Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Ivan


__ADS_3

"Ayok pulang." ujar Danu kepada semua karyawannya.


"Loe duluan aja Dan. Gue sama Ivan masih ada yang harus dikerjakan." jawab Iwan mewakili Ivan yang terkadang tidak bisa mencari alasan yang masuk di akal.


"Oh oke. Gue duluan." jawab Danu.


Danu meninggalkan ruangan kerja milik mereka. Setelah yakin kalau Danu sudah tidak dalam jangkauan pendengaran dan penglihatan lagi, Iwan dan Ivan bersiap siap untuk pulang.


"Jadi ke rumah gue kan Bang?" tanya Ivan.


"Jadi. Kita bawa motor loe aja. Mobil gue tinggal di sini. Besok pagi kita sama pergi. Gue yakin loe akan bercerita panjang ke gue." ujar Iwan.


"Percaya diri kali loe Bang, gue akan cerita panjang dengan loe." ujar Ivan sambil menyandang tas ransel miliknya.


Mereka berdua kemudian keluar dari ruangan, mereka melangkahkan kakinya mrnuju tempat parkir motor milik Ivan yang terletak diparkiran karyawan.


"Bang, apapun yang loe lihat nanti loe harus diam dan berjanji tidak akan menceritakan kepada Bang Danu. Apa loe bisa janji dengan gue?" tanua Ivan memastikan kebersediaan Iwan untuk tidak bercerita kepada Danu apa yang sebentar lagi diketahuinya.


"Oke sip. Aku nggak akan cerita sama sekali dengan dia." jawab Iwan dengan penuh keyakinan. Iwan harus tau semuanya sekarang. Biar dia tidak terpikir permasalahan yang menimpa Danu dan Vina.


"Oke sip. Naik Bang." ujar Ivan.


Iwan naik ke atas motor Ivan. Dia berada di boncengan, sedangkan Ivan yang membawa motor.


Ivan mulai melajukan motornya meninggalkan parkiran perusahaan. Dia akan membawa Iwan ke rumah.


"Loh Van, jalannya beda. Loe mau kemana?" tanya Iwan saat sadar kalau jalan yang dituju oleh Ivan berbeda dengan jalan yang biasa dilalui mereka saat akan menuju rumah Ivan selama ini.


"Loe tenang aja Bang di belakang. Nggak ada yang salah atau nyasar pun. Tapi loe mau tau semuanya." ujar Ivan menjawab pertanyaan Iwan.


"Iya memang mau tau semuanya. Tapi ini jalan kemana? Ini bukan jalan ke rumah elo." kata Iwan sekali lagi.


"Ini jalan ke rumah gur bang. Elonya aja yang nggak tau kalau gue udah pindah rumah." jawab Ivan sambil menambah laju motornya saat melihat awak hitam sudah mulai bergerombol di langit.


Iwan akhirnya memilih untuk diam daripada masih terus bertanya kepada Ivan yang sekarang membawa motor dalam kecepatan tinggi.


"Semoga rasa penasaran gue terbayar tuntas dengan mrndengar apa yang fikatakan oleh Ivan nanti." ujar Iwan dengan nada pelan.


Ivan membelokkan motornya masuk ke dalam parkiran sebuah apartemen yang sangat terkenal di bilangan Ibu kota. Ivan memarkir motornya ti tempat parkiran khusu penghuni apaetement.


"Van kok kita ke sini?" tanya Iwan sedikit heran dengan tempat Ivan berhenti.


"Tapi Abang mau tau Vina dimana. Jadi ya ikut aja Bang." jawab Ivan mulai sedikit rada kesal dengan Iwan yang banyak tanya itu.

__ADS_1


"Sorry Van bukan maksud, tapi heran aja." kata Iwan berusaha menjelaskan kepada Ivan.


"Nggak apa apa Bang. Santai aja." jawab Ivan yang tau Iwan tidak ada maksud jahat dalam setiap pertanyaannya.


"Yuk Bang jalan." kata Ivan mengajak Iwan untuk masuk ke dalam rumah.


Mereka masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka berdua menuju apartemen milik Ivan. Ivan memencet tombol yang biasanya dipakai oleh pemilik panthouse.


"Jangan bilang loe tinggal di panthaouse?" ujar Iwan menyuarakan keheranannya kepada Ivan.


"Hehehehe. Iya Bang." jawab Iwan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Pintu lift terbuka tepat di depan panthaouse milik keluarga Ivan.


"Ayuk Bang. Ingat jangan kaget." ujar Ivan menggoda Iwan.


"Dari tadi gue udah kaget juga sialan." jawab Iwan.


"Hahahahahaha." Ivan tertawa bahagia melihat kedongkolan di raut wajah Iwan.


Ivan membuka pintu rumah.


"Silahkan masuk Bang anggap rumah sendiri." ujar Ivan.


