Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Ladang


__ADS_3

Oke nanti kita ke sana pas jam makan siang. Sekalian ngantar bekal Bapak dan Ibu." ujar Vina menyetujui pendapat Sari.


Setelah selesai sarapan mereka kemudian melanjutkan pekerjaan rumah yang tertunda. Sedangkan Ibu dan Bapak pergi ke ladang.


"May, emang ladang itu apa?" tanya Sari sambil bermain ayunan ban yang digantung Bapak di pohon.


"Ladang itu tempat orang bertanam berbagai hal. Nah kalau Bapak sama Ibuk di ladang itu nanam sayuran. Tapi kamu ke sana harus pakai baju lengan panjang, celana panjang kalau perlu pakai sepatu bot." ujar Maya mulai usil.


"Kenapa?" tanya Sari penasaran dengan saran Maya.


"Banyak nyamuknya. Mau digigit nyamuk? Terus pulang bentol bentol?" ujar Maya kembali.


"Nggak. Mana mau." sambar Sari yang sudah merinding duluan mendengar digigit nyamuk.


"Ada apa?" tanya Vina yang baru selesai mencuci piring habis dipakai untuk sarapan tadi.


"Ini, kata Maya kalau ke ladang harus semua tertutup biar nggak digigit nyamuk." jawab Sari.


"Bener memang harua pakai baju dan celana panjang. Tapi nggak ketutup semua. Di ladang memang ada nyamuk. Tapi kan kita pake body lotion anti nyamuk, ngapain takut." ujar Vina menenangkan Sari.


"Loe emanglah ya May." ujar Vina kepada Maya.


"Hehehehehe." Maya tertawa melihat kepanikan di wajah Sari.


"Awas loe, kalau besok loe jadi kakak ipar gue. Gue kerjain balik." ujar Sari.


"Mana ada bisa jadi kakak ipar loe. Gue ini tipe cewek setia. Pacar gue Ivan udah cukup nggak pengen nambah dan nggak pengen ditambah." ujar Maya sambil tersenyum membayangkan wajah kekasihnya.


"Nah mulai mikir jorok." kata Ghina sambil menimpuk kepala Maya memakai bungkahan tanah.


"Is elo aja kali yang mikir jorok. Gue mah jauh dari pikiran jorok." jawab Maya sambil melanjutkan menyapu halaman rumah.


"Vin, itu jalan kemana?" tanya Sari sambil menunjuk jalan yang hanya di rigit beton.


"Jalan ke ladang. Penduduk di sini tu semuanya bertani. Jadi itu jalan menuju ladang" jawab Vina.


"Oooo. Jalan ke ladang. Selain ke ladang manalagi tempat main di sini Vin?" tanya Sari.


"Banyak. Pokoknya kita eksplor semua sudut kampung ini. Kalau loe mau." ujar Vina.


"Mau lah." jawab Sari dengan semangat.


Mereka kemudian melanjutkan obrolan ringan pagi hari sambil menunggu waktu memasak makan siang.


Tiba tiba bum bum. Bunyi sesuatu jatuh dari pohon. Vina dan Sari yabg kaget langsung berlari menjauh dari pohon


"Gile bener. Ntu pohon sedang berbuah dan juga masak. Untung nggak niban kepala tadi." ujar Vina saat melihat pohon yang menjadi tempat bergayut ayunan sedang berbuah. Buah durian yang sangat lebat.


"Hahahahahaha. Jadi itu pohon durian. Untung nggak jatuh ke kepala. Kalau sempat kekepala waduah nggak tanggung sakitnya itu." ujar Sari sambil mengusap usap kepalanya


Mereka bertiga kemudian tertawa, menertawakan bagaimana ketidak hati hatian mereka. Maya yang dari tadi masih di halaman, pergi mengambil buah durian yang baru jatuh.

__ADS_1


"Vin, bukak ya?" ujar Maya.


"Bukak aja. Gue ambil parang dulu ke belakang." jawab Vina yang juga mau buah yang terkenal sebagai raja buah tersebut.


Vina kembali dengan membawa parang untuk membuka durian tersebut. Sari yang memang dasarnya pecinta durian dan akan datang ke negara I saat musim durian langsung duduk.


"Loe suka durian?" tanya Vina dan Maya berbarengan.


"Sukalah. Malahan saking sukanya, aku rela datang ke negara ini saat musim durian tiba." ujar Sari.


"Cepatlah bukak. Penasaran bagaimana rasanya." ujar Sari yang sudah sangat tidak sabaran lagi untuk mencicipi buah yang terkenal enak itu.


"Wow. Keren tembaga banget."sambut Sari saat melihat buah durian yang berwarna kuning tersebut.


Mereka langsung mencicipi buah itu.


"Ini bener bener enak." ujar Sari yang langsung menghabiskan satu biji durian. Dia mengambil lagi durian yang lain.


Mereka bertiga berlomba makan durian paling banyak dengan menghitung berapa biji yang tersisa.


"Gue delapan" ujar Vina.


"Gue sepuluh" ujar Maya.


"Gue hem hem hem. Ini makan durian atau ngapain ya?" ujar Sari saat melihat biji durian yang berada di sampingnya.


