
"Jadi kok bisa ya Bang Danu sampe juga di negara U? Apa dengan menyogok Bang Iwan dan memaksa Bang Iwan untuk mengakui kalau Vina berada di negara ini?" tanya Maya sambil melihat ke arah Danu.
"Tante Maya, nggak ada kayak gitu. Ayah nggak ada tanya tanya sama Om Iwan. Ayah cari sendiri Bunda kue dimana." ujar Deli membela Ayahnya dihadapan Ivan dan Maya.
"Tau nggak tante, kami cari Bunda itu secara nggak sengaja aja. Kan kami ke kafe yang sedang viral di negara ini. Eee ternyata pas kami diarahkan ke tempat duduk di kafe itu, kami melihat latar belakang tempat duduk kami itu adalah tempat duduk yang biasa Bunda kue duduk. Makanya kami langsung yakin kalau di sana adalah tempat biasa Bunda kue duduk melakukan video call dengan kami" ujar Deli memberitahukan kenapa mereka bisa bertemu dengan Vina tadi siang.
"Jadi, tadi siapa yang menemukan Vina?" tanya Maya yang penasaran dengan siapa yang bertemu pertama kali dengan Vina.
"Aku lah. Aku yang bertanya sama Nona kasir. Terus nona kasir menemani aku ke mencari Bunda kue. Eee eee akhirnya ketemu juga." ujar Deli sambil menatap ke arah Vina.
Vina tersenyum bahagia dengan kebanggaan calon anak angkatnya yang berhasil menemukan dirinya itu.
"Jadi kapan tante Maya boleh pulang kata dokter?" tanya Deli sambil menatap ke arah Maya yang sekarang sudah duduk di sofa di bantu oleh Ivan.
"Kata dokter dua hari lagi udah boleh pulang. Kenapa Deli?" tanya Maya yang penasaran kenapa Deli sampai bertanya berapa lama Maya berada di rumah sakit.
"Wah jadi dua hari lagi, Deli udah bisa jalan jalan dengan Bunda kue dan tante Maya kalau gitu ya" ujar Deli dengan semangat.
"Mana ada tante Maya bisa langsung main Sayang, Tante Maya harus beristirahat yang cukup dulu." ujar Danu mengingatkan Deli kalau Maya tidak akan bisa langsung main dengan dirinya.
"Jadi, kapan Tante Maya bisa main dengan aku Ayah?" tanya Deli sambil menatap ke arah Maya meminta Maya untuk menemani dia berkeliling negara U.
"Tante Maya istirahat di rumah sekitar dua hari dulu, setelah itu baru kita pergi main ya. Kamu kan lama tinggal di sini sayang" ujar Maya yang menyebutkan kapan dirinya bisa ikut main dengan Deli.
__ADS_1
"Deli aja yang temani tante Maya di rumah ya. Biar bunda kue kerja atau ke kafe. Jadi, Tante Maya ada temannya" ujar Deli yang menyusun sendiri apa yang diinginkan oleh dirinya.
"Sayang, kamu main susun aja, minta izin dulu sama Ayah, Nenek dan Atuk. Kalau udah diizinkan baru kamu bisa main dengan Tante Maya" ujar Maya kepada Deli.
"Aman itu tante. Masalah izin adalah masalah gampang. Itu semua bisa diatur, tante serahkan aja sama Deli" ujar Deli kepada Maya.
"Deli sangat yakin Nenek dan Atuk pasti mengizinkan kalau Deli akan main dengan Bunda kue dan Tante Maya." ujar Deli dengan percaya dirinya mengatakan hal itu.
Nenek dan Atuk Deli memang tidak akan melarang Deli untuk bermain atau menginap dengan Vina dan Maya, mereka berdua pasti mendukung hal itu, karena yang satu adalah calon istri Danu dan yang satu lagi calon istri Ivan. Mereka berdua adalah anak dari Nenek dan Atuk li.
"Kalau diizinkan maka kamu boleh menginap di rumah kami berdua." ujar Maya sambil tersenyum ke arah Ivan dan Vina.
