Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Dokumen Hilang Ternyata Dibawa Seseorang


__ADS_3

Vina yang telah sampai di lantai tempat ruangannya berada menuju ruangan Sari. Vina mengetuk pintu ruangan, tetapi sama sekali tidak ada sahutan dari dalam. Vina mencoba membuka pintu ruangan Sari, Vina melihat ke dalam ruangan.


"Sepertinya Sari belum datang. Gue pergi meeting dengan siapa nanti ini ya. Mana Pak Hans udah gue suruh pula buat bantu Maya. Seandainya Sari nggak datang, apa mungkin gue pake taksi online pergi merting?"ujar Vina sambil menutup pintu ruangan Sari. Vina tidak melihat adanya Sari di dalam ruangannya itu. Vina melihat belum ada tanda tanda Sari di dalam, meja kerja Sari masih terluhat sangat rapi.


"Bikin malu aja kalau gue harus pergi meeting dengan taksi online. Mending gue minta manager personalia untuk menyiapkan mobil kantor" ujar Vina yang sadar kemudian kalau dia tidak mungkin pergi meeting dengan taksi online. Bisa hancur reputasi perusahaannya nanti.


"ake ruangan aja dulu, pikirkan di sana aja nanti mau pergi meeting memakai apa. Sekarang aku harus mempelajari bahan meeting yang belum sempat aku baca itu." ujar Vina yang masih berharap Sari datang saat dia mau menuju ruangannya.


Vina kemudian melangkahkan kakinya menuju ruangannya sendiri. Dia harus kembali mempelajari bahan bahan yang akan dibawa meeting nantinya.


Vina mencari file tersebut di atas mejanya. Tetapi Vina sama sekali tidak menemukan file tersebut. Malahan Vina membuat meja kerjanya seperti kapal pecah diamuk badai.


"Dimana file untuk meeting itu ya. Gue kan sama sekali belum baca tu bahan. Please gue mohon jangan hilang, jangan bikin panik gue dong" ujar Vina panik karena dia sama sekali belum membaca bahan untuk meeting tersebut.


Vina sangat tidak mau dia berangkat meeting tetapi tanpa modal apapun. Vina tipe perkerja yang perfect jadi setiap apapun pekerjaan yang diterima oleh Vina, akan dilakukan dan dilaksanakan oleh Vina dengan tanggung jawab yang tinggi. Itulah Vina, makanya CT Grub semakin berjaya saat berada di dalam tangan Vina dan Sari. Dua wanita tangguh yang dalam bekerja tidak setengah setengah, melainkan turu full sampai titik darah penghabisan terakhir.


"Gue harus nanyak ke Sari, dimana dia menaruh dokumen dokumen yang akan dibawa untuk meeting hari ini." ujar Vina yang sudah frustasi mencari dokumen itu di tumpukan dokumen dokumen yang selesai dibaca Vina di rumah semalam.


Vina mengambil ponsel miliknya yang dari tadi di dalam tas. Vina melihat ada pesan chat masuk dari Danu. Pesan chat yang sebenarnya sangat dinantikan kedatangannya oleh Vina, tetapi Vina tidak ingin terlihat terlalu menginginkan Danu.


'Pagi Vina. Jangan paksakan betul untuk bekerja, jaga kesehatan, itu paling penting. Satu hal lagi, jangan lupa untuk sarapan sebelum memulai aktifitas' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Danu.


'Makasih atas sarannya. Aku menomorsatukan kesehatan mental dan jiwa. Makanya memilih pergi dari ibu kota' bunyi balasan pesan chat dari Vina untuk Danu dengan terang terangan menyindir Danu. Setelah mengetik balasan pesan yang menohok untuk Danu, Vina meletakan ponselnya kembali di atas meja. Dia melanjutkan mencari file meeting yang dibutuhkan olehnya saat ini.


Danu yang membaca balasan pesan chat dari Vina, merasa tertampar oleh ucapan Vina itu. Danu terdiam dan termenung membacanya. Dia menjadi sangat yakin kalau Vina memang benar benar marah. Makanya Vina melepaskan sedikit sedikit kepada Danu.


