
"Loe sebenarnya berada di pihak mana Frans? Gue atau Danu? tadi lo bela gue, sekarang lu bela Danu? Jadi sebenarnya lu posisinya di mana coba" ujar Iwan bertanya memastikan Frans berada di pihak siapa pada saat ini.
Apakah Frans berada di pihak dia atau Frans pada saat sekarang ini berada di pihak Danu.
"loe katanya pengacara tapi nggak konsisten mau bela siapa. Aneh banget loe jadi pengacara. Kayaknya gue harus berpikir loe bisa jadi pengacara sukses kenapa ya? Apa kasus yang loe hadapi itu kasus yang gampang atau gimana" ujar Iwan kembali bertanya kepada Frans.
"Nggak di pihak siapa siapa gue. Gue akan berada di pihak mana bola yang bagus berada gue pasti ke sana. Beda kalau loe client gue, maka gue pasti di pihak elo. Tapi loe mau ngajuin apa ke pengadilan ya." jawab Frans dengan santainya mengatakan kepada Iwan di pihak mana dia berada saat ini. Jadi inti sebenarnya bahwasanya Frans tidak berada di pihak manapun, tidak di pihak Danu dan juga tidak di pihak Iwan. Frans akan berada di pihak yang akan membuat dia menang dan bahagia.
"Dasar loe" jawab Iwan yang sekarang sepertinya bola akan berbalik ke arah dirinya, kalau dia tidak bisa membalikkan bola ke jalur semestinya. Iwan tidak mau jadi bahan bullyan Danu dan Frans yang terkenal sangat luar biasa kalau sudah membully.
" Jadi sekarang kita kembali ke jalur awal tadi, awal maksud tujuan kita berkumpul bersama di kantor pengacara Kondang ibukota untuk kasus perceraian, denger ya Bro khusus kasus perceraian maka lo adalah pilihan yang paling tepat, Dengar tuh kata paling nya gue panjangin" kata Iwan dengan sengaja mengatakan kalau Frans adalah pengacara Kondang khusus perceraian
"Ha ha ha ha, nggak boleh pakai marah-marah Bro" kata Frans sambil melihat ke arah Danu dan Iwan sambil menepuk pundak Iwan.
" enggak gue nggak ada marah sama sekali, biasa dan santai aja" jawab Iwan yang tahu kalau perkataan Frans sengaja ditujukan untuk dirinya.
" wow sepertinya ada yang merasa" kata Danu menjawab apa yang dikatakan oleh Iwan sebentar ini
" nggak ada Gue merasa, cuma memang sebaiknya kita langsung aja masuk ke pokok pembahasan yang mengharuskan kita untuk berkumpul hari ini. Lo berdua Nggak nengok apa udah jam berapa sekarang" kata Iwan sambil melihat ke jam tangan miliknya
Ternyata jam tangan mereka sudah menunjukkan pukul 04.00 sore. Sampai jam segitu masih belum ada satupun pembicaraan yang dilakukan oleh mereka bertiga.
" bener juga ya hari udah pukul 04.00 sore tapi kita sama sekali belum membicarakan satupun apa yang harus kita bicarakan saat ini" kata Frans yang kaget melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 04.00 sore.
" yah namanya juga ngobrol dengan sahabat nggak akan ada waktu terasa" jawab Danu yang tiba-tiba menyala apa yang dikatakan oleh Frans sebentar ini.
Mereka bertiga kemudian terdiam sesaat. Mereka akan masuk ke dalam inti pembicaraan yang sebenarnya. Mereka sudah terlalu lama mengobrol hal hal yang tidak penting dari tadi. Sampai sampai waktu pukul empat sore saja mereka tidak menyadarinya.
"Jadi, gini Dan. Beberapa hari yang lalu, gue sudah menerima surat dari pengadilan agama yang mengabarkan kalau kasus perceraian kamu dengan Ranti akan segera di mulai." kata Frans memulai pembicaraan tentang permasalahan yang sebenarnya membuat mereka harus berkumpul di kantor Frans.
Danu dan Iwan mendengar setiap kata kata yang diucapkan oleh Frans dengan sangat serius. Danu dan Iwan sama sekali tidak memikirkan hal yang lain lagi. Pikiran dan fokus mereka terarah ke pembicaraan yang dilakukan oleh Frans.
