
"Ayuk jalan. Tapi mau ke tempat Maya di rawat" ujar Vina mengajak Danu dan Deli untuk pergi melihat keadaan Maya di rumah sakit.
"Kamu udah mengkondisikan kafe kepada karyawan sayang?" tanya Danu yang tidak ingin Vina meninggalkan tanggung jawabnya terhadap kafe begitu saja
"Udah sayang. Aman itu. Tadi aku ke sana untuk itu" jawab Vina sambil tersenyum kepada Danu.
"Siap berangkat anak sayang Bunda kue?" Vina bertanya kepada Deli yang masih duduk dengan setia di kursinya.
"Sudah Bunda kue. Mari kita berangkat" jawab Deli dengan semangat empat lima. Deli sudah tidak sabar lagi untuk berjalan jalan dengan Ayah dan calon bundanya itu. Jalan jalan yang sudah lama dirindukan oleh Deli.
Vina dan Danu menggandeng tangan Deli kiri dan kanan. Deli sangat bahagia dengan apa yang dilakukan oleh ayah dan juga calon ibu tirinya itu. Selama ini Deli sama sekali tidak pernah merasakan di gandeng oleh Ayah dan Bunda, karena Bunda kandungnya sendiri tidak mengkehendaki kehadiran dirinya di tengah tengah mereka.
"Ayah, Bunda kue." panggil Deli kepada kedua orang itu.
"Apa sayang?" tanya Bunda kue kepada Deli.
"Deli sangat bahagia sekarang ini. Deli sekarang bisa seperti tema teman sekolah Deli." ujar Deli mulai bercerita.
Tetapi cerita dari Deli terpaksa dipending karena mereka harus masuk ke dalam mobil. Danu duduk di balik kemudi, sedangkan Vina duduk di sebelah Danu. Deli duduk di kursi belakang.
"Oh ya sayang, kamu bahagia kenapa?" tanya Vina yang ingat apa yang dikatakan oleh Deli tadi.
"Iya Bunda kue. Selama ini semua teman teman di sekolah bercerita tentang mereka yang bergandengan tangan saat berjalan jalan dengan kedua orang tua merek." ujar Deli memulai ceritanya.
"Pada saat itu Deli hanya bisa mendengar saja. Deli tida tau apa yang harus Deli ceritakan, karena Deli tidak pernah berjalan bergandengan dengan Bunda" ujar Deli melanjutkan ceritanya kepada Vina dan Danu.
"Kalau besok Deli kembali ke negara I, Deli udah bisa ngomong kepada mereka semua kalau Deli sudah pernah jalan bertiga dengan Ayah dan Bunda sambil gandengan tangan.
" Haha haha haha. Boleh sayang. Kamu sudah bisa mengatakan kepada mereka semua kalau kamu, apa yang kamu alami di negara ini" ujar Vina yang mempersilahkan Deli untuk bercerita kepada semua sahabatnya di negara I.
"Makasi Bunda. Apa Deli juga boleh mengatakan kalau Bunda Deli hebat memasak kue?" tanya Deli yang meminta izin kepada Vina, kalau dia akan menceritakan tentang Vina ke semua orang.
"Boleh sayang. Apapun itu kamu bikin menceritakan semuanya" jawab Vina sambil memberikan senyum terbaiknya kepada Deli.
__ADS_1
"Deli sayang banget sama Bunda kue" ujar Deli memeluk Vina dari belakang kursi tempat duduk Vina.
"Bunda kue juga sayang sama Deli. Sangat sayang malahan." jawab Vina.
Danu yang melihat keakraban antara Vina dan Deli membuat dirinya merasa sangat bahagia. Danu tidak sabaran lagi untuk membawa Vina secara utuh ke dalam keluarga besarnya.
Mobil bergerak meninggalkan kafe milik Maya. Danu mengemudikan mobil menuju rumah sakit tempat Maya di rawat.
"Sayang, aku nggak tau arahnya kemana. Jadi, tolong kamu jadi penunjuk arah ya" ujar Danu meminta Vina untuk menunjukkan arah kemana dia harus mengarahkan mobilnya itu.
"Sip sayang. Aku akan menjadi penunjuk arahnya" jawab Vina.
Vina mulai menunjukkan kemana Danu harus mengarahkan mobil miliknya.
"Ayah, kalau kita ke rumah sakit tentu kita tidak jadi melihat orang berdansa tadi Ayah" ujar Deli yang sangat ingin melihat orang berdansa yang dikatakan oleh pemuda tempat Danu bertanya alamat kafe milik Vina dan Maya tadi.
