Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Kesedihan Ivan dan Sari


__ADS_3

Mami, Ivan dan Sari akhirnya sampai juga di ruang rawat Danu. Mami mengetuk pintu ruangan dengan tidak sabaran.


"Siapa coba yang ngetik kayak gitu. Nggak tau apa ini rumah sakit bukan kontrakan." ujar Paman kesal dengan bunyi pintu yang diketuk tidak sabaran itu.


Paman yang baru keluar dari kamar mandi, langsung saja berjalan ke arah pintu untuk membukakan pintu ruangan. Paman berencana akan menyemprot orang yang sudah tidak sopan mengetuk pintu itu. Tapi saat melihat siapa yang mengetuk, niat Paman langsung dibatalkan. Tidak mungkin Paman menyemprot orang tersebut.


"Loh kak, kenapa kelihatannya lelah sekali? Ada apa?" tanya Paman saat melihat Kakak iparnya sedikit sesak nafas.


Mami, Ivan dan Sari berjalan masuk ke dalam ruangan Danu. Mereka bertiga langsung duduk di atas sofa yang ada di sana. Mereka bertiga menselonjorkan kaki yang memang terasa sangat berat itu.


"Kenapa Dik?" tanya Papi kepada Paman.


"Nggak tau juga Kak. Kakak ipar belum ada ngasih tau kenapa nya mereka bertiga" ujar Paman menjawab pertanyaan dari kakaknya itu.


"Mami kenapa? kok kayak orang sesak nafas gitu?" tanya Papi kepada Mami saat Papi melihat Mami, Ivan dan Sari sesak nafas dan langsung duduk saat baru sampai di dalam ruang rawat.


"Ini gara gara Bang Ivan, Papi" ujar Sari yang memilih untuk menceritakan kepada Papi apa yang terjadi sehingga membuat mereka menjadi seperti sesak nafas itu.


"Kok Bang Ivan? Apa hubungannya?" kali ini Ayah yang bertanya.


Kok bisa mereka bertiga lelah karena Ivan. Apa yang telah dilakukan oleh Ivan sehingga bisa membuat mereka bertiga menjadi lelah seperti itu.


"Abang ngajak kami jalan ke sini naik tangga Ayah. Bayangin aja dari lobby jalan naik tangga ke lantai tiga. Siapa yang nggak akan capek" ujar Sari menceritakan kronologis kenapa mereka bertiga menjadi sangat kelelahan seperti sekarang ini.


Papi menatap Mami dengan tatapan tidak percayanya seorang Mami yang udah sangat dewasa mau menuruti keinginan Ivan berjalan kaki.


"Mau gimana lagi Pi. Alasan Ivan ke kami berdua, kapan lagi kami olahraga, udah beberapa hari nggak pernah olahraga. Makanya kami mau. Ternyata oh ternyata, capek banget" ujar Mami sambil memegang kakinya yang masih dirasa sangat luar biasa capeknya itu.


Saat mereka mengobrol, pintu ruangan di ketuk dari luar. Ivan berjalan membuka pintu ruangan tersebut.


"Silahkan masuk dokter" ujar Ivan mempersilahkan dokter yang melakukan visit pasien untuk masuk ke dalam ruangan Danu.


Dokter dan suster kemudian masuk ke dalam kamar rawat Danu. Mereka melihat Danu sudah bangun dari tidurnya, tetapi sama sekali tidak melakukan aktifitas apapun.


"Sudah bangun dari tidurnya Danu?" tanya dokter kepada Danu.

__ADS_1


"Sudah dokter" jawab Danu.


Mami, Papi dan Paman berjalan menuju arah Danu yang sedang diperiksa oleh dokter. Begitu juga dengan Ivan dan Sari. Mereka juga ikut berjalan di belakang Papi, Mami dan Paman.


"bagaimana dengan kepalanya DanuDanu, apakah masih terasa sakit?" tanya dokter kepada Danu.


"Sudah tidak dokter. Apa yang terjadi kepada saya ya dokter? Kenapa saya bisa berakhir di rumah sakit ini?" ujar Danu bertanya kepada dokter kenapa dia bisa berada di rumah sakit.


"Emang Danu sama sekali tidak mengingat apapun? Mengingat apa penyebab Danu bisa sampai terbaring di rumah sakit?" tanya Dokter kepada Danu.


Dokter ingin memastikan kalau Danu mengalami amnesia atau tidak. Makanya dokter bertanya hal seperti tadi.


"Tidak dokter. Saya sama sekali tidak mengingat kenapa saya bisa berakhir di sini dokter" ujar Danu kepada dokter yang memeriksa dirinya.


"Kalau dua orang ini kamu bisa ingat tidak?" tanya dokter kepada Danu.


Dokter kemudian meminta Ivan dan Sari untuk maju ke depan Danu.


Danu menatap ke arah Ivan dan Sari. Danu berusaha mengingat siapa kedua orang yang berada di depannya kali ini.


