
Jam pulang kantor sudah berbunyi, Vina, Iwan dan Ifan beranjak dari kursi mereka masing masing. Mereka sudah sangat lelah seharian ini bekerja dan menghendle pekerjaan Danu yang sedang dinas luar.
"Vin, kami ke rumah kamu ya. Laper ini" kata Iwan sambil memegang perutnya.
"Boleh bang. Ayuk kebetulan malam ini menunya Maya iga bakar dimakan pake nasi goreng enak itu"
"Pas" jawab Ifan.
Mereka bertiga kemudian pergi ke rumah Vina. Mereka akan makan malam di sana. Iwan dan Ifan selalu kalau tidak ada Danu maka mereka yang akan selalu menemani Vina. Bagi mereka Vina sudah seperti adik perempuan. Tak terasa mereka sudah sampai di rumah Vina. Disana terlihat sudah banyak pembeli yang membeli beberapa makanan.
"Bang di teras aja yuk." ajak Vina kepada Iwan dan Ifan.
Mereka berdua lalu mengangguk tanda setuju. Tidak mungkin mereka berdua akan duduk bersama ibu ibu yang sedang asik ngerumpi di kursi yang ada di watung sederhana itu.
"Aku tukar baju dulu bang. Kalian pesan aja sama Maya apa yang mau"
Vina kemudian membersihkan dirinya dan menukar pakaian kantornya dengan pakaian rumahan. Setelah semua rutinitas dia selesai Vina kembali ke teras rumah.
"Loh kok belum pesan apa apa bang?" ucap Vina yang nelihat meja di depan Iwan dan Ifan masih kosong.
"Maya sibuk kali kayaknya Vin. Kami nggak mau ganggu dia" jawab Iwan.
"Ya udah aku aja yang bikin. Mau pesan apa?"
"Yang enak aja" jawab Ifan yang lagi males mikir.
Vina kemudian pergi ke dalam rumah. Dia akan membuat nasi goreng iga bakar dan es coklat. Vina sibuk di dapur selama satu jam. Setelah selesai membuat makanan dan minuman, Vina membawa semuanya ke teras depan tidak lupa pula dengan kerupuk sebagai pelengkapnya.
"Wau ini pasti enak"
"Enak lah gue yang bikin" sombong Vina.
Mereka bertiga lahap memakan masakan dan minuman buatan Vina. Tiba tiba ponsel Vina berdering.
"Hay sayang" kata Vina sambil menatap wajah Danu di ponselnya.
"Kamu sedang ngapain? Kenapa duduk di luar?" Danu mulai posesif.
"Woi bro posesif banget sih lo" kata Iwan.
"Vin, kenapa ada suara laki laki?" kata Danu yang mukanya udah mulai menunjukkan muka kesal.
"Sayang tu laki lakinya" kata Vina sambil mengarahkan kamera ponselnya ke arah Iwan dan Ifan yang sedang makan.
"Woi loe berdua jangan nyusahin pacar gue aja. Makan sono di restoran, ngapain harus di situ" kata Danu kesal.
"Bos, kan bos yang nyuruh kalau bos keluar kota maka kami yang menjaga Vina. Bos amnesia?"
"Menjaga sih menjaga tapi nggak nyusahin juga" kata Danu yang mulai kesal.
Vina yang tau Danu kesal langsung berdiri menuju kamarnya.
"Sayangku kenapa marah marah gitu?"
__ADS_1
"Sayang"
"Hay sayang, mereka itu teman baik kita. Nggak usah pake marah marah ya. Nanti kalau mereka nggak mau jagain aku, dan terjadi sesuatu kepadaku, siaap coba yang mau menolong?" Vina merayu Danu.
"Iya sayang. Maafin aku ya sayang" kata Danu.
"Sayang aku lanjutin makan dulu ya. Nanti malam kita VC lagi ya."
"Oke sayang. Aku juga ada kerjaan lagi. Nanti ya siap aku kerja aku VC kamu lagi"
"Muach"
"Muach. Hati hati sama makhluk ajaib berdua itu ya"
Vina kemudian kembali ke teras depan. Dia sangat segan meninggalkan Iwan dan Ifan dalam waktu lama.
"Udah Vin?"
"Udah bang biasa sok protektif"
Vina kemudian melanjutkan makan malamnya yang tertunda dan meminum teh hijau hangatnya.
