Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Rodi


__ADS_3

Mereka kemudian masuk ke dalam ruangan masing masing. Vina dan Sari akan mulai kerja full mengerjakan semua pekerjaan mereka yang telah mereka tinggalkan seminggu lamanya.


"Waduh serius ini dokumen? Banyaknya. Kerja rodi gue baca semua ini" ujar Vina saat melihat dokumen yang harus dibaca oleh dirinya.


Vina membaca dokumen itu dengan sangat teliti. Dia tidak mau salah dalam menganalisis sebuah dokumen. Vina ingin pekerjaannya benar benar dilakukan dengan sangat baik. Tanpa ada kesalahan sama sekali.


"Ini semua pekerjaan atau makanan?" ujar Sari saat melihat dokumen dokumen yang ada tersaji dengan begitu banyaknya. Dokumen dokumen yang akan membuat Sari menjadi luar biasa pusingnya.


"Sari menatap tiga tumpukan dokumen dokumen itu. Harus mulai dari yang mana coba" ujar Sari sambil menatap semua dokumen dokumennya.


"Juan. Siapa lagi yang bisa bantu kalau tidak Juan" ujar Sari yang teringat dengan kekasihnya yang juga sangat ahli dalam dunia bisnis. Apalagi hanya sekedar membaca dokumen saja.


"Mana sih Juan, angkat dong Juan telpon dari aku" ujar Sari saat panggilannya masih belum diangkat oleh Huan.


"Hallo sayang, ada apa, baru juga pisah udah telpon aja" ujar Juan menyapa Sari dengan cara menggoda dirinya.


"Sayang jangan menggoda gitu. Aku lagi butuh bantuan kamu sayang" ujar Sari mengutarakan niatnya menghubungi Jero.


"Bantuan apa sayang? Tumben kamu minta bantuan aku. Ada apa?" tanya Jero yang kaget Sari meminta bantuan dari dirinya. Suatu hal yang tidak pernah dilakukan oleh Sari selama ini.


"Baca dokumen kerjasama sayang. Masak iya tiga tumpukan. Aku nggak sanggup kalau harus baca sendiri sayang. Bantu aku ya" ujar Sari membujuk Juan untuk mau membantu dirinya.


"Bukan aku nggak mau bantu sayang, tapi apa harus sekarang? Kalau sekarang aku nggak bisa. Aku harus mengirim semua barang barang ini terlebih dahulu" ujar Juan yang ternyata juga sedang bekerja.


"Kamu nggak jadi terbang?" tanya Sari yang ingat Juan akan terbang hari ini.


"Nggak sayang, besok kayaknya. Aku akan ke perusahaan, tapi aku kirim semua brang barang ini dulu ya" ujar Juan memberitahukan kapan dia bisa datang menemui Sari.


"Oke sayang, aku tunggu ya. Oh ya sayang, share lock kafe Maya sudah aku kirim sayang" ujar Sari


"Udah aku Terima sayang. Barang barangnya sudah diantar, palingan bentar lagi sampe. Aku selesaikan semua ini dulu ya. Menjelang aku ke sana, kamu baca baca jugalah dokumen dokumen itu sebelum aku sampe ya" ujar Juan sambil tetap memberikan instruksi kepada semua porter yang ada di sana.


"Yang itu bukan ke mobil yang itu bro. Ke yang sebelah situ" ujar Juan memberikan instruksi kepada porter yang salah angkat barang.


"Yang itu baru ke situ" lanjut Juan mengabaikan telpon dari Sari.


"Maaf sayang, tadi aku mengabaikan kamu sesaat. Aku memberikan instruksi ke porter yang salah menaruh barang." ujar Juan meminta maaf kepada Sari karena telah mengabaikan telpon dari Sari.


"Nggak apa apa sayang. Aku sangat paham bagaimana cara kamu bekerja sayang. Pas jam makan siang ke perusahaan ya sayang. Sekalian bawa makan siang, aku lagi mager gara gara tiga tumpukan dokumen yang berada di depan aku ini sayang. Aku menjadi uwow" ujar Sari yang harus memfokuskan pikirannya ke tumpukan dokumen yang harus dibacanya saat ini.


