Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Danu Ngantor Lagi


__ADS_3

Setelah seminggu di rawat di rumah sakit, Danu diizinkan dokter untuk pulang ke rumah. Tetapi Danu masih belum diizinkan untuk bekerja kembali. Dokter masih meminta Danu untuk beristirahat beberapa hari lagi. Hari ini adalah hari kontrolnya Danu ke dokter yang menanganinya.


"Pasien atas nama Danu Wijaya" kata suster memanggil anma Danu.


Danu kemudian berdiri dan berjalan memasuki ruang dokter spesialis penyakit dalam.


"Silahkan duduk Pak? Bagaimana apakah ada keluhan dengan bekas operasinya?"


"Alhamdulillah tidak dokter."


"Kalau begitu kita akan periksa apakah bekas jahitannya sudah mengering atau belum, serta apakah ada infeksi atau tidak. Silahkan berbaring pak."


Danu kemudian berbaring di ranjang periksa dokter. Danu yakin bekas operasinya baik baik saja tidak ada permasalahan apapun yang dirasakannya.


"Saya akan menekan bekas operasi Bapak. Kalau Bapak merasakan nyeri dan perih saat saya menekan, tolong bapak beri tahu."


Danu menganggukkan kepalanya tanda mengerti dengan apa yang diperintahkan oleh dokter. Dokter mulai menekan sisi sisi bekas operasi Danu. Danu sama sekali tidak merasakan sakit pada bekas operasinya.


"Silahkan bangun pak." kata dokter, dokter kemudian duduk kembali ke kursinya. Sedangkan Danu duduk di kursi depan dokter.


"Bagaimana dok dengan luka saya?"


"Alhamdulillah Pak Danu, luka bapak sudah sehat tidak ada yang perlu kita khawatirkan lagi. Semuanya sempurna." kata dokter sambil tersenyum.


"Apakah saya sudah boleh masuk kerja kembali dojter?" Danu akhirnya mengeluarkan pertanyaan yang dari tadi nyangkut di tenggorokannya.


"Sudah Pak Danu, Bapak sudah boleh bekerja. Tetapi jangan melakukan pekerjaan berat. Maksud saya mengangkat beban berat jangan dulu. Takutnya nanti luka pak Danu kembali robek"


"Untuk makanan apakah saya masih ada pantangannya dok?"


"Mana ada Pak Danu, Bapak boleh makan apapun, asalkan itu makanan sehat." Dokter kemudian menuliskan resep obat yang harus di tebus oleh Danu.


"Ini pak, resep obat Bapak. Tebus di apotik. Untuk kedepannya apabila bapak ada keluhan bapak boleh datang kembali."


"Baiklah dokter, terimakasih atas sarannya. Saya permisi dulu."


Danu kemudian berdiri dan melangkah keluar menuju apotik rumah sakit. Danu mengantri menunggu namanya di panggil. Selama menunggu Danu membaca pesan pesan yang masuk ke ponselnya. Tapi sayangnya tidak ada pesan dari seseorang yang sangat diharapkannya mengirim sebuah pesan, tidak perlu panjang cukup hay saja sudah membuat Danu bahagia. Tapi harapan hanya tinggal harapan, orang yang diharapkan mengirim pesan tidak ada mengirim pesannya kepada Danu.

__ADS_1


"Pasien bernama Danu Wijaya" kata penjaga apotik


Danu kemudian menghampiri sumber suara dan mengambil obat yang sudah diresepkan dokter penyakit dalam. Setelah selesai menebus obat, Danu berencana untuk langsung menuju kantornya. Danu sudah sepuluh hari tidak masuk kantor. Di mata Danu sudah terbayang begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya nanti.


Danu masuk kemobilnya, dia langsung mengarahkan mobilnya ke arah perusahaan. Danu tidak mau menambah liburnya sehari lagi. Danu sudah cukup kuat untuk melakukan kembali aktifitasnya. Setelah berkutat dengan kemacetan Danu akhirnya sampai juga di perusahaan tempat dia bekerja. Danu langsung menuju ruangannya.


"Assalamualaikum" Danu kemudian masuk kedalam ruang kerja devisinya.


"Udah sehat Pak?" tanya Ifan


"Udah Fan. Tadi siap kontrol, kata dokter saya sudah boleh masuk kerja lagi" Danu kemudian duduk di sofa ruangan.


"Mana yang Iwan dan Vina, Fan?" Danu melihat hanya ada Ifan saja diruangan itu.


"Mereka sedang dinas luar Pak. Gantian saya yang jaga gawang." kata Ifan.


"Oh kalau gitu saya keruangan dulu Fan. Kalau kamu tidak keberatan bisa mintak tolong buatkan secangkir teh, setelah itu kamu antarkan ke ruangan saya." kata Danu sambil beranjak masuk kedalam ruangannya.


"Oke Pak." Ifan kemudian ke pantry untuk membuatkan Danu teh serta memberikan cemilan berupa brownis kukus yang dibuat oleh Vina.


Ifan meletakkan cangkir teh dan piring kecil berisi brownis di atas meja kerja Danu.