Iwan masuk ke dalam rumah, betapa kagetnya dia saat melihat CEO mereka sedang duduk santai di sofa sambil menonton televisi.


"Ayah ada tamu." ujar Ivan.


Sontak panggilan Ivan kepada CEO itu membuat Iwan menjadi tambah kaget.


"Santai aja tu wajah Bang." jawab Ivan menikmati wajah kaget Iwan.


"Silahkan duduk Wan. Sofa banyak yang kosong itu. Di sebelah saya juga boleh." ujar CEO dengan ramah.


"Ba ba baik Tuan." jawab Iwan dengan nada syok mendengar keramahan nada suara CEO yang terkenal tegas itu.


Iwan duduk di sofa yang sejajar dengan CEO. Iwan kaget saat melihat film yang ditonton oleh CEO mereka yaitu film yang sedang viral sekarang yaitu layang putus. Iwan membuka mulutnya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Kenapa Wan? Kaget saya nonton drama itu?" tanya CEO sambil menatap Iwan.


"Iya Pak." jawab Iwan.


"Hahahahaha. Itu hiburan Wan. Kita harus cari hiburan yang membuat kita nyaman, bukan malah membuat kita stress. Noh kayak Ivan masak nonton film perang ya makin setereslah." ujar CEO sambil melirik anak laki lakinya.

__ADS_1


"Apalagi ya Wan, saat dia tau Maya pergi ke negara U dengan Vina, makin semaput dia. Tapi ada untungnya juga Maya pindah ke negara U. Ni anak jd pulang ke rumah." ujar CEO bercerita panjang kali lebar.


Iwan menatap Ivan memastikan kalau memang Vina dan Maya di negara U. Ivan mengangguk.


"Ayah, jadi yanh cerita ke Bang Iwan Ayah aja ne?" tanya Ivan sambil mengambil potongan buah milik Ayahnya.


Pluk. Sebuah tamparan mendarat di tangan Ivan.


"Sana kupas sendiri potong sendiri. Jangan harap punya Ayah bisa kamu makan." ujar CEO sambil menatap membunuh ke arah Ivan.


"Dasar pelit." jawab Ivan.


Ivan menuju dapur, dia mengambil keranjang buah dan pisau serta tempat untuk meletakan kulit buah.


"Iwan panggil saya Ayah saja oke. Karena saya tau kamu sangat baik dengan anak bandel saya ini saat dia tidak tinggal di sini. Jangan panggil Tuan, Direktur apalagi CEO." kata Ayah kepada Iwan.


"Baik Ayah. Saya akan manggil Ayah." jawab Iwan dengan mantap.


Iwan terlihat berpikir.


"Ivan, jangan katakan kalau loe adalah,,,,,," ujar Iwan sengaja menggantung kalimatnya.


"Yap. Ivan adalah sepupu Danu. Karena Ayah adalah adik dari Ayah Danu." jawab Ayah sambil memasukkan potongan buah kedalam mulutnya.


"Terus kenapa tu manager begok sampai nggak tau kalau Ivan adalah sepupunya?" kata Iwan keceplosan mengatakan Danu bego.


"Ya karena mereka nggak pernah ketemu saat udah dewasa. Mereka terakhir ketemu waktu Ivan berusia dua tahun sedangkan Sari adiknya berusia satu tahun." jawab Ayah.


"Jadi, Danu bener bener nggak tau kalau Ivan ini adalah saudaranya?" tanya Iwan meyakinkan pendengarannya sekali lagi.


"Bener. Danu nggak tau sama sekali, lagian Ayah juga malas ngasih tau." jawab Ayah.


"Terus kenapa Ivan ngekos selama ini?" tanya Iwan.


"Karena dia nggak mau kalau semua orang tau dia adalah anak Ayah." jawab Ayah.


"Pantesan, dia nggak pernah kekerangan ya. Ternyata oh ternyata " ujar Iwan sambil geleng geleng kepala.


"Bang, loe ke sini mau tanya tanya tentang gue apa tentang Vina? Atau tentang adek gue yang manis itu" ujar Ivan sambil menunjuk fhoto dirinya dengan Sari yang terpajang di dinding rumah.


Iwan memandang lama fhoto keluarga direktur mereka. Pada fhoto nampak dua orang wanita dan dua orang pria.


"Maaf sebelumnya Ayah. Ibu Ivan dimana ya?" tanya Iwan dengan sedikit nada segannya.

__ADS_1


"Ibu Ivan sudah lama meninggal. Semenjak Ibu meninggal Ayah kembali ke negara I. Sedangkan Ivan dan Sari tetap di Negara U. Nah anak bandel ini di kabur ke sini. Katanya pengen cari ilmu." ujar Ayah.


"Padahal cari Maya. Eeee sekarang malah ditinggal Maya dia." jawab Ayah sambil menatap mengejek Ivan.


__ADS_2