"Sip sayang, nanti aku akan langsung ke sana pas pekerjaan di sini selesai. Bilang Vina juga nggak usah beli makan siang, aku lebihkan aja nanti" ujar Juan mengingatkan Sari agar mengatakan kepada Vina kalau makan siangnya akan dibawakan oleh Juan.


"Makasi sayang. Nanti aku sampaikan ke Vina. Biasanya dia kalau mau makan siang pasti ke sini dulu, nanyak mau pesan atau keluar. Telponnya aku matikan dulu ya sayang" ujar Sari


Sedangkan di kafe, Maya sedang terlihat sangat sibuk dengan segala barang barang yang baru dikirimkan oleh Juan. Semua pekerja yang telah selesai membangun kafe itu mengangkat semua barang barang yang dibeli Maya ke dalam kafe.


"Nona Maya, bagaimana dengan kursinya?" tanya seseorang pekerja yang akan langsung jadi pelayan di kafe Maya. Pekerja itu minta berhenti dari pekerjaannya menjadi tukang bangunan. Dia meminta kepada Maya untuk menjadi pelayan di kafe. itu


"Katanya sebentar lagi akan di antar orang toko. Kursinya tarok di bagian luar yang mengarah ke pemandangan itu, yang dibagian belakang dan samping kafe." ujar Maya memberitahukan dimana akan diletakan kursi kursi yang sebentar lagi akan sampai.


"Kalau bantal bantal besar itu, tarok di rooftop aja. Di sana kita akan bikin orang seperti duduk sambil lesehan. Kalau yang mau pakai bantal silahkan pakai. Kalau yang mau di atas karpet juga boleh" ujar Maya memberitahukan kepada Tiga orang laki laki yang sudah diterima menjadi pelayan.


Mereka bertiga menaruh bantal bantal yang memang sudah datang ke atas roftopp. Di sana juga sudah ada boka untuk menyimpan bantal dan karpet saat hari hujan.


Semua meja sudah diletakan pada posisi masing masing. Meja dibuat oleh para pekerja yang membangun kafe dari lebihan kayu dan besi serta tripleks, jadi Maya sedikit hemat untuk membeli meja.


"Nona, itu kursi pesanan Nona datang" ujar Seorang pelayan sambil menunjuk mobil pick up yang datang.


Maya dan yang lainnya keluar dari dalam kafe. Mereka membantu pelayan toko menurunkan semua barang barang yang telah di beli oleh Maya.


Para pekerja Maya membawa semua barang barang itu ke tempat tempat yang telah dikatakan oleh Maya tadi. Maya kemudian melihat jam tangannya. Hari sudah menunjukkan waktunya akan makan siang. Maya yang memang sudah menyiapkan semua bahan makanan di kafe nya, langsung menuju dapur baru, Maya akan memasak di dapur yang sifatnya terbuka dan bisa dilihat oleh pengunjung. Maya sengaja melakukan itu, agar pengunjung mengetahui kalau pesanan mereka benar benar dibuat secara fresh bukan dibuat pagi hari atau malam harinya.


Maya memasak cumi goreng tepung, ayam rica rica dan tumis kangkung. Maya sengaja hanya memasak tiga hal itu saja, karena waktu yang mepet. Maya mulai mengolah semua bumbu yang telah disiapkan nya.


Para pelayan yang telah selesai meletakkan kursi berjalan masuk ke dalam kafe saat mencium aroma wangi yang berasal dari dapur itu. Mereka melihat Maya dengan lihainya mengolah tiga masakan dalam sekali memasak. Mereka melihat Maya yang luwes memasukkan bumbu bumbu ke dalam tiga masakan yang langsung terjerang itu.


