Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Rasa Masakan Jadi Enak Karena Cinta


__ADS_3

"Bunda, Deli janji akan jadi anak lebih baik lagi" kata Deli sambil sesegukan menangis di pelukan bundanya itu.


"Deli janji nggak akan jadi anak yang egois lagi" lanjut Deli menangis semakin menjadi jadi.


"Iya sayang. Bunda ngerti dan paham. Bunda akan bantu Deli supaya jadi anak lebih baik lagi" mata Vina sambil mengusap usap punggung Deli yang menangis tersebut.


"Sekarang anak cantik Bunda ini hentikan tangisnya ya sayang. Bunda pasti akan tetap mencintai kamu sayang" lanjut Vina sambil tetap mengelus punggung anaknya dan mengecup puncak kepala Deli.


Kasih sayang ibu memang sudah ada dalam diri Vina. Vina mencintai anaknya dengan sangat tulus. Vina akan melakukan segala cara untuk kebahagiaan Deli dan menjadikan Deli sebagai anak yang berguna dan juga penurut sama semua anggota keluarganya.


Maya dan Sari yang melihat kalau ibu dan anak itu telah menyelesaikan permasalahan antara mereka berdua langsung menuju tempat dimana Vina dan Deli berada.


"Nah berhubung permasalahan antara Ibu dan Anak ini telah selesai, bagaimana kalau kita lanjut makan siang yang udah bisa dikatakan sebagai makan sore. Makanan sudah siap perut juga udah lapar." kata Maya mengajak Vina dan Deli untuk menikmati menu makanan yang telah dibuat oleh dirinya


"Setuju Mami. Deli juga udah sangat kelaperan."


Sambar Deli yang memang cacing cacing di dalam perutnya sudah berisik minta di isi dengan makanan yang sudah dibuat oleh Maya dengan penuh cinta dan kasih sayang.


"Jadi, air mata yang keluar tadi itu bukan karena kamu sedih karena sudah marah dengan Bunda? Tapi karena lapar?" tanya Vina sambil menatap ke wajah ayu dan juga nampak gurat gurat ambisius tersebut.


"Nggak lah Bunda. Nangis tadi itu serius karena penyesalan Deli yah udah ribut dengan Bunda." jawab Deli sambil memeluk kembali Vina.


"Deli nggak mau Bunda marah lagi" kata Deli sambil mempererat pelukannya kepada Vina.


"Bentar sayang ini namanya miscomunication. Bukannya yang marah tadi itu kamu sayang bukan Bunda?" ujar Vina yang heran karena Deli mengatakan dia yang marah, padahal yang marah adalah Deli bukan dirinya.


"Kita berdua sama sama marah Bunda" ujar Deli yang sama sekali tidak mau mengalah dengan Vina.


Vina yang melihat anaknya mulai keras kepala lagi hanya bisa geleng geleng kepala.


"Katanya mau berubah" ujar Vina menyindir Deli.


"Iya mau. Tapi kali ini Bunda harus setuju kalau kita berdua sama sama ngambek tadi" jawab Deli masih dengan keras kepalanya.

__ADS_1


"Oke oke oke. kita sama sama ngambek" jawab Vina yang sudah diberi kode oleh Maya untuk mengalah saja.


"nah gitu bun, sekali sekali ngalah sama anak kecil"


"Haha haha haha haha"


Semua orang yang ada di kafe langsung tertawa ngakak saat mendengar apa yang dikatakan oleh Deli kepada Vina.


Anak kecil tersebut memanglah anak kecil, dia mengatakan langsung apa yang ada di dalam hatinya dengan tanpa saringan.


"Mami, Tante, Deli mau makan di tepi kolam ikan ya" ujar Deli mengutarakan kepada Mira dan Sari kalau dirinya mau makan di tepi kolam ikan koi.


"Oke. Kita akan makan di tepi kolam ikan koi, sekaligus ngasih makan ikan koi. Biar kita makan koi juga makan" jawab Sari yang langsung saja setuju dengan ajakan keponakannya untuk menikmati makanan mereka di tepi kolam ikan.


