Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Mengerjai Maya


__ADS_3

Vina melihat seorang wanita yang sedang duduk sendirian di lounge itu, Vina merasa sangat kenal dengan wanita tersebut. Vina menatap dengan saksama wajah itu. Yup Vina sangat kenal banget dengan wanita itu.


"Maya" Ujar Vina tersenyum, dia sangat yakin itu adalah Maya.


Vina menarik tangan Iwan. Iwan menatap Vina protes karena main tarik saja.


"Maya" Ujar Vina dengan sangat pelan.


"Mana? " Ujar Iwan yang penasaran dimana Maya berada.


"Palingkan wajah sedikit. Meja nomor dua dari tempat kita berdiri. Tapi tengok diagonal. " Ujar Vina memberitahukan dimana posisi Maya sekarang ini kepada Iwan.


Iwan mengajak Ivan untuk sedikit mendekat ke arah Maya. Maya melihat Ivan dan Iwan serta Vina berjalan mendekat ke arahnya, semakin mengangkat kepalanya setinggi mungkin.


"Bang, tiba tiba aku pengen makan nasi kapau. Kita makan di luar aja bagaimana? Masak iya Sari aja yang bisa raun. Kita juga bisa kali Bang." Ujar Vina dengan sengaja membesarkan suaranya.


"Gue setuju Van. Kita udah sampai sini, masak nggak makan makanan ciri khas kota B yaitu nasi Kapau, gue juga pengen kali Van. " Ujar Iwan sengaja juga membesarkan suaranya mendukung pernyataan Vina yang minta makan nasi Kapau.


Iwan dan Vina sengaja melakukan itu. Mereka tidak ingin Ivan bertemu dengan Maya sekarang.


"Oke kalau gitu kita makan nasi Kapau. Bapk tau dimana penjual nasi Kapau yang lezat? " Tanya Ivan kepada sopir yang sangat tau dimana saja tempat tempat yang menyajikan masakan yang enak enak.


"Gampang itu Tuan. Mari ikut saya. Sebenarnya saya juga menolak makan di sini Tuan. Nasinya sedikit. Perut saya ususnya panjang Tuan. " Ujar sopir mulai bisa berbicara gamblang dengan Ivan yang notebane adalah Tuan Muda Perusahaan tempat dia bekerja.


"Hahahahaha, kenapa tadi nggak ngajak ke nasi Kapau? " Ujar Ivan sambil berjalan bersisian dengan sopir.


"Segan lah Tuan. Lancang kali saya kalau sempat mengatakan akan makan di luar. Jadi, saya nerima aja mau makan dimana urusan kenyang dan tidaknya nanti saya pikirkan belakangan tuan." Ujar Sopir menjawab pertanyaan Ivan.

__ADS_1


"Jadi, lebih mending nahan lapar dari pada ngomong, gitu Pak? " Tanya Vina menyambung dari belakang percakapan Ivan dan Sopir.


"Iyalah Nona. Saya lebih mementingkan pekerjaan saya dari pada perut saya Nona." Jawab Sopir dengan tegas dan lugas.


"Setuju Pak. Saya rencananya dalam dua hari ini akan kembali ke negara U, pekerjaan saya banyak di sana Pak. " Ujar Vina yang sengaja mengatakan hal itu, karena dia tau Maya mengikuti mereka. Vina pun sengaja mengatakan hal itu dengan suara sedikit agak keras.


"Terus Nona Maya gimana Nona? " Tanya Sopir yang tidak tahu kalau dia dimanfaatkan oleh Vina untuk membalas rasa sakit hatinya kepada Maya.


"Biarin aja Pak. Orang asik liburan kenapa kita harus mikirin dia. Kalau dia mau ikut sama aku ke negara U, maka dia akan pulang dengan sendirinya. Tapi kalau tidak juga tidak apa apa Pak. " Ujar Vina sengaja mengatakan hal yang sangat pedih tersebut.


"Terus kafe Nona bagaimana? " Tanya pak Sopir yang ingat tujuan utama Vina ke negara ini


"Gampang itu mah pak. Bisa disewakan kafe nya. Atau aku sendiri yang masak. Nanti Bik Inah dan Rina pelayan rumah tangga di suruh menunggui kafe. Nanti aku pulang kerja baru aku yang nungguin kafe Pak. " Kata Vina yang ntah dari mana datang ide seperti itu menjawab pertanyaan sopir.


Ivan menoleh sedikit ke arah Vina.