"Bener apa yang dikatakan oleh Tante Maya sayang, kamu boleh menginap di rumah kami, kalau kamu sudah diizinkan oleh Nenek da Atu." ujar Vina memperkuat syarat yang diajukan oleh Maya kepada Deli.
"Bunda kan ke mansion Atuk nanti. Jadi, Bunda langsung minta izin dengan Nenek ya." ujar Deli dengan mengerjap ngerjakan matanya meminta bantuan kepada Vina untuk meminta izin kepada Atuk dan Neneknya itu.
"iyalah Bunda, kalau Ayah nggak mungkin, Ayah besok akan balik ke negara I. Masak iya aku harus main sendirian di kebun anggur yang luas itu. Nggak mungkin kan. Bisa hilang aku di sana" ujar Deli sambil melihat ke arah Ivan.
Ivan saat Deli mengatakan dia akan main di kebun anggur sendirian terlihat berubah raut wajahnya menjadi raut wajah orang cemas. Ivan tidak ingin terjadi kembali kejadian yang menimpa Danu saat beranjak remaja itu.
Deli menangkap kecemasan dari wajah Ivan. Deli tau kalau Ivan mengingat kejadian naas yang menimpa Danu waktu itu.
"Deli kalau bisa jangan main sendirian di kebun Anggur ya." ujar Ivan memberikan pesan kepada Deli.
__ADS_1
"Kenapa Om Ivan? Kenapa nggak boleh?" tanya Deli kepada Ivan yang melarangnya untuk pergi main ke kebun anggur.
"Karena kebunnya luas. Nanti kalau terjadi sesuatu kepada kamu, nggak ada yang tau, jadinya nanti susah" ujar Ivan yang nggak tau apa yang diucapkan oleh dirinya.
"Sayang, kamu ada ada aja ngasih alasan. Namanya kebun anggur ya luas la. Kalau terjadi apa apa kan karyawannya banyak. Pasti setiap kejadian akan cepat tahunya. Kamu ada ada aja ngomong kasih alasan sayang" ujar Maya yang tidak menyangka kalau Ivan memberikan alasan itu kepada Deli.
Vina menatap ke arah Ivan. Vina merasa kalau Ivan menyembunyikan sesuatu.
"Bang Ivan kayak menyembunyikan sesuatu" ujar Vina langsung saja menyuarakan kecurigaannya kepada Ivan.
"Aku pernah punya kawan yang memiliki kebun anggur yang luas. Saat itu kami main di sana. Singkat cerita kawan aku itu mengalami kecelakaan di kebun Anggur. Karyawan telat tau da berakibat buruk terhadap kawan tersebut" ujar Ivan melirik ke arah Danu sedikit.
Hal itu diperhatikan oleh Deli. Sekarang Deli sangat yakin kalau memory ayahnya benar benar rusak karena insiden di pabrik anggur itu.
Mereka semua kemudian melanjutkan obrolan ringan. Deli yang terlalu lelah berbaring di ranjang Maya, dia tanpa sadar sudah tertidur. Hal itu membuat Danu dan Vina tidak bisa pulang.
"Katanya dia mau lihat pengamen jalanan. Eee eee ternyata dia terlalu enak tidurnya" ujar Danu saat melihat Deli yang tertidur nyenyak di atas ranjang Maya.
"biarkan saja sayang. Jam sembilan masih ada juga pengamen nya. Kamu besok berangkat jam berapa?" tanya Vina kepada Danu.
"Jam dua siang." jawab Danu yang sedikit kesal melihat Deli yang bisa bisanya tertidur saat mereka akan pulang dan melihat pengamen jalanan yang tadi sudah dijanjikan oleh Danu.
"Tunggu ajalah Bang. Bentar lagi juga bangun dia" ujar Ivan meminta Danu untuk sabar menunggu Deli bangun dari istirahatnya.
__ADS_1
"Ya memang harus di tunggu. Bisa ngamuk Nona muda itu kalau di bangunkan" ujar Danu yang sangat hafal bagaimana marahnya Deli kalau dia dibangunkan saat tidur.
Mereka berempat kemudian melanjutkan obrolan yang sempat tertunda karena Danu yang kesal melihat Deli bisa tertidur saat mereka mau pulang.