"Berapa?" tanya Maya.


"Hahahahahaha. Banyaknya." jawab Maya.


"Bule hobby durian." sambar Vina.


"Gue nggak bule. Ayah sama Bunda asli oranf negara I. Cuma kami merantau aja ke negara U." ujar Sari yang sama sejali belum menceritakan asal usul keluarganya.


"Jadi loe asli orang negara I? Kami kira orang negara U." ujar Vina menyuarakan kekagetannya.


"Hahahaha. Nggak lah. Negara I" jawab Sari.


"Gue masak dulu ya." kata Vina saat melihat hari sudah jam sepuluh.


"Gue bantu" ujar Sari sambil langsung berdiri dari duduknya.


"Terus yang bersihin sampah siapa?" ujar Maya yang melihat kedua sahabatnya sudah main langsung berdiri saja.


"Ya elo lah. Siapa lagi." jawab Vina dan Sari kompak.


"Kalau ngejawab untuk nyiksa mah mereka kompak." kata Maya dengan nada kesal.


Vina dan Sari sama sekali tidak menggubris keluhan Maya. Mereka berdua tetap pergi berlalu menuju dapur untuk memasak makan siang hari ini.


"Masak apa Vin?" tanya Sari.

__ADS_1


"Rencana mau masak ikan bakar, tempe mendoan, sama cah kangkung terus bikin sambalado" jawab Vina sambil mengambil semua keperluan untuk memasak hari ini.


"Loe bantu kupas bawang ya. Gue mau nyuci ikan dulu." kata Vina.


Sari mengambil pisau dan mulai mengupas bawang yang lumayan banyak itu. Semua bumbu di kupas Sari.


"Loe mau buat ikan bakar Vin?" tanya Maya saat melihat Vina mencuci empat ikan nila ukuran sedang.


"Rencana. Loe bantu bakar ya. Bikin dua tungku pembakaran biar cepat." kata Sari memberikan instruksi kepada Maya.


"Sip. Gue bagian membakar. Nggak di gulai dulukan, langsung bakarkan?" tanya Maya yang memang tidak suka makan ikan bakar yang mengalami proses penggulaian terlebih dahulu.


"Nggak langsung bakar." jawab Vina.


"Loe bikin bumbu, biar gue yang lanjutin nyuci ikannya." kata Maya sambil mengambil ikan yang sedang dicuci Vina.


Vina menuju Sari yang tadi dimintanya mengupas bawang dan bumbu masakan.


"Siap Sar?" tanya Vina.


"Lumayan." jawab Sari yang belum menyelesaikan semua pekerjaannya.


Vina mengambil beberapa bumbu yang sudah di kupas Sari. Dia mulai menggilung bumbu untuk memasak ikan bakar. Setelah selesai menggiling bumbu, Vina memarut kelapa yang sudah di buka Ayah.


Vina kemudian membuat saos untuk olesan ikan bakarnya. Dia bekerja dengan telaten. Setelah membuat bumbu untuk olesan ikan bakar. Vina memberikan olesan tersebut kepada Maya. Maya dan Sari langsung memasak ikan bakar di belakang rumah.


Vina kemudian melanjutkan memasak menu makanan yang lain. Mereka akhirnya selesai masak jam setengah dua belas siang. Vina memasukkan semua hasil masakannya ke dalam dua rantang. Vina kemudian menyusun rantang tersebut ke dalam keranjang pasar milik Ibu.


Setelah selesai membereskan bekal makan siang, mereka bertiga kemudian pergi menuju ladang tempat Bapak dan Ibuk berada.


"Wow keren." ujar Sari.


Sari meraih ponsel miliknya. Dia melakukan siaran langsung. Sontak karena akunnya sudah centang biru, banyak para folower Sari menonton siaran langsungnya kali ini.


"Vina, Maya tengok sini." ujar Sari sambil mengarahkan kamera ponsel miliknya kepada kedua sahabatnya tersebut.


Vina dan Maya melambaikan tangan kepada kamera yang di pegang Sari.


"Vin, ini keren. Kita di sini aja liburan ya. Nggak usah balek ke kota. Beli furnitur di sini aja." kata Sari sambil menatap sawah yang terbentang luas dan menghijau itu.


Tidak berapa jauh setelah melewati sawah. Mereka mulai berjalan melewati jalan setapak menuju ladang milik Vina.


Mereka sampai di ladang. Vina dan Maya meletakkan keranjang yang berisi bekal makan siang di saung yang ada di tengah ladang.


"Ibuk, Bapak ayuk makan." ujar Vina memanggil Ibuk dan Bapaknya yang sedang membersihkan gulma yang ada diantara tanaman sayur bayam.


"Baik Nduk." jawab Bapak.


Bapak dan Ibuk menuju saung. Mereka telah membersihkan badan mereka di air pincuran yang ada di sudut ladang. Air yang juga digunakan untuk menyiram tanaman yang ada di ladang.


Mereka berlima kemudian makan siang bersama di saung tengah ladang. Sari tidak henti hentinya menatap ke arah sawah yang terbentang luas. Pemandangan yang begitu menyejukkan mata siapa saja yang melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2