Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Perusahaan


__ADS_3

Danu kaget melihat seseorang yang sedang duduk di sana. Seseorang yang sangat dikenal oleh Danu. Iwan yang melihat Danu berhenti mendadak langsung juga berhenti saat itu juga.


"Kenapa loe berenti mendadak Dan?" Tanya Iwan kepada rumah sambil melihat ke arah danau dengan pandangan protes karena adanya berhenti mendadak di saat mereka berdua sedang berjalan beriringan


" lo tengok ke situ aja" kata Danu meminta tujuan untuk melihat ke arah yang ditunjuknya


Iwan kemudian melihat ke arah yang ditunjuk oleh Danu. Dia kaget melihat Siapa yang mereka lihat sedang duduk di sana bersama seorang laki-laki yang berpakaian resmi


" Wow siapa lagi sih itu yang jadi sasaran empuk wanita ular tersebut" Ujar Iwan saat melihat siapa yang ditunjuk oleh Danu barusan.


"Haha haha haha, loe ada ada aja bisa jadi suaminya" jawab Danu sambil tergelak dengan lumayan besar.


Semua pengunjung tempat makan pical ayam tersebut melihat ke arah Danu yang tertawa lumayan besar dan keras.


"Loe ada ada aja Dan. ketawa besar banget. Tengok tu semua orang jadi melihat ke kita. Termasuk nenek sihir" Kata Iwan yang kaget Danu tertawa dengan sangat keras dan tidak melihat dan memandang orang orang akan melihat ke arah dirinya.


"Mau gimana lagi. Gue gitu loh" ujar Danu sambil tersenyum melihat ke arah Iwan yang protes kepada dirinya.


Ranti yang mendengar suara gelak tawa seseorang yang dikenalnya langsung melihat ke arah sumber suara. Betapa kagetnya Ranti saat melihat di sana sudah ada Danu dan Iwan.


Iwan tanpa sepengetahuan Danu dan Ranti serta laki laki yang duduk dengan Ranti mengambil video pergerakan Ranti. Iwan sengaja melakukan itu untuk menambah bukti kalau Ranti ada main dengan seseorang. Iwan sangat yakin kalau Ranti pasti akan memperlihatkan kemesraan nya dengan pria tersebut di depan Danu.


"Siapa dia sayang? Kamu kenal?" ujar pria tersebut bertanya kepada Ranti sambil berbisik di telinga Ranti.


Semua yang dilakukan oleh Ranti dengan pria itu tidak luput dari rekaman yang diambil oleh iwan.


"Nggak sayang aku nggak kenal" Jawab Ranti berbohong kepada Anggara.


"Oh. Kirain kenal" kata Anggara sambil pandangannya melihat ke arah Danu.


'Kenapa rasa rasanya wajah orang itu tidak asing lagi ya. Tetapi lihat dimana ya?' kata Anggara yang tetap melihat sekali sekali kepada Danu.


Anggara sangat yakin kalau dirinya mengenalo pria tersebut. Tetapi Anggara ragu pernah lihat pria itu dimana.


'Ah biarin ajalah mau lihat dimana. Nggak urusan gue juga' lanjut Anggara masih dalam hatinya.


Anggara kemudian kembali fokus kepada makanannya yang terhidang di depan dirinya saat ini. Begitu juga dengan Ranti. Kali ini dia benar benar tertangkap basah sedang bersama pria lain.


'Semoga aja Danu nggak berpikiran aneh aneh' ujar Ranti dalam pikirannya.


Danu dan Iwan sama sekali tidak melihat Ranti yang sedang menikmati menu makan malam yang telah terhidang di depan mereka. Kali ini Danu benar benar terlihat seperti orang yang tidak peduli dengan sekitarnya, pada kenyataannya Danu memang tidak peduli sama sekali.


"Danu, gue yakin Kalau pria itu adalah kekasih dari Ranti" kata Iwan sambil melihat ke arah Ranti yang sedang duduk dengan seorang pria dengan sudut matanya


" bisa jadi Tapi biarin aja bukan urusan kita" kata Danu yang sama sekali malas mengurus urusan yang bukan urusn dia lagi.


"Bener juga ya. Ngapain juga gue ngurus yang bukan urusan kita" Lanjut Iwan yang pada akhirnya menyerah untuk mengurus urusan yang bukan urusan dirinya.


