Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Jalan Jalan Deli


__ADS_3

Deli yang telah selesai mandi dengan gerakan super duper kilat itu, sekarang sedang memakai pakaiannya untuk pergi jalan jalan dengan Ayah. Mereka berdua akan menghabiskan waktu bersama, karena besok Danu sudah harus kembali ke negara I. Sedangkan Deli akan tinggal di negara U untuk sementara waktu sampai kasus persidangan Danu dan Ranti sudah disidangkan oleh pengadilan agama di negara I.


Deli memoles sedikit wajahnya dengan bedak tabur yang dibelikan oleh Nenek. Deli kemudian memasang sepatu ketsnya dan mengambil sebuah tas ransel kecil yang selalu dibawa oleh Deli kemapaun Deli pergi. Tas yang dibelikan oleh Danu saat Deli ulang tahun dua bulan yang lewat.


Deli yang sudah siap berjalan keluar dari dalam kamarnya menuju tempat Ayahnya berada sekarang. Deli sudah yakin kalau Ayahnya sudah cemberut menunggu dirinya di bawah.


"Hay Ayah, kali ini aku siap lebih cepat bukan dari pada biasanya?" tanya Deli kepada Danu yang terlihat sedang membaca sebuah pesan chat yang masuk ke dalam ponselnya dengan wajah serius.


"Bener sayang, kali ini kamu lebih cepat dari pada biasanya. Angin apa yang membuat kamu bisa siap lebih cepat dari pada biasanya?" ujar Danu yang melihat putri kecilnya sudah berdandan cantik hari ini.


"Angin pengen pergi cepat dengan Daddy untuk menikmati negara U. Mana tau nanti nampak sesuatu yang benar benar aku suka, jadi bisa aku beli karena aku tidak mengecewakan Ayah dengan siap terlambat seperti biasanya" jawab Deli sambil tersenyum menatap ke arah Danu yang duduk di kursi tersebut.


"Oo oo ooo ada sesuatu ternyata di balik cepatnya Deli bersiap siap hari ini ternyata Nenek" ujar Danu kepada Mami yang telah selesai membungkus bekal sarapan untuk Deli.


Sedangkan Danu tadi, saat menunggu Deli siap mandi dan bersiap siap, Danu memilih untuk terlebih dahulu makan sarapannya.


"Haha haha haha, cucu nenek memang pinter. Nanti kalau kamu minat sesuatu jangan lupa nenek ini ya sayang. Kamu harus juga belikan dan pilihkan untuk Nenek" ujar Mami sambil menatap kearah Danu yang sedang termenung dan sedikit memegang kepalanya yang terasa sedikit sakit.


Mami dan Deli memperhatikan hal itu, mereka sangat yakin kalau Danu sedikit mengingat tentang hal yang telah dia lupakan selama ini.


"Kenapa Ayah? Ayah sakit kepala? Kalau iya, kita tidak usah aja pergi Ayah" ujar Deli yang kasihan melihat Danu yang meringis menahan rasa sakit di kepalanya akibat dia  berusaha mengingat sesuatu yang sedikit terlupakan oleh otaknya selama ini.


"Tidak sayang, Ayah tidak sakit. Ayuk kita jalan. Kamu sarapan di mobil aja ya" ujar Danu yang berdiri dari kursi mini bar.


"Pamit Nenek dulu" ujar Danu meminta supaya Deli berpamitan dengan Mami yang sudah berada di dekat meja makan.


"Nenek, Deli berangkat jalan jalan dulu ya, jangan rindu Deli karena Deli tetap akan kembali ke sini" ujar Deli yang menjahili Neneknya itu.


"Hem mulai" ujar Mami yang tahu dengan sifat dan perangai Deli yang suka usil kepada keluarganya, tetapi tidak kepada orang lain.

__ADS_1


"Hati hati di jalan ya, Deli jangan lupa pesan nenek tadi" ujar Nenek kepada Deli.


"Oke Nenek" jawab Deli sambil memberikan dua jempol kepada Neneknya itu.


Danu dan Deli kemudian pergi meninggalkan mansion. Mereka masuk ke dalam sebuah mobil yang sudah disiapkan oleh kepala pelayan di mansion besar itu.


"Terimakasih Pak" ujar Danu kepada kepala pelayan.


"Sama sama Tuan. Hati hati di jalan" jawab kepala pelayan.


Danu kemudian mulai menghidupkan mobil. Deli sudah duduk dengan tenang di kursi sebelah Danu.


"Siap sayang?" tanya Danu kepada Deli


"Siap Daddy, lajukan" ujar Deli sambil menunjuk ke depan.


