Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Pembicaraan Ivan dan Frans


__ADS_3

Ivan duduk di sofa, dia mengambil ponsel yang dari tadi tidak berhenti berdering. Ivan melihat panggilan dari Sari, tetapi tidak ada panggilan dari Maya. Hanya satu pesan chat dari Maya yang mengatakan kalau Maya akan ke pasar pagi untuk berbelanja. Ivan menghubungi Sari, tetapi sekarang giliran Sari yang tidak mengangkat telpon dari dirinya.


"Tu anak sepertinya mau balas dendam" ujar Ivan yang sangat mengenal bagaimana sifat dari adik satu satunya itu.


Ivan menaruh ponselnya kembali ke atas meja. Ivan kemudian berjalan ke arah wastefel, dia akan membersihkan tangannya di sana, Ivan berencana untuk istirahat sebentar sebelum pergi ke kantor Frans. Ivan yang telah selesai membersihkan tangannya berjalan kembali menuju sofa, dia akan merebahkan badannya di sana sebentar. Ivan benar benar lelah setelah terlalu fokus untuk menyelesaikan maket yang tadi dikerjakan oleh dirinya sendirian.


Tepat saat alarmnya berbunyi, Ivan kemudian duduk dari posisi berbaringnya tadi. Ivan akan langsung berangkat menuju kantor Frans yang letaknya menurut lokasi yang dibagi oleh Ivan adalah berjarak sekitar setengah jam perjalanan dari perusahaan dimana Ivan bekerja.


"Oke karena jaraknya setengah jam, maka gue akan berangkat sekarang" ujar Ivan.


Ivan merapikan semua barang barangnya, setelah itu dia mematikan laptop yang tadi dihidupkan karena akan menjadi panduan dalam menyelesaikan maket yang tadi dikerjakan oleh Ivan. Setelah semua barang barangnya kembali rapi, Ivan menyandang kembali tas ransel miliknya. Ivan berencana tidak balik lagi ke perusahaan saat urusannya dengan Frans selesai. Ivan akan langsung pulag ke panthouse karena Ivan merasa kalau badannya sekarang kurang enak badan. Ivan rencananya tadi kalau tidak ada pertemuan dengan Frans hanya akan bekerja separuh hari saja. Selesai membuat maket maka Ivan akan pulang dan beristirahat di panthouse. Tetapi rencana hanya tinggal rencana. Ivan harus bertemu dengan Frans.


Ivan turun dari ruangannya langsung menuju lobby. Ivan menaruh motor miliknya diparkiran tempat para karyawan menaruh motor mereka. Ivan tidak memarkir motornya di besmant seperti kebiasaan Ivan selama ini.


"Kemana Pak Ivan?" ujar seorang satpam yang melihat Ivan sudah akan berangkat meninggalkan perusahaan.


"Ada kerjaan lain. Mau ikut?" tanya Ivan kepada satpam tersebut.


"Haha haha haha, tentu tidak. Bisa bisa dipecat direktur saya kalau main pergi saja saat bekerja" ujar santpam menolak dengan ciri khasnya ajakan Ivan untuk pergi menemani Ivan keluar.


"Kalau pergi dengan saya, direktur tidak akan marah" ujar Ivan dengan nada bercanda kepada satpam tersebut.


"Haha haha, nggak usahlah Tuan Ivan" jawab satpam yang kembali menolak tawaran dari Ivan


"Beneran, nggak nyesel?" ujar Ivan kembali mengganggu satpam itu


"Serius. Anak dan istri masih ada yang mau di kasih makan" ujar satpam


"Okelah kalau begitu. Saya jalan duluan" ujar Ivan


Ivan memang terkenal ramah kepada siapa saja. Hal itu sangat berbeda dengan Danu dan Iwan yang sama sekali tidak bisa ramah dengan siapapun. Ivan saja bisa heran dengan sikap kedua sahabatnya itu. Tetapi mau diapakan lagi, image Danu dan Iwan sudah terbentuk seperti itu.


'Gue mau jalan kantor Bang' Bunyi pesan chat yang dikirimkan oleh Ivan kepada Frans.


