
Ivan pada akhirnya telah selesai menghapus semua data data yang membahas tentang kehidupan Ranti yang bertebaran di internet. Ivan hanya meninggalkan berita berita yang membahas tentang keberhasilan Ranti saja, sedangkan yang bagian keburukan Ranti sudah dibumi hanguskan oleh Ivan.
"Yes akhirnya" ujar Ivan sambil menaruh tangannya di belakang kepala.
"Udah selesai loe hapus?" ujar Iwan sambil menatap ke arah Ivan
"Sudah Bang. Gue tinggalin yang baik baiknya aja, yang nggaknya udah gue internet hanguskan" kata Ivan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Iwan kepada dirinya
"Internet hanguskan? Yang ada bumi hanguskan" ujar Iwan yang heran dengan kosakata yang dipakai oleh Ivan.
"Bumi hanguskan itu kalau bendanya nampak Bang. Ini bendanya kan nggak nampak" ujar Ivan membela dirinya atas pemilihan kosa kata yang sangat absurd yang dipilih oleh Ivan.
"Serah loe deh,Van. Gue nyerah"
"Tidur yok Bang. Gue besok ada meeting" ujar Ivan mengajak Iwan untuk beristirahat.
Kedua pria tampan itu kemudian naik ke atas ranjang besar. Mereka kemudian terlelap setelah terlibat obrolan sedikit, Mereka mengobrol sebelum masuk ke alam mimpi. Kebiasaan yang selalu dilakukan oleh Ivan dan Iwan saat mereka menginap bersama.
......................................................
Pagi harinya Ayah telah selesai memasak sarapan untuk dirinya, Ivan dan Iwan. Ayah sengaja memasak sarapan supaya memiliki waktu untuk mengobrol dengan Ivan tentang keluarga Wijaya. Keluarga yang ternyata bukanlah saingan dari keluarga mereka.
Ayah menghidangkan hasil masakannya ke atas meja makan. Ivan dan Iwan yang sudah selesai bersiap siap berjalan keluar dari dalam kamar. Mereka menuju ruang tengah panthouse.
"Hay anak muda sarapan dulu" ujar Ayah yang baru keluar dari dalam kamarnya dan melihat Ivan serta Iwan yang sudah berada di depan pintu lift.
Ivan dan Iwan yang kaget mendengar suara Ayah, langsung saja berbalik dan berjalan menuju Ayah yang sudah berdiri di ruang tengah.
__ADS_1
"Ayok Ayah sarapan dengan kami di luar" ujar Ivan mengajak Ayah untuk sarapan bersama dengan mereka berdua di warung langganan mereka untuk sarapan.
"Ngapain harus di luar, di sini aja" ujar Ayah menawarkan Ivan dan Iwan untuk sarapan di panthuose saja
"Kelamaan Ayah kalau harus menunggu orang nganter makanan. Mending langsung makan di luar aja" kata Ivan yang tetap ngeyel untuk mengajak Ayah sarapan di luar.
"Siapa bilang mau makan nunggu pesanan dulu, ya nggak lah." ujar Ayah menjawab perkataan yang diajukan oleh Ivan kepada dirinya
"Terus mau makan apa?" Ivan menatap ke arah Ayah. " Jangan Ayah bilang kalau kita akan makan angin atau kue oles kacang" lanjut Ivan yang kali ini tidak ingin makan makanan cepat saji seperti itu.
"Makanya denger dulu orang ngomong baru sangkal. Kebiasaan buruk itu buang jauh jauh" ujar Ayah yang paling kesal dengan sifat dan sikap Ivan yang satu itu, sifat yang selalu menjawab perkataan Ayah sebelum menyaksikan dan mendengarkan dulu kejadian yang sebenarnya.
Ivan yang mendapatkan sedikit hardikan dari Ayah langsung terdiam dan menatap lurus kepada Ayah. Ivan mengatupkan kedua tangannya tanda meminta maaf kepada Ayah. Iwan yang mendengar ada sedikit nada marah hanya bisa diam saja. Iwan tidak akan mungkin ikut campur saat seorang Ayah mengajarkan tata krama dan cara bersikap kepada putra kandungnya yang memang menurut Iwan juga salah.
"Ayah udah selesai masak sarapan. Kita tinggal menikmati saja lagi" ujar Ayah mengatakan kepada Ivan dan Iwan kalau dirinya sudah selesai menyiapkan menu sarapan untuk mereka bertiga.
Ivan dan Iwan kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Ayah. Mereka tidak menyangka seorang direktur bersedia bangun di pagi hari untuk memasak menu sarapan untuk kedua anaknya itu.