'Maafkan aku, aku janji akan menyelesaikannya cepat. Supaya aku bisa mencari kamu secepatnya' bunyi pesan chat balasan dari Danu.Danu menyesal telah melakukan semua itu kepada Vina. Danu tidak menyangka kalau Vina akhirnya akan sesakit ini. Sakit teramat sakit yang susah untuk disembuhkan.


'Oke. Semoga kamu mengambil keputusan yang tepat kali ini' balas Vina kepada Danu. Vina menatap layar ponselnya. Dia ingin melihat bagaimana reaksi Danu saat membaca pesan chat itu.


'Kesempatan kedua hanya datang satu kali, tidak ada pengulangan' lanjut pesan chat yang dikirim oleh Vina kepada Danu.


'Aku yakinkan kamu, kalau kamu akan menjadi milik aku. Biarlah sekarang kepahitan sebuah cinta. Besok kemanisan sebuah cinta' balas pesan chat dari Danu kepada Vina.

__ADS_1


'Buktiin aja. Aku Terima bukti sekarang bukan janji manis lagi. Capek bro dijanjiin terus' balas chat dari Vina.


Danu tersentak membaca balasan chat dari Vina. Sekali lagi Danu tertampar oleh perkataan Vina. Vina benar benar memberikan tamparan tamparan kecil kepada Danu setiap dia bisa melakukannya. Vina tidak menyia-nyiakan kesempatan yang datang untuk memperbaiki kesalahannya yang kemaren kemaren.


'Maafkan aku, saat semua sudah kembali normal, aku akan pastikan kamu menjadi perempuan paling bahagia di atas bumi' ujar Danu membalas pesan chat dari Vina.


'Ini adalah janji seorang laki laki yang juga berhak untuk bahagia.' lanjut Danu mengirim pesan kepada Vina.


Vina tidak mendengar pesan chat dari Danu. Dia kembali sibuk mencari file yang dibutuhkannya untuk meeting hari ini. Vina sama sekali tidak mengingat ponsel kalau pekerjaan telah memanggilnya untuk bekerja.


"Cari apa loe Vin?" tanya Sari yang baru sampai di perusahaan jam setengah sembilan dengan kantung mata yang terlihat sangat jelas di wajah cantiknya itu kali ini.


"Cari file untuk meeting. Gue lupa dimana gue tarok" jawab Vina sekenanya saja dan melirik sekilas ke arah Sari. Tetapi Vina kembali menatap Sari, Vina mendapati satu hal yang menarik terdapat di wajah Sari kali ini.


"Loe begadang semalam?" tanya Vina kepada Sari.


"Yup.Ini nyiapin untuk presentasi hari ini. Untung aja Juan mau membantu, kalau nggak. Bakalan nggak bangun gue" jawab Sari sambil duduk di sofa dan meminum air mineral yang ada di atas meja.


Sari melihat ke arah meja kerja Vina yang sudah seperti kapal pecah itu. Beberapa file terlihat berserakan di sana. Ini adalah kali pertama Sari melihat meja kerja Vina yang berantakan tidak beraturan seperti ini. Biasanya meja kerja Vina rapi dan tertata dengan sangat indah. Tidak terlihat kalau di atas meja itu tadi siang telah terjadi pertumpahan pembacaan file file dan dokumen dokumen yang cukup menyita waktu dan juga menyita pikiran Vina.


"Ternyata meja kerja loe bisa juga berantakan Vin. Gue kira hanya meja kerja gue aja yang berantakan" ujar Sari menyuarakan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.


"Ya bisalah Sar. Gue kan juga manusia yang ada khilafnya" jawab Vina mencomot asal pembendaharaan kata kata yang dimiliki di memory otaknya.


"Jam berapa meeting Sar?" tanya Vina yang harus berhitung dengan jam.


"Jam setengah satu siang katanya. Jadi, kita meeting sekaligus makan siang" ujar Sari menjawab pertanyaan Vina tentang jam berapa meeting akan dilakukan.


"Oh masih lama. Kirain jam sepuluh" ujar Vina yang dari tadi sudah tidak konsentrasi karena takut kalau meeting jam sepuluh sedangkan file untuk meeting tidak diketemukan oleh dirinya


"Makanya tengok tu pesan chat. Gue kan udah ngirim dari jam delapan tadi pesan chat ke elo, kalau meeting jam setengah satu dan filenya gue yang bawa." ujar Sari yang memang sudah memberitahukan kepada Vina melalui pesan chat.


