Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Kekalutan Vina


__ADS_3

Danu memesan menu makan siang untuk mereka bertiga. Setelah memesan makanan untuk mereka bertiga, Danu menuju meja yang sudah ditempati oleh Vina dan Maya.


"Sayang kamu udah boleh pulangkah?" tanya Danu yang melihat Vina sudah melepas infusnya.


"Sudah sayang, besok pagi sudah boleh pulang. Apa kamu bisa antar aku pulang besok?" tanya Vina yang sebenarnya hanya basa basi saja.


"Aku usahakan ya sayang. Seandainya aku tidak bisa, aku akan kirim Iwan atau Ivan untuk mengantarkan kamu pulang ke rumah." ujar Danu kepada Vina.


"Kalau kamu dan mereka sibuk nggak usah saja sayang, aku pulang dengan taksi online aja sama Maya." ujar Vina yang tau kalau sekarang pekerjaan sedang banyak banyaknya.


Hal ini yang membuat Danu, Iwan dan Ivan harus bekerja ekstra. Makanya Vina tidak ingin memaksa Danu untuk mengantarnya pulang ke rumah esok hari.


Pelayan kantin datang mengantarkan pesanan Danu tadi. Mereka menyantap makan siang itu dengan santai. Saat makan siang tiba tiba ponsel Danu berdering. Dia melihat kalau Presiden Direktur mereka menghubungi dirinya.


"Sayang, aku angkat telpon bentar ya. Presdir nelpon." ujar Danu memberitahukan kepada Vina siapa yang menghubungi mereka saat jam makan siang.


Vina mengangguk mengerti dengan keadaan Danu yang kapan saja pasti akan dihubungi oleh Presiden Direktur atau manager bidang lain.


Danu mengangkat panggilan telpon dari presiden direktur membutuhkan waktu yang lama hampir setengah jam lamanya. Saat dia kembali makanan di piring Vina dan Maya sudah habis tak bersisa.


"Maaf sayang, aku lama mengangkat panggilan telponnya." ujar Danu yang merasa tidak enakan dengan Vina dan Maya.


Danu yang mengajak mereka makan siang di luar eeeee malahan Danu yang meninggalkan mereka untuk menerima telpon dari bos besar.


"Nggak apa apa sayang, aku maklum kok." jawab Vina sambil memberikan hadiah senyuman manis untuk Danu.


Mereka bertiga kembali munuju ruang rawat Vina.


"Sayang, aku langsung ke kantor ya." ujar Danu kepada Vina.


"Hati hati sayang." ujar Vina yang sebenarnya enggan melepas Danu untuk pergi ke perusahaan.


"May, apa pesanan untuk besok masih banyak?" tanya Vina kepada Maya tentang perkembangan warung mereka.


"Nggak May. Besok aku sengaja nutup warung kita dan juga tidak menerima pesanan." jawab Maya sambil menunduk karena dia sudah mengambil kesimpulan sendiri.


"Kok di tolak May?" tanya Vina yang heran Maya menutup dan menolak pesanan.

__ADS_1


"Gue pengen jemput elo. Terus gue merasa badan gue sedikit lelah Vin. Makanya gue ngambil keputusan itu. Maafin gue karena nggak ngomong dulu sama loe." jawab Maya sambil kembali menundukkan kepalanya.


"Ngapain harus menunduk May. Kalau loe sakit loe berhak untuk beristirahat. Gue nggak marah kok. Malahan gue senang loe udah bisa mengambil keputusan." ujar Vina menepuk bahu Maya.


Vina tidak mau Maya merasa bersalah karena sudah mengambil keputusan sendirian.


Mereka berdua terus mengobrol sampai matahari sudah tergelincir keperaduannya.


"Vin, gue nginap sini ya." ujar Maya.


Maya melihat tidak ada tanda tanda Danu dan dua sahabatnya akan datang untuk menemani Vina malam ini.


"Oke sip. Gue juga seneng loe tidur di sini." jawab Vina.


"Gue beli makan malam bentar ya. Loe nggak apa apa kan ditinggal sendirian?" ujar Maya lagi. Maya memang sudah merasakan rasa lapar di perutnya.


Maya pergi meninggalkan Vina sendirian di kamarnya.


