Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Ayah vs Ivan


__ADS_3

Mereka kemudian melanjutkan pekerjaannya masing masing. Danu, Ivan dan Iwan melanjutkan pekerjaan mereka. Mereka akan lembur sampai malam.


Pekerjaan setumpuk untuk membuat desain berbagai proyek kerjasama dengan beberapa perusahaan. Proyek yang tinggal menunggu presentasi dari perusahaan. Presentasi bisa dilakukan apabila maket pembangunan telah diselesaikan oleh bagian Danu.


"Loe udah siap Van?" tanya Iwan yang telah menyelesaikan pekerjaannya.


"Dikit lagi Bang. Kenapa? Loe udah siap?" tanya Ivan kepada Iwan yang terlihat telah mematikan laptopnya.


"Udah. Loe pulang kemana?" tanya Iwan.


"Ke rumah Ayah. Loe ikut gue ya." ujar Ivan mengajak Iwan untuk tidur di rumah Ayah.


"Oke sip. Gue tidur di rumah Ayah. Tapi gue nggak ada bawa baju ganti. Gimana?"


"Ah masalah baju ganti loe tenang aja Bang. Pakai baju ganti gue aja. Lagian loe bisa pilih mau yang baru atau yang mananya terserah elo Bang" ujar Ivan menjawab kekhawatiran Iwan masalah pakaian ganti yang tidak dibawanya.


"Yalah anak presiden direktur" jawab Iwan mulai menyindir Ivan.


"Hahahahaha. Sekali sekali sombong itu dibolehin Bang." ujar Ivan mengejek Iwan.


"Yayayaya. Lanjutin kerja loe sana. Nanti lanjutin ngobrol pas di rumah" ujar Iwan yang malas membalas omongan Ivan.


"Oh ya Van, Maya nggak ada nelpon lagi?" tanya Iwan yang ingat kalau tadi Maya sempat menghubungi Ivan.


"Nggak Bang. Kayaknya dia lupa makanya nggak jadi nelpon. Kalau sekarang palingan dia udah terbang lagi. Nanti ajalah pas aku udah sampe rumah, baru telpon dia lagi" ujar Ivan yang memang tidak ada di telpon oleh Maya lagi tadi. Padahal Maya berjanji untuk menghubungi Ivan saat dia sudah berada di restoran.


Ivan kembali melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi. Sedangkan Iwan menonton video yang sedang viral di media sosial. Danu ntah apa kabarnya yang dikerjakannya di dalam ruangan kerjanya sendirian.


Setengah jam berlalu, Ivan telah selesai mengerjakan semua pekerjaan miliknya. Dia kemudian meregangkan badan badannya yang terasa pegal pegal sehabis dia bekerja seharian di depan laptop.


"Yuk Bang pulang" ujar Ivan saat dia telah selesai meregangkan badannya dan beristirahat sejenak.


"Loe bawa motor tadikan. Loe tinggal aja di berteman kantor bagaimana? Kita pulang naik mobil gue aja?" ujar Iwan menawarkan kepada Ivan untuk pulang ke rumah Ayah pakai mobil dia saja.


"Setuju Bang. Lagian gue juga capek harus bawa motor. Mana badan gue udah pegel pgen setengah hari nengok laptop aja." kata Ivan memelas kepada Iwan.


"Jangan percaya diri banget bro. Elo yang gue suruh untuk bawa mobil. Bukan gue juga kali. Banyak banget kalah gue, minyak, mobil tenaga lagi." ujar Iwan.


"Gimana kalau kita naik taksi online aja bang. Jadi mobil loe kita tarok di bestman juga. Jadi, kita bisa sama sama beristirahat di jalan." ujar Ivan menjawab perkataan Iwan tadi dengan memberikan masukan tambahan.


"Hahahahaha. Males gue, biar gue aja bawa. Nanti kalau di tengah jalan gue capek, loe yang bawa ya?" kata Iwan memberikan solusi yang lain kepada Ivan.

__ADS_1


"Kayak keluar kota aja Bang. Tapi serah loe lah. Kalau loe capek bawa mobil nanti biar gue yang gantikan. Terpenting sekarang kita pulang dulu" ujar Ivan setuju dengan pendapat Iwan untuk bergantian membawa mobil nantinya.


"Ngomong sama Danu dulu. Nanti dia kaget tinggal sendirian" ujar Iwan.


Iwan melangkahkan kakinya menuju ruangan Danu. Dia membuka pintu ruangan itu sedikit.


"Dan, kami mau pulang, loe gimana?" tanya Iwan kepada Danu yang masih berada di depan laptop.


"Sama gue juga mau pulang" ujar Danu.


Iwan menutup pintu ruangan Danu, Danu kemudian mematikan laptopnya dan membereskan meja kerjanya. Dia tidak mungkin tinggal sendirian di ruangan besar itu.


"Mari pulang!!!!" ujar Danu dengan semangat saat dia menutup pintu ruangannya.


Mereka bertiga kemudian berjalan menuju lift. Ternyata di gedung itu hanya mereka bertiga yang tinggal.


"Gue kira banyak yang lembur Bang" ujar Ivan saat mereka sudah sampai di parkiran.


"Mana ada, hanya kita bertiga aja yang tinggal. Belum akhir bulan, ngapain mereka lembur, kayak nggak ada kerjaan aja mereka" ujar Danu kepada Ivan.


"Gue kasih kunci motor ke satpam dulu Bang. Biar satpam yang narik motor gue di bestman atau biar dipake satpam aja" ujar Ivan berjalan ke pos satpam.


Ivan terlihat mengobrol sebentar dengan satpam sebelum dia memberikan kunci motornya.


"Gue nginap di apartemennya dia." ujar Iwan yang menjawab jujur pertanyaan Danu.