"Gimana mau ngajak Bang. Dia aja nggak tau dimana. Aku nggak mungkin lama lama ninggalin perusahaan Bang. Aku bekerja dengan orang. Bukan aku yang punya perusahaan. Aku tidak mau memberi contoh buruk kepada bawahan. " Ujar Vina lagi tetap kekeh akan pergi walaupun tidak ada Maya.


"Kalau dia datang sebelum aku pergi, maka dia akan aku bawa. Tapi kalau tidak, terpaksa aku tinggal, biar dia nyusul sendiri kalau dia mau. Tapi kalau tidak ya terserah dia. Di sini lapangan pekerjaan juga banyak Bang. " Jawab Vina dengan nada seperti tadi.


"Loe dari tadi ngomong keras terus. Kenapa? " Tanya Ivan mulai curiga dengan kelakuan Vina


Vina hampir saja tidak bisa menjawab pertanyaan Ivan. Untung saja saat itu mereka sudah sampai di lobby. Sopir langsung menuju parkiran untuk mengambil mobil. Mobil pun sampai di depan lobby. Ivan, Iwan dan Vina naik ke dalam mobil. Sopir membawa mereka menuju warung nasi kapau.


Maya yang mendengar semua yang dikatakan oleh Vina langsung terdiam di tempat. Dia tidak menyangka dengan kelakuannya seperti ini Vina akan marah besar dan bahkan berniat meninggalkannya di negara ini.


"Vina maafin gue" Ujar Maya dengan pelan.

__ADS_1


Maya menuju kamarnya kembali. Dia sudah tidak bisa berbuat apa apa lagi. Semua yang dilakukannya berharap untuk dapat perhatian dan dicari cari, ternyata sekarang berbalik kepadanya. Maya benar benar tidak tau harus mengapa saat ini.


Sampainya di kamar, Maya membasuh wajahnya. Dia kemudian menyiapkan semua barang barangnya. Maya memutuskan untuk kembali ke kota P esok saat selesai sarapan.


Tetapi saat keputusannya sudah bulat, Maya kembali menghentikan pekerjaannya.


"Mending sehari besok gue jalan jalan bentar. Setelah itu baru gue kembali ke kota P mengembalikan mobil Dian. Siap itu gue baru terbang ke ibu kota. Gue akan menemui mereka dan meminta maaf saat udah sampai di ibu kota aja. " Ujar Maya yang sudah menetaokan hatinya dengan keputusan yang diambilnya sendiri.


Setelah memutuskan hal tersebut, Maya kemudian naik ke atas ranjang besarnya. Dia akan beristirahat setelah memutuskan sesuatu yang baik untuk dirinya kedepan.


Vina dan yang lainnya telah kembali dari tempat makan nasi Kapau, begitu juga dengan Juan dan Sari yang juga sudah pulang dari kencan makan malam romantis mereka. Sekarang mereka sudah di dalam kamar masing masing.


"Sari tau nggak loe di lounge kami tadi ketemu siapa?" ujar Vina memulai ceritanya


"Maya" ujar Sari yang sudah bisa menebak siapa yang dilihat Vina di lounge hotel.


"Yup. Tau nggak loe. Dia saat lihat Ivan masuk lounge langsung mengangkat kepalanya. Nah kan waktu itu Ivan sama sekali tidak memandang dia. Kebetulan yang lihat pertama gue kan, terus gue ajak Iwan sekongkol." ujar Vina mulai bercerita.


"Gue ngomong lah ke Ivan kalau gue pengen makan nasi Kapau. nah Iwan dan sopir mendukung pernyataan gue. jadi, kami pergilah makan nasi Kapau. Tau nggak loe ternyata dia ngikutin kami. " ujar Vina bercerita sambil tersenyum.


"Nah gue tau dia ikut. Gue bilang aja dua hari lagi kita akan kembali ke negara U. kalau dia mau ikut gue bawa. Kalau tidak juga tidak apa apa. Dia udah bisa hidup tanpa Gue. " ujar Vina.


"keren loe. Terus terus" ujar Sari yang sangat senang Vina sudah pintar dan tidak bisa di manfaatkan lagi.


"Nggak ada terus nya. Dia nggak ngikutin kami lagi" ujar Vina mengakhiri ceritanya.


"Nggak apa apa. semoga dia sekarang sedang berpikir. " ujar Sari.

__ADS_1


Mereka berdua kemudian beristirahat. Besok mereka berencana untuk pergi main, menikmati kota B. Sebelum kembali ke Negara U dua hari lagi.


__ADS_2