"Sama-sama Pak. Pesan saya jangan terlalu diforsir dulu Pak. Nanti sakit lagi. Pelan-pelan aja Pak."


"Terimakasih Fan sudah mengingatkan. Saya tidak akan memforsirnya. Saya juga takut tidur di rumah sakit lagi Fan." kata Danu sambil tersenyum miris mengingat berbagai jarum ditusukkan ke badannya.


Ifan kembali ke mejanya melanjutkan pekerjaan yang tadi dia tinggalkan. Tak lama kemudian setengah jan sebelum jadwal makan siang masuk, Iwan dan Vina datang dengan membawa kotak makanan. Iwan langsung duduk di sofa, dia melepaskan capeknya. Sedangkan Vina langsung menyusun menu makan siang mereka di meja. Vina meletakkan tiga buah piring saja. Ifan tiba tiba teringat Danu yang sudah datang untuk bekerja kembali.


"Vin, piringnya empat Vin. Bukan tiga lagi." teriak Ifan dari meja kerjanya.


"Kok empat bang? Emang Pak Danu udah masuk kerja lagi?" tanya Vina keheranan.


Ifan pun mengangguk mengiyakan pertanyaan dari Vina. Iwan yang penasaran langsung mengintip lewat jendela kedalam ruangn Danu. Ternyata memang bemar Danu sedang berkutat dengan pekerjaannya.


"Beneran Vin. Tuh sedang sibuk di dalam." kata Iwan.


Tak terasa waktu makan siangpun datang. Ifan, Iwan dan Vina sudah duduk dikursinya masing-masing. Sedangkan Danu masih di dalam ruangan. Masing dalam posisi yang sama.

__ADS_1


"Bang, panggil Pak Danu gih." kata Vina.


"Kamu aja Vin." jawab Iwan.


Vina yang tidak mau berdebat, langsung saja memanggil Danu dengan hanya membuka pintu ruangan tanpa masuk kedalam.


"Pak Danu mari makan siang. Bang Iwan dan Bang Ifan sudah di meja makan. Tinggal nunggu Pak Danu saja lagi." kata Vina tanpa melihat kearah Danu.


"Baiklah saya akan kesana." kata Danu sambil langsung berdiri dari kursi kerjanya. Danu tidak ingin Vina lama lama menundukkan kepalanya.


"Sampai kapan kamu akan terus tidak mau menatap ku Vin?" kata Danu di dalam hatinya saat dia melewati Vina menuju meja makan.


Danu kemudian mengambil makanan yang ada, setelah itu baru diikuti oleh Iwan, Ifan dan Vina. Mereka makan dalam diam, karena kecanggungan yang disebabkan oleh interaksi Danu dan Vina. Akhirnya makan siang yang lumayan mencekam itu selesai sudah.


"Gimana keadaan loe Dan?" tanya Iwan.


"Udah jauh lebih baik dibanding sepuluh hari yang lalu. Tadi gue siap kontrol ke dokter, katanya gue udah bisa mulai beraktifitas seperti biasa tetapi mengurangi porsinya sedikit."


"Oo jadi maksudnya nggak boleh terlalu diforsir begitu?"


Danu mengangguk. "Dah yuk sholat. Imam kamu Fan" kata Danu.


Mereka semua mengambil wudhu bergantian. Setelah itu Iwan qomad dan Ifan maju menjadi imam sholat zhuhur. Selesai sholat mereka kembali beraktifitas, mengerjakan pekerjaan kantor yang belum mereka selesaikan. Tak terasa jam pulang kantor pun datang. Vani berkemas kemas siap untuk pulang ke kontrakannya. Iwan dan Ifan sudah duduk santai di sofa.


"Bang, Vina duluan ya." kata Vina sambil mengangkat semua barang bawaannya.


"Oke. Kami nunggu Danu dulu. Nanti takutnya kalau tidak diawasi dia akan lembur. Dia sakit kita juga yang sibuk" jawab Iwan dengan santai.


"Oke sip. Selamat ngeronda Bang" kata Vina. Vina kemudian keluar dari kantor menuju parkiran motornya. Vina harus bergegas pulang, karena tadi Maya menelpon kalau ada pesanan kue ulang tahun yang akan diambil jam delapan malam nanti.


Setelah sampai di rumah, Vina langsung memanggil.Maya.


"May, seperti apa desain yang diminta oleh konsumen?"


Maya kemudian melihatkan seperti apa kue yang dipesan oleh ibu-ibu yang super duper bikin kesel. Mesan kue ulang tahun jam lima sore diambil jam delapan malam. Untung saja Vina tadi bagi membuat brownis dilebihkan dua loyang. Sekarang Vina hanya memikirkan menghiasnya saja lagi.


Vina menukar baju kantornya dengan baju rumahan. Setelah itu Vina berkutat dengan menghias kue ulang tahun, walaupun pemesanan datangnya sudah sangat tapi Vina tidak pernah mau mengecewakan custemernya, Vina selalu menyanggupi kalau Vina masih bisa.

__ADS_1


Akhirnya kue dadakan itu selesai juga dibuat oleh Vina dan Maya.



__ADS_2