"Oh, gue pikir loe cuma ngantar doang" ujar Danu yang sebenarnya pengen cerita cerita dengan Iwan di rumah Iwan atau rumah dia sendiri. Tetapi ternyata Iwan sudah ada kegiatan lain.


"Emang kenapa? Loe mau nginap rumah gue rencana tadi?" tanya Iwan memastikan ada apa Danu terlihat sangat sedih saat Iwan mengatakan kalau Iwan akan menginap di rumah Ivan.


"Rencana. Tapi malam besok juga boleh." jawab Danu.


"Gue duluan ya." ujar Danu menghentikan percakapan malam itu.


Danu dan Iwan kemudian masuk ke dalam mobil masing masing. Mereka akan menuju kediaman masing masing. Ivan yang melihat Iwan dan Danu berbincang serius menjadi penasaran dengan apa yang diceritakan oleh Danu kepada Iwan.


Sedangkan Vina yang lainnya merak masih ada penerbangan selama satu jam lagi.


"Vin, sepertinya kita besok sudah harus langsung masuk kantor." ujar Sari dengan wajah serius.


"Apa ada sesuatu?" tanya Vina kembali

__ADS_1


"Yup, perusahaan ada sedikit masalah. Tapi nantilah kita lihat dulu permasalahannya ada dimana, kalau hanya masalah sepele itu bisa diatasi oleh gue aja. Kalau tidak makan kita akan lihat dan berdiskusi berdua" ujar Sari sambil memainkan tablet nya.


"Yah kalau kalian berdua besok langsung kerja. Gue juga langsung pergi ke kafe ajalah. Nengok udah sampai mana perkembangan kafe." ujar Maya yang ternyata juga malas ditinggal sendirian di rumah.


"Berarti kita semua besok bekerja. Gue nggak yakin Vina mampu" ujar Maya yang tau bagaimana keadaan Vina saat jatlag waktu pertama kali mereka terbang ke negara U.


"Wah bener juga ya Mau, gue juga jadi ragu Vina bisa bangun besok. Melihat rekam jejak penerbangan kemaren" ujar Sari setuju dengan pendapat Maya barusahan.


"Ya kalau gue nggak kuat loe kan masih ada Sar, loe aja yang masuk duluan. Gue siang saat badan gue udah fit kembali" ujar Vina sambil tersenyum menatap Sari.


"Iya kalau gue juga sehat. Kalau ndak berarti kita masuk kantor lusa aja, mana bisa dipaksakan coba kalau badan tu bener yang nggak sehat" kata Sari yang sebenarnya males juga untuk ke kantor sendirian. Makanya dia memilih untuk tidak pergi juga ke kantor.


Vina dan yang lainnya kemudian melanjutkan obrolan ringan, mereka memprediksi satu jam lagi baru akan mendarat di bandara U.


Ivan dan Iwan telah sampai di Panthouse milik ayah Ivan. Mereka berdua kemudian masuk ke dalam Panthouse. Ayah ternyata sedang duduk menonton televisi di ruang keluarga.


"Hah, tumben kalian cepat pulang?" tanya Ayah sambil tersenyum mengejek Ivan dan Iwan yang terlihat sangat letih baru pulang dari kantor.


"Makasih atas sindiran nya presiden direktur. Kami lembur juga gara gara presiden direktur yang ingin bekerjasama dengan banyak perusahaan" ujar Ivan menggoda Ayahnya yang asal berbicara saja.


"Hahahahahaha. Dilarang marah marah bro." ujar Ayah yang dipukul telak oleh ucapan Ivan.


"Kalian sudah makan?" tanya Ayah.


"Belum Ayah yang paling terbaik sejagat raya" ujar Ivan saat mendengar Ayahnya bertanya apakah mereka sudah makan atau belum.


"Sana makan, Ayah tadi masak ayam bakar, sama sayur sop." ujar Ayah memberitahukan kepada Ivan dan Iwan menu makanan apa yang dimasak Ayah tadi sore saat baru pulang dari perusahaan.


Ivan dan Iwan menuju meja makan. Mereka melihat di sana memang sudah terhidang makan malam yang dibuat oleh Ayah.


"Ivan, Iwan dilarang jorok. Kalian kira itu makanan dibuat saat Ayah belum mandi. Sana mandi dulu baru makan. Jorok banget jadi pria" ujar Ayah meneriaki Ivan dan Iwan untuk mandi terlebih dahulu baru makan.


"Huft. Banyak bangetlah, mau makan aja susahnya mintak ampun." ujar Ivan sambil geleng geleng kepala mendengar aturan dari Ayahnya tadi.


"Udah pasrah aja. Mending masih ada makanan, dari pada kita sampe harus masak mie instant dulu. Pilih mana loe?" ujar Iwan yang masih berpikiran rasional menanggapi perkataan Ayah tadi.


Ivan dan Iwan kemudian menuju kamar Ivan untuk mandi terlebih dahulu setelah itu, mereka baru akan makan malam, seperti yang diperintahkan oleh Ayah Ivan.


Ivan dan Iwan kemudian mandi bergantian. Setelah selesai mandi dan bersiap siap mereka baru kembali menuju ke ruang makan. Ayah tersenyum melihat kelakuan dua pria tampan itu.


"Kami sudah mandi Ayah, jadi boleh makan? " tanya Ivan sengaja kepada Ayah bertanya seperti itu.

__ADS_1


"Hahahahaha. Banyak gaya loe" ujar Ayah menjawab komplenan Ivan


Ivan dan Iwan kemudian melanjutkan makan menu makan malam mereka. Setelah makan malam mereka berencana untuk mengobrol dengan Ayah di ruang tamu


__ADS_2