
Matahari sudah mengintip masuk ke kamar rawat Vina. Maya sudah terbangun sejak dari tadi. Dia melihat Vina masih terlelap tidur. Maya tau kalau kemaren malam Vina tidur larut karena masih memikirkan hal yang sama.
"Kawan, gue nggak akan biarkan siapapun menyakiti kamu. Kamu adalah sahabat sekaligus kelargaku. Aku janji akan selalu menjagamu." ucap Maya lirih.
Maya benar benar kasihan dengan Vina. Maya sangat tau Danu adalah kekasih pertama Vina. Vina selama ini selalu menutup hatinya untuk lawan jenis, nah saat Vina sudah membuka hatinya ternyata hati Vina salah memilih. Sebenarnya bukan salah memilih tetapi belum tepat pada posisinya.
Tok tok tok. Bunyi pintu kamar yang diketuk dari luar. Maya pergi membuakakn pintu kamar. Seorang dokter dan suster yang akan visit pasien sudah berdiri di depan pintu.
"Silahkan masuk dokter. Cuma Vinanya masih tertidur." ujar Maya mempersilahkan dokter untuk masuk.
Dokter dan Suster masuk ke dalam kamar. Pas saat itu Vina baru terbangun dari tidur lelapnya setelah semalaman sama sekali tidak bisa tidur akibat kejadian itu.
"Maaf dokter saya baru bangun." ujar Ghina dengan malunya.
"Wah nggak apa apa Nona Vina. Kami berdua maklum kok. Nona pasti sudah lama tidak merasakan tidur dengan nyenyak." ujar dokter yang selama ini mengurus Vina.
Dkter kemudian memeriksa keadaan Vina. Dokter sekarang sudah sangat yakin kalau Vina sudah sehat. Jadi dia sudah memutuskan Vina bisa pulang sekarang.
"Bagaimana Dok, apakah saya sudah bisa pulang pagi ini?" tanya Vina lagi.
"Sudah Nona. Nona Vina sudah boleh pulang. Silahkan urus administrasinya dulu. Setelah itu Nona boleh pulang." jawab dokter sambil tersenyum.
"Jaga kesehatan Nona. Saya tidak ingin merawat Nona selalu." ujar dokter tersebut menggoda Vina.
"Saya suka dokter rawat." jawab Vina membals godaan dokter.
"Hahahahaha. Kalau begitu kami permisi dulu Nona." ujar dokter mengakhiri percakapan tidak penting itu.
Setelah dokter pergi Vina meminta Maya untuk membayar semua administrasinya. Saat Maya mengurus administrasi Vina membereskan semua barang barangnya. Dia memasukan semua pakaiannya ke dalam koper yang ada.
Saat menunggu Maya datang, Vina melihat ponsel miliknya. Vina berharap Danu mengirim pesan atau hanya sekedar menghubunginya. Tetapi harapan tinggak harapan Danu sama sekali tidak ada menghubungi atau hanya sekedar mengirim chat maupun pesan.
"Oke sip. Lebih baik begini dari pada harus terus berharap menjadi yang satu satunya." ujar Vina sambil mengusap air matanya yang lolos menetes.
Semuanya tak luput dari perhatian Maya. Maya duduk di kursi depan kamar. Dia juga merasakan kepedihan yang dirasakan oleh Vina.
"Kamu kuat sobat." ujar Maya.
Maya membuka pintu ruangan rawat Vina. Maya melihat semuanya sudah dirapikan oleh Vina.
"Udah semua Vin?"
"Udah May, ayoklah pulang aku udah nggak betah di sini lagi." ujar Vina yang memang sudah tidak ingin lagi berada di rumah sakit.
__ADS_1
Maya membantu Vina mengangkat salah satu barang yang paling besar. Vina sebelumnya sudah memesan taksi online untuk mengantarkan mereka ke kontrakan.
"Dengan mbak Vina?" tanya supir taksi online yang telah dipesan Vina
"Iya Pak." jawab Vina.
Sopir taksi online kemudian memasukan semua barang barang Vina ke dalam bagasi mobil. Setelah memastikan semua barang telah masuk ke dalam bagasi mobil, pak Sopir mulai menjalankan mobilnya menujud rumah kontrakan Vina. Vina menatap lama rumah sakit itu.
"Ini untuk yang pertama dan terakhir aku msuk rumah sakit gara gara wanita itu." ujar Vina.
Vina kemudian memilih untuk beristirahat sepanjang perjalanan pulang. Tak terasa mereka telah sampai di depan kontrakan Vina. Pak sopir menurunkan semua barang bawaan Vina.
Vina yang sudah bangun langsung berjalan masuk ke dalam rumah. Dia benar benar sudah kangen dengan kasur empuknya itu.