__ADS_1
"Jadi kita kan sudah mengajukan surat permohonan perceraian, kemudian pengadilan sudah memprosesnya. Sekarang sudah keluar lagi surat untuk melakukan sidang, nah sekarang yang akan kita lakukan adalah mencari saksi untuk perceraian antara kamu dengan Ranti" kata Frans menjelaskan langkah yang harus dilakukan selanjutnya.
"Saksi?" ujar Iwan kembali bertanya kepada Frans tentang apa yang diminta oleh Frans kepada Danu.
"Ya saksi. Kita harus mencari minimal tiga orang saksi untuk mendukung proses perceraian antara Danu dengan Ranti" jawab Frans mengatakan berapa minimal saksi yang harus mereka cari untuk memenuhi permintaan dari pengadilan.
"Apa tiga itu ada peraturannya?" ujar Iwan yang selalu bertanya.
Sedangkan Danu yang akan melalui proses perceraian hanya diam saja. Tidak ada bertanya atau menanggapi satupun apa yang dikatakan oleh Frans kepada dirinya.
"Nggak, tapi biar kuat aja argumennya. Kalau bisa kita menghadirkan Deli saat proses sidang terakhir sebagai penguat dari semua bukti bukti yang ada" kata Frans kepada Danu dan Iwan.
Frans sengaja meminta Danu untuk menghadirkan Deli karena ingin Deli memperkuat apa yang dikatakan oleh saksi saksi dari pihak mereka.
"Kenapa harus Deli?" tanya Danu yang tidak mengerti kenapa harus Deli juga ikut dijadikan saksi.
Padahal sebelumnya Frans jugalah yang meminta Danu untuk menyembunyikan Deli dari kejaran Ranti.
"Deli adalah kartu kunci terakhir kita untuk melawan Ranti. Aku sangat yakin, kalau Deli menjadi saksi terakhir maka permintaan kamu untuk bercerai pasti akan dikabulkan, karena Deli akan mengatakan apa yang dirasakan oleh dirinya selama ini kepada pihak pengadilan" jawab Frans menjelaskan kepada Danu dan Iwan kenapa Frans akhirnya memasukkan Deli akan menjadi saksi dalam kasus perceraian itu.
"Garis bawahi ya, jika diperlukan. Tetapi kalau tidak maka, Deli tidak perlu dihadirkan dalam persidangan" kata Frans memberikan jawaban terakhir dan jawaban kuncinya kepada Danu.
"Tapi, gue rasa Deli nggak akan mau masuk ke ruangan pengadilan, apalagi kalau dia harus bertemu dengan Ranti. Dia sama sekali tidak akan mau" ujar Danu yang memang hari itu sudah dikatakan oleh Deli kepada dirinya, kalau dia sama sekali tidak mau bertemu dengan Ranti lagi.
"Bisa nggak kalau Deli jadi saksi tapi melalui zoom saja?" ujar Danu bertanya kepada Frans, dengan harapan Frans mengatakan bisa.
"Kenapa?" tanya Frans balik bertanya kepada Danu.
Iwan yang juga tidak tahu apa alasan Danu mengatakan hal seperti itu melihat ke arah sahabatnya tersebut. Iwan menunggu jawaban yang diberikan oleh Danu kepada Frans.
"Jadi gini, waktu itu, Deli mengatakan kepada gue kalau dia tidak mau lagi bertemu dengan Ranti kapanpun dan dimanapun. Dia benar benar tidak meu bertemu dengan dirinya lagi. Makanya saat gue katakan kalau dia akan tinggal di negara U, Deli sangat bahagia sekali. Wajahnya sangat berbinar. Satu yang ditanyakan oleh dirinya kala itu ke gue. Berarti Deli nggak akan ketemu dia lagi kan ya Yah?. Itu hal yang ditanyakan anak itu ke gue" kata Danu sambil melihat ke arah Frans dan juga Iwan.
__ADS_1
Danu sama sekali tidak menyangka kalau Deli akan sangat trauma terhadap Ranti. Rasa trauma yang ntah kapan akan bisa hilang dari dalam diri Deli.
"Untung saja loe cepat memindahkan dia ke tempat Papa dan Mama Dan. Kalau nggak, nggak bisa gue bayangkan gimana Deli sekarang" ujar Iwan menanggapi apa yang dikatakan oleh Danu sebentar ini tentang Deli yang ternyata menyimpan trauma yang lumayan dalam terhadap Bundanya sendiri.