"Haha haha. Akhirnya loe nyerah juga kan" kata Danu tertawa ngakak mendengar jawaban dari Iwan


NEGARA U


"Selamat pagi" ujar Sari yang baru datang pagi itu.


"Pagi" jawab Maya yang baru selesai menghidangkan sarapan untuk mereka.


Sari masuk ke dalam rumah. Dia sengaja untuk tidak sarapan karena Vina sudah mengajaknya untuk sarapan setiap hari di rumah Vina.


"Masak apa May?" tanya Sari yang menatap mie putih, ayam dan yang lainnya di atas meja makan.


"Masak apa coba?" tanya Maya sambil duduk di salah satu kursi


Sari juga duduk di kursi yang berada di hadapan Maya. Vina yang baru selesai bersiap siap langsung turun ke bawah. Saat sampai di tangga Vina melihat Sari sudah berada di meja makan sedang ngobrol dengan Maya.


"Pagi Sar, dari tadi loe dateng?" ujar Vina sambil duduk di kursi yang lain.


"Nggak baru aja. Oh ya Vin, Maya masak apa ini?" tanya Sari kepada Vina.


Sari sudah menyerah memikirkan nama masakan yang dihidangkan oleh Maya pagi hari ini. Vina melihat semua masakan yabg terhidang di atas meja makan pada pagi hari itu.

__ADS_1


"Ini namanya soto Padang Sar. Enak ini juara." ujar Vina menatap makanan kesukaannya itu.


"Loe coba aja. Apalagi kalau di kasih sambal agak banyak, hem lebih nikmat, cocok sama udara dingin kayak gini." lanjut Vina mempromosokin hasil masakan Maya.


"Gue nggak ngerti cara ngambilnya. Bisa loe contohin atau Maya." ujar Vina yang memang belum pernah makan soto padang.


"Loe tengok gue ya" ujar Vina.


Vina mengambil sebuah mangkok dia mengisi maksok itu dengan mie bihun, lalu potongan setengah telur rebus, kemudian pergedel kentang dan dendeng kering serta kerupuk emping terakhir irisan seledri, daun bawang dan bawang goreng tak lupa pula irisan tomat untuk rasa segarnya. Sari memperhatikan semuanya. Sari kemudian mengambil semua masakan sesuai dengan urutan yang dilakukan oleh Vina.


Maya memberikan kuah soto kedalam mangkok milik Vina dan Sari. Saat tutup pabci di buka menyeruak wangi bumbu soto yang menerbitkan air liur setiap orang yang mencium wangi aromanya.


"Wow ini bener bener wangi. Dari baunya saja sudah tergambar lezatnya apalagi pas dimakan. Gue yakin menu ini akan menjadi menu andalan." ujar Sari dengan semangat.


"Dicoba dulu Sar. Mana tau rasa tidak sebagus penampilannya." kata Maya sambil memberikan bumbu tambahan ke dalam soto miliknya.


Sari mengikuti apa yang dilakukan Maya. Dia melihat Vina langsung memakan soto miliknya tanpa memberi bumbu tambahan seperti yang dilakukan Maya.


"Loe kenapa nggak ngasih bumbu kayak Maya, Vin?" ujar Sari yang menatap heran ke arah Vina.


"Gue lebih suka kayak gini Sar. Rasanya lebih nikmat. Tapi beda beda orang, ada yang suka seperti Maya, ada yang suka seperti gue. Tergantung selera masing masing aja." jawab Vina.


Sari mencoba soto hasil masakan Maya. Sari terlihat sangat menikmati rasa dari soto tersebut.


"Ini enak banget May. Sumpah dah enak." kata Sari dengan mengacungkan dua jempolnya.


Mereka bertiga kemudian makan sarapannya dalan diam. Sari yang tidak pernah makan soto begitu menikmati sarapan paginya itu. Sampai sampai kuah soto yang ada di dalam mangkoknya menjadi kering.


"Kering Sar" ujar Maya sambil tersenyum kepada Sari yang terlihat malu.


"Enak banget May." jawab Sari sambil tersenyum kikuk.


"Besok apa lagi May?" tanya Sari yang penasaran dengan menu sarapan esok hari.


