
Papi kemudian menatap ke arah Mami. Papi penasaran ada apa yang terjadi di pabrik tadi, sehingga mengakibatkan Danu harus di bawa ke rumah sakit seperti sekarang ini. Padahal selama ini Danu tidak pernah masuk ke pabrik.
"Mami, kenapa Danu harus sampai di bawa ke sini Mami? Papi tidak mengerti kejadiannya. Tadi adik mengatakan kalau mereka bertiga bermain di kebun anggur. Papi rasa kebun anggur kita sudah level aman Mami" ujar Papi bertanya kepada Mami apa penyebab terjadinya kecelakaan yang menimpa Danu, sehingga Danu harus berakhir di rumah sakit seperti sekarang ini.
Mami terdiam mendengar apa yang ditanyakan oleh Papi kepada dirinya. Mami tidak tahu harus memulai dari mana semua cerita yang akan diceritakan oleh Mami saat ini.
"Mami" ujar Papi memanggil istrinya yang sedang termenung itu. Papi sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui cerita yang terjadi sebenarnya. Karyawan yang memberitahukan kalau Danu dibawa ke rumah sakit, tidak memberikan informasi apa apa kepada Papi dan Paman tadi.
"Maafkan Mami, Papi" jawab Mami sambil menunduk meminta maaf kepada suaminya itu.
"Kenapa Mami meminta maaf ke Papi, Mami, ada apa ini?" tanya Papi yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat sekarang ini.
Papi semakin tidak mengerti karena istrinya meminta maaf kepada dirinya dengan menundukkan kepala. Seperti sesuatu sedang terjadi yang tidak dimengerti oleh Papi.
"Jadi ceritanya begini Papi" ujar Mami sambil menatap ke arah Papi dan Paman secara bergantian. Mami sangat tahu kalau Papi dan Paman pasti penasaran dengan semua cerita yang menimpa Danu saat ini.
"Danu, meminta izin untuk masuk ke pabrik pembuatan Anggur kepada Mami. Mami mengizinkan Danu masuk ke sana, karena Mami ingin Danu melihat bagaimana proses pembuatan Anggur." ujar Mami memulai ceritanya kepada Papi dan Paman.
"Ivan dan Sari juga ikut ke dalam kakak ipar?" tanya Paman yang ingin memastikan keberadaan anaknya dimana saat kejadian itu berada.
"Tidak. Ivan dan Sari bersama kakak di bawah payung payung kebun, sambil menikmati pancake yang kakak buat" ujar Mami menjawab pertanyaan dari Paman.
Paman akhirnya lega, ternyata anaknya tidak ada kaitannya dengan kecelakaan yang menimpa Danu. Paman takut kalau Danu kecelakaan karena menyelamatkan salah satu anaknya dari musibah. Kalau sampai hal itu terjadi, maka Paman tidak tau harus bagaimana melihat sepasang suami istri yang berada di dekatnya saat ini.
__ADS_1
"Bukannya Danu tidak pernah ingin masuk ke sana Mami. Kenapa tadi dia sangat ingin masuk?" tanya Papi yang tahu kalau Danu tidak suka bau anggur yang difermentasi itu.
"Mami juga tidak tahu Papi. Tiba tiba saja Danu ingin masuk ke sana. Mami sama sekali tidak bisa menolak keinginan dari Danu Papi. Mami membolehkan Danu masuk ke sana. Hal itu menjadi rasa bersalah yang paling besar dalam diri Mami" lanjut Mami menjawab pertanyaan dari Papi.
"Terus kelanjutan Danu bagaimana?" tanya Papi yang sudah tidak sabaran untuk mendengar apa yang terjadi dengan aanknya di dalam pabrik itu.
"Danu masuk ke dalam pabrik, saat itulah kemalangan itu tidak bisa di hindarkan yang menimpa anak kita Papi" ujar Mami yang kembali berlinang air mata. Mami seperti tidak ingin mengingat kisah kelam itu. Tetapi mau gimana lagi, Mami harus menceritakan semua kejadian yang terjadi kepada Papi dan Paman.
"Apa yang terjadi Mami?" tanya Papi yang sudah tidak sabar lagi ingin mendengar apa yang menimpa anak mereka satu satunya itu.
"Sebuah benda jatuh dan menimpa kepala anak kita Papi." ujar Mami semakin keras isak tangisnya saat itu.