Mereka kemudian mengobrol tak tentu arah sampai jam sebelas malam. Ifan membantu Maya menutup warung kecil mereka.
"Kami pulang dulu Vin"
"Oke bang. Besok pagi aku yang bawa sarapan jangan beli di luar lagi" kata Vina.
"Sip"
"Vin, tadi ada orang kantor mesan nasi goreng seafood sebanyak lima porsi. Aku yang ngantar atau kamu yang bawa langsung besok pagi?"
"Aku yang bawa aja. Kamu tungguin warung aja ya"
"Sip"
Mereka berdua kemudian langsung menyiapkan semua bahan bahan yang akan diolah subuh.
"May, menurut kamu kalau kita buka kafe aja bagaimana?"
"Setuju Vin. Tapi kerjaan kamu bagaimana?"
"Iya juga ya May. Kayak gini ajalah dulu May."
"Juan bagaimana May?" lanjut Vina yang teringat dengan sepupunya itu.
"Komunikasi ada. Rencananya dia mau ngajak aku jalan malam minggu ini. Jadi malam minggu aku tutup warung ya Vin?" kata Maya menatap Vina dengan penuh harap.
"Oke. Nggak apa apa. Asal jangan tiap malam minggu aja" jawab Vina sambil tersenyum.
"Itu mah aman. Aku juga nggak mau tiap malam minggu tutup. Rugi bandar"
"Hahahahahahaha" mereka berdua tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Maya.
__ADS_1
Walaupun diselingi dengan canda tawa, pekerjaan mereka untuk menyiapkan semua bumbu yang akan diolah besok subuh akhirnya selesai juga.
"May, aku ke kamar duluan ya." kata Vina sambil melihatkan video call dari Danu.
"Sip" kata Maya sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Vina langsung saja masuk ke kamarnya. Dia membaringkan tubuhnya di atas kasur.
"Hay sayang"
"Kok lama sayang?" kata Danu.
"Tadi siap nyiapin bumbu untuk pesanan besok sayang. Kamu sedang ngapain?"
"Seperti yang kamu lihat sayang. Berbaring di atas kasur sambil menatap wajah cantik yang memenuhi layar ponsel ku"
"Mulai gombalan nggak berbobotnya tuh" kata Vina sambil memonyongkan bibirnya.
"Hahahahaha. Sayang kondisikan bibirnya ya. Nanti aku gigit loh"
"Aw. Jangan sayang sakit" kata Vina menggoda Danu.
"Sayang kamu udah pinter menggoda aku ya" kata Danu.
"Hahahaha. Sayang, aku kangen. Jangan lama lama di sana ya sayang"
"Siap sayang, aku berusaha untuk meringkas waktu bekerja di sini. Aku juga sangat ingin cepat selesai sayang. Aku juga sangat sangat sangat kangen sama kamu" kata Danu menatap Vina.
Vina tiba tiba mengusap sudut matanya yang sudah berair.
"Sayang jangan nangis gitu. Aku jadi nggak tenang disini sayang."
"Sayang. Aku bener bener kangen sayang."
"Tau sayang, tapi mau bagaimana lagi. Aku di sini kerja sayang. Aku berusaha untuk cepat pelang ke sana. Jangan nangis lagi ya sayang"
"Janji cepat pulang ya. Aku nggak mau kamu lama lama di sana. Aku malas sendirian di sini"
"Iya sayang, aku janji akan cepat pulang. Oke. Udah jangan nangis lagi ya. Aku akan selalu menghubungi kamu."
"Janji?"
"Janji sayangku" ucap Danu sambil menghapus air mata Vina melalui layar ponselnya.
"Udah dulu ya sayang. Aku mau kerja lagi" lanjut Danu.
"Biarin hidup ponselnya sayang. Aku mau nengokin kamu kerja sampai tertidur. Bolehkan?" kata Vina yang tidak ingin melepaskan matanya dari wajah Danu.
"Oke nggak apa apa. Tapi kamu janji harus tidur."
"Siap manager"
Danu akhirnya bekerja kembali. Dia harus cepat menyelesaikan semua pekerjaannya. Dia harus cepat pulang.
__ADS_1
Vina yang sudah tidak tahan lagi menahan kantuknya, langsung saja terlelap tidak berapa lama setelah memerhatikan Danu yang bekerja dengan sangat giat