"Yup. Makanya gue tanya ke Frans, apa boleh Deli jadi saksi secara virtual saja. Tidak perlu hadir dan bertatapan langsung dengan Ranti di pengadilan. Gue takut nanti Deli akan kenapa kenapa saat melihat Ranti di pengadilan itu" ujar Danu menyampaikan apa alasannya bertanya kepada Frans kenapa dia meminta Deli menjadi saksi hanya secara virtual saja. Tidak harus bertatapan langsung dengan Ranti di pengadilan itu.
"Akan gue bicarakan dengan tim dari pengadilan. Biasanya kalau kasus seperti ini. Akan ada tim dari pengadilan yang datang ke tempat saksi, nanti mereka akan mendampingi saksi saat dia harus memberikan kesaksiannya" kata Frans menjelaskan kepada Danu bagaimana prosesnya kalau saksi seperti yang terjadi kepada Deli ini.
"Oh baiklah. Semoga pihak pengadilan mengerti dengan apa yang terjadi kepada Deli. Sehingga Deli tidak perlu hadir saat sidang tersebut." kata Danu mengatakan apa yang diharapkan oleh dirinya untuk kesiapan mental dari Deli sendiri menghadapi apa yang harus dihadapi oleh Deli.
"Yup. Gue akan katakan kepada pihak pengadilan bagaimana kondisi Deli saat ini. Biasanya pihak pengadilan akan mengerti dan paham dengan kasus yang seperti ini. Mereka juga tidak akan mengambil resiko dengan membuat saksi tertekan" ujar Frans menjelaskan kepada Danu dan Iwan bagaimana biasanya tanggapan dari pengadilan kalau ada kasus yang seperti terjadi kepada Deli ini.
"Oh baiklah kalau begitu Frans. Gue mohon sama loe untuk memberikan pengertian kepada pihak pengadilan. Gue akan bayar transpor mereka saat pergi ke negara U. Asalkan mereka mau untuk ke sana. Aku takut psikis Deli menjadi kenapa kenapa saat dia harus kembali melihat dan menatap Ranti" ujar Danu yang memang memikirkan keadaan Deli.
Danu tidak mau Deli kenapa kenapa, kalau dia memaksa Deli untuk hadir di persidangan tersebut.
"Gue akan usahakan. Kalau perlu sebelum persidangan itu berlangsung, gue akan ajak mereka untuk bertemu Deli di negara U. Loe jangan cemaskan akan hal itu" lanjut Frans meyakinkan Danu kalau dia akan berbuat yang sangat terbaik bagi Deli.
"Untuk anak client gue yang lain aja, gue berikan yang terbaik. Masak untuk anak gue sendiri tidak. Itu satu hal yang nggak akan mungkin terjadi. Gue pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk dirinya. Loe percayakan ke gue aja." ujar Frans meyakinkan Danu kalau dia pasti akan memberikan yang terbaik untuk Deli nantinya.
"Nah masalah Deli oke selesai. Frans besok loe langsung ke pengadilan menceritakan hal itu kepada mereka." kata Iwan memberikan perintahnya kepada Frans.
"Lah kok jadi dia yang memberikan perintah ke gue. Harusnya gue yang memberikan perintah ke elo. Aneh loe" ujar Frans menanggapi perintah yang diberikan oleh Iwan kepada dirinya.
"Lah gue mana tau pengadilan. Kalau gue tau gue yang ke sana Frans. Aneh loe" kata Iwan yang tidak mau disalahkan oleh Frans karena sudah memberikan perintah kepada Frans untuk ke pengadilan besok pagi.
"Kalau loe tau, loe bisa jadi pengacara dong" ujar Frans menanggapi pernyataan yang dikatakan oleh Iwan sebentar ini.
"Rencana, gue kuliah dulu" kata Iwan menanggapi apa yang dikatakan oleh Frans kepada dirinya sebentar ini.
"Haha haha haha. Oke sip. Loe kuliah dulu, setelah itu kita berdua bisa jadi partner andalan dalam menghadapi kasus yang diberikan client kepada kita nantinya" ujar Frans yang menanggapi apa yang dikatakan oleh Iwan tadi kepada dirinya.
__ADS_1
"Oke loe tunggu gue tamat ya baru kita jadi tandem" ujar Iwan kepada Frans.
"Hadeh, kalian berdua emang nggak bisa nengok hal hal yang bisa dijadikan bullyan. Aneh" kata Danu yang melihat kedua sahabatnya itu akan langsung hajar setiap ada peluang untuk mulai mengatakan hal hal yang tidak penting.