau perusahaan tempat Vina bekerja sedang mengalami permasalahan internal.
'Bang, jangan sampai tidak datang. Kita harus membahas masalah ini' lanjut pesan chat kedua yang dikirim oleh Sari kepada Ivan.
Ivan yang sedang mengantarkan Maya ke rumah tidak mendengar bunyi pesan chat yang masuk ke dalam ponsel miliknya. Dia tetap fokus mengemudi dan sekali sekali melihat ke arah Maya yang terlihat masih dalam kondisi yang agak lemah. Maya bisa keluar dari rumah sakit, karena dia memaksa kepada dokter untuk diizinkan pulang. Dokter mengizinkan Maya untuk pulang, dengan perjanjian Maya belum boleh ke kafe dan tidak boleh kecapekan saat berada di rumah. Maya mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh dokter.
Bagi Maya apapun larangan yang diberikan oleh dokter akan dipatuhinya asalkan dia diizinkan untuk pulang ke rumah. Maya sudah sangat bosan berada di rumah sakit itu. Tulang tulang Maya serasa sudah tidak di tempatnya lagi, gara gara keseringan tidur dan berbaring di ranjang rumah sakit.
Ivan akhirnya sampai juga di rumah Maya. Dia membantu Maya untuk keluar dari dalam mobil. Ivan memapah Maya untuk masuk ke dalam rumah.
Bik Ina yang sudah diberi kabar oleh Ivan kalau Maya akan pulang hari ini, sudah membersihkan kamar Maya. Bik Ima sudah menukar alas kasur, dan juga sudah menggundar kamar mandi supaya tidak licin. Semua debu juga sudah di bersihkan oleh Bik Ima. Bik Ima juga ingin saat Maya masuk ke dalam kamar, Maya merasakan udara yang bersih dan tidak ada lagi bibit bibit penyakit yang berterbangan di dalam kamar itu.
"Sayang, sepertinya aku harus pergi ke rumah Sari. Tidak apa apa kan ya?" ujar Ivan pamit kepada Maya untuk menuju mansion Sari.
"Ada apa sayang?" tanya Maya yang terlihat cemas saat Ivan mengatakan dia harus bertemu dengan Sari saat ini.
"Kata Sari tadi ada masalah di perusahaan. Vina sekarang sedang mengurusnya. Cuma Sari minta aku untuk ke mansion. Dia akan membahas beberapa hal tentang masalah itu dengan aku" ujar Ivan mengatakan kepada Maya apa isi pesan chat yang dikirim oleh Sari kepada dirinya.
__ADS_1
"Masalah apa sayang, kalau aku boleh tahu" ujar Maya yang bertanya masalah apa yang sedang dihadapi oleh perusahaan dan sekarang sedang dituntaskan oleh Vina.
"Jujur sayang, aku saja tidak tahu masalah apa yang sedang dihadapi oleh perusahaan. Sari belum memberitahukan kepada aku apa yang sedang terjadi." lanjut Ivan menjawab pertanyaan dari Maya.
Sari memang sama sekali belum mengatakan masalah apa yang terjadi di perusahaan. Sehingga Ivan tidak tahu harus menjawab apa kepada Maya.
"Oh aku kira Sari sudah mengatakan kepada kamu, masalah apa yang sedang dihadapi Vina di perusahaan sayang" ujar Maya sambil menatap ke arah Ivan.
"Nanti kalau aku sudah tahu, akan aku beritahu kepada kamu sayang. Sekarang kamu lebih baik beristirahat saja dulu. Kamu harus ingat apa yang dikatakan dokter. Kamu tidak boleh lelah dan memiliki beban pikiran. Jadi intinya kamu harus santai dan tidak memikirkan sesuatu yang tidak penting" ujar Ivan memberikan wejangan layaknya seorang dokter kepada pasien yang sudah sakit tetapi tetap masih keras kepala juga.
Maya mengangguk, dia paham dengan apa yang dikatakan oleh Ivan, Maya pasti akan beristirahat. Dia akan mengikuti semua yang dikatakan oleh dokter, Maya tidak ingin lama lama terbaring di kasur. Maya sudah sangat kangen dengan suasana kafe da kegiatannya di kafe.