"Orang berdansa maksud Deli apa sayang?" tanya Vina yang penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Deli kepada dirinya.
"Maksud Deli itu, dia ingin melihat para seniman jalanan yang ada di jalan ini." ujar Danu menjelaskan kepada Vina, maksud dari pertanyaan Deli tadi.
"Berarti kita bisa nanti ke sini lagi Ayah, untuk melihat mereka bermain musik jalanan" ujar Deli yang bahagia mendengar jawaban dari Vina.
"Iya sayang, nanti pulang dari rumah sakit kita singgah di sana. Kita akan melihat penampilan mereka semua." jawab Danu yang menjanjikan akan ke sana setelah mereka pulang dari rumah sakit.
"Makasi ayah" jawab Deli yang sangat senang karena keinginannya di kabulkan oleh Danu.
Mobil tetap melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit. Vina terus memberikan instruksi kepada Danu kemana arah menuju tempat Maya di rawat.
"Masih jauh Bunda?" tanya Deli kepada Vina.
Deli merasa sudah terlalu lama di jalan, tetapi merek masih juga belum sampai di rumah sakit.
"Dikit lagi sayang" jawab Vina.
__ADS_1
"Di depan belok kanan. Nah pas di sana komplek rumah sakit" ujar Vina memberitahukan dimana rumah sakit tempat Maya di rawat berada.
Mobil kemudian berbelok masuk ke dalam parkiran rumah sakit. Danu memarkir mobil miliknya di tempat parkir khusus pengunjung.
"Ayuk turun. Kita sudah sampai" ujar Vina mengajak Danu dan Deli untuk turun dari dalam mobil.
Mereka bertiga kemudian berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Vina langsung menjadi penunjuk arah kemana mereka harus pergi.
"Bunda, apa nggak ada lift yang bisa di pake?" tanya Deli kepada Vina.
"Ada, tapi khusus pasien sayang" jawab Vina sambil tersenyum kepada Deli.
"Yah. Kita nggak ada yang cocok jadi pasien Bunda. Jadi, ya kita jalan aja lagi" ujar Deli menjawab perkataan Vina kalau di rumah sakit ini memang ada lift tetapi dikhususkan untuk pasien saja.
"Haha haha. Bisa ada sayang. Kita suruh aja Aya pura pura sakit parah. Nanti kita bisa naik lift menuju ruang rawat Ayah" kata Vina memberikan idenya kepada Deli.
"Bisa kita coba itu Bunda. Ide bunda bagus banget" jawab Deli setuju dengan ide yang dikemukakan oleh Vina sebentar ini.
Danu menatap ke arah Deli dan Vina. Danu tidak menyangka kalau Deli akan setuju dengan ide yang dilontarkan oleh Vina sebentar ini. Ide yang meminta Danu untuk sakit, jadi mereka bisa menggunakan lift pasien untuk menuju ruang rawat.
"Kalian berdua memanglah ya. Baru bertemu tatap muka selama hitungan jam udah kompak menyuruh Ayah untuk sakit. Apalagi kalau udah bertahun tahun. Tentu kompak untuk menghilangkan nyawa ayah lagi" ujar Danu menatap ke arah Vina dan Deli yang tiba tiba menjadi sangat luar biasa kompaknya itu.
"Kami nggak setega itu ayah" jawab Vina sambil tersenyum.
"bener itu Ayah. Kami nggak akan setega itu. Ayah adalah pria panutan kami. Jadi, kami nggak mungkin berniat untuk menghilangkan nyawa Ayah" jawab Deli sambil tersenyum kepada Ayahnya.
"maafkan kami berdua ya Ayah. Kami nggak ada maksud apa apa Ayah. Kami hanya bercanda" ujar Vina yang tidak ingin Danu menjadi marah ke mereka berdua karena apa yang dikatakan oleh Vina suda melewati batas.
"Nggak sayang. Ayah nggak marah, ayah tau kalian berdua cuma bercanda, ngapain ayah marah" jawab Danu sambil memeluk Deli yang sudah hampir menangis itu.
"Ayah serius?" tanya Deli dengan mata yang suda berkaca kaca.
"Serius sayang" jawab Danu.
__ADS_1
"Udah senyum lagi. Jagan nangis lagi" ujar Vina sambil menarik kiri dan kanan pipi Deli dengan gemes.
Deli kembali tersenyum. Mereka bertiga kemudian melanjutkan perjalanan menuju ruang rawat Maya yang berada tidak berapa jauh lagi.