
"Libur dua minggunya kan luar biasa enak Vin, bisa kemana mana, bisa menikmati keindahan pantai" kata Juan mengingatkan Vina tentang perjalanan liburan Vina selama dua minggu.
Vina dan yang lainnya memang menikmati liburan mereka selama dua minggu di negara I, mereka pergi ke berbagai kota di negara I itu, sehingga kalau sekarang pekerjaan mereka menjadi banyak, jangan salahkan staf atau yang lainnya. Tetapi, itu semua karena kesalahan mereka berdua yang memilih liburan terlalu lama.
"Liburannya enak Juan, tapi siap itu nggak enak. Lembur gue. Gue kalau tau kayak gini, nggak mau liburan lama lama. Nyesel gue." ujar Vina dengan nada kesal plus menyesal karena sudah mengambil liburan selama dua minggu.
"Nikmati aja Vin. Anggap aja ke manjunto nengok nengok laut dan ikan ikan karangnya yang cantik cantik. Jadi, saat loe baca dokumen dokumen itu, loe bayangin aja, dokumen itu manjunto dan pantai." jawab Juan sambil menahan tawanya saat melihat ekspresi Vina yang langsung berubah menjadi kesal saat mendengar apa yang dikatakan oleh Juan.
Sari yang melihat keakraban antara Juan dan Vina menjadi sangat senang. Apalagi Juan juga bisa cepat akrab dengan Maya calon kakak iparnya itu. Padahal selama ini Juan susah untuk akrab dengan teman teman Sari yang lainnya.
Mobil berbelok masuk ke dalam komplek perumahan perusahaan CT Grub. Juan memberhentikan mobilnya di depan rumah yang paling besar diantara rumah rumah yang ada di komplek itu.
"Turun dulu yuk. Gue rasa Maya udah pulang" ujar Vina saat melihat mobil Pak Hans sudah ada di depan garasi rumah.
"Gimana sayang?" tanya Sari kepada Juan.
Sari memang berharap kalau Juan setuju untuk singgah sebentar di rumah Vina, apalagi saat mendengar kalau Maya sudah di rumah. Sari berharap ada masakan lezat yang dihidangkan oleh Maya untuk mereka.
"Oke. Mari kita singgah" ujar Juan yang langsung mematikan mobilnya.
Juan dan Sari kemudian turun dari dalam mobil. Vina yang masih berdiri di dekat mobil, tersenyum melihat sepasang kekasih itu jadi singgah di rumahnya.
"Ayuk masuk" ajak Vina kepada sepasang kekasih itu.
Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam rumah.
"Duduk dulu Juan. Juan anggap aja rumah sendiri. Kalau Sari mah udah biasa menganggap rumah ini seperti rumahnya sendiri" ujar Vina kepada Juan.
Vina langsung menuju kamarnya yang berada di lantai dua rumah itu. Dia akan membersihkan tubuhnya dan menukar pakaiannya terlebih dahulu, baru setelah itu dia akan ke bawah.
Juan duduk di sofa depan televisi, dia langsung saja menghidupkan televisi dan mencari siaran sepakbola favorit dirinya.
Sedangkan Sari langsung menuju dapur saat melihat Maya sedang membuat makanan yang seperti salad sayur itu.
"Apaan tu May?" ujar Sari saat melihat Maya sedang menggiling kacang dengan campuran bumbu bumbu dan gula merah.
"Ini namanya pical. Tapi versi daerah Padang. Jadi kuahnya nggak coklat agak pucat gitu. Tapi enak." ujar Maya mengatakan bumbu kuah apa yang sedang dibuatnya.
"Kalau loe yang bikin gue yakin enak May. Nggak akan gue pungkiri keenakannya" ujar Sari yang memang sangat mengetahui rasa masakan dari Maya dan Vina.
Vina yang baru selesai mengganti pakaian kerjanya, berjalan kembali menuju lantai bawah rumah. Dia melihat Juan yang menonton tetapi tidak ada minum dan makanan kecil yang menemani Juan untuk menonton.