"Mana ponsel loe cobak?" lanjut Sari yang tidak melihat Vina memegang ponsel miliknya.

__ADS_1


"Tu di meja. Oh ya Sar, apa semua dokumen yang loe bawa ke rumah udah selesai loe baca?" tanya Vina yang ingat dengan dokumen dokumen yang sangat banyak yang harus dibaca oleh Sari.


"Udah. Juan yang nyelesaikan. Gue mah nyampe rumah baca satu dokumen langsung ketiduran. Makanya yang dua lagi Juan yang baca. Sedangkan presentasi meeting hari ini aja Juan yang buat" ujar Sari mengatakan kalau dokumen yang menjadi tanggung jawab dia telah selesai dibaca dan diolah. Vina hanya tinggal membaca sekilas info saja.


"Gue balik keruangan dulu Vin. Nanti kita berangkat sama mobil gue aja. Loe kayaknya nggak ditungguin Pak Hans" ujar Sari memberitahukan kalau berangkat meeting akan berangkat dengan mobilnya.


"Juan mana?" tanya Vina yang tidak melihat Juan hari ini.


"Mau terbang ke negara J, kalau tidak salah. Mengirimkan produk produk kita ke sana." ujar Sari memberitahukan kepada Vina kemana Juan sehingga tidak kelihatan oleh Vina.


"Gue ke ruangan dulu Vin. Nanti gue yang akan presentasi. Sepertinya elo sedang kurang Oke untuk presentasi" ujar Sari yang melihat Vina sedang dalam keadaan kurang Oke untuk melakukan presentasi di depan klient baru mereka kali ini.


"Oke sip. Gue rasa kurang enak badan aja hari ini. Sepertinya mau demam" ujar Vina menyetujui kalau yang akan presentasi hari ini adalah Sari.


"Sari tunggu, kantung mata loe kelihatan banget hari ini. Kalau loe nggak kuat begadang jangan, nanti loe bisa sakit" ujar Vina mengatakan kalau Sari tidak sanggup begadang maka tidak usah dari pada Sari menjadi seperti sekarang.


"Ah udah biasa Vin. Lagian kantung mata aja. Bisa di tutup dengan make up Vina. Nggak usah segan gitu" ujar Sari menjawab perkataan Vina. Sari sudah terbiasa kerja lembur saat Vina belum masuk ke dalam perusahaan mereka.


"Gue ke ruangan dulu" ujar Sari pamit kembali kepada Vina.


Vina balas mengangguk kepada Sari. Mengizinkan Sari untuk kembali ke ruangannya sendiri.


Sari keluar dari dalam ruangan Vina. Sari menuju ruangannya sendiri. Sedangkan Vina saat melihat Sari sudah keluar, masuk ke dalam ruangan pribadinya. Vina merebahkan badannya ke atas kasur empuk itu. Dalam sekejap Vina sudah terlelap dan masuk ke alam mimpinya.


Sedangkan di negara I, Danu yang tersentak terbangun dari tidurnya, menunggu balasan pesan chat dari Vina. Tapi sampai rasa kantuk Danu hilang, pesan balasan chat sama sekali tidak ada masuk ke ponsel Danu.


"Apakah dia marah?" ujar Danu berkata sendirian.


"Gue harap tidak" lanjut Danu bermonolog sendirian.


Danu sangat takut kalau Vina kembali marah. Danu baru merasakan bebannya sedikit terangkat saat Vina sudah mau mengangkat panggilan telpon dari dirinya dan membalas pesan chat dari dirinya. Makanya Danu sangat menjaga perasaan Vina. Segala hal yang Vina katakan karena kejadian yang lalu, tidak digubris dan ditanggapi oleh Danu. Danu hanya minta maaf saja sebagi jawabannya atau balasan pesan chat tersebut.


Danu merebahkan kembali badannya. Dia melihat masih jam empat pagi. Masih ada dua jam lagi untuk dia menikmati istirahatnya. Nanti jam delapan paling lambat dia sudah harus mulai memeras otak dan tenaga kembali.

__ADS_1


__ADS_2