
Mereka bertiga kemudian menyantap menu makan siang yang sudah di pesan oleh Ayah. Mereka akan berbincang bincang nanti setelah makan siang mereka selesai. Ayah, Ivan dan Iwan makan dalam suasana hening. Apalagi Ivan, menu makanan yang disajikan oleh Ayah adalah menu makanan favoritnya untuk makan siang, maka jangan diharap kita akan mendengar suara Ivan. Ivan akan makan dengan lahap dan akan bersuara kembali nanti pada saat dia sudah selesai menikmati makan siangnya itu.
"Jadi, apa yang mau Ayah obrolin dengan kami Ayah?" ujar Ivan yang sudah kembali duduk di sofa ruang kerja Ayah. Ivan duduk persis di depan Ayah, di sofa yang bisa diisi untuk dua orang, Ivan sengaja duduk di sana supaya nanti Iwan bisa duduk di sebelahnya.
Iwan yang baru selesai menaruh piring kotor di bagian pantry ruangan, juga ikut duduk di sebelah Ivan. Mereka bertiga akan mengobrol apa yang akan disampaikan oleh Ayah tadi kepada mereka berdua. Obrolan yang sepertinya sangat penting sehingga membuat Ayah memaksa Ivan dan Iwan untuk datang ke tempatnya.
"Kamu sudah melakukan hal apa dengan komputer hebat kamu itu untuk mencari tahu keluarga Wijaya" ujar Ayah bertanya kepada Ivan yang memang sedang teropsesi untuk mengetahui siapa sebenarnya keluarga Wijaya itu.
Ivan yang sedang menikmati es tehnya, langsung berhenti menyeruput es teh itu. Ivan menatap Ayah sekilas. Ivan tidak mengerti kenapa Ayah tiba tiba bertanya tentang keluarga Wijaya.
'Ada apa ini?' ujar Ivan dalam hatinya. 'Kenapa Ayah tiba tiba menanyakan tentang keluarga Wijaya?' lanjut Ivan bertanya tanya dalam hati dan pikirannya sendiri tentang pertanyaan yang diajukan oleh Ayah tentang keluarga Wijaya.
"Belum ada mencari data tentang mereka Yah. Nggak ketemu sama sekali di internet. Lagian aku sudah tidak berminat lagi mencari tau tentang mereka, aku sudah menghapus semua berita buruk tentang Ranti yang tersebar di internet." jawab Ivan sambil melihat ke wajah Ayah yang sempat tegang saat akan membicarakan tentang keluarga Wijaya.
"Kenapa wajah Ayah tadi sempat tegang?" ujar Ivan yang akhirnya menanyakan juga kejanggalan dari wajah Ayah yang terlihat oleh Ivan dan Iwan.
"Kenapa kamu menghapus berita tentang Ranti?" ujar Ayah bertanya kembali kepada Ivan.
"Ayah jawab dulu pertanyaan aku, kenapa wajah Ayah sangat tegang saat membicarakan keluarga Wijaya" ujar Ivan kembali mengajukan pertanyaan yang sama kepada Ayah. Ivan sangat penasaran dengan perubahan wajah Ayahnya saat membicarakan tentang keluarga Wijaya. Seperti ada sesuatu yang tidak diberitahukan oleh Ayah kepada Ivan tentang keluarga yang satu itu.
Ayah mengusap wajahnya dengan telapak tangannya itu. Ayah menatap ke arah Ivan dan Iwan secara bergantian. Ayah menghembuskan nafasnya dengan berat. Ayah harus menjelaskan kepada Ivan dan Iwan kenapa Ayah sempat tegang saat membicarakan tentang keluarga Wijaya.
"Ayah sangat lega kalau kamu masih belum berurusan dengan keluarga Wijaya, Van" ucap Ayah sambil melihat ke arah anak laki lakinya itu. Kelegaan Ayah sangat terpancar di wajahnya. Ivan memang sempat melihat wajah tegang Ayah dari tadi pagi, Ivan mengira kalau wajah tegang Ayah karena pekerjaan, tetapi ternyata tidak. Wajah tegang Ayah adalah akibat dari Ayah yang memikirkan Ivan masih melakukan pelacakan terhadap segala sesuatu tentang keluarga Wijaya.
__ADS_1
"Kenapa Ayah? Sepertinya keluarga itu cukup mengerikan" ujar Ivan menanggapi pernyataan dari Ayah sebentar ini.
"Sehingga membuat wajah Ayah menjadi sangat tegang dari tadi pagi" lanjut Ivan mengomentari wajah Ayahnya yang memang seperti karet gelang mau putus sejak tadi pagi.