"Sari, loe bener bener ya. Kalau kata orang Padang, loe kisiak." ujar Vina sambil menatap Sari dan Vina menggeleng gelengkan kepalanya.
"Kisiak, apaan Vin, nggak ngerti gue" ujar Sari menjawab perkataan Vina.
__ADS_1
Sari memang nggak ngerti arti atau makna dari kata yang diucapkan oleh Vina tadi.
"Pelit sayang. Loe sama sekali tidak memberi Juan air minum atau makanan ringan. Padahal snack banyak itu. Air minum juga ada." ujar Vina heran melihat Sari yang tidak memperdulikan Juan.
"Bener Vin. Dia nggak perduli dengan gue. Padahal gue udah capek membantu dia membaca dokumen dokumen itu. Dia malahan nggak ngasi gue makan dan minum. Dia terlalu tega ke gue Vin" ujar Juan yang mendengar apa yang dikatakan oleh Vina kepada Sari.
Juan mengambil kesempatan di situ untuk memperbaiki sifat Sari yang apabila sudah bertemu dengan sahabatnya akan lupa dengan Juan.
Sari terdiam sesaat. Dia menyadari kesalahannya yang langsung saja ngobrol dengan Maya. Padahal Juan masih ada, dan belum dihidangkan minum oleh Sari.
"Sayang, maafkan aku." ujar Sari dengan nada sedih. Air matanya telah turun membasahi pipi Sari. Sari benar benar sedih mendengar apa yang dikatakan Juan tadi.
Juan mendengar nada itu. Juan tidak mau membuat Sari menjadi sedih karena perkataannya tadi. Juan berdiri dan langsung menuju Sari yang ada di dapur bersih rumah Vina.
"Hay kenapa menangis?" tanya Juan kepada Sari.
"Aku ngelupain kamu sayang" ujar Sari kepada Juan.
"Mana ada, kamu ngelupain aku sayang Kamu selalu ingat aku kok. Jangan sedih begini sayang. " ujar Juan yang tidak ingin melihat Sari dalam keadaan seperti ini.
Juan membawa Sari kedalam pelukannya. Dia tidak ingin Sari merasa terluka dan bersedih karena ucapannya tadi.
"Sayang, kamu jangan ambil serius apa yang aku katakan tadi ya. Aku hanya bercanda saja" ujar Juan berusaha menenangkan Sari.
"Nggak sayang. Aku selalu kayak gini sama kamu, saat aku sudah bertemu dengan sahabat dan teman teman aku. Maafkan aku ya. Aku janji aku akan berubah, aku nggak akan kayak gini lagi" ujar Sari menangis sesegukan dan berusaha untuk tetap berbicara dan membuat Juan mengerti dengan ucapannya.
Sari mengangguk. Sari benar benar paham apa yang diinginkan Juan dari dirinya. Sari ingin berubah demi kebaikan hubungannya dengan Juan.
"Aku paham. Makanya aku minta maaf sama kamu. Aku nggak akan berbuat seperti itu lagi" ujar Sari tetap memeluk Juan.
"Sayang, denger aku ya, aku sangat sayang sama kamu, aku menerima kamu apa adanya. Kalau kamu mau berubah menjadi lebih baik, aku sangat bahagia sayang" ujar Juan tetap memeluk Sari.
"Sekarang diam lagi ya. Nggak ada air mata lagi. Satu aja kamu pegang, aku mencintai kamu lebih dari apapun" ujar Juan sambil memegang wajah Sari.
"Ehem ehem ehem" Vina pura pura berdehem untuk memecah keromantisan antara Sari dan Juan.
"Yey iri, karena nggak ada yang meluk. Makanya cari yang baru atau maafkan yang lama." ujar Juan kepada Vina. Juan mulai lagi mengejek Vina.
"Hahahahaha. Tenang Juan. Bentar lagi ada yang balik lagi itu" ujar Maya menjawab perkataan Juan dari arah dapur.
Sari yang sedang bersedih tertawa saat mendengar Juan berkata seperti itu kepada Vina. Serta mendengar jawaban Maya kepada Juan.
