
Danu malam ini menunggui Vina yang maaih terbaring lemah di atas ranjang. Danu yang sebenarnya ingin menceritakan semuanya kepada Vina kembali lagi mengurungkan niatnya. Dia tidak mau membuat Vina sakit lagi.
"Ya Tuhan tolonglah aku. Aku sungguh luar biasa panik. Tidak tau apa yang harus aku perbuat dengan semua ini." kata Danu sambil menatap ke wajah Vina yang tertidur dengan damai.
Setelah puas memandang wajah Vina, Danu pun tertidur sambil meletakan kepalanya ke atas kasur Vina. Danu benar benar letih, dia ingin rasanya untuk pergi dari Vina dan Ranti. Dia tidak ingin gara gara masalahnya dengan Ranti, Vina menjadi terbawa bawa.
"Sepertinya aku memang harus pergi dari hidup Vina. Aku nggak ingin dia menjadi sasaran Ranti." ujar Danu yang terbangun dari tidurnya.
Dia kembali memandangi wajah wanita yang paling dicintainya. Seorang wanita yang sangat sangat lengkap. Seorang wanita yang sangat keibuan.
"Sayang, apakah aku sanggup kehilangan dirimu?" ujar Danu sambil memegang tangan Vina
Danu kembali memejamkan matanya. Dia sangat ingin saat matanya terbuka di pagi hari semua masalah sudah pergi dari hidupnya.
**************************************
Pagi harinya, Danu terbangun lebih dahulu dari Vina. Dia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sebentar lagi Iwan datang membawakan baju bersih.
"Assalamualaikum" kata Iwan dari luar.
Danu yang baru selesai mandi keluar memakai baju semalam dan handuk untuk menutupi bagian bawah badannya.
"Waalaikunsalam. Masuk Wan" kata Danu sambil membukakan pintu.
"Ini baju loe. Sekalian sarapan. Gue tau loe pasti belum makan." ujar Iwan memberikan semua keperluan Danu.
Danu kembali masuk kedalam kamar mandi untuk berganti pakaian. Setelah berpakaian Danu duduk di sofa ruang rawat Vina. Dia dan Iwan memakan sarapan yang dibawa Iwan dari luar. Saat mereka sarapan, Maya masuk dengan membawa bekal sarapan juga.
"Waduh, aku kira belum sarapan. Ini dibawakan nasi goreng sambal teri." ujar Maya sambil mengangkat rantang yabg dibawanya.
"Tarok aja, nanti di makan." jawab Danu.
Maya meletakan rantang di atas meja. Giba yabg tertidur dengan perlahan membuka matanya saat mendengar suara ribut ribut di dekatnya.
"Sayang udah bangun?" tanya Danu yang melihat Gina sudah membuka matanya dengan sempurna.
__ADS_1
"Udah sayang. Aku lapar." ujar Vina sambil memegang perutnya yang sudah minta diisi.
"Mau makan makanan rumah sakit atau nasi goreng yang dibawa Maya?"
"Nasi goreng yang dibawa Maya." jawab Vina dengan yakinnya. Dia nggak mau makan makanan rumah sakit.
Tiba tiba saat Danu mau mengambilkan nasi goreng untuk sarapan Vina. Pintu kamar terbuka, terlihat seorang dokter dan suster akan melakukan visit pasien.
"Pagi Nona Vina. Bagaimana kabarnya hari ini?" tanya dokter.
"Baik dok." jawab Vina sambil tersenyum.
"Saya mau memeriksa keadaan Nona dulu." kata dokter.
Dokter kemudian memeriksa kondiai Vina.
"Perkembangan Nona sangat bagus. Kalau seperti ini terus besok Nona sudah bisa saya perbolehkan pulang. Tapi ingat Nona, Nona tidak boleh terlalu letih. Kalau Nona sudah merasakan capek, maka Nona harus cepat istirahat. Kalau tidak saya yakin Nona akan sering kemari." ujar dokter cantik itu.
"Oh ya sepertinya Nona belum sarapan?" tanya dokter yang melihat sarapan Vina masih utuh di meja.
"Ini mau makan dok." jawab Vina.
Setelah dokter keluar dari dalam ruanga. Danu kembali mengambilkan sarapan untuk Vina. Dia menyuapkan Vina nasi goreng yang dibuat olah Maya.
Iwan yang melihat semua itu hanya bisa senyum senyum saja. Dia udah nggak tau lagi harus berbuat apa. Semua dia serahkan kepada Danu. Iwan dan Ivan hanya bisa mendukung semua keputusan yang diambil oleh Danu.