"Aku akan beristirahat sayang. Aku juga akan menjaga kesehatan aku. Aku sudah ingin ke kafe lagi. Bosan dalam kamar dan di atas kasur terus" ujar Maya menjawab perintah yang diberikan oleh Ivan kepada dirinya. Maya benar benar merindukan kafe itu. Cita cita Maya yang akhirnya terwujud berkat bersahabat baik dengan Vina dan Sari.
"Aku pamit dulu ya. Besok aku akan ke sini lagi. Kalau masalah itu berat, aku harus menjelaskan kepada Sari apa yang harus dilakukan oleh Vina." ujar Ivan yang belum tahu akan bisa datang ke rumah Maya nanti malam atau harus besok saja, karena ada masalah yang cukup berat terjadi di perusahaan.
"Iya sayang. Hati hati di jalan ya. Titip salam untuk Sari" ujar Maya yang mengizinkan Ivan untuk pergi menemui Sari dan menyelesaikan permasalahan di perusahaan milik Sari dan Ivan.
Cup. Sebuah kecupan mendarat di puncak kepala Maya. Ivan memang selalu seperti itu saat akan meninggalkan Maya. Ivan mencurahkan rasa sayang dan cintanya kepada Maya melalui kecupan singkat yang bermakna tersebut.
__ADS_1
Maya membalas dengan tersenyum kepada Ivan. Tiba tiba sebuah kejadian aneh yang membuat hati Ivan semakin mencintai Maya terjadi.
Maya mengangkat tangannya kepada Ivan. Maya bermaksud untuk mencium tangan Ivan sepenuh hatinya. Ivan memberikan tangannya kepada Maya. Maya mengecup tangan itu dengan sangat lembut. Maya benar benar mencintai pria yang sekarang berada di depannya ini. Pria yang selalu memenuhi hati dan pikirannya. Pria yang selalu ada saat Maya membutuhkan dirinya.
"Aku pamit ya. Istirahat. Kalau butuh sesuatu panggil bik Ina. Jangan pergi sendiri. Ada dengar?" ujar Ivan berkata sambil menatap ke mata Maya dengan tatapan memohon supaya Maya mengikuti semua yang diinginkan oleh Ivan.
"Iya sayang aku akan menuruti semua yang kamu mau. Nggak usah natap kayak gitu juga kali sayang." ujar Maya yang kaget di tatap seperti itu oleh Ivan.
"Ya udah, aku jalan dulu ya. Kalau urusan aku cepat selesai aku akan balik. Tapi kamu tidak, maka aku akan datang besok ya" ujar Ivan mengulang kembali mengatakan kapan dia akan datang untuk melihat keadaan Maya lagi.
Ivan berjalan keluar dari dalam kamar Maya. Ivan menuju dapur untuk mencari Bik Ina, asisten rumah tangga yang akan menjaga Maya selama Ivan tidak ada di rumah.
"Bik Ina!!!!!" panggil Ivan mencari bibik yang merupakan orang kepercayaan Ivan di rumah besar ini.
"ya tuan muda, ada yang bisa bibik bantu?" ujar bik Ina yang baru datang dari arah belakang.
"aku mau ke mansion Papi. Tolong jagain Maya ya. Bibik nggak usah kerja di bawah. Bibik langsung aja di kamar Maya. Aku nggak mau dia kenapa kenapa lagi Bik. Makanya tolong jaga dia ya" ujar Ivan menitipkan Maya kepada Bik Ina.
"siap Tuan Muda. bibik akan menjaga nona Maya sebaik baiknya. tuan muda tidak usah cemas dengan semuanya" jawab Bik Ina yang membuat Ivan menjadi ringan untuk pergi mengurus perusahaannya yang sedang terlilit masalah internal.
__ADS_1
Ivan kemudian melangkahkan kakinya keluar dari rumah Maya. Ivan akan menuju mansion Papi yang terletak jauh di pinggiran kota. Makanya tadi Ivan mengatakan kepada Maya kalau dia ragu bisa pulang.
Mami pasti tidak akan mengizinkan Ivan untuk pulang kalau hari sudah terlalu malam Terlebih lagi ini adalah pertemuan pertama mereka setelah puluhan tahu. Sebenarnya Mami dan Papi sering bertemu Ivan. Tetapi saat itu mereka belum tahu wajah Ivan yang sudah dewasa.