
Semua manager dan karyawan sudah berkumpul di dalam ruang meeting itu. Mereka semua dalam posisi takut saat ini apalagi melihat keadaan Vina yang luar biasa membuat siapa saja menjadi ketakutan.
"Silahkan duduk semuanya" ujar Vina menyapa manager dan semua karyawan bagian keuangan dengan ramah dan tersenyum. Tetapi setiap yang kenal dengan Vina mereka tahu kalau senyuman Vina kali ini tidak sampai menyentuh mata Vina. Senyum Vina kali ini murni hanya senyum basa basi yang harus ditampilkan oleh Vina untuk membuat semua karyawan merasa nyaman masuk ke dalam ruang meeting itu.
Manager dan semua karyawan kemudian duduk di kursi yang ada di ruang meeting itu. Mereka menatap ke arah Vina. Salah satu karyawan melihat Vina membawa laporan keuangan. Hanya satu itu dokumen yang ada di atas meja Vina.
Karyawan yang melihat dokumen keuangan itu sudah bisa menebak apa yang akan terjadi kepada mereka hari ini.
'Semoga yang berbuat bisa untuk mempertanggung jawabkan apa yang telah dilakukannya' ujar Karyawan tersebut di dalam pikirannya sendiri.
'Saya tidak mau menanggung hal yang tidak saya lakukan' lanjut karyawan itu sambil menatap ke arah Vina dengan tatapan saya bukan pelakunya Nona.
Vina mengerti akan arti tatapan karyawan itu. Tetapi Vina tidak mau memberikan perlakuan khusus kepada karyawan itu. Makanya Vina sama sekali tidak mengangguk atau memberikan kode apapun kepada karyawan itu. Vina tetap dengan wajah tegangnya menatap setiap orang yang ada di sana.
Beberapa karyawan terlihat sudah berbisik bisik satu dengan yang lainnya. Mereka menebak nebak kenapa mereka bisa dipanggil satu ruangan ke dalam ruangan meeting itu. Apalagi di sana hanya ada Vina sendiri saja. Tidak ada Nona Sari ataupun manager bidang yang lainnya.
"Maaf sebelumnya, apa kalian semua sudah tahu kenapa saya panggil ke sini?" tanya Vina kepada semua karyawan bagian keuangan.
Vina menatap ke arah karyawan bagian keuangan itu satu persatu. Mereka yang ditatap oleh Vina ada yang menekurkan kepala dan ada yang menatap Vina balik. Vina tersenyum bahagia, ternyata masih ada karyawannya yang jujur dan tidak ikut dalam komplotan yang akan merugikan perusahaan itu.
Setelah menatap satu persatu wajah karyawannya, Vina kemudian mengangkat laporan keuangan yang ada di atas meja. Semua karyawan langsung menatap tidak percaya kepada apa yang dipegang oleh Vina di depan mereka saat ini.
"Kalian bisa lihat apa yang saya pegang ini?" tanya Vian kepada semua karyawan dan manager bagian keuangan.
Mereka melihat dan mengangguk mengatakan kalau mereka tahu apa yang sedang dipegang oleh Vina sekarang ini.
"Ada yang bisa jelaskan ada apa dan kenapanya?" ujar Vina mulai merubah aura yang ada di dalam ruangan itu.
__ADS_1
Vina memang bisa bersahabat dengan semua karyawan. Tetapi saat ada yang melakukan tindakan yang akan merugikan Vina, Vina akan bisa berubah menjadi orang yang menakutkan.
Semua karyawan hanya menatap Vina saja. Mereka sama sekali tidak ada yang menjawab pertanyaan dari Vina. Mereka kompak untuk diam.
"Hello kenapa semuanya pada diam ya? Aku bertanya serius ini" ujar Vina sekali lagi menyapa orang orang yang ada di dalam ruangan itu.
Mereka masih saling berbisik satu dengan yang lainnya tanpa ada yang berani untuk mengatakan kepada Vina apa yang terjadi dengan laporan keuangan yang sedang di pegang oleh Vina.
Vina menatap tajam satu persatu wajah setiap orang orang bagian keuangan itu. Vina ingin melihat siapa dalang di balik kerusuhan bagian keuangan itu.
"Hello bisa jawab aku. Siapa orangnya" ujar Vina sambil melihat ke arah mereka semua.
Mereka sama sekali tidak ada yang mau mengaku. Mereka hanya saling berbisik bisik satu dengan yang lainnya. Vina masih bersabar untuk menunggu salah satu dari mereka ada yang mau mengaku tentang apa yang terjadi.
"Saya beri waktu lima menit lagi untuk kalian mengaku ada apa dan kenapa bisa seperti ini" ujar Vina dengan menghempas laporan keuangan yang tadi di pegangnya. Vina menghempas laporan keuangan itu dengan sangat kuat. Sampai sampai mereka yang ada di sana menjadi sangat kaget dengan apa yang dilakukan oleh Vina.
"Jadi, masih tetap tidak ada yang mau mengaku?" tanya Vina kepada manager dan staff bagian keuangan perusahaan CT Grub.