"Wow, ini keren Nona. Tiga masakan dalam sekali masak. Ini bener bener wow Nona" ujar salah seorang pelayan yang terkagum kagum melihat cara Maya memasak.


"Hahahaha.Santai aja bro. Apa pekerjaan kalian sudah siap?" tanya Maya yang telah memindahkan sayur kangkung ke dalam mangkuk.


"Sudah Nona." jawab ketiga pelayan dengan kompak


"Derik, tolong ambilkan nasi. Kita akan makan bersama sama, bentar lagi saus rica rica nya akan siap" ujar Maya meminta tolong salah satu pelayannya yang bernama Derik untuk membawa nasi.


"Kita makan di roftoop aja gimana Nona?" tanya pelayan yang lainnya bernama Hendri.


"Setuju. Kamu bawa air minum, kita akan makan di sana bersama sama. Saya juga pengen makan sambil ditemani cuaca yang lumayan lah ya" ujar Maya memikirkan gimana panasnya hari di roftoop itu.


"Tenang Nona, kita makan dibagian yang ada pohon rindang nya. Jadi nggak akan terkena panas matahari langsung" ujar Erik pelayannya yang lain.


Akhirnya semua masakan Maya selesai di buat. Maya dan ketiga pelayannya memakan hasil masakan Maya di roftoop seperti yang dikehendaki ketiga pegawainya itu.

__ADS_1


"Nona ini bener bener luar biasa rasanya. Kalau tamu kafe kita tidak memesan ini makan akan saya katakan mereka gubelok" ujar Erik sambil memberikan dua jempolnya kepada Maya.


"Hahahahaha. Kamu bisa aja Erik. Oh ya besok gue akan masak semua menu makanan yang akan kita jual. Diantara kalian bertiga siapa yang jago fhotogragi?" tanya Maya yang ingin fhoto dalam menu makanannya adalah fhoto yang asli dari hasil masakannya.


"Saya Nona. Besok saya akan fhoto semua hasil masakan Nona itu" ujar Hendri yang memang sangat bagus saat mengambil gambar.


"Oke mari kita lanjutkan pekerjaan yang lain. Target kita awal minggu kita sudah grand opening kafe. Apa kalian masih semangat untuk melanjutkan pekerjaan ini?" tanya Maya kepada ketiga pelayannya itu.


"Siap Nona" jawab ketiga pelayan.


Derik dan Hendrik membawa piring kotor mereka ke dapur. Maya akan mencuci semua piring dan peralatan dapur yang telah dikotorkannya. Sedangkan untuk kelebihan dari menu makanan akan ditinggalkan Maya untuk ketiga pelayannya yang tidur di kafe itu. Maya membuatkan rumah petak muat untuk tiga orang di bagian bawah kafe untuk tempat tinggal pelayan pelayannya nanti.


Vina, Sari dan Maya melanjutkan pekerjaan mereka. Maya memang telah selesai makan siang, sedangkan Vina dan Sari masih menunggu kedatangan Juan yang sedang terkena macet di jalan. Mereka berdua menunggu sambil tetap membaca dokumen dokumen yang ada.


Sari sudah pindah keruangan Vina karena dia malas sendirian berada di ruangannya. Apalagi dengan melihat tiga tumpuk dokumen, semakin membuat Sari menjadi merasa tidak nyaman.


"Mending pindah ke tempat Vina aja, sekalian ngomong ke Vina kalau Juan akan ke sini bawa makan siang. Males gue kerja di sini sendirian. Makin gila gue nengok tumpukan dokumen yang harus gue selesaikan. Mana Juan datangnya lama lagi." kata Sari sambil berdiri dari kursi kerjanya dan membawa tiga map dokumen.


Tok tok tok. Sari mengetuk pintu ruangan Vina.


"Masuk" jawab Vina dari dalam ruangan, masih tetap serius membaca dokumen yang baru dari pagi selesai dibaca Vina sebanyak empat buah. Tetapi semua dibaca dengan sangat teliti.