"Kejutan. Oh ya makan malam loe di sini nanti ya. Gue akan masak makanan spesial untuk loe." ujar Maya yang lupa kalau mereka harus pergi melihat tanah yang akan dibeli Vina.


"Sorry Vin lupa gue." kata Maya sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


"Tapi kalau makan siang loe bawa ke kantor nikmat juga May." ujar Sari yang sebenarnya penasaran dengan rasa masakan untuk makan berat yang dibuat oleh Maya.


"Boleh juga itu May. Loe masak menu makan siang aja. Nanti sekitar jam dua belas loe di jemput Pak Hans." Vina setuju dengan ide Sari. Sekalian juga Maya bisa langsung ke perusahaan.


"Oke sip. Gue akan buat makanan istimewa untuk dua wanita karier yang super sibuk ini." kata Maya dengan semangatnya.


"Bagi gue menu terserah dan gue yakin itu pasti enak." kata Sari lagi.


Vina melihat jam sudah pukul tujuh kurang. Dia tidak ingin datang terlambat ke perusahaan. Vina ingin dia menjadi contoh yang baik bagi semua karyawannya.


"Ayuk Sar jalan. Nanti telat." ujar Vina sambil mengambil tas kerjanya.


Sari menatap Maya.


"Baru tau loe. Loe akan tau bagaimana pola dia bekerja kedepannya." ujar Maya sambil menahan senyumnya.


Vina dan Sari berjalan menuju mobil yang sudah menunggu di depan pintu rumah. Pak Hans sudah berdiri di samping pintu. Dia sudah membukakam kedua pintu mobilnya.


"Pagi Nona Nona silahkan masuk. Armada sudah siap untuk mengantarkan Nona Nona mencari nafkah." ujar Pak Hans dengan tampang seriusnya.


"Terimakasih Pak Hans atas kerjasamanya. Sekarang antarkan Saya dan Nona Sari menuju perusahaan. Saya tidak mau terlambat." ujar Vina membalas perkataan Pak Hans. Setelah menjawab perkataan Pak Hans, Vina langsung masuk ke dalam mobil.


Pak Hans menatap Sari lama. Sari membalas tatapan Pak Hans sambil tersenyum. Pak Hans pun tersenyum. Dia kali ini mendapatkan bos yang ramah dan baik. Pak Hans dan Sari masuk ke dalam mobil. Pak Hans melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi. Di negara U biasa kita melihat mobil yang bergerak dengan cepat karena kendaraan di negara U tidak seramai di negara I.


Tidak membutuhkan waktu lama, mobil yang dikemudikan oleh Pak Hans sudah berbelok masuk ke dalam parkiran perusahaan. Pak Hans memberhentikan mobilnya tepat di pintu masuk perusahaan. Vina dan Sari turun bersamaan. Vina memang tidak ingin dibukakan pintunya saat turun dari mobil. Menurut Vina itu suatu hal yang tidak efisien.


Kedua wanita cantik itu berjalan menuju lift khusus petinggi perusahaan. Tetapi sebelum sampai ke lift, Vina melihat di layar kehadiran masih banyak manager yang belum hadir.


"Sar, nanti aja kita ke ruangan. Hari ini nggak ada meeting pentingkan ya?" tanya Vina kepada Sari.


Sari melihat jadwal Vina kembali. Sari memastikan kalau memang tidak ada lagi jadwal Vina.

__ADS_1


"Kosong Nona." jawab Sari setelah memastikan jadwal Vina.


"Oke. Kita duduk di sini aja. Kita tunggu tuh nama nama yang belum naik." ujar Vina sambil menunjuk layar yang menampilkan karyawan yang belum hadir.


"Oke Nona. Sekali sekali kita harus sidak mereka juga. Seenaknya datang terlambat." jawab Sari yang sangat suka dengan gaya kepemimpinan Vina.


Vina dan Sari duduk di kursi tunggu perusahaan. Mereka mengobrol ringan sambil menunggu para karyawan masuk. Tepat bel perusahaan berbunyi masih banyak karyawan yang belum masuk.


"Sari, tolong katakan ke Satpam untuk mengunci pintu masuk." kata Vina kepada Sari.


"Oke Nona." jawan Sari yang langsung menuju satpam.