'Oke, ditunggu di kantor' jawab Frans membalas pesan chat yang dikirimkan oleh Ivan kepada dirinya.


Ivan kemudian memasukkan kembali ponselnya kedalam tas. Dia sekarang sudah tahu dimana keberadaan Frans. Sehingga tidak perlu lagi memegang ponselnya. Ivan sudah mengirimkan lokasi dimana kantor Frans ke dalam jam mahal dan mewahnya itu. Jam itu akan menuntun Ivan untuk menuju kantor Frans.

__ADS_1


Ivan kemudian menghidupkan motornya. Ivan mengemudikan motornya menuju kantor Frans. Ivan memilih jalan yang tidak begitu ramai dilalui kendaraan. Itulah makanya Ivan memilih untuk menggunakan motor berpergian untuk siang hari karena bisa menghindari dirinya dari kemacetan dan kepadatan arus jalan raya yang memang sangat luar biasa di negara I. Semua orang berlomba untuk menggunakan mobil pribadi dalam melaksanakan aktivitas mereka, bagi penduduk negara I tidak ada mobil tidak keren dan tidak terlihat kaya, alias punya mobil adalah sebuah pratice yang memang harus ditunjukkan kepada semua orang. Kalau perlu penduduk negara I akan membuat garase di rumah mereka seperti showroom mobil, saking banyaknya mobil yang mereka miliki. Ivan waktu sampai di negara I terheran heran melihat kelakuan masyarakat di negara I, mereka seperti berlomba lomba memperlihatkan kekayaan mereka kepada semua orang.


Perjalanan yang menurut mesin penunjuk arah itu akan dilalui Ivan selama setengah jam ternyata bisa di tempuh Ivan selama dua puluh menit saja. Ivan sekarang sudah memarkir motornya di parkiran motor. Ivan kemudian berjalan masuk ke dalam gedung tempat Frans berkantor.


"Permisi, saya ada janji dengan Tuan Frans. Apa saya bisa bertemu dengan beliau?" ujar Ivan berkata kepada resepsionist yang duduk di balik meja.


"Apa sudah ada janji temu Tuan?" ujar resepsionist yang kehilangan fokusnya saat menatap wajah tampan yang sekarang berdiri di depan mereka.


"Sudah" jawab Ivan yang kesal dengan apa yang dilakukan oleh resepsionits tersebut.


"Tunggu sebentar Tuan, saya akan mengkonfirmasikan kedatangan Tuan kepada Tuan Frans" ujar resepsionist masih dengan tetap menatap lurus ke arah Ivan.


Ivan semakin dibuat risih dengan tatapan yang diberikan oleh resepsionist itu kepada dirinya. Ivan benar benar tidak bisa menerima tatapan seperti itu. Mood Ivan akan langsung buruk saat dirinya ditatap dengan penuh pemujaan seperti yang dilakukan oleh pramugari itu kepada Frans.


"Tuan Frans sudah menunggu anda di ruangannya Tuan" ujar resepsionist mengatakan kepada Ivan kalau dia memang sudah ditunggu oleh Frans di ruangannya.


"Makasi" jawab Ivan dengan dingin


"Kalau boleh tahu dimana ruangannya?" ujar Ivan bertanya kepada resepsionist dimana ruangan kerja Frans.


"Ada di latai empat tuan, nanti saat keluar dari lift tuan belok ke kanan, depan pintu ruangan ada papan nama untuk setiap penghuni ruangan itu tuan" ujar resepsionist yang sudah tahu kalau Ivan sudah kesal dengan sikap dirinya kepada Ivan.


Ivan kemudian menuju lift, dia langsung menekan angka empat untuk mengantarkan dirinya menuju ruangan Frans yang terletak di lantai empat gedung para pengacara terkenal tersebut berkantor. Tidak membutuhkan waktu yang lama Ivan keluar dari dalam lift. Ivan berbelok ke kanan sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh resepsionist tadi kepada dirinya.


Tok tok tok. Ivan mengetuk pintu ruangan Frans. Frans yang berada di dalam ruangan dan sudah diberitahu oleh resepsionist siapa yang datang menemui dirinya langsung membuka pintu ruangannya dengan lebar lebar.