Di belahan daerah lain, seorang wanita cantik masuk ke dalam ruangan kerja Danu. Dia melihat di sana hanya ada Ivan.
"Maaf Nyonya, anda masuk kantor orang harus sopan jangan main selonong aja. Emangnya ini perusahaan punya Nyonya." kata Ivan yang kesal dengan ulah cewek satu itu.
"Ini ruangan suami saya. Jadi terserah saya. Saya mau masuk dengan sopan atau tidak." jawab Ranti dengn sinis.
"Oooo. Jadi anda istri yang nggak tau diuntung itu. Ibu dari seorang anak perempuan canti, tapi sayangnya tidak diakui oleh ibunya? Seorang istri yang main serong dengan pria lain karena suaminya hanya manager diperusahaan kecil." lata Ivan dengan begitu pedasnya.
"Siapa Anda yang berani beraninya ngomong seperti itu kepada saya." ujar Ranti dengan penuh emosi.
__ADS_1
"Oooo, anda nggak tau siapa saya. Sini saya akan perkenalan diri. Nama saya Ivan, dan saya tau semua kelakuan bejat Anda di luar oh ya saya bisa kok menyebarluaskan semuanya dalam hitungan detik." ujar Ivan menatap tajam Ranti.
"Kamu nantang saya staf kecil. Jangan banyak bacot. Manager kamu saja tidak bisa mengancam saya. Apalagi kamu hanya staf." ujar Ranti kembali.
"Oh mari kita saksikan." ujar Ivan.
Ivan kembali duduk. Dia mengirim sebuah video pendek ke akun gosip yang memakan semua berita tanpa memastikan dulu kebenaeannya.
Hanya dalam hitungan detik, ponsel Ranti berdering. Manager perusahaannya menghubungi. Mereka berbicara dalam keadaan serius. Ranti sekali sekali menatap tajam ke arah Ivan.
"Kamu?" kata Ranti menunjuk Ivan dengan tangan kirinya.
"Jangan pernah angkat tangan kiri Anda ke depan saya. Itu baru permulaan. Anda akan menerima akibat yang lebih parah kalau Anda berani mengganggu Danu." ujar Ivan.
"Loe siapanya Danu?" ujar Ranti.
"Gue anak buah Danu. Siapa pastinya gue Anda tidak perlu tau. Ingat yang gue katakan." ancam Ivan
Ranti yang sedang marah dan panik karena skandalnya terbuka. Melangkah pergi meninggalkan perusahaan itu. Dia harus mengklarifikasi apa yang terjadi.
"Pria itu tidak bisa di remehkan." ujar Ranti.
"Aku harus bertemu Dendi untuk membahas semua ini." Bener bener menyebalkan pria yang tadi. Aku harus cari tau siapa dia sebenarnya." ujar Ranti.
Ranti masuk ke dalam mobilnya. Dia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju perusahaan Dendi. Dia harus membicarakan hal ini dengan Dendi.
Sedangkan di rumah sakit. Danu, Iwan, Vina dan Maya sedang menonton berita gosip. Tiba tiba wajah Ranti yang diblur memenuhi layar televisi. Danu dan Iwan saling pandang. Reporter gosip mengatakan bahwa salah satu Sosialita ternama tanah air sedang berselingkuh dengan seorang pria pebisnis handal. Perselingkuhan itu sudah tercium oleh sang suami sah sosialita. Kemudian di layar televisi menampilkan beberapa potongan gambar yang memperlihatkan sosialita tersebut sedang kencan dengan sang pria selingkuhan. Gambar kedua orang itu di blur. Cuma Danu dan Iwan sudah tau siapa wanita itu.
"Waduh kurang ajar kali tu perempuan. Mau maunya selingkuh." ujar Maya dengan penuh emosi.
"Kasian banget jadi suaminya. Kalau aku jadi suaminya, aku akan balas dengan perselungkuhan pula. Enak aja dia mainin perasaan, sekarang sama sama main aja. Biar draw." ujar Vina yang turut emosi
Danu dan Iwan yang mendengar jawaban dari Vina langsung melongo. Mereka tidak percaya kalau Vina akan mengatakan hal seperti itu.
"Tapi yang dipikir tu berita dapat dari mana sumbernya ya?" ujar Maya.
__ADS_1
"Apa segitu gampangnya dapat berita ekalusif seperti itu? Hebat banget pencari faktanya berarti." lanjut Maya yang penasaran sumber berita.
Danu menatap Iwan. Iwan menganggung. Pikiran mereka sama sama tertujukepada Ivan. Mereka akan memanggil Ivan dan meminta menceritakan apa kronologi yang membuat Ivan sampai membongkar sedikit demi sedikit permainan Ranti