Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Mansion


__ADS_3

Vina masuk ke dalam kamar mandinya yang luas itu. Vina menatap kesekeliling kamar mandi. Vina kemudian melakukan ritualnya sebagai seorang wanita yang selalu berusaha menjaga penampilan dan kebersihan wajahnya. Vina tidak ingin, karena dia malas membersihkan wajah, akibatnya ada sesuatu yang membuat penampilannya menjadi tidak seperti biasanya, makanya selelah apapun Vina, Vina pasti akan menyempatkan diri untuk membersihkan wajahnya, walaupun membersihkan tubuhnya di skip oleh Vina.


Vina yang telah selesai membersihkan wajahnya dari make up yang dipakainya dari tadi pagi, langsung berjalan menuju kamarnya yang berdesain sangat sangat natural. Kamar yang sangat luas dan ada balkonnya. Tetapi, untuk kali ini Vina sama sekali tidak bisa menikmati pemandangan dari balkon itu. Vina hanya membuka kain gorden sekilas saja untuk memastikan kalau di sana memang ada balkon.


Vina kemudian mengambil paperbag yang tadi diberikan oleh Danu yang tadi di letakkan oleh Danu di atas ranjang besar yang akan menjadi tempat Vina menuju alam mimpi nantinya. Vina mengeluarkan isi paperbag itu dan melihat isi yang ada di dalamnya. Vina mengambil pakaian tidur yang ada di sana. Vina mengangkat pakaian tidur tersebut dan menempelkan ke tubuh rampingnya. Vina sangat kaget luar biasa dengan apa yang ditampilkan oleh cermin yang berada di depannya itu.


"Wow, dia tahu ukuran aku dari mana? Kenapa pakaian ini bisa pas di tubuh aku" ujar Vina saat melihatke arah cermin kalau pakaian yang di pegangnya itu sangat pas dengan ukuran tubuh rampingnya.


Vina kemudian memakai pakaian yang dibelikan oleh Danu. Pakaian itu jatuh dengan sempurna menutupi tubuh rampingnya yang proporsional. Vina tidak menyangka Danu bisa melakukan hal ini dengan sangat sempurna.


"Bisa pas gini ya?" ujar Vina heran dengan apa yang dibelikan oleh Danu dan bisa pas dengan ukuran yang dipakai oleh Vina.


"Jangan jangan ini anak sudah mengkhayalkan ukuran aku, makanya dia bisa membeli pakaian yang pas dengan ukuran aku" ujar Vina yang langsung menutup wajahnya karena malu dengan pikirannya sendiri. Vina tidak bisa membayangkan bagaimana cara Danu membayangkan ukuran pakaian yang pas dengan ukuran yang biasa dia pakai.


"Dia benar benar sayang dan sangat mencintai aku, sampai sampai pakaian aku saja sudah disiapkan oleh dirinya. Padahal aku sama sekali tidak ingat untuk pergi mengambil pakaian ke rumah tadi. Apa lagi ukurannya sangat pas dengan ukuran yang biasa aku pakai. Danu, kamu benar benar gila sayang" ujar Vina sambil melihat fhoto Danu yang dijadikan oleh Vina sebagai walpaper ponsel miliknya.


Cup. Vina mengecup mesra fhoto Danu yang dijadikannya sebagai walpeper ponsel itu.


"Keluarga ini juga menerima aku dalam kondisi sangat baik, aku sangat bahagia dengan semua ini. Aku sama sekali tidak menyesal untuk menerima Danu dengan segala kekurangannya. Seandainya aku memang berjodoh dengan Danu, aku akan membahagiakan mereka semua. Aku tidak akan menyianyiakan hal itu. Aku berjanji akan membahagiakan mereka." lanjut Vina menelaah semua kejadian yang telah terjadi dalam hidupnya dalam satu hari ini.

__ADS_1


Vina sama sekali tidak menyangka kalau dirinya akan diterima dengan hati yang lapang di tengah tengah keluarga besar Sanjaya. Vina semula beranggapan dia akan susah masuk ke dalam keluarga itu, tetapi kenyataannya tidak, dia dengan mudahnya di terima oleh Papi dan Mami.


"Deli juga sama, dia sangat baik menerima aku dalam kehidupannya. Dia benar benar mencintai aku sebagai Bundanya, aku harus memberikan dia kasih sayang seorang Bunda yang tidak dapat diberikan oleh Ranti selama ini. Aku harus bisa melakukan itu." kata Vina selanjutnya dan berjanji akan memberikan Deli kebahagiaan memiliki seorang ibu yang selama ini tidak pernah dirasakan oleh Deli.