"Bang" ujar Ivan menyapa Frans.


"Loe taruh tas di dalam aja dulu Van. Kita makan keluar dulu, setelah itu nanti baru kita berdiskusi" ujar Frans memberitahukan kepada Ivan apa yang akan mereka lakukan saat ini.


"Oke bang, kebetulan juga gue udah laper banget" ujar Ivan yang setuju untuk menaruh tasnya di dalam ruangan Frans.


Mereka berdua kemudian turun kembali ke lantai dasar untuk pergi makan siang bersama. Dua orang resepsionits kembali menatap panjang ke arah Ivan. Ivan dengan gaya dinginnya mengacuhkan saja para resepsionits yang menatap ke arah dirinya itu. Ivan sudah terbiasa dengan tatapan memuja yang diberikan oleh setiap wanita yang bertemu dengan dirinya.


"Kita makan dimana Bang?" ujar Ivan yang melihat Frans menuju mobil


"Dekatnyah" ujar Frans menjawab pertanyaan dari Ivan

__ADS_1


"Kalau dekat paket kendaraan gue aja Bang" ujar Ivan


"Mobil abang ajalah" kata Frans menolak keinginan Ivan untuk memakai mobil Ivan


"Punya gue aja bang, lebih simpel kalau perjalanannya dekat" ujar Ivan memberitahukan kepada Frans bahwasanya memakai kendaraan Ivan akan menjadi sangat simpel dalam melakukan perjalanan menuju rumah makan tempat mereka akan menikmati makan siang


"Ya udah kalau loe berkeras" ujar Frans yang setuju untuk memakai kendaraan milik Ivan saja untuk mereka gunakan pergi ke tempat makan yang dikatakan oleh Frans.


"Mobil parkir dimana Van?" ujar Frans bertanya kepada Ivan karena Frans tidak melihat mobil yang asing dengan mobil yang biasa parkir di parkiran kantornya itu.


"Nggak mobil Bang tapi motor" ujar Ivan.


Ivan kemudian berjalan menuju motor miliknya yang telah diparkir Ivan di tampat parkir khusus motor.


"Serius loe pake motor?" ujar Frans yang kaget dengan pilihan kendaraan oleh Ivan


"Ya" jawab Ivan


Ivan menuju motornya. Dia kemudian naik ke atas motor itu dan menghidupkan motor besar itu.


"Naik Bang" ujar Ivan meminta Frans untuk naik ke atas motoe Ivan


Frans hanya geleng geleng kepala saja. Ivan benar benar seorang laki laki yang terlalu praktis yang dikenal oleh Frans.


"Tolong untuk bisa jadi penunjuk arahnya Bang" ujar Ivan meminta Frans untuk menjadi penunjuk arahnya kali ini.


"Oke sip" jawab Frans


Ivan mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang.


"Van di situ" ujar Frans menunjuk dimana mereka akan makan siang.


Ivan memarkir motornya di depan warung tersebut. Mereka berdua kemudian masuk ke dalam warung dan memesan menu makanan yang akan mereka nikmati pada siang hari ini. Mereka berdua makan dengan sangat lahap, rasa masakan di warung ini tidak berbeda dengan rasa masakan di restora restoran. Ivan sangat suka dengan masakan warung tersebut. Saking sukanya tanpa malu malu Ivan meminta tambah nasi kepada penjaga warung sebanyak dua kali. Frans menjadi bertambah kagum kepada Ivan. Ivan benar benar tidak menempatkan posisinya seperti orang orang yang di kenal oleh Frans.


"Oke bang, kita balik ke kantor loe sekarang?" ujar Ivan mengajak Frans untuk balik ke kantornya.


"Yup. Kita akan diskusi di sana saja" ujar Frans yang setuju mengajak Ivan untuk balik ke kantornya.

__ADS_1


Mereka berdua akan melanjutkan diskusi di kantor Frans. Ivan yang tidak tahu apa topik yang akan dibahas hanya bisa menerka nerka saja di sepanjang perjalanan menuju kantor Frans.


__ADS_2