"Serius. Kamu lihat saja ke meja makan kalau kamu tidak percaya kalau Ayah telah selesai memasak menu sarapan untuk kita makan pagi ini" ucap Ayah sambil berjalan menuju meja makan
Ivan dan Iwan menuruti langkah kaki Ayah dari belakang. Mereka kurang percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ayah. Ayah memang sering memasak, tetapi itu untuk makan malam, kalau untuk makan malam Ivan tidak akan kaget. Tapi ini untuk sarapan, hal itu membuat Ivan kaget dan berpikir kalau Ayah bercanda saat mengatakan Ayah sudah memasak untuk sarapan.
Ternyata apa yang dikatakan oleh Ayah adalah kebenaran. Ayah memang sudah menyiapkan menu sarapan untuk mereka makan pagi ini bertiga. Ayah sudah membuat nasi goreng, ada ayam goreng serta potongan tomat dan timun tidak ketinggalan juga telor dadar yang sudah diiris oleh Ayah.
"Jam berapa bangun Ayah?" ujar Ivan yang akhirnya mengeluarkan suaranya saat melihat hidangan nasi goreng lengkap yang telah disiapkan oleh Ayah untuk mereka santap bersama sama.
"Jam lima ntah setengah lima" jawab Ayah
__ADS_1
"Sudah nggak usah pikir jam berapa bangun, mari kita sarapan. Kamu ada meeting kan dengan salah satu perusahaan yang akan menjadi mitra kita" ujar Ayah mengingatkan Ivan akan perbincangan bisnis mereka dengan salah satu perusahaan yang akan menjadi mitra perusahaan Danu yang sekarang dikendalikan oleh Ayah.
Ivan mengangguk. Mereka bertiga kemudian menikmati menu nasi goreng lengkap yang telah disiapkan oleh Ayah untuk menu sarapan pagi ini. Sesuatu yang tidak pernah terjadi lagi semenjak Ivan dan Sari sudah dewasa. Waktu mereka kecil kecil dulu saat tinggal di negara U, Ayah memang selalu menyiapkan sarapan untuk Ivan dan Sari sekaligus menyiapkan bekal makan siang yang akan di bawa oleh Ivan dan Sari ke sekolah.
...............................................................................................................................................
Sedangkan di negara U, Deli yang telah selesai mandi sore berencana untuk menyampaikan keinginannya kepada Nenek dan Atuknya. Deli berencana untuk menginap malam ini di rumah Bunda Vina dan Mami Maya. Deli sudah selesai bersiap siap. Dia akan di antar oleh Sari ke rumah Vina dan Maya.
"Udah selesai sayang, gadis kecil aunty?" ujar Sari bertanya kepada Deli yang terlihat sudah siap untuk berangkat menuju rumah Vina untuk menginap malam itu di sana.
"Sudah Aunty. Aku sudah siap untuk berangkat" ujar Deli dengan semangatnya
Sari mengambil tas milik Deli yang di dalamnya sudah ada pakaian ganti yang akan dikenakan Deli saat dirinya tinggal bersama dengan Vina dan Maya/
"Apa kamu sudah ngomong dengan Nenek dan Atuk?" ujar Sari bertanya saat dirinya dan Deli meninggalkan kamar Deli dan menuju ruang keluarga, dimana Nenek dan Atuk sedang duduk di sana sambil menonton serial drama kesukaan nenek.
"Udah aunty. Nenek dan Atuk mengizinkan untuk aku menginap di rumah Bunda dan Mami" ujar Deli menjawab pertanyaan dari Sari.
"Sip, sekarang mari kita minta izin kepada Nenek dan Atuk" ujar Sari dengan bersemangat membawa Deli untuk meminta izin kepada nenek dan atuknya itu.
"Hay kamu sudah siap sayang?" ujar nenek saat melihat deli yang sudah siap dengan barang bawaannya untuk menginap di rumah Vina
"Sudah nenek. Deli berangkat dulu ya Nek" ujar Deli meminta izin kepada nenek dan atuknya
"Oke sayang. Hati hati ya." ujar nenek sambil mencium pipi Deli kiri dan kanan
"Sari jaga keponakan kamu ya" ujar Nenek meminta Sari untuk selalu mendampingi Deli
__ADS_1
"Siap Mami" jawab Sari
Sari dan Deli berjalan meninggalkan mansion. Mereka masuk ke dalam mobil.Sari mengemudikan mobil menuju rumah Vina dan Maya. Vina dan Maya sudah menunggu kedatangan Sari dan Deli dengan makanan kesukaan mereka berdua.