Sari masuk ke dalam ruangan Vina. Dia melihat tumpukan dokumen yang dibaca Vina tidak sebanyak dirinya, tetapi jangan salah, walaupun sekarang tidak banyak, dokumen yang dibaca Sari sekarang akan berpindah ke ruangan Vina, saat selesai di baca oleh Sari.


"Mau ngajak makan siang Sar? Gimana kalau di pesan aja, tengok ne tumpukan dokumen, luar biasa dari pada hari biasanya" ujar Vina sambil menunjuk dokumen dokumen yang ada di atas mejanya itu.


"Nggak Vin. Juan akan kesini membawakan kita makan siang. Capek gue di ruangan, ada tiga tumpuk dokumen yang harus gue baca. Jadi, mending gue ke sini, bawa empat, nanti habis balik lagi, ambil lagi" ujar Sari menyebutkan berapa banyak dokumen yang ada di atas meja kerjanya sekarang ini.


Sari kemudian duduk di sofa ruangan Vina. Dia membuka satu botol air mineral dan meneguk nya setengah.


"Berapa banyak Sar? Tiga tumpuk? Loe serius atau bercanda Sar?" tanya Vina kepada Sari sambil menatap ke arah Sari.


"Serius. Itu baru selesai tiga ntah empat yang gue baca. Efek jalan jalan dua minggu, jadinya ya lembur." kata Sari sambil mulai serius kembali membaca dokumen yang sedang dibaca olehnya.


Vina, Sari dan Maya melanjutkan pekerjaan mereka yang sangat luar biasa banyaknya karena ditinggal liburan dua minggu. Maya memang telah selesai makan siang, sedangkan Vina dan Sari masih menunggu kedatangan Juan yang sedang terkena macet di jalan. Mereka berdua menunggu sambil tetap membaca dokumen dokumen yang ada di atas meja masing masing.


Tidak beberapa lama, Juan datang dengan membawa kotak makanan dari restoran ternama di ibu kota negara E.


Tok tok tok. Juan mengetuk pintu ruangan Vina. Sari yang berada paling dengat dengan pintu, langsung berjalan ke arah pintu ruangan dan membuka pintu itu.


"Sayang, aku tadi udah ke ruangan kamu, ternyata kamu nggak ada. Aku udah coba menghubungi kamu, tapi nggak ada jawaban sama sekali. Makanya aku langsung ke ruangan Vina" ujar Juan.


"Hem sepertinya wangi sayang" ujar Sari sambil membawa kotak makanan itu masuk ke dalam ruangan Vina.


Vina sudah pergi mengambil piring dan air minum untuk mereka bertiga. Sari membuka kotak makanan, saat kotak makanan itu di buka, menyeruak wangi dari aroma makanan yang membuat perut siapa saja menjadi lapar saat mencium aroma wangi dari makanan yang dibawa oleh Juan.


"Sayang, semua ini makanan favorit aku semuanya. Kamu bener bener lah sayang. Aku jadi nggak bisa berkata kata lagi" ujar Sari memandang kagum kepada Juan yang selalu mewujudkan apa keinginan Sari. Baik yang diminta oleh Sari atau yang berasal dari Juan sendiri.


Juan tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Sari. Dia memang selalu menomorsatukan Sari. Bagi Juan nggak ada yang lain yang harus diperjuangkan olehnya selain Sari yang dimilikinya sekarang.


"Udah ayuk makan keburu dingin sop jagung saat melihat kalian bertatap tatapan mesra kayak gitu" ujar Vina memecah pandangan pandangan penuh cinta antara Sari dan Juan.


"Sirik loe" ujar Sari sambil memukul lengan Vina.


"Nggak ada gue sirik, yang sirik itu perut gue siang ini, dia meronta mintak diisi" ujar Vina memegang perutnya yang sudah sangat lapar itu.


"Oke mari kita makan, gue juga lapar" ujar Sari.


