
Bang ini" ujar Sari memberikan kartu pengenal Maya kepada Ivan yang sedang duduk di ranjang besar itu.
"Kita bekerja di balkon kamar aja." ujar Ivan sambil berjalan menuju balkon kamar yang lumayan luas itu.
Mereka yang lain mengikuti Ivan menuju balkon kamar. Mereka akan melacak keberaan Maya dimana sekarang ini.
Ivan mengaktifkan kembali laptopnya yang tadi sempat dimatikan saat mereka sedang mencari kartu identitas milik Maya. Dia mulai memasukkan nomor identitas Maya ke dalam aplikasi miliknya.
Juan melihat prosedur kerja Ivan. Ingin rasanya Juan menggantikan Ivan untuk melakukan pelacakan pencarian dimana posisi Maya sekarang ini. Juan heran dengan apa yang dilakukan Ivan. Dia mencek dimana posisi kartu identitas itu, bagaimanapun lihainya alat maka akan tetap mengatakan kartu identitas berada di hotel tersebut.
"Ivan, loe cari dimana letak kartu itukan, mana mau dia. Kartu itu kan adanya di sini. Lie aneh Van." ujar Juan yang heran melihat cara kerja Ivan kali ini.
"Huf." ujar Ivan.
"Gue nyerah. Loe bisa makainya?" tanya Ivan.
"Bisa. Sini biar gue cari." ujar Juan mengambil alih laptop milik Ivan.
Juan mulai memasukkan nomor identitas itu untuk mencari kemana Maya pergi. Aplikasi melakukan pencarian.
"Cari apa sayang?" tanya Sari saat melihat apa yang dilakukan oleh Juan.
"Coba cek apa Maya melakukan pembelian tiket bus." ujar Juan.
"Kita tinggal nunggu dikit lagi. Kalau dia membeli tiket bus akan tau daerah mana yang dituju Maya." ujar Juan memberitahukan apa yang dicarinya.
Aplikasi pencarian akhirnya telah berhenti beroperasi tetapi tidak ada satupun data yang ditampilkan di pencarian tersebut.
"Maya tidak menggunakan bus." ujar Juan memberitahukan kepada mereka semua yang berada di balkon.
"Coba pesawat Juan." ujar Vina.
Vina yakin kalau Maya pergi jauh. Dia tidak yakin Maya masih berada di ibu kota. Vina tau bagaimana tipe Maya. Maya walaupun tidak pernah kuliah, tetapi dia termasuk anak pintar.
Juan memasukkan nomir identitas Maya. Aplikasi mulai melakukan pencarian. Semua orang menatap melihat layar laptop. Mereka berharap akan ada tampilan yang menunjukkan kalau Maya memang memakai jasa salah satu maskapai penerbangan.
"Seandainya ini juga tidak ada bagaimana ini?" tanya Vina mulai panik.
"Sabar Vin. Kita akan berusaha mencari Maya." jawab Sari menenangkan sahabatnya itu.
Vina menatap Ivan dengan tatapan marah.
"Loe dengan dia sama aja." ujar Vina dengan nada dingin.
Setelah mengatakan hal itu Vina berjalan keluar kamar. Dia membanting pintu dengan cukup keras. Mereka semua menatap kepergian Vina.
Ivan mengejar Vina. Dia tidak mau Vina jadi salah paham dengan keadaan yang sedang terjadi sekarang. Ivan tidak ingin memperumit masalah yang sudah rumit.
"Vin" ujar Ivan memegang tangan Vina sebelum sempat Vina memencet tombol lift.
"Apa?" tanya Vina menatap Ivan.
__ADS_1
"Dengerin gue dulu." ujar Ivan.
"Apa lagi yang harus gue dengerin. Sahabat gue hanya minta maaf Van. Hanya minta maaf. Apa harus loe marah sebegitunya ke dia??? Gue rasa nggak. Ini udah keterlaluan Van. Luar biasa keterlaluan" ujar Vina meluapkan segala emosinya.