"May, aku istirahat dulu ya. Kalau kamu mau tolong buatkan aku sayur toge pakai wortel tambah tahu ya May. Aku pengen makan sayur." kata Vina sambil melangkah masuk ke dalam kamarnya.
"Sip. Loe istirahat aja. Gue akan masak makanan kesukaan loe." ujar Maya
Maya kemudian memasukan pakaian kotor Vina ke dalam mesin cuci. Dia langsung mencuci pakaian yang baru pulang dari rumah sakit itu.
Saat pakaian Vina dicuci bersih. Maya mulai membuat menu makan siang untuk mereka berdua.
Tiba tiba.
"Kenapa Danu tidak menjemput Vina ya?" tanya Maya bermonolog sendirian
Maya yang sudah kepo luar biasa, mengeluarkan ponsel miliknya. Dia langsung mengirim pesan kepada Ivan. Pria yang sudah resmi menjadi kekasihnya itu.
'Sayang, apa Danu kerja?' bunyi pesan yang dikirim oleh Maya.
'Kami sedang meeting penting sayang. Ada sesuatu yang terjadi dengan pembangunan kantor baru.' balas Ivan kepada Maya
'Oh baiklah. Maaf telah mengganggu sayang' balas Maya yang merasa bersalah karena sudah mengganggu Ivan.
'Tidak apa apa sayang. Apa Vina sudah keluar dari rumah sakit?' tanya Ivan yang memang tau dari Maya kalau Vina akan keluar dari rumah sakit hari ini
'Udah. Kami udah di rumah. Lanjut kerja dulu sayang. Aku mau masak makan siang. Kalau sempat ke sini aja makan. Muach' balas Maya.
"Muach. Nggak janji sayang. Ntah bisa ntah ndak." jawab Ivan yang memang tidak tau kapan meeting mendadak itu akan selesai.
'Oke sayang. Hati hati.' balas Maya.
'Makasi sayang. Muach' balas Ivan.
__ADS_1
Maya kembali meletakan ponsel miliknya. Dia kembali melanjutkan acara memasak sekaligus mencuci itu.
Maya menyelesaikan masakannha tepat jam dua siang. Dia pergi membangunkan Vina.
"Vin bangun siang. Loe belum sholat. Selesai loe sholat kita makan siang ya. Gue udah siap masak." kata Maya membangunkan Vina yang benar benar terlelap itu.
Vina mengucek matanya dengan punggung tangannya.
"Apa Danu datang May?" tanya Vina dengan pelan.
"Mereka sedang meeting penting di kantor. Ada kendala dengan pembangunan kantir di luar daerah." jawab Maya.
"Kok kamu bisa tau?" tanya balik Vina yang penasaran kenapa Maya bisa sampai tau dengan masalah proyek luar daerah itu.
"Hehehehehehe." ujar Maya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kamu jadian dengan Ivan nggak ngasih tau gitu?" Vina langsung meledakan bom di kepala Maya.
"Hahahahaha. Loe di rumah sakit, makanya nggak gue kasih tau. Jangan pake marah. Sakit lagi mau?" ujar Maya berusaha mengalihkan percakapan itu.
"Hm oke oke kamu hutang cerita dengan gue. Gue mandi dulu. Nanti siap sholat kita makan." jawab Vina.
Vina meraih handuknya. Dia mandi dan setelah selesai mandi Vina melakukan kewajibannya.
Sedangkan Maya sibuk menyiapkan menu makan siang mereka di atas meja makan. Vina yang selesai sholat keluar dari kamarnya langsung disambut dengan wangi makanan yang luar biasa menggiurkan itu.
"Wow. Kita ada acara apa?" tanya Vina menganga melihat semua masakan spesial yang dihidangkan oleh Maya.
"Pertama menyambut kamu pulang ke rumah dan memulai hari yang baru tanpa memikirkan nenek lampir nggak ada guna itu." ujar Maya.
Vina mengangguk tanda mengerti dengan ucapan Maya. Vina sangat tau Maya sangat sayang dan perhatian ke dirinya.
"Keduanya?" Vina menggoda Maya.
"Kamu pasti tau." jawab Vina.
Mereka berdua menyantap makan siang yang dibuat oleh Maya. Mereka berdua sangat suka makan sambil mengobrol asik. Mereka berdua larut dalam obrilan itu.
"Besok gue kantor May." ujar Vina.
"Sip. Gue besok juga udah banyak orderan. Tapi ada satu yang gue ragu bikinnya." ujar Maya.
"Apa?"
__ADS_1
"Tumpeng lengkap." jawab Maya yang memang tidak bisa memasak tumpeng lengkap.
"Gue aja. Aman itu"