Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Kebahagiaan


__ADS_3

Vina melanjutkan sarapannya. Dia makan sendirian untuk saat ini. Vina merasakan keengganan untuk menyuap sarapan itu ke dalam mulutnya. Suasana sepi membuat dia malas untuk sarapan.


"Huft, sepi juga kalau nggak ada Maya. Mana makan harus sendirian pula lagi" ujar Vina menatap meja makan besar yang kosong itu. Hanya ada dirinya yang duduk di sana sendirian menikmati sarapan yang dimasak oleh Bik Ina.


"Kayak lagi di kuburan aja" lanjut Vina mengomel sendirian.


"Semoga tu anak nggak tiap hari ke pasar paginya" lmkata Vina selanjutnya.


Vina kemudian mengisi piringnya dengan sarapan yang telah disiapkan oleh Bik Ina. Vina sengaja tidak mengambil sarapan dalam porsi yang banyak. Dia merasa kurang berberselera makan untuk hari ini.


Akhirnya walaupun makan sendirian dengan rasa yang kurang nikmat, Vina akhirnya bisa menyelesaikan sarapannya dengan raut wajah yang sedih. Dia tidak menyangka dengan keputusan Maya membuka kafe akan membuat dirinya, sarapan hanya sendiri.


"Bik, aku kantor dulu ya" ujar Vina sambil berjalan menuju pintu keluar rumah.


Pak Hans sudah membukakan pintu mobil untuk Vina. Vina masuk dan duduk di kursi belakang. Pak Hans kemudian melajukan mobil menuju perusahaan.


"Pak Hans, nanti ke kafe?" tanya Vina kepada Pak Hans yang terlihat sedang serius mengemudi itu.


"Nggak Nona. Tadi kata Nona Maya, dia akan dibantu Tuan Ivan seharian ini di kafe. Jadi, saya stay menunggu Nona di perusahaan" jawab Pak Hans yang memang sudah diminta oleh Ivan sebenarnya untuk tetap stay di kantor, karena Ivan yang akan membantu Maya di kafe selama Ivan di negara U.


"Oh oke Pak Hans" jawab Vina.


"Maaf Nona. Boleh Pak Hans bertanya sesuatu kepada Nona?" tanya Pak Hans sambil menatap ke arah Maya.


"Silahkan Pak Hans. Ada apa?" tanya Vina yang memang selalu terbuka dan siapapun boleh bertanya kepada dia tentang apapun itu.


"Kenapa Nona hari ini terlihat lesu? Apalagi tadi saat sarapan, Nona Vina seperti enggan untuk menyuap sarapan Nona." tanya Pak Hans menatap Vina dari kaca spion mobilnya.


Vina terdiam, ternyata semua orang memperhatikan dia dari tadi. Vina mengira tidak ada satupun orang di rumah yang memerhatikan kesedihannya saat sarapan.


"Sedih memang Pak Hans. Saya biasanya sarapan dengan Maya. Tadi pagi tiba tiba harus sarapan sendiri. Bikin saya jadi nggak bisa nggak bisa nyuap nasi" ujar Vina yang menumpahkan apa yang ada di dalam pikirannya dan membuat dadanya sesak kepada Pak Hans.


"Pak Hans sama Bik Ina besok sarapan dengan saya saja lagi di meja makan ya. Kalau nggak saya nggak mau sarapan" ujar Vina dengan nada tidak bisa di bantah.


"Tapi Nona" ujar Pak Hans yang segan untuk makan bareng dengan majikannya itu.


Pak Hans memang tahu kalau Vina sama sekali tidak membeda bedakan dirinya dengan para pelayan di rumah itu. Tetapi Pak Hans dan Bik Ina segan saja harus sarapan semeja dengan Vina.


"Pak Hans, aku tidak Terima bantahan Pak Hans." ujar Vina dengan nada final.


"Baiklah Nona, kalau memang itu keinginan Nona. Nanti akan saya sampaikan kepada Bik Ina, biar mulai besok pagi kami akan sarapan di meja makan bersama dengan Nona" jawab Pak Hans yang mengerti dengan perasaan Vina saat ini.


Nanti secara perlahan lahan, Pak Hans akan memberikan pengertian kepada Vina, kalau mereka tidak bisa duduk satu meja untuk sarapan atau yang lainnya. Pak Hans akan mencari waktu yang tepat untuk melakukan itu.