Dia benar benar marah dengan apa yang dilakukan oleh Ivan. Tidak seharusnya Ivan mengabaikan pesan chat yang dikirim oleh Maya.
"Vin, loe denger gue. Gue nggak pernah marah dengan Maya. Waktu gue pergi dari kota J, gue sengaja agar Maya berpikir ulang untuk pulang ke ibu kota dengan bus malam." ujar Ivan memberitahukan kepada Vina maksud dan tujuannya pulang ke ibu kota hari itu.
"Masalah nggak balas pesan chat. Gue sedang rapat Vina. Tadipun saat Sari nelpon masih rapat. Gue tinggal karena gue panik." ujar Ivan yang terpaksa berbohong.
Ivan terpaksa berbohong karena takut nanti Vina akan pergi juga. Mereka sekarang harus dalam satu kata mencari Maya. Bukan dengan terpecah belah seperti ini.
"Vin, gue mohon loe jangan marah seperti ini. Kita harus bersatu untuk mencari keberadaan Maya." ujar Ivan memohon kepada Vina.
Vina menatap Ivan. Ivan mengangguk meyakinkan Vina kalau mereka pakai acara terpecah belah maka semua permasalahan tidak akan selesai. Vina mengangguk setuju dengan Ivan. Mereka berdua kembali ke kamar Vina.
"Maaf tadi gue sedikit panik." ujar Vina kepada semua sahabatnya.
"Tidak apa apa Vin. Biasa aja." jawab Iwan.
Vina menuju Juan. Dia melihat Juan telah selesai bekerja dan memandang fokus ke layar laptop milik Ivan.
"Gimana Juan?" tanya Vina sambil menatap ke layar laptop.
"Seperti yang terlihat Vina. Ada enam nama yang terdaftar membeli tiket dan melakukan chekin atas nama Maya." jawab Juan memperlihatkan ke lima nama yang tertera di layar laptop.
"Hah? Lima nama chekin semua?" kata Vina mengulang perkataan Juan.
"Yup. Lima nama chekin semua." jawab Juan.
Juan mengangkat bahunya. Dia sekarang yakin kalau Maya memiliki otak yang cemerlang untuk mengelabui semua orang.
"Sepertinya Maya sudah memikirkan dengan matang." ujar Juan lagi.
Sari menatap Ivan.
"Vina, dari lima daerah itu, mana menurut kamu yang berkemungkinan Maya untuk pergi?" tanya Ivan.
Vina menatap ke lima daerah yang dikatakan oleh Ivan. Dia mulai berhitung dengan segala kemungkinan yang ada. Vina terdiam cukup lama melihat tulisan nama daerah yang dibeli Maya tiketnya itu.
'Vin, gue kalau ada uang mau banget ke Pulau S, Provinsi SB pergi nengok raja ampatnya daerah sana.'
Vina mengingat perkataan Maya waktu mereka masih di kos kosan kecil. Saat itu Maya sudah kerja lima bulan di warung milik Vina.
"Vin, ada yang loe ingat?" tanya Sari yang melihat Vina termenung cukup lama.
"Ada" jawab Vina mengangguk.
"Apa?" tanya Sari penasaran.
"Pulau S. Provinsi SB. Maya sangat ingin melihat raja ampatnya pulau S." ujar Vina dengan yakin.
__ADS_1
"Apa loe yakin dia ke sana?" tanya Ivan menatap Vina.
"Yakin Bang. Satu satunya tempat yang dimau Maya untuk berkunjung adalah raja ampatnya Pulau S." jawab Vina dengan sungguh sungguh.
"Oke kita ke Pulau S." ujar Ivan memberi perintah kepada mereka semua.
"Juan panggil Jeri dan dua pramugari. Kita akan ke pulau S besok. Siapkan semua administrasi penerbangan." ujar Sari memberikan perintah kepada Juan denga. Tegas.