"Kenapa melongo?" ujar Danu kepada Deli.


"Ini sangat enak pasti Ayah. Deli baru sekali ini melihat sarapan yang dibuat nenek ini. Nenek tidak pernah membuat sarapan seperti ini Ayah." ujar Deli kepada Ayahnya.


"Sama. Ayah juga sudah sangat lama tidak melihan dan memakan masakan Nenek yang itu. Ayah malahan sampai lupa kapan terakhir Ayah melihat dan memakan makanan itu." ujar Danu yang memang sama sekali tidak ingat kapan dia terakhir makan sarapan yang sekarang dibuat oleh Mami.


"Nggak usah dipikirkan Ayah, kalau akhirnya akan membuat kepala Ayah menjadi sakit lagi. Biarkan sajalah, yang penting ini makanan enak dan bisa membuat perut Deli kenyang. Kapan terakhir Ayah makan mah nggak penting Ayah" ujar Deli yang tidak mau Ayahnya mengalami sakit kepala saat mereka berdua sedang berada di dalam mobil. Lain cerita kalau mereka di rumah, maka Deli pasti akan memaksa Ayahnya untuk mengingat kapan Ayahnya itu terakhir kali menikmati makanan yang dibuat oleh Nenek.


"Sudah, kamu nikmati saja lagi sarapanya. Jangan di pandang terus, nanti dingin nggak enak dia lagi" ujar Danu meminta Deli supaya menyuap sarapan yang sudah dibungkus oleh Mami.


"Sabar Ayah. Ini aku akan makan sarapannya" ujar Deli menjawab perkataan dari Danu sambil menyuap sesendok sarapan ke dalam mulutnya.


Danu melihat gaya Deli yang menikmati sarapan dengan gaya seperti seorang pembawa acara di bidang kuliner akan meriview makanan yang dia sedang makan.

__ADS_1


"Wajahnya biasa aja, jangan dibuat seperti itu" ujar Danu kepada Deli.


"Ini wajah santuy aja kok Ayah. Nggak ada nggak santuynya. Emang kenapa?" tanya Deli yang penasaran kenapa Ayahnya mengatakan kalau sekarang wajah Deli tidak wajah santai.


"Maksud Ayah bukan santai yang gimana gimana Deli, tapi santai aja cara makannya. Bukan seperti pembawa acara yang akan meriview makanan gitu wajah kamu saat menikmati suapannya" ujar Danu menjelaskan kepada Deli kenapa Deli diminta Danu untuk santai saja saat mengunyah sarapan yang dibuat oleh Mami tadi.


"Haha haha. Ayah ada ada aja. Yalah Deli akan makan dengan santai" ujar Deli yang heran dengan ayahnya.


Padahal Deli rasanya sudah makan dengan sangat santai, nggak berlebihan seperti yang dikatakan oleh Ayahnya itu. Tetapi Deli yang malas ribut dengan Danu mengubah cara makannya menjadi lebih santai dari pada yang tadi.


Danu mengemudikan mobil dalam kecepatan sedang saat Deli sedang makan sarapannya.


"ayah kok pelan kali, kapan sampai di kota" ujar Deli yang protes dengan cara ayahnya mengemudikan mobil.


"Kamu sedang makan sayang. Kalau kamu sudah siap, maka Ayah akan mengemudikan mobil dalam kecepata tinggi. Nanti kamu kesedak baru nyesel kenapa Ayah di suruh mengemudikan mobil dengan kecepata tinggi" ujar Danu kepada anaknya itu.


"Hehe hehe hehe. Maafkan Deli Ayah." ujar Deli yang paham kenapa Ayahnya dari tadi membawa mobil dalam kecepatan biasa saja.


Deli makan sarapannya dengan sangat cepat. Dia tidak mau terlalu lama di jalan. Deli ingin cepat cepat sampai di kota dan bisa berjalan jalan dengan Ayahnya.


"Ayah, Deli siap" ujar Deli yang telah menghabiskan semua sarapannya.


"Minum dulu" ujar Danu.


Deli kemudian meneguk air mineral miliknya. Setelah itu Danu baru membawa mobil dalam kecepatan tinggi menuju kota yang masih agak jauh dari posisi mereka sekarang ini.


"Ini baru paten" ujar Deli dengan semangat saat Ayahnya sudah mengemudikan mobil lebih cepat dari pada tadi.


Danu haya bisa geleng geleng kepala dengan apa yang dilakukan oleh Deli. Deli begitu bahagia saat Danu menyetir dalam kecepatan tinggi

__ADS_1


__ADS_2