Vina kembali larut dalam lamunannya. Dia teringat seseorang yang sekarang kembali mengisi pikirannya. Seseorang yang setiap hari menari nari di matanya.


'Hay' bunyi pesan chat yang dikirimkan oleh Vina kepada Danu.


Danu yang baru pulang dan baru tertidur sama sekali tidak mendengar bunyi pesan chat masuk ke ponselnya.


"Sepertinya dia sedang tidur, makanya tidak balas pesan chat dari aku" ujar Vina kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas kerja.


Mobil memasuki area perusahaan.


"Pak Hans langsung parkir saja. Nanti saya jalan dari parkiran menuju perusahaan" ujar Vina meminta Pak Hans langsung saja memarkir mobil di parkiran, tidak perlu mengantarkan Vina ke lobby terlebih dahulu.


Pak Hans mengikuti perintah yang diberikan oleh Vina. Pak Hans markir mobil di parkiran khusu petinggi perusahaan. Vina keluar dari dalam mobil. Dia kemudian berjalan menuju perusahaan yang berjarak hanya dua puluh lima meter dari area parkir.


Mobil Sari berhenti tepat di belakang Vina.


Tin tin tin. Bunyi klakson mobil. Vina berhenti berjalan. Dia melihat Sari juga turun dari mobil.


"Sayang, aku ke bandara dulu" ujar Juan kepada Sari.


"Oke sayang. Hati hati" jawab Sari sambil tersenyum kepada Juan.


"Hay Vin" ujar Iwan menyapa Vina.


"Loh nggak sama Bang Ivan, Bang?" tanya Vina yang melihat Iwan berdua dengan Juan.


"Males ngawanin orang pacaran Vin. Mending nengok nengok Juan ngecek kesiapan pesawat untuk terbang" ujar Iwan yang memang tidak mau ikut dengan Ivan ke kafe.


"Jangan gitu Bang. Besok pas loe punya pacar di negara kita, suruh juga Ivan nemanin. Biar dia tau rasanya gimana jadi obat nyamuk" kata Vina yang perasaannya sedikit lebih ringan dari pada kemaren malam.


Juan mengemudikan mobilnya meninggalkan area perusahaan. Mereka akan menuju bandara untuk mengchek kesiapan pesawat untuk terbang besok ke negara J. Juan akan mengirimkan hasil produksi perusahaan mereka ke sana besok. Rencananya Iwan juga akan ikut terbang ke negara J.

__ADS_1


"Vin, gue tengok loe kemaren seperti mengalihkan pikiran elo ke memasak. Ada apa Vin?" tanya Sari kepada Vina.


Sari sehari kemaren saat pembukaan kafe memang memerhatikan keadaan Vina. Vina memang memasak, tetapi pikirannya tidak berada di dapur, tetapi berada di tempat lain. Tapi walaupun seperti itu, hasil masakan Vina tetaplah lezat.


"Aku nggak kenapa kenapa Sari. Aku baik baik saja" ujar Vina sambil menatap mata Sari.


Vina tidak mau Sari tau semuanya. Sedangkan Maya saja sahabat terbaiknya selama ini tidak mengetahui permasalahan apa yang terjadi malam sebelum pembukaan kafe.


Tetapi semua permasalahan itu sudah dipindah tugaskan oleh Vina kepada Danu. Vina menginginkan Danu yang menyelesaikan masalah itu. Vina tidak mau berurusan dengan wanita yang selalu menuduh dirinya pelakor. Padahal kalau Ranti tidak berbuat seperti itu kepada Danu, maka bisa dipastikan Danu tidak akan mau dan tidak akan mencintai Vina.


"Sari, apa ada meeting di luar hari ini?" tanya Vina yang memang lupa jadwalnya hari ini. Vina sudah ngebleng sejak sarapan tadi, makanya dia sampai lupa agenda kegiatan mereka hari ini


"Nggak Vin. Emang kenapa? Loe mau ke kafe?" tanya Sari menebak rencana Vina. Sari memprediksi Vina akan setiap hari ke kafe. Bagi Sari tidak masalah asalkan pekerjaan Vina selesai. Sejauh ini masih aman.