Sari meminta ketiga satpam itu untuk menutup semua akses masuk ke dalam gedung perkantoran.


"Oke Nona." kata Sari setelah menyampaikan pesan Vina.


"Sip. Sekarang kumpulkan semua karyawan yang hadir ke dalam ruang pertemuan Sar. Kita harus menekankan kepada mereka semua tentang disiplin." ujar Vina sambil menahan emosinya.


Sari membuat di chat grub para manager untuk memerintahkan semua karyawan yang berada di dalam gedung perkantoran untuk masuk ke ruang pertemuan.


Vina masuk ke dalam ruangannya. Dia menghubungi manager hrd untuk menemuinya sekarang juga. Manager Hrd yang tau sedang ada kemelut besar di perusahaan langsung saja berjalan menuju ruangan Vina.


Tok tok tok.


"Masuk" terdengar perintah Vina menyuruh seseorang yang mengetuk pintu untuk masuk.


"Permisi Nona. Saya Manager HRD." ujar sang Manager memperkenalkan dirinya.


"Silahkan duduk Bapak. Ada Bapak bawa rekap absen sebulan ini?" tanya Vina lagi.


Manager HRD mengangguk. Dia memang selalu merekap absen kehadiran seluruh manager dan karyawan.


"Bisa saya lihat Pak?" tanya Vina lagi.


Manager HRD mengangguk. Dia memberikan rekap absennya kepada Vina.


Vina membaca rekapan absen bulan ini. Dia menggeleng gelengkan kepalanya tidak percaya dengan kehadiran karyawan.


"Sari, keruangan." ujar Vina menghubungi Sari.


Sari masuk ke dalam ruangan Vina dengan tergesa gesa. Sari tau Vina dalam keadaan emosi.


"Ada apa Nona?" tanya Sari yang menatap kehadiran Manager HRD di ruangan Vina.


"Coba tengok kehadiran Manager??? Sungguh sungguh sangat luar biasa. Kagum saya." ujar Vina kepada Sari.


Vina memberikan laporan kehadiran kepada Sari. Sari membaca laporan itu, betapa terkejutnya Sari saat membaca kehadiran keryawan yang luar biasa sangat bagus.


"Kita haris berikan tindakan ini Vin. Kalau tidak mereka akan semakin semena mena." ujar Sari yang juga geram dengan tingkah manager dan karyawan perusahaan.


"Yup. Apa mereka sudah berkumpul di ruangan?" tanya Vina yang ingat dia mengumpulkan seluruh manager dan karyawan yang sudah hadir di aula.


"Sudah Nona. Mereka sudah berada di ruangan." jawan Sari.


"Sip. Tolong Anda buatkan surat teguran kepada semua manager dan karyawan yang saya lingkari ini." ujar Vina memberikan perintah kepada Manager HRD.


Vina dan Sari pergi meninggalkan ruangan Vina. Mereka menuju aula pertemuan untuk bertemu dengan semua manager dan karyawan.


Vina dan Sari masuk ke dalam ruangan pertemuan. Vina dan Sari sama sekali tidak duduk di depan. Mereka tetap berdiri.


"Selamat pagi. Saya mengucapkan terimakasih banyak kepada kalian semua yang hadir di sini saat ini. Saya katakan saya bangga memiliki rekan kerja seperti kalian. Kalian benar benar luar biasa. Kalian benar benar menghargai perusahaan dengan hadir tepat waktu." ujar Vina.


"Maka dari itu saya akan melakukan evaluasi dengan semua rekan kerja yang tidak hadir. Bagi yang hadir saya akan hitung hari ini menjadi hari lembur anda semua. Jadi akan diuangkan." ujar Vina selanjutnya.


"Harga reward yang diberikan oleh perusahaan tidak sebanding dengan pengorbanan rekan rekan semua. Tapi sedikit banyaknya tolong diterima dengan hati lapang." ujar Vina kembali.


Semua manager dan karyawan yang berkumpul di ruangan musholla bertepuk tangan. Mereka sangat senang dengan reward yang diberikan oleh perusahaan kepada mereka semua.


Vina dan Sari kemudian keluar dari ruangan. Mereka kembali keruangan masing masing. Semua manager dan karyawan juga kembali bekerja.

__ADS_1


__ADS_2