
Hujan membasahi tanah negara U dengan sangat deras. Aroma tanah yang tertimpa air hujan menyeruak ke hidung penduduk negara U yang sedang duduk duduk santai di depan teras rumah mereka. Hal yang sama juga berlaku kepada Papi dan Paman, Mereka berdua menghirup wangi aroma tanah yang tertimpa air dari luar ruangan ICU. Papi dan Paman baru selesai mencari sarapan. Mami tadi menghubungi kalau Mami hanya bisa datang saat operasi Danu akan dilakukan.
Mami tadi memilih untuk mengantarkan Ivan dan Sari ke sekolahan mereka, sehingga tidak sempat memasak sarapan untuk Papi dan Paman.
Papi dan Paman sama sekali tidak mengeluh dengan apa yang dilakukan oleh Mami kepada mereka. Mereka sadar kalau Mami mencari cari kesibukan supaya tidak terpikirkan tentang Danu terus saja.
Paman terlihat membawa dua kantong kresek yang di dalamnya berisi dua kotak nasi goreng dan juga dua botol air minum. Mereka berdua kembali menuju ruangan tempat Danu di rawat.
"Adik jam berapa rencananya Danu akan dilakukan tindakan oleh dokter?" tanya Papi kepada Paman yang berjalan di sebelahnya itu.
"Jam sembilan Kakak. Kita masih ada waktu untuk menikmati sarapan ini lebih kurang dua jam lagi" ujar Paman menjawab pertanyaan dari Papi.
Mereka kemudian berjalan dengan cepat menuju ruangan Danu. Mereka tidak mau saat Danu harus di bawa ke ruangan operasi mereka masih sibuk dengan sarapan yang belum selesai.
Papi melihat ke dalam ruangan Danu dari balik kaca jendela. Harapan Papi Danu sudah bisa duduk atau sekedar membuka matanya saja. Tetapi harapan itu hanya tinggal harapan. Danu masih dalam posisi yang sama semenjak dia di masukkan ke dalam ruangan tersebut.
"Kakak ayo di makan sarapannya. Sebentar lagi dokter akan datang" ujar Paman mengajak Papi untuk memakan sarapan yang sudah dihidangkan oleh Paman di atas meja.
Papi kemudian kembali ke tempat duduknya. Dia duduk dan mengambil satu kotak nasi goreng untuk dinikmati Papi hari ini. Papi makan dengan sangat lahap nasi goreng tersebut. Papi tidak memperdulikan rasanya yang tidak seenak buatan Mami. Tapi, bagi Papi yang penting adalah dia sudah bisa sarapan dan memiliki tenaga kembali untuk menunggui Danu saat operasi nanti.
Saat mereka selesai menikmati sarapan dan Paman sudah kembali membersihkan meja dari kotak kotak nasi goreng. Dokter dan beberapa perawat datang sambil mendorong brangkat yang akan dijadikan tempat untuk membawa Danu ke dalam ruangan operasi.
"Selamat pagi Tuan Sanjaya" sapa dokter kepada Papi dan Paman.
"selamat pagi dokter" jawab Papi dan Paman bersamaan.
"apakah sudah sarapan Tuan?" tanya dokter kembali kepada Papi dan Paman.
"sudah dokter. Apakah sudah waktunya dokter?" tanya Papi kepada dokter.
"Sudah Tuan. Kami akan membawa Danu ke ruangan operasi sekarang" ujar dokter kepada Papi dan Paman.
Semua orang yang sudah memakai pakaian steril langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang rawat Danu. Mereka akan memindahkan Danu ke atas brangkar dan akan membawa Danu ke ruangan operasi.
__ADS_1
Mereka semua membantu memindahkan Danu ke atas brangkar itu. Setelah itu para perawat mendorong Danu untuk menuju ruangan operasi. Papi dan Paman mengikuti dari belakang. Mereka tidak mau ketinggalan oleh rombongan itu.
Saat perawat dan dokter masuk ke dalam lift khusus pasien. Papi dan Paman menjadi ragu untuk ikut masuk atau tidak. Dokter melihat keraguan di mata kedua Tuan Sanjaya itu.
"Tuan masuk saja. Tidak masalah" ujar dokter meminta kedua Tuan Sanjaya itu untuk masuk ke dalam lift yang sama dengan mereka.
Papi dan Paman masuk ke dalam lift. Mereka tetap bisa berada di samping Danu. Papi dan Paman memandang wajah anak mereka.
"Sayang yang kuat ya. Danu harus sehat" ujar Papi dan Paman berbisik di telinga Danu.
Danu sama sekali tidak memberikan respon apapun kepada Papi ataupun Paman. Danu masih setia dengan tidurnya.
Ting, pintu lift terbuka lebar saat mereka sudah sampai di ruang operasi. Suster mendorong brangkar yang di atasnya ada Danu menuju ruang operasi. Sedangkan dokter dan Papi serta Paman masuk ke dalam sebuah ruangan. Papi akan menandatangani beberapa dokumen penting di sana. Dokumen dokumen yang berkaitan dengan operasi yang akan dilakukan sebentar lagi terhadap Danu.
"Baiklah Tuan Sanjaya. Kami akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan Danu" ujar Dokter yang baru saja datang dari luar negeri berdasarkan permintaan dokter yang merawat Danu selama ini.