Vina kemudian mengambil ponsel miliknya. Dia menghubungi temannya yang seorang pimpinan polisi di daerah itu. Vina meminta temannya untuk datang ke perusahaannya. Sebelumnya Vina sudah menceritakan kepada temannya itu tentang korupsi besar besaran yang dilakukan beberapa karyawan bagian keuangan tersebut.
"Maaf karena tidak ada yang mau mengaku siapa yang sudah melakukan hal seperti ini, saya terpaksa harus menghubungi salah seorang teman saya untuk memberikan tindakan kepada kalian semua. Biarlah dia yang mencari tahu siapa pelaku sebenarnya" ujar Vina berkata sambil melihat kepada semua karyawan bagian keuangan.
"Saya sudah memberikan kesempatan kepada kalian tadi untuk mengakui semua kesalahan kalian. Tetapi sayangnya kalian tidak menggunakan kesempatan itu dengan baik. Kalian tetap dengan pendirian kalian yang salah" lanjut Vina memberikan tatapan penuh kekecewaan kepada mereka yang berada di depannya saat ini.
"Sumua fasilitas diberikan oleh perusahaan. Gaji besar, belum lagi tunjangan yang lainnya. Tapi kalian masih melakukan kesalahan fatal itu. Kenapa harus korupsi. Kurang uang silahkan pinjam, bukan mencuri seperti ini" kata Vina sambil menatap wajah mereka satu persatu. Vina beneran kesal dengan mereka semua. Vina tidak menyangka mereka berani mengkhianati perusahaan yang telah melakukan segalanya kepada Vina.
"Sekarang lebih baik kita menunggu saja lagi. Menunggu apa hasil intrograsi dari pihak berwajib. Saya sebenarnya bisa melakukannya. Tetapi lebih baik langsung saja kepada pihak berwajib. Jadi, saya dengan kalian tidak ada yang saling menyakiti." lanjut Vina yang lebih memilih untuk memberikan semua karyawannya kepada pihak yang berwajib. Vina sama sekali tidak mau berurusan dengan mereka lagi. Vina benar benar capek dengan semuanya.
__ADS_1
Vina mengeluarkan ponsel miliknya. Dia kemudian menghubungi Sari. Sari yang sedang dalam perjalanan menuju mansion keluarga Sanjaya mengangkat panggilan dari Vina.
"Hallo Vina, ada apa?" tanya Sari sambil melihat ke arah Deli keponakannya itu. Deli sedang tertidur di kursinya yang tepat di sebelah Sari. Deli tidak mau semobil dengan Atuk dan Nenek. Dia memilih untuk satu mobil dengan Sari.
"kamu dimana Sar?" tanya Vina kepada Sari.
Vina mendengar suara tip mobil yang sedang berbunyi dengan pelan. Sari sepertinya berada di dalam mobil untuk menuju suatu tempat.
"ini mau pergi dengan Juan. Ada apa Vin?" tanya Sari yang penasaran kenapa tiba tiba saja Vina menghubungi dia.
"Begini Sar" ujar Vina yang mulai akan menceritakan kepada Sari apa yang terjadi di perusahaan.
Vina kemudian menceritakan kepada Sari apa yang terjadi di perusahaan. Sari menyimak semua cerita Vina. Sari kagum kepada Vina. Vina lebih memilih untuk melaporkan langsung ke pihak yang berwajib tanpa dia harus mengotori tangannya dengan memaki maki setiap karyawan bagian keuangan itu.
"Gue setuju Vin. Memang lebih bagus kalau permasalahan ini kita berikan kepada pihak yang berwajib. Jadi, kita tidak perlu mengotori tangan kita dengan menindak mereka yang bersalah" lanjut Sari yang mendukung sepenuhnya keputusan yang diambil oleh Vina
"Tapi Sari, mereka yang tidak bersalah akan tetap kita Terima di perusahaan ini. Semoga itu menjadi pelajaran bagi mereka. Zaman sekarang sangat susah mencari pekerjaan. Makanya gue memutuskan untuk tetap menerima mereka di perusahaan. Apa loe setuju dengan pendapat gue?" tanya Vina selanjutnya yang masih tetap memikirkan setiap karyawan yang tidak bersalah itu.
Vina tidak mau, kalau karyawannya yang jujur harus menjadi korban dari karyawan yang sudah berani berbuat curang terhadap perusahaan.
"gue setuju Vin. Bagi yang tidak bersalah lanjut kerja. Yang bersalah pecat dengan tidak hormat dan langsung ajukan tuntutan hukum" ujar Sari yang geram ternyata ada yang berani bermain di perusahaan milik keluarganya itu.
"Oke sip. Nanti perkembangannya gue telpon ke elo lagi. Hati hati di jalan Sar" ujar Vina mengakhiri percakapannya dengan Sari.
"Oke gue tunggu lanjutan ceritanya" jawab Sari yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Vina.
Sari akan menunggu perkembangan kasus itu dari Vina. Sari memutuskan untuk menghubungi Ivan dan meminta Ivan untuk datang ke mansion Anggur milik Papi Danu.
__ADS_1