Pernyataan yang membuat Ivan dan Iwan langsung saling menatap sebentar dan akhirnya Ivan bertanya kepada Ayah apa maksud dari perkataan Ayah yang mengatakan kalau keluarga Wijaya merupakan keluarga yang kalau bisa tidak berurusan dengan mereka lewat belakang.
"Mereka adalah keluarga mafia yang sangat ditakuti di negara E. Ayah tidak mau hanya karena wanita itu, kamu membahayakan semua keluarga kita dan semua bisnis yang sudah kita bangun dengan susah payah" ujar Ayah memberitahukan kepada Ivan dan Iwan siapa keluarga Wijaya yang sebenarnya.
Ivan melihat ke arah Ayah. Ivan menimbang nimbang apa yang dikatakan oleh Ayah.
'Keluarga Mafia negara E?' ujar Ivan mengulang ulang di kepalanya.
'Pantesan data mereka sama sekali tidak bisa diakses. Ternyata mereka mafia kelas kakap' ujar Ivan berbicara sendiri dengan pikirannya.
'Tapi kenapa gue nggak pernah denger nama keluarga itu ya di negara E? Atau gue kali yang nggak mengenal luas pebisnis yang sekaligus mafia di negara E?' lanjut Ivan berbicara sendiri dengan dirinya. Tanpa ada yang mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh Ivan saat ini.
"Kenapa kamu diam Van? Kamu masih mau mencari tahu tentang keluarga Wijaya itu?" ujar Ayah bertanya kepada Ivan.
"Ayah nggak mau Van, kamu berurusan dengan mereka" lanjut Ayah menyuarakan keengganannya dan larangannya kepada Ivan.
"Nggak akan Ayah. Aku tidak akan berurusan dengan yang namanya mafia. Bisa bisa Aku nggak akan ke luar dari jaringan itu. Aku nggak mau terikat dengan mereka." lanjut Ivan yang memang sama sekali tidak berminat untuk berurusan dengan yang namanya mafia.
"Alergi banget harus berurusan dengan mereka" jawab Ivan yang memang sama sekali tidak mau berurusan dengan mafia.
__ADS_1
Padahal dengan kemampuan yang dimiliki oleh Ivan, dia bisa saja menjadi bagian penting dari jaringan jaringan tersebut. Tetapi Ivan memilih untuk tidak berurusan dengan mereka, karena Ivan tidak mau membahayakan keluarga besarnya. Bagi Ivan keluarga adalah di atas segala galanya, uang dan jabatan serta tahta bisa Ivan cari dimana mana tetapi keselamatan keluarga Ivan, siapa yang bisa menjaminnya. Jadi pilihan Ivan sudah tepat untuk tidak terlibat dalam jaringan atau kelompok mafia manapun.
"Ayah tau keluarga itu mafia dari mana?" ujar Iwan yang kali ini bertanya kepada Ayah untuk memastikan sumber berita yang dipakai oleh Ayah.
"Dari sahabat Ayah yang juga mafia di negara E." ujar Ayah menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Iwan.
"Mafia juga?" ujar Ivan yang gagal paham dengan sumber yang dipercaya oleh Ayah.
Ayah mengangguk meyakinkan Ivan kalau jawaban yang diberikan oleh Ayah adalah benar.
"Kok Ayah bisa kawan dengan dia?" ujar Ivan kembali melanjutkan pertanyaannya.
"Ayah sudah lama kenal dengan dia Van. Tetapi Ayah sama sekali tidak ada melakukan kerja sama bisnis dengan dia." jawab Ayah " Dia juga tidak mau menjalin bisnis dengan Ayah, karena dia sangat tahu Ayah paling alergi dengan kata mafia." lanjut Ayah menjelaskan kepada Ivan bagaimana persahabatan yang terjalin antara Ayah dengan teman mafianya itu.
"Oh. Terus mana yang lebih kuat, teman Ayah atau Wijaya?" ujar Ivan bertanya kembali.
"bukan urusan Ayah Van, jadi Ayah tidak bertanya sampai ke sana" jawab Ayah dengan santainya
"Bagi Ayah kamu sudah tidak berurusan dengan keluarga Wijaya, itu yang paling penting" jawab Ayah sambil melihat ke arah anak laki lakinya.
"Siap Ayah, nggak bakalan mau berurusan dengan mafia" jawab Ivan
Mereka bertiga kemudian melanjutkan obrolan singkat seputar pekerjaan yang masih harus dikerjakan oleh Ayah sebelum Ayah memberikan tanggung jawabnya kepada Danu saat Danu sudah selesai urusan perceraiannya dengan Ranti.
__ADS_1