"Mami tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya anak kita saat itu Papi. Darah Danu begitu banyak keluar dari kepalanya. Mami takut sesuatu yang buruk terjadi kepada anak kita. Makanya Mami langsung meminta pilot untuk menerbangkan Danu dan Mami ke rumah sakit memakai helicopter perusahaan" kata Mami melanjutkan ceritanya tentang kejadian yang menimpa Danu.
"Iya Papi. Darah Danu banyak keluar. Untung saja rumah sakit memiliki stok darah untuk Danu. Jadi, pihak rumah sakit bisa langsung memberikan tindakan kepada Danu saat itu juga" ujar Mami melanjutkan ceritanya.
Paman hanya menyimak apa yang diceritakan oleh kakak iparnya kepada kakak laki lakinya itu. Paman tidak menyela sekalipun percakapan antara mereka berdua.
"Kakak, berarti pabrik tidak aman untuk pekerja. Bagaimana kalau kita meminta bagian teknisi mencek kelayakan pabrik kembali" ujar Paman memberikan solusi kepada Papi untuk mencek keadaan keamanan dari pabrik.
"Bisa adik. Tolong kamu kondisikan pabrik sekarang. Aku dan kakak ipar akan fokus kepada kesembuhan Danu. Kita sama sekali belum dapat berita dari dokter bagaimana keadaan Danu sekarang" ujar Papi memberikan kepercayaan untuk mengelola pabrik kepada adiknya itu.
"Baik kakak, aku akan menjalankan pabrik seperti biasanya. Tapi tiga hari ke depan, aku terpaksa meliburkan karyawan yang berada di pabrik, tempat Danu mengalami kecelakaan. Aku akan memastikan pabrik itu aman untuk para karyawan" ujar Paman memberitahukan rencana kerjanya kepada Papi.
__ADS_1
"Baiklah adik, kakak setuju dengan kamu. Tolong ya. Kakak terpaksa meminta bantuan ke kamu. Kakak juga tahu CT Grub membutuhkan kamu, tapi pabrik kakak juga membutuhkan kamu" lanjut Papi yang tahu bagaimana sibuknya adiknya itu. Tetapi Papi tidak tahu lagi kepada siapa harus meminta tolong.
Mereka bertiga kemudian melanjutkan berbincang bincang tentang kronologi kecelakaan yang menimpa Danu di pabrik pengolahan Anggur itu.
Saat mereka bertiga terlihat sibuk berbincang bincang. Pintu ruangan IGD tempat Danu diberikan tindakan terbuka. Terlihat seorang dokter berjalan keluar ruangan sambil mengusap peluh yang ada di keningnya. Papi dan Mami serta Paman melihat ke arah dokter itu. Mereka bertiga kemudian berjalan menemui dokter tersebut.
"Bagaimana dengan keadaan putra Kami dokter?" tanya Papi saat sudah berada di dekat dokter tersebut.
"Tuan dan Nyonya, keluarga dari Danu Sanjaya?" tanya dokter sambil membaca nama pasien yang ada di kertas tersebut.
"Iya dokter, kami adalah keluarga Danu Sanjaya. Saya Papinya, sedangkan di sebalah saya adalah Mami dari Danu dan yang ini adalah Paman dari Danu" ujar Papi yang tanpa sengaja memperkenalkan mereka bertiga kepada dokter dengan sangat panjang.
Dokter hanya bisa tersenyum saja. Ternyata kalau orang panik, kadang bisa melakukan hal yang bertele tele.
"Baiklah Tuan dan Nyonya. Apakah Tuan dan Nyonya bisa ikut keruangan saya?" ujar dokter mengajak Papi, Mami dan Paman untuk menuju ruang kerja dokter tersebut.
"Baik dokter" jawab Papi yang sudah mengerti dokter akan mengatakan sesuatu yang sangat penting untuk saat ini.
Mereka bertiga berjalan mengikuti dokter menuju ruangannya.
"Papi, apa sesuatu yang buruk terjadi kepada anak kita Papi?" tanya Mami saat berjalan menuju ruang kerja dokter.
"Papi juga tidak tahu Mami. Mari kita dengarkan saja apa yang akan dikatakan oleh dokter nanti di ruangannya" ujar Papi yang sebenarnya sudah bisa membayangkan apa yang akan dikatakan oleh dokter.
__ADS_1
Papi tahu kalau kondisi dari Danu tidak dalam keadaan baik baik saja. Makanya dokter meminta mereka semua untuk berbicara di dalam ruangan miliknya.