Vina melihat jam dinding kamar, ternyata hari sudah sangat larut malam. Vina kemudian menarik selimut dan mulai masuk ke alam mimpi. Mimpi mimpi kebahagiaan akan datang ke dalam hidup Vina setelah mimpi mimpi buruk yang selama ini dialami oleh Vina dalam kehidupannya.


Pagi harinya, Vina sudah bangun terlebih dahulu dibandingkan penghuni mansion yang lain. Vina kemudian berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajah cantiknya dan menggosok gigi.


"Hari ini aku akan membuat sarapan yang sudah sangat lama tidak aku siapkan untuk Danu. Apalagi Danu akan kembali ke negara I" ujar Vina dengan sangat bersemangat berjalan ke luar dari dalam kamarnya dan berjalan menuju dapur yang terletak di lantai satu mansion.


Vina membuka alat penghangat nasi dan melihat di sana masih ada nasi kelebihan makan malam. Nasi yang tersedia cukup untuk Vina membuat nasi goreng untuk menu sarapan yang dipilihnya akan di masak Vina hari ini.


"Hem, bikin nasi goreng kampung, terus cumi goreng tepung, telur dadar dan acar timun sajalah" ujar Vina saat melihat bahan bahan yang ada dalam almari pendingin yang super besar itu.


Vina kemudian mengambil semua bumbu bumbu yang dibutuhkan untuk membuat semua menu sarapan yang sudah dipilih oleh Vina tadi. Vina membawa semua menu menu itu kembali ke meja tempat dia akan memasak.


Vina kemudian mulai mengolah semua menu makanan yang akan dinikmati mereka saat sarapan. Vina meggiling semua bumbu dengan gilingan tangan. Vina sama sekali tidak menggunakan blender seperti kebanyakan orang orang saat memasak. Vina sangat tidak suka wangi dari bumbu yang digiling memakai blender tersebut.


Vina terlihat sangat luwes saat bergerak di dapur. Vina begitu lincah bekerja di tempat yang paling di sukainya itu, apalagi dapur adalah tempat yang paling membuat Vina bahagia. Mami yang baru keluar dari kamar nya bermaksud untuk pergi memasak sarapan, membatalkan niatnya itu, Mami kembali ke dalam kamar.

__ADS_1


"Loh kok balik lagi? Mami nggak enak badan?" tanya Papi saat melihat Mami kembali masuk ke dalam kamar, padahal Mami berniat untuk pergi membuat sarapan ke dapur.


"Bukan nggak enak badan Papi, tapi sudah ada yang mengkudeta tempat mami akan memasak" ujar Mami sambil duduk di sofa dan menatap ke arah suaminya yang baru selesai mandi itu.


"Siapa? Maid? Bukannya kepada para maid sudah diberitahukan kalau mereka tidak boleh memasak selagi ada kita di mansion ini?" ujar Papi berbicara kepada Mami.


"Bukan maid Papi sayang, tapi calon menantu kita. Dia sedang masak di sana" ujar Mami memberitahukan kepada Papi siapa yang telah berani mengkudeta tempat favorit Mami di mansion milik mereka itu.


"Serius Mami, kalau Vina sedang memasak di sana? Atau jangan jangan dia hanya ingin minum saja Mami. Mami aja yang terlalu lebay dan mengatakan dia akan memasak" ujar Papi menjawab keraguan dari Mami.


"Papi ini memanglah ya, beneran, dia sedang memasak Papi. Kalau Papi tidak percaya, Papi boleh tengok sendiri ke sana" ujar Mami kepada Papi yang tidak percaya kalau Vina memang yang sedang memasak di dapur itu.


"Mami yakin?" tanya Papi mengulang kembali pertanyaan dari Mami.


"Yakin, se yakin yakin yakinnya Papi" ujar Mami.


"Kalau tidak percaya mari kita ke sana" ujar Mami mengajak Papi untuk menuju dapur.


"Sip" jawab Papi setuju dengan ajakan Mami.

__ADS_1


Mereka berdua kemudian berjalan keluar menuju dapur. Papi ingin memastikan apakah yang dikatakan oleh Mami adalah benar atau hanya pada saat Mami melihat Vina di sana, Vina hanya sedang mengambil air minum saja, bukan akan memasak.


__ADS_2