Sari mengambilkan makanan untuk Juan. Setelah itu baru dia dan Vina mengisi piring mereka masing masing. Mereka bertiga makan dengan sangat lahap dan cepat. Masih banyak. Dokumen dokumen yang harus mereka kerjakan hari ini.


"Akhirnya sumatera tengah udah ke isi dengan sempurna. Saatnya untuk kembali berkutat dengan pekerjaan. " ujar Vina sambil bersandar ke sandaran sofa.


"Kapan selesainya itu Vin" ujar Sari yang mengeluh karena banyaknya dokumen yang harus dibaca mereka hari ini.


"Sayang berapa dokumen yang harus siap untuk besok dan lusa?" tanya Juan yang berharap Sari mengatakan hanya beberapa dokumen saja.


"Semuanya sayang, belum lagi harus dibaca sama Vina" ujar Sari sambil menatap Vina.


Vina terdiam, dia benar benar tidak sanggup lagi membaca dokumen dokumen yang ada di ruangan Sari.


"Sar, gue mohon selesaikan sama elo yang itu ya. Yang urgent dan wajib gue baca baru serahkan ke gue. Nggak sanggup gue harus baca semua dokumen itu." ujar Vina yang sudah menyerah untuk membaca dokumen yang sebanyak itu.


"Oke, nanti gue pisah mana yang perlu loe baca kembali, mana yang bisa hanya selesai di gue aja." ujar Sari yang menyetujui permintaan Vina.


Sari juga melihat begitu banyak dokumen yang harus dibaca oleh Vina saat ini. Sari tidak ingin Vina menjadi lelah dan tidak fokus bekerja kalau harus membaca semua dokumen yang masuk.


"Gue balik ke ruangan dulu Vin" ujar Sari.


"Sip" ujar Vina.


Sari dan Juan kembali ke ruangan Sari. Mereka akan membaca dokumen dokumen yang ada di ruangan Sari. Vina membersihkan meja yang tadi mereka pakai untuk makan. Vina memasukkan semua kotak kotak ke dalam kardus makananmakanan. Setelah itu dia menghubungi office boy untuk meminta office boy membawa kotak itu ke belbelakanh.

__ADS_1


Vina kemudian kembali bekerja membaca dokumen dokumen kerjasama yang masuk ke dalam perusahaan mereka. Vina membaca dengan sangat serius dokumen dokumen itu.


Sedangkan di ruangan sebelah terlihat Juan sudah duduk di sofa. Sedangkan Sari memindahkan letak dokumen dokumen itu ke atas meja yang ada di depan Juan.


"Sayang ini beneran harus di baca semuanya?" tanya Juan saat melihat tiga tumpuk dokumen yang harus dibaca.


"Iya sayang. Ini semua harus dibaca. Aku akan memisahkan yang harus dibaca Vina, dan hanya selesai di kita berdua aja" ujar Sari sambil memilah milah dokumen yang harus dibaca oleh Vina nantinya.


"Ini bener bener wow sayang" ujar Juan melihat dokumen dokumen itu.


"Bisa keluar mata aku sayang" lanjut Juan sambil geleng geleng kepala.


"Nikmati aja sayang" ujar Sari sambil tersenyum melihat Juan yang sudah menyerah sebelum berperang.


Sari sudah memilah dokumen dokumen itu menjadi dua tumpukan. Satu tumpukan yang harus kembali dibaca oleh Vina, sedangkan yang satu tumpukan lagi bisa selesai di mereka berdua saja.


"Sayang serius kamu, yang harus selesai dengan kita berdua sebanyak ini?" tanya Juan kembali saat melihat banyaknya dokumen yang harus mereka baca.


"Sayang denger dulu pembagiannya, kamu percaya diri banget kalau hanya ini yang harus dibaca." ujar Sari sambil menatap Juan.


"Bagian yang ini ni, yang untuk Vina, aku yang baca. Sedangkan yang ini ni, yang harus selesai di aku, maka kamu yang akan baca" ujar Sari menunjukkan kepada Juan mana yang harus dibaca Juan dan yang harus dibaca dirinya sendiri.