"Sama sama dokter. Saya mengucapkan terimakasih banyak kepada dokter yang telah bersedia meluangkan waktu untuk melakukan tindakan operasi kepada anak saya, Danu" ujar Papi kepada dokter yang terkenal berjadwal sibuk itu.
"Udah tanggung jawab saya Tuan" jawab dokter dengan kerendahan hatinya.
"Saya hanya perantara Tuan. Berhasil atau tidaknya operasi bukan saya yang menentukan, tetapi yang di atas." ujar dokter kepada Papi dan Paman.
"mari kita ke ruangan operasi. Tuan tadi sudah sempat berbicara dengan Danu di dalam lift bukan?" tanya dokter sambil menatap ke arah Danu.
"sudah dokter. Kami tadi sudah berbicara sebentar dengan Danu. Kami berharap Danu mendengar apa yang kami katakan kepada dirinya" kata Papi menjawab pertanyaan dari dokter tersebut.
"Pasien Danu pasti mendengarnya Tuan. Makanya tadi saya mengatakan teruslah berdoa, mintalah kepada pemberi kehidupan kesehatan dan keberhasilan operasi Danu ini kepada dia" lanjut dokter kepada Papi dan Paman.
"Siap dokter. Kami tidak akan melupakan hal itu" ujar Papi menjawab pertanyaan dari dokter tersebut.
Mereka semua keluar dari ruangan dokter. Dokter kemudian masuk ke dalam ruangan operasi sedangkan Papi dan Paman tetap berada di depan pintu ruangan operasi. Mereka akan menunggu di sana selama delapan jam.
Lampu ruangan operasi sudah menyala warna merah. Saat operasi di mulai Mami datang bersama dengan salah satu manager yang ada di pabrik. Manager itu perlu tanda tangan Papi untuk kerjasama dengan sebuah hotel untuk memasok anggur ke hotel tersebut.
__ADS_1
"Gimana dengan Danu, Papi?" tanya Mami yang baru saja sampai di depan ruangan operasi.
"Danu baru dimulai operasinya Mami. Operasi akan berlangsung lebih kurang delapan jam ke depan" ujar Papi memberitahukan kepada Mami berapa lama operasi itu akan dilakukan oleh tim dokter.
"Lama sekali Papi" ujar Mami yang kemudian memilih duduk di salah satu kursi tunggu yang ada di sana.
"manager ada apa?" tanya Papi mananya manager yang datang bersamaan dengan kedatangan Mami tadi.
"saya mau meminta tanda tangan Tuan untuk menandatangani ini Tuan" ujar Manager memberikan kertas yang harus ditanda tangani oleh Papi.
Papi membaca kertas itu sebelum dia menandatangani nya. Papi terbiasa melakukan hal itu supaya tidak asal menandatangani saja dokumen yang disodorkan oleh karyawannya.
Setelah yakin dengan apa yang dibacanya. Papi baru menandatangani berkas itu. Papi kemudian memberikan kembali kepada manager tersebut.
"Maaf karena saya sudah merepotkan Anda, sehingga membuat Anda harus bersusah payah datang kemari untuk menandatangani setiap surat kerja sama" ujar Papi meminta maaf kepada karyawannya itu.
"Tidak masalah Tuan. Sudah kewajiban saya. Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu Tuan" ujar manager memilih untuk pergi dari rumah sakit.
Pekerjaan manager itu cukup banyak di pabrik. Apalagi semenjak Papi tidak datang datang lagi ke sana. Sehingga membuat pekerjaan manager menjadi berkali kali lipat banyaknya.
Mereka bertiga kemudian menunggu proses operasi Danu yang berjalan terasa sangat lambat itu. Papi melihat jam tangan miliknya. Operasi baru dilakukan selama tiga jam. Tetapi sudah serasa setahun bagi Papi, Paman dan Mami yang menunggu di depan pintu ruangan operasi tersebut.
"Kakak, saya mau pergi keluar membeli makan siang. Kakak mau nitip makanan apa?" tanya Danu kepada Papi dan Mami yang duduk bersebelahan tersebut.
"Terserah aja adik. Aku akan memakan apapun yang kamu beli" jawab Papi yang tidak tahu harus memilih untuk makan apa hari ini.
"Kakak ipar mau apa?" tanya Paman beralih kepada kakak iparnya itu.
"juga sama terserah saja" jawab Mami yang juga pikirannya tidak sampai ke sambal atau apapun itu.
Paman kemudian berjalan keluar dari rumah sakit. Dia harus ke mansion terlebih dahulu untuk melihat ke dua anaknya. Sudah satu hari lebih Paman tidak melihat wajah kedua anaknya itu. Hal yang paling membuat Paman kangen. Paman tidak bisa untuk tidak melihat wajah anaknya setiap hari. Baru kali ini Paman yang tidak melihat wajah anaknya lebih dari dua puluh empat jam.
"Aku ke mansion dulu" ujar Paman yang sudah menghubungi maid dan menanyakan dimana keberadaan Ivan dan Sari.
__ADS_1
Ternyata mereka berdua sudah pulang sejak tadi di jemput oleh sopir. Sehingga Paman harus ke mansion untuk bertemu dengan kedua anaknya itu.