"Ke kafe iya. Tapi siang, saat jam makan siang. Kalau memang nggak ada meeting pagi, gue mau ke pabrik. Loe ikut nggak?" ujar Vina yang memang ingin inspeksi mendadak ke pabrik mereka. Vina tidak mau karena kafe pekerjaannya jadi berantakan semua. Vina akan menomorsatukan pekerjaannya barulah urusan kafe.


"Setuju gue. Gue juga mau lihat bagaimana para pekerja bekerja di sana." ujar Sari yang setuju kalau mereka nanti akan melakukan kunjungan ke pabrik yang berada di belakang kantor utama.


Tepat pukul sepuluh Vina dan Sari berkunjung ke pabrik. Mereka akan melihat proses produksi dari produk yang dihasilkan perusahaan mereka. Ini adalah kali pertama wakil direktur dan asisten melakukan kunjungan kerja ke pabrik.


Sedangkan di negara I, Danu baru bangun dari tidurnya tepat jam enam pagi. Dia melihat sebuah pesan chat masuk ke dalam ponsel miliknya.


"Vina?" ujar Danu melihat nama pengirim pesan chat itu.


'Hay juga. Maaf baru balas. Baru bangun. Ini mau mandi. Kamu sedang ngapain?' bunyi balasan chat yang dikirim oleh Danu.


'Aku nanti ada meeting jam delapan. Nanti setelah selesai meeting aku akan telpon' bunyi pesan kedua dari Danu untuk Vina.


Vina merasakan ponselnya bergetar sebentar tanda ada pesan chat yang masuk. Tapi Vina tidak berminat untuk membukanya karena dia sedang dalam waktu kerja, bukan waktu santai. Jadi, dia membiarkan saja pesan chat itu.


"Sepertinya dia sedang kerja sekarang. Nanti sajalah sekitar jam sepuluh aku chat dia lagi atau aku telpon" ujar Danu sambil meletakkan ponselnya di atas nakas.


Danu mengambil handuk. Dia akan mandi terlebih dahulu. Danu mandi sambil bersiul siul bahagia. Dia sudah lama tidak merasa bahagia seperti sekarang ini.


Setelah selesai membersihkan tubuhnya dari sisa sisa tidur semalam, Danu mengambil pakaian kantor yang akan dikenakannya. Dia mengambil kemeja polos warna biru muda, serta stelan jas berwarna dongker. Danu kemudian memakai pakaiannya itu. Dia kemudian menyisir rapi rambutnya, serta memakai jam tangan. Setelah yakin dengan penampilannya Danu memakai sepatunya. Dia kemudian berjalan menuju lantai satu rumah untuk sarapan.


"Tuan mau sarapan sekarang?" tanya Bibik kepada Danu yang sudah turun dari kamar.


"Iya Bik. Tolong siapkan sekarang. Terus minumnya secangkir teh saja. Tidak kopi seperti biasanya" ujar Danu yang hari ini malas minum kopi. Danu lebih ingin minum teh untuk hari ini.


Bibik tidak lupa memasak sedikit air untuk membuat teh. Sambil menunggu air mendidih, Bibik meletakkan sarapan ke meja makan. Dimana Danu sudah duduk di sana sambil membaca koran pagi.


Hari ini untuk sarapan, Bibik memasak nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi, dendeng kering dan juga irisan tomat, timun yang di letakkan bibik di piring terpisah. Setelah menghidangkan nasi goreng, Bibik kembali ke dapur untuk membuat secangkir teh pesanan Danu.


Danu mengisi piringnya dengan sarapan yang telah tersaji di meja makan. Danu mengambil nasi goreng secukupnya dan juga mengambil segala pernak pernik pendukung untuk makan nasi goreng itu.


Danu menyuap nasi goreng buatan Bibik.


'Nggak seenak buatan Vina atau Maya' ujar Danu yang masih mengingat bagaimana lezatnya nasi goreng buatan Vina dan Maya.


Danu menghabiskan segera nasi gorengnya itu. Dia harus cepat sampai ke kantor, karena akan ada meeting yang dilakukan pukul delapan di ruangan presiden direktur yang sedang cuti dan mengalihkan tanggung jawabnya kepada Danu.


"Bik, saya berangkat dulu. Hati hati di rumah. Jangan ada yang boleh masuk ke rumah Bik. Apalagi Ranti" ujar Danu kepada Bibik yang selalu stay di rumah itu.