"Serius?" tanya Juan melihat ke Maya.
Sari masih berada dalam pelukan Juan. Maya menganggukkan kepalanya meyakinkan Juan kalau hal itu memang akan terjadi.
__ADS_1
"Udah, nanti aja lagi sedih sedihannya di rumah kamu Sar. Kita makan malam lagi. Perut gue laper" ujar Vina kepada Juan dan Sari. Vina tida ingin Maya melanjutkan lagi omongannya. Dia tidak mau di bully oleh Maya, Sari, apalagi sekarang ada pemain tambahan yaitu Juan.
"Aku juga lapar sayang, kita makan dulu ya sayang, nanti kita akan lanjutkan pembicaraan kita ini lagi ya. Sekarang kita makan dulu" ujar Juan sambil membawa Sari menuju meja makan.
Vina dan Maya telah selesai meletakkan makan malam di atas meja. Mereka kemudian duduk di kursi masing masing.
Sari mengambilkan makan malam untuk Juan. Dia mengambilkan makan malam untuk Juan sambil tersenyum.
"Mau makan pakai sambal apa sayang?" tanya Sari kepada Juan.
"Menurut kamu yang enak aja sayang. Aku pemakan segalanya." ujar Juan kepada Sari.
Sari mengambilkan sambal yang paling lezat dirasakan oleh Sari. Sari kemudian memberikan piring yang sudah diisi makanan kepada Juan. Juan tersenyum bahagia.
"Aku sangat bahagia saat kamu mengambilkan makanan untuk aku sayang. Aku bahagia sekali" ujar Juan sambil menatap Sari dengan tatapan penuh cinta.
Mereka kemudian makan malam sambil diselingi obrolan ringan. Mereka benar benar menikmati makanan yang diolah dan dimasak oleh Maya.
"May, ini bener bener enak May" ujar Juan memuji hasil masakan Maya yang terasa benar benar lezat itu.
"Kalau nggak lezat, gue nggak berani buka kafe Juan" jawab Maya dengan pedenya.
"Ini kelebihan loe satu satunya May. Percaya diri loe luar biasa" ujar Juan kepada Maya.
"Hahahahaha" maya tertawa saat mendengar balasan ucapannya dari Juan.
Mereka telah selesai makan malam. Juan sudah kembali duduk ke sofa di ruang televisi. Vina, Maya dan Sari membereskan meja makan. Setelah itu mereka bertiga juga duduk di sofa depan televisi. Mereka menonton pertandingan siaran ulang badminton.
"Loe dapat info dari mana kalau ada yang mau balikan?" tanya Sari kepada Maya yang ingat perkataan Maya saat adegan sedih sedih di dekat dapur.
"Info terpercaya. Gue tinggal tunggu aja. Sahabat gue aja pagi tadi senyam senyum keluar kamar. Gue rasa chat udah masuk ke ponselnya" ujar Maya yang mengingat Vina tadi pagi senyum senyum saat keluar kamar.
"Mana ada" ujar Vina menghentikan pembicaraan dengan tema dirinya.
"Cie cie, yang akan baikan" ujar Sari menggoda Vina.
"Ah, belum ada apa apa juga. Kalau ada nanti gue ceritain ke kalian berdua" ujar Vina menatap Sari dan Maya.
Mereka kemudian terdiam dan menonton pertandingan badminton yang disiarkan oleh televisi.
"Sayang udah jam sepuluh, kita pulang lagi. Besok kamu kerja pagikan?" ujar Juan mengajak Sari untuk pulang karena sudah larut malam.
"Oke sayang." jawab Sari.
Sari mengambil kembali barang barangnya. Mereka kemudian menuju mobil, Juan dan Sari pulang ke rumah mereka.
__ADS_1
Sedangkan Vina dan Maya masuk kembali ke dalam rumah dan menuju kamar masing masing. Mereka akan beristirahat malam ini. Mereka berdua sudah terlalu lelah setelah menyelesaikan pekerjaan mereka hari ini.