
Maya melihat kepergian Vina dan Deli menuju negara I. Maya melihat Vina dan Deli sampai di batas penglihatannya saja. Setelah yakin Vina tidak melihat Vina dan Deli lagi, Maya kemudian pergi meninggalkan tempat itu. Dia berjalan menuju parkiran tempat Pak Hans menunggu dirinya di dalam mobil.
"Apa Nona Vina dan Nona Deli sudah terbang Nona Maya?" ujar Pak Hans bertanya kepada Maya saat Maya sudah duduk di kursi bagian belakang mobil yang dikemudikan oleh Pak Hans.
"Sudah Pak Hans. Sekarang mari kita menuju kafe. Saya harus ke kafe, karena ada beberapa hal yang harus saya urus di sana" ujar Vina meminta Pak Hans untuk mengantarkan dirinya menuju kafe.
"Siap Nona" jawab Pak Hans dengan nada tegas.
Pak Hans kemudian mengemudikan mobilnya menuju kafe milik Maya yang terletak di pusat kota. Waktu tempuh yang harus mereka lalui dari bandara ke kafe menghabiskan waktu hampir satu jam perjalanan kalau tidak ada macet di jalan. Tetapi kalau pakai bonus macet, maka waktu tempuh bisa lebih lama lagi.
"Semoga tidak macet Nona" ujar Pak Hans mengatakan ketakutannya kepada Maya.
"Semoga tidak Pak Hans. Kalau sampai macet, maka sudah bisa dipastikan ini akan berdampak kepada lamanya waktu perjalanan yang harus kita tempuh ke kafe" jawab Maya dengan nada yang edikit tidak bahagia karena harus membayangkan macet yang akan mereka hadang saat menutup kafe.
Maya melihat ke arah ponsel miliknya. Dia mencari titik macet melalui aplikasi map yang ada di ponsel miliknya.
"Wow Pak Hans, sepertinya ini keberuntungan bagi kita. Jalanan tidak ada yang macet sama sekali. Kita bisa lebih cepat sampai di kafe" ujar Vina dengan bersemangat saat melihat sama sekali tidak ada titik kemacetan di mal yang sedang dilihat oleh Maya.
"Syukurlah Nona kalau begitu, maka waktu kita tidak habis di jalan saja" ujar Pak Hans yang sangat senang mendengar apa yang dikatakan oleh Maya kepada dirinya.
Pak Hans melakukan mobilnya dalam kecepatan sedang. Pak Hans sama sekali tidak bisa mengebut karena jalanan yang agak gamau tetapi tidak mengakibatkan macet, jadi mau tidak mau Pak Hans harus menahan laju mobilnya.
__ADS_1
Setelah satu jam berkendara mobil yang dikemudikan oleh Pak Hans sudah langsung berbelok masuk ke dalam parkiran kafe. Pak Hans memarkir mobilnya di tempat parkir khusus pemilik kafe tersebut.
"Terimakasih Pak Hans" ujar Maya sebelum turun dari dalam mobil.
" sama-sama nona Maya. Jangan sungkan sungkan meminta tolong kepada saya" ujar Pak hans sambil melihat ke arah Maya.
"Ah Pak hans kita sudah lama kenal bukan baru kenal. Dimana pulak saya akan sungkan dengan Pak hans. Nggak ada dalam kamus saya Pak hans" ujar Maya yang tersenyum mendengar perkataan dari Pak hans.
"Saya masuk dulu ke kafe Pak hans." ujar Maya sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam kafe.
Dia melihat kafe yang begitu ramai, kasir saja sampai harus turun tangan menjadi pelayan saking ramainya pengunjung.
"Waduh maafkan saya. Saya kira tidak akan seramai ini hari ini" ujar Maya sambil mengambil apronnya yang tergantung di tempat khusus untuk dirinya dan Vina menyimpan barang barang milik mereka.
Kasir kembi ke mejanya. Semua orang sudah hadir. Jadi dia bisa kembali fokus kepada pekerjaannya.
"Apa nona Vina sudah terbang Non?" tanya Bik Ina kepada Maya yang sudah sibuk dengan alat masaknya.
"Sudah Bik, tadi pesawatnya jam delapan. Makanya saya telat ke sini" ujar Maya memberitahukan kepada Bik Ina kalau Vina dan Deli sudah terbang ke negara I tempat Danu berada.
"Lama Non?" ujar Bik Ina melanjutkan pertanyaan nya kepada Maya.
__ADS_1
" Satu bulan bik. Kenapa? Kangen?" ujar Maya menggoda bik Ina yang sedang sibuk membuat nasi goreng seafood yang sudah ntah keberapa kalinya di buat oleh Bik Ina pada hari ini.
"Kengen sih Non. Apalagi dengan Nona Deli, kami akan sangat rindu dengan nona Deli" ujar Bik Ina yang sangat sangat menyayangi Deli seperti menyayangi anak kandungnya sendiri
Apa yang diminta oleh Deli, sudah pasti akan dibuatkan oleh Buk Ina saking sayangnya Bik Ina kepada Deli. Pernah hari itu, tepat jam sebelas malam, Deli tiba tiba pengen makan mie rebus. Bik Ina dengan sangat sigap membuatkan apa yang diinginkan oleh Deli pada saat itu. sehingga Deli mau tidak mau sangat menyayangi bik Ina.
"Kangen bangetnya sama nona Deli ini Non. nona Deli selalu bisa membuat keadaan di kafe menjadi ceria. jadi saat capek kerja saat mendengar apa yang dikatakan oleh nona Deli maka rasa capek itu akan langsung lenyap" ujar Bik Ina yang bercerita sambil terus mengaduk nasi gorengnya.
"Sabar bik cuma satu bulan juga" ujar Maya sambil tersenyum kepada Bik Ina.
"Lama itu Non satu bulan itu. Non kita waktu satu bulan itu sebentar" ujar bik Ina lagi.
"Hahaha hahaha hahah. ini aja baru itungan jam udah kangen ya bik. apalagi satu bulan" ujar Maya menggoda bik Ina dengan segala ke usilannya kepada bibik yang selama ini selalu mendukung apa yang dilakukan oleh Vina, Maya dan Deli serta Sari.
"Itu berapa porsi bik?" ujar Vina bertanya kepada bik Ina saat melihat bik Ina sudah selesai mengolah nasi gorengnya itu
"delapan porsi Non. kenapa?" tanya bik Ina yang memang memasak hanya delapan porsi saja nasi goreng sea food tersebut sesuai dengan pesanan dari para pelayan yang datang membawa kertas pesanan para pengunjung.
"Oke. berarti bik Ina bikin lagi sepuluh porsi lagi ya. " ujar Maya saat melihat berapa banyak pesanan nasi goreng yang belum mereka buatkan untuk para pengunjung kafe
"siap Non, bibik akan buatkan sepuluh porsi lagi kempor kempor dah tu tangan" ujar Bik Ina sambil tersenyum membayangkan sepuluh porsi lagi nasi goreng yang akan diaduk nya di wajan super duper besar itu
__ADS_1
Maya, Bik Ina dan seorang koki baru sibuk mengolah semua pesanan para pengunjung. untuk sesaat rasa rindu dan kangen dengan Vina dan Deli terobati dan terlupakan karena pekerjaan yang sedang mereka kerjakan itu. tetapi nanti setelah semua selesai Maya dan Bik Ina serta pak hans dan tak lupa sari pasti akan mengingat Deli dan Vina dengan segala tingkah polah nya. perpisahan itu memang sangat berat karena tidak akan ada pertemuan kalau tidak ada perpisahan. sehingga mau tidak mau perpisahan wajib adanya.