"Siap Tuan. Tidak akan saya biarkan lagi dia bisa masuk ke dalam rumah ini" ujar Bibik yang merasa kecolongan sampai Ranti bisa masuk ke dalam rumah pada malam itu.


Danu sudah menceritakan semuanya kepada Bibik. Bibik sangat kaget waktu mendengar cerita dari Danu. Dia tidak menyangka sudah seketat itu menjaga rumah, tetapi Ranti masih juga bisa lolos masuk ke dalam rumah.


Setelah Danu pergi, Bibik langsung menhunci pintu depan rumah. Bibik mulai membersihkan meja makan kembali. Bibik melihat nasi goreng suda banyak yang dihabiskan oleh Danu. Bibik kemudian mencuci semua piring piring yang dipakai untuk menyiapkan saraan tadi. Setelah itu bibik membersihkan rumah.


Danu mengemudikan mobilnya dalam kecepatan agak tinggi. Untung saja keadaan jalan mendukung Danu untuk agak menginjak pedal gas lebih dalam. Danu menghidupkan musik kesukaan dirinya, sepanjang jalan Danu selalu bersenandung kecil. Dia benar benar menikmati perjalanannya hari ini.


"Jam delapan meeting sampai jam sepuluh, siap itu menghubungi Vina, setelah itu makan siang, siap itu pergi melihat Deli ke kampung. Besok datang agak siang, karena ada meeting setelah jam makan siang" ujar Danu menyenandungkan kegiatan yang akan dilakukannya selama dua hari ini.


Danu berencana menemui Ranti lusanya, karena untuk dua hari ini jadwal Danu sangat padat. Dia harus menemui Deli karena menurut pesan chat yang dikirimkan oleh Mami, Deli sedang demam. Dia menggigau memanggil nama Danu. Pilihan sulit yang harus dilakukan oleh Danu. Saat semua orang tidak ada, Deli juga sakit, sehingga Danu harus pandai pandai membagi waktunya. Belum lagi urusan dengan Ranti yang masih belum dimulainya sama sekali.


Dia langsung menuju ruangan presiden direktur yang terletak di lantai atas ruangan. Presiden direktur sebelum pergi ke Negara U sudah menyimpan semua fhoto ke dalam laci yang terkunci dan kuncinya hanya ada pada presiden direktur sendiri.


Tepat jam delapan semua peserta meeting sudah hadir di ruangan itu. Danu sengaja tidak memakai ruangan meeting karena suasana di sana sangat kaku. Meeting kali ini hanya membahas tentang arus barang masuk dan keluar di perusahaan saja. Serta beberapa hal lain yang dirasa perlu oleh Danu untuk didiskusikan kembali.


Meeting akhirnya di mulai. Danu memimpin rapat kali ini dengan aura seorang presiden direktur yang baru. Semua manager yang hadir sudah mengetahui kalau sebentar lagi Danu akan menjadi presiden direktur yang baru, karena memang perusahaan ini adalah perusahaan Ayah Danu.


Danu memimpin meeting dengan negara I sedangkan di negara U, Vina yang telah selesai melakukan kunjungan kerja ke pabrik mendadak merasakan lapar.


"Oh ya pesan tadi" ujar Vina.

__ADS_1


Vina mengeluarkan ponsel miliknya Dia membaca pesan chat dari Danu. Vina tersenyum bahagia. Dia kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.


"Tinggal tunggu aja lagi telponnya" ujar Vina tersenyum bahagia.


"Kok tiba tiba lapar ya, padahal baru jam dua belas siang" ujar Vina sambil memegang perutnya yang sudah berbunyi itu


Vina mengambil tas dan ponsel miliknya. Dia berjalan keluar ruangan menuju ruangan Sari.


Vina mengetuk pintu ruangan Sari. Sari yang sedang menyelonjorkan kakinya karena capek itu, malas untuk bangun dari posisi weanaknya itu.


"Masuk" ujar Sari menjawab sambil malas malasan.


Vina membuka pintu ruangan Sari. Dia melihat Sari sedang menyelonjorkan kakinya itu.


"Kenapa loe? Kecapekan?" tanya Vina kepada Sari.


Vina kemudian duduk di sofa yang masih kosong.


"Iya capek. Ternyata berjalan segitu saja gue udah capek. Apa kabarnya dengan semua karyawan kita di pabrik itu ya." ujar Sari yang baru menyadari kalau karyawan yang bekerja di pabrik itu memiliki banyak resiko.