Mereka berempat kemudian menuju meja yang berada di dekat kolam ikan. Para pelayan membawakan hasil masakan yang dibuat oleh Maya dan Sari tadi ke meja tersebut.


"Bunda, mau Deli suapin?" tanya Deli kepada Vina yang duduk tepat di sebelah dirinya.


"Deli yang suapin Bunda, Tante sayang" lanjut Deli sambil menatap ke arah Sari.


"Emang bisa?" tanya Sari yang penasaran dengan niat Deli.


"Bisalah. Masak dak bisa" jawab Deli


"Ini Deli tante sayang. Bukan anak kecil yang lainnya" lanjut Deli berkata dengan percaya dirinya kepada Sari.


"Oke oke oke. Ini Deli bukan yang lainnya. Sekarang coba gimana cara nyuapin itu?" kata Sari menantang Deli untuk menyuapi Vina.


"Oke siapa takut" jawab Deli dengan percaya dirinya.


"Bunda, Deli suapin Bunda ya, bolehkan?" ujar Deli bertanya kepada Vina kalau dirinya mau menyuapi Vina.


"Boleh sayang, tapi apa kamu yakin, kamu yang akan nyuapin Bunda, bukan Bunda yang nyuapin kamu?" tanya Vina sambil melihat ke arah Deli.

__ADS_1


"yakin Bunda. Deli yang suapin Bunda. Jadi Bunda tinggal duduk tenang aja, Deli yang suapin"


Deli berusaha meyakinkan Vina bahwasanya dia akan menyuapi Vina dengan serius.


"Oke sayang, kalau kamu yakin, maka Bunda juga akan yakin" jawab Vina.


Deli mengambil sesendok nasi. Dia juga mengambil lauk dan sayur.


"ak Bunda, alias buka mulutnya" ujar Deli meminta Vina membuka mulutnya.


Vina menurut apa yang dikatakan oleh Deli kepada dirinya. Vina membuka mulutnya dengan lebar lebar. Deli kemudian menyuapi Vina dengan sesendok nasi.


Vina mengunyah dengan sangat pelan nasi tersebut.


"Sayang, kenapa masakannya menjadi semakin enak ya?" ujar Vina berkata kepada Deli dengan memuji betapa enaknya menu makan malam itu saat disuapkan oleh Deli kepada Vina.


"ais Bunda bisa aja. Dimana bisa jadi nambah enak rasa masakannya Bunda" ujar Deli memberikan komentarnya kepada Vina.


"Ya bisalah sayang. Karena kamu menyuapi Bunda dengan rasa cinta dan sayang, makanya rasa masakan kamu jadi semakin enak" kata Vina menjawab komentar yang diberikan oleh Deli sebentar ini.


"Jadi gitu ya Bun. Pantesan semua makanan yang Bunda buat rasanya enak semua. Jadi kerena pakai cinta" kata Deli yang mengubah kembali bahasa yang dipakainha dengan bahasa dirinya sendiri.


"Iya sayang, karena pakai cinta makanya jadi sangat enak"


Vina memberikan penekanan kepada Deli kenapa sebuah masakan bisa menjadi sangat enak karena dibuat atau disuapin oleh orang yang memiliki cinta.


"Berarti kalau orang nggak punya cinta masakannya nggak enak ya Bun?" tanya Deli selanjutnya.


"Tergantung sayang, tetapi bisa jadi juga" jawab Vina yang tidak tahu harus memberikan jawaban apa lagi kepada Deli.


"Udah udah bahas makanan dan cinta cintanya. Kita lanjut makan saja. Nanti Tuhan menjadi tidk cinta kepada kita karena makanannya kita anggurin" ujar Maya mengajak mereka semua untuk menghentikan pembicaraan dan lanjut menikmati makanan yang sudah berada di dalam piring mereka masing masing.


Vina, Maya, Sari dan Deli kemudian menyuap makanan mereka ke dalam mulut. Mereka menikmati makan siang sekaligus makan sore mereka dengan sangat lahap. Mereka berempat benar benar menikmati setiap rasa masakan yang masuk ke dalam mulut mereka.

__ADS_1


__ADS_2