"Siap Nona." jawab Juan.
Ivan dan Iwan serta Vina yang melihat langsung heran dengan sepasang kekasih yang sebelumnya mesra bisa menjadi super profesional saat bekerja.
"Kami pamit dulu untuk siap siap." ujar Ivan.
"Bang, apa alasan ke CEO dan Danu?" tanya Vina yang sebenarnya malas menyebut nama Danu.
"Serahkan ke kami Vin." jawab Iwan.
Ivan dan Iwan kemudian berlalu dari kamar Vina. Mereka akan menuju pulau S esok hari dan akan mencari Maya yang berada di Provinsi SB.
Juan telah mengirim pesan kepada Jeri dan kedua pramugari untuk datang ke kamar Vina. Mereka akan mengadakan rapat dengan Sari.
Tidak menunggu lama Juan dan rekan satu timnya sudah berada di kamar Vina. Mereka terlihat sedang breefing masalah ke berangkatan pesawat esok jam delapan pagi. Jeri akan mengurus izin terbang malam ini juga ke Bandara.
Juan dan yang lainnya sepakat untuk berangkat ke Bandara jam lima pagi. Mereka harus menyiapkan pesawat sebelum penerbangan menuju Pulau S.
Setelah Juan dan teman satu timnya kembali ke kamar, Vina dan Sari kemudian beristirahat. Mereka akan kembali terbang ke Pulau S pagi nanti. Penerbangan yang tidak akan seceria penerbangan yang mereka lakukan kemaren.
"Semoga kita bisa menemukan Maya di sana Vin." ujar Sari sambil menatap ke Vina.
"Semoga Sar. Gue nggak mau hanya karena masalah percintaan sahabat gue kembali merana. Gue nggak mau itu." ujar Vina.
"Cukup gue yang merasakan hal pahit itu Sar. Sahabat gue jangan sampai." lanjut Vina.
"Kita akan berusaha Vin. Loe jangan pesimis." ujar Sari memberikan suntikan semangat kepada Vina.
"Semangat" jawab Vina sambil tersenyum memandang Sari.
Kedua sahabat yang sedang bersedih itu memilih untuk beristirahat. Mereka harus memaksa diri mereka untuk tidur. Mereka besok akan mencari Maya.
Sedangkan di Kota P. Maya dan Dian sedang terlihat keluar masuk toko. Mereka berdua terlihat bercanda sepanjang perjalanan. Tangan mereka berdua memegang paperbag hasil belanjaan. Maya tanpa bertanya tanya membawa setiap paperbag yang diberikan oleh Dian kepada dirinya.
Setelah puas berbelanja dan cuci mata. Maya dan Dian masuk ke dalam satu restoran cepat saji. Mereka akan makan di sana sebelum pulang ke rumah dan beristirahat.
"Besok jam berapa loe berangkat?" tanya Dian sambil memasukkan sepotong kentang goreng ke dalam mulutnya.
"Rencana jam sembilan" jawab Maya yang telah memperhitungkan lamanya dia harus berkendara ke tempat yang ditujunya.
"Loe hati hati. Kalau loe berubah pikiran dan tetap ingin healing di sekitar kota ini katakan ke gue. Atau loe mau healing ke kota B juga bisa." ujar Dian yang sebenarnya tidak ingin membiarkan Maya pergi ke kab. Pes sendirian. Tapi Dian juga tidak bisa menemani karena dia harus menunggu suaminya yang pulang besok dari perjalanan bisnis.
"Ingat loe harus hati hati." ujar Dian sekali lagi mengingatkan Maya.
__ADS_1
"Iya buk bos. Gue akan hati hati." jawab Maya sambil menatap Dian.
Mereka kemudian melanjutkan makan menu yang sudah di pesan. Setelah selesai makan Maya dan Dian berjalan ke luar mall. Mereka akan pulang menuju rumah Dian karena hari sudah malam. Apalagi besok Maya akan pergi.