"Jadi, aku yang harus baca dokumen yang untuk Vina. Sedangkan kamu membaca dokumen yang selesai di kamu aja?" tanya Juan meyakinkan dirinya kembali.


"Iya sayang, aku sangat yakin dengan kemampuan kamu, makanya aku memberikan yang selesai di aku ke kamu." ujar Sari sambil memejam mejamkan matanya.


"Yayayaya, kamu keren sayang, kamu ngasih kerjaan yang harus aku kerjakan dengan serius" ujar Juan sambil mengambil satu dokumen yang harus dibacanya.


Juan mulai membaca dokumen dokumen itu dengan serius. Sari juga melakukan hal yang sama, mereka sama sama membaca dokumen kerjasama itu dengan serius.


Vina melihat jam dinding ruangan kantornya, ternyata jam dinding sudah menunjukkan pukul lima sore


"Wow sudah terlalu sore, Sari mau pulang atau tidak ya?" ujar Vina sambil membereskan dokumen dokumen yang belum sempat dibaca olehnya.


Vina membereskan meja kerjanya. Dia memasukkan dokumen yang belum sempat dibacanya itu ke dalam tas kerjanya. Dia akan membaca dokumen dokumen itu nanti di rumah saat beristirahat malam.


Setelah yakin semua dokumen yang akan dibaca telah masuk ke dalam tas, Vina berjalan keluar dari dalam ruangannya, dia akan menuju ruangan Sari.


Tok tok tok. Vina mengetuk pintu ruangan Sari. Juan yang berada di dekat pintu, membuka pintu ruangan.


"Masuk Vin" ujar Juan mempersilahkan Vina untuk masuk ke dalam ruangan Sari.


"Mana Sari, Juan?" tanya Vina yang tidak melihat Sari berada di ruangan.


"Sari sedang ke kamar mandi" jawab Juan sambil kembali duduk di sofa yang tadi didudukinya.


Vina juga duduk di sofa muat satu orang. Vina menunggu Sari keluar dari dalam kamar mandi.


"Apa yang kamu baca Juan?" tanya Vina saat melihat Juan membaca dokumen perusahaan.


"Biasa kayak nggak tau Sari aja. Dia berbagi tugas" ujar Juan masih serius membaca dokumen dokumen itu.


Sari kemudian keluar dari dalam kamar mandi. Dia melihat Vina sudah ada di ruangannya.


"Hay Vin" ujar Sari menyapa Vina. Sari kemudian duduk di sebelah Juan.


"Jam berapa mau pulang? " tanya Vina kepada Sari.


"Bentar lagi. Loe bareng kami kan pulang?" tanya Sari yang tau kalau Vina tidak dijemput oleh Pak Hans.


"Yup.Pak Hans sama Maya. Ayoklah pulang lagi. Gue pengen mandi" ujar Vina yang bener bener sudah gerah ingin membersihkan badannya.


"Sayang, yuk kita pulang, biar Vina bisa beristirahat" ujar Sari mengajak Juan untuk pulang.


"Ini kita bawa?" tanya Juan.


"Yup.Nanti kita bahas di rumah. Kasihan tuh tengok wakil direktur udah pengen loncat matanya" ujar Sari yang memang berniat untuk melanjutkan pekerjaannya di rumah.


"Oke, mari pulang" ujar Juan.


Mereka bertiga kemudian berjalan keluar kantor. Juan, Sari dan Vina masuk ke dalam mobil, Juan melajukan mobil menuju rumah Vina.


"Capek banget gue" ujar Vina sambil memijit kepalanya.


"Libur dua minggu kan enak Vin" kata Juan menggoda Vina.


"Enak, tapi siap itu nggak enak. Lembur gue" ujar Vina.


"nikmati aja Vin" jawab Juan.


Sari sangat senang Vina dan Juan bisa akrab. Padahal selama ini Juan susah untuk akrab dengan teman teman Sari yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2