"Apa mereka berdua sangat penting dalam hidup aku dokter?" tanya Danu kepada dokter tersebut.


"Nggak dokter. Aku sama sekali tidak bisa mengingat mereka berdua. Siapa mereka dokter?" tanya Danu kembali kepada dokter.


"Coba kamu sedikit lebih berusaha lagi Danu, untuk mengingat siapa mereka berdua" ujar dokter memberikan motivasi kepada Danu.


Danu berusaha mengingat siapa dia orang yang berdiri di hadapannya. Semakin Danu memaksa untuk mengingat, dia sama sekali tidak bisa mengingat siapa mereka berdua.


"Dokter, saya menyerah. Saya tidak bisa mengingat mereka berdua dokter." ujar Danu dengan meringis.


Danu sudah berusaha untuk mengingat siapa Ivan dan Sari. Tetapi, sayangnya Danu masih tidak bisa juga mengingatnya. Makanya dia memilih untuk menyerah saja lagi.


"Maaf ya, saya tidak bisa mengingat kalian berdua. Tapi saya pasti akan berusaha untuk mengingta" ujar Danu kepada Ivan dan Sari.


"Dokter, apa saya boleh istirahat lagi?" tanya Danu yang merasakan kepalanya sudah mulai sakit lagi.

__ADS_1


"Silahkan Danu. Kamu memang harus banyak banyak istirahat. Biar kesehatan kamu cepat pulih, dan kamu bisa kembali berusaha untuk mengingat semua kejadian sebelum kamu bisa sampai di sini" ujar Dokter mempersilahkan Danu untuk beristirahat kembali.


Danu kemudian memilih untuk kembali beristirahat. Dia akan tidur kembali karena rasa sakit sudah mulai terasa di kepalanya karena berusaha mengingat dua orang yang berdiri di depannya ini.


"Tuan dan Nyonya bisa kita duduk sebentar?" ujar dokter mengajak Papi dan Mami serta Paman dan kedua sepupu Danu untuk duduk di sofa.


Mereka semua kemudian mengikuti dokter ke sofa. Mereka akan mendengar apa yang dikatakan oleh dokter tentang keadaan Danu.


"Tuan dan Nyonya, kali ini saya bisa memastikan kalau Danu memang mengalami amnesia. " ujar dokter kepada keluarga Danu.


Mami hanya bisa menutup wajahnya saja saat mendengar apa yang dikatakan oleh dokter. Mami tidak menyangka kalau Danu memang mengalami amnesia. Mami berharap saat Danu mengenal mereka bertiga itu tidak terjadi, ternyata malah sebaliknya.


"Jadi sekarang apa yang harus kami lakukan dokter?" tanya Papi kepada dokter yang menangani Danu.


"kita akan berusaha membantu Danu untuk mengingat semua kejadian." ujar dokter kepada Papi.


"caranya dokter?" tanya Papi selanjutnya.


"kita akan mengingatkan Danu dengan cara menunjukkan apa apa saja yang dilakukannya selama ini. Tetapi kita tidak boleh memaksanya, saya cemas nanti dia akan merasa sakit yang lumayan di kepalanya" ujar dokter memberi pesan kepada Papi.


"Baiklah dokter terimakasih atas sarannya. Jadi kapan anak kami bisa kami bawa pulang dokter?" tanya Papi kepada dokter.


"Melihat kondisi Danu bisa dalam dua hari lagi Tuan. Tapi sekali dua hari Tuan tetap harus membawa Danu ke sini supaya bisa terapi untuk membantu mengigat kembali semua kejadian yang terlupakan oleh Danu" ujar dokter kepada keluarga besar.


"itu adalah pekerjaan terberat kita Tuan. Kalau untuk luka bisa sembuh dengan cepat. Untuk memulihkan semua ingatan Danu, itu yang akan membutuhkan waktu yang lama" ujar dokter mengakhiri percakapan mereka.


"Tolong bantuannya dokter" ujar Papi kepada dokter.


"saya akan berusaha tuan" jawab dokter.


Dokter kemudian pamit untuk meninggalkan ruangan rawat Danu.


"Kita harus berusaha membantu Danu mengingat semua kenangannya yang hilang itu" ujar Papi kepada keluarga besarnya.


"Papi, sekarang yang Mami cemaskan adalah kuliah Danu. Dia harusnya besok sudah masuk kuliah Papi" ujar Mami yang mencemaskan kuliah Danu yang sebentar lagi akan dimulai.

__ADS_1


"Kita akan usahakan Mami." ujar Papi kepada Mami.


Mereka semua terdiam. Mereka benar benar tidak paham lagi dan tidak tau mau berbuat apa lagi. Akhirnya mereka memilih untuk mengikuti alur yang akan terjadi setiap harinya, sambil mencari langkah untuk kuliah Danu.


__ADS_2