Maya di jalan berselisih dengan seorang wanita yang rasanya tidak asing dilihatnya. Maya memberhentikan langkahnya, dia mengikuti wanita cantik yang seperti sosialita itu.


"Loh dia siapa? Kenapa main masuk ke kamar Vina aja? Gue rasa Vina nggak kenal dengan dia." ujar Maya.


Maya mempercepat langkah kakinya. Maya membuka pintu kamar Vina bertepatan dengan wanita itu akan menampar Vina.


Maya memegang tangan wanita itu. Wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Ranti menjadi terkejut saat tangannya di pegang seseorang di udara.


Maya memelintir tangan wanita itu ke belakang punggungnya.


"Siapa loe berani berani mau ngegampar sahabat gue." teriak Maya di telinga Ranti.


"Harusnya gue yang nanyak. Siapa elo berani beraninya megang tangan mahal gue." jawab Ranti tak kalah sewotnya.


"Tangan mahal dari hongkong." ujar Maya dan makin kuat memelintir tangan Ranti.


Vina yang pucat karena kedatangan Ranti membiarkan saja Maya menyakiti tangan wanita yang hampir saja menggamparnya tadi.


"Woi pelakor suruh wanita bar bar ini melepas tangannya dari tangan gue. Sakit tau." ujar Ranti meneriaki Vina.

__ADS_1


"Apa loe bilang sahabat gue pelakor??? Loe nya aja wanita tak tau diri. Udah punya laki baek malah selingkuh." balas Maya tidak kalah sewotnya.


"Tukang selingkug teriak selingkuh. Dasar percuma aja pinter kalau otak udah digadaikan." lanjut Maya lagi dengan membabi buta.


Ranti terus saja bergerak gerak. Maya yang bosan mendorong Ranti ke sudut pintu kamar.


"Loe silahkan keluar dan jangan pernah ganggu sahabat gue lagi. Masalah laki loe urus dengan laki loe. Bukan dengan sahabat gue." ujar Maya menekankan setiap kata katanya.


"Dasar wanita bar bar. Kedua duanya sama saja." teriak Ranti dengan kesal.


"Loe yang bar bar beraninya main serang aja. Kesalahan loe sendiri aja loe nggak tau." balas Maya lagi.


Vina hanya bisa terdiam saja. Dia sama sekali tidak bergerak. Maya yang melihat langsung berlari memeluk Vina.


"Jangan pikirkan wanita gila itu." ujar Maya sambil mengusap punggung Vina.


"Tapi dia benar" jawab Vina.


"Dia nggak benar. Dia pembohong. Dia hanya melempar kesalahannya kepada orang lain." ujar Maya kembali menenangkan Vina.


"Vin, kalau loe begini terus nanti ujung ujungnya loe akan sakit lagi." ujar Maya.


Vina kembali berusaha menenangkan dirinya. Apa yang dikatakan oleh Maya memang benar. Dia nggak boleh kembali sakit. Dia tidak boleh membuat rusuh teman temannya lagi.


Maya yang merasakan lapar di perutnya tidak jadi menikmati makan malamnya. Dia menjadi kenyang karena kelakuan Ranti.


"Sekarang kita tidur. Besok kita akan pulang. Setelah tiba di rumah barulah kita akan menentukan apa yang akan kita lakukan selanjutnya." ujar Maya kembali.


"Kalau kita pindah dari daerah ini apakah kamu mau?" tanya Vina kembali.


"Gue akan mendukung semua keputusan loe. Kalau menurut loe yang terbaik kita pergi dari sini, maka kita akan pergi. Kalau loe masih mau bertahan, maka kita akan bertahan." jawab Maya.


"Makasih May. Gue sangat bahagia dan senang loe ada di sisi Gue. Kalau loe nggak ada gue nggak tau gue akan diapain oleh wanita bar bar tadi itu." ujar Vina kembali teringat dengan Ranti yang sudah mengangkat tangannya tadi.


"Nggak usah loe fikirkan. Sekarang yang terpenting loe harus istirahat. Besok kita pulang." ujar Maya.


Vina kemudian merebahkan dirinya. Dia dengan susah payah memejamkan matanya untuk masuk ke alam mimpi. Tapi karena pikirannya sedang kacau Vina sama sekali tidak bisa beristirahat. Dia hanya bisa bolak balik saja tanpa bisa beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2