"Kita ke kafe yuk. Gue laper pengen makan" ujar Vina mengajak Sari untuk pergi ke kafe Maya


"Sekarang?" tanya Sari menatap Vina


Vina mengangguk. Kedua Nona di perusahaan itu kemudian menuju lantai bawah. Tadi Vina suda menghubungi Pak Hans untuk menunggu dia di depan pintu lobby.


Pak Hans membukakan pintu mobil untuk Vina san Sari.


"Kemana kita Nona" tanya Pak Hans kepada Vina.


"kafe Maya Pak Hans. " jawab Vina.


"Siap Nona" ujar Pak Hans.


Mobil bergerak meninggalkan perusahaan. Mereka akan makan siang di kafe. Setelah itu Vina dan Sari tidak akan balik lagi ke kantor. Mereka akan membantu Maya di kafe.


Mobil diparkir Pak Hans, tepat di sebelah mobil Ivan. Mobil yang sudah lama tidak dipakai pakai oleh Ivan lagi.


Mereka bertiga kemudian keluar dari dalam mobil. Mereka masuk ke dalam kafe. Terlihat Maya sedang sibuk di dapur berdua dengan Rina. Sedangkan Ivan sedang membantu para pelayan kafe mengantarkan dan menerima pesanan para pelanggan.


"Kamu mau makan apa Sar?" tanya Vina kepada Sari.


"Bikin ayam geprek aja lah Vin. Biar cepat. Gue laper" ujar Sari yang ternyata juga sudah kelaperan itu.


Vina masuk ke area dapur. Dia memakai celemek nya. Setelah itu Vina mengambil ayam yang telah diungkap dan dibumbui. Dia menggoreng dua ayam, empat potong tahu dan dua potong tempe.


"Baru sampe Vin?" tanya Maya saat melihat Vina sudah berdiri di sebelahnya.


"Iya May. Gue laper. Kebetulan juga kerjaan di perusahaan nggak banyak. Jadi bisa ke sini dengan Sari" ujar Vina sambil menunuk Sari dimana duduknya.


Vina akhirnya telah menyelesaikan menggoreng ayam tersebut. Sesudah itu, Vina menggeprek ayamnya supaya jadi gepeng. Vina menata ayam goreng di atas nasi yang sudah ditaburi bawang goreng.


Vina membawa makan siangnya menuju Sari. Vina dan Sari kemudian menikmati makan siang mereka itu.


"Cabenya wow Vin" ujar Sari yang sangat suka cabe ayam geprek tersebut.


"Maya yang buat" jawab Sari sambil makan siang.


Mereka makan dalam hening. Setelah makan mereka berencana untuk membantu Maya di kafe. Vina akan memasak sedangkan Sari akan membantu kasir.


Makan siang mereka akhirnya tuntas juga. Vina menuju dapur sambil membawa piring kotor bekas makan siang dirinya dan Sari. Vina akan memasak beberapa menu yang dipesan oleh para tamu.


Vina mengambil satu kertas menu yang pertama kali datang. Tamu memesan dua piring nasi goreng, dua piring kentang goreng dan satu piring nugget.


"Oke. Gue eksekusi yang ini" ujar Vina.


Vina mulai menghidupkan kompornya, dia mulai mengeksekusi dua piring nasi goreng spesial itu. Vina sangat suka memasak. Dia selalu menikmati prosesnya. Selesai memasak nasi goreng, Vina menyerahkan kepada salah satu pelayan wanita untuk memberikan toping toping nya. Vina kemudian menggoreng dua porsi kentang dan satu porsi nugget ayam.


Vina terus saja memasak di sana. Sampai sebuah panggilan masuk menghentikan dirinya memasak. Vina mengeluarkan ponsel miliknya.


"Danu?" ujar Vina tidak menyangka saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya itu.


"Angkat nggak ya?" ujar Vina menimbang nimang apakah akan mengangkat panggilan itu atau tidak.


"angkat ajalah" ujar Vina akhirnya memutuskan untuk menerima telpon dari Danu.

__ADS_1


"Tadi dia kan udah ngomong juga mau nelpon. Sekarang kenapa gue nggak mau angkat. Angkat